Malam ini pukul 9 malam di malam minggu.
"Abi.." sapa Galih, pada temannya Abi yang tengah menghisap putung roko di tangan kanannya sambil duduk di bangku kayu coklat tua.
"Ngapa coy?" jawab Abi.
"Nonton dangdut yuk?"ajak Galih sambil ikut duduk di samping Abi.
"Dimana ada dangdut?"
"Di kampung sebelah... itu yang banyak pohon pisang..."
"Heeet ya, ituh mah kebon pisang cong." celetuk Abi.
Karena yang Abi tahu. Kampung sebelah merupakan kampung kebon pisang, hampir semua warga di sana banyak yang menanam pohon pisang.
"Mao kaga luh? Biduannya cantik-cantik. Itu loh yang kalo manggung pasti pake rok pendek apa gitu sebutannya...." Galih nyerocos sambil berfikir.
"Rok mini, dodol?" jawab Abi, dengan tangan kiri usil menjitak pucuk kepala Galih.
"Aaawww..." keluh Galih mengusap bagian kepalanya yang di jitak.
"Pake perasaan dong, sakit nih pala gue." sewot Galih.
"Lah lu, gitu doang ora inget. Wadon bae lu inget."
"Ayo liet yuk. Gue beliin roko deh biar lu gak bete, besok juga kan libur kita sekola." rayu Galih.
"Oke lah kalo gitu. Roko ya jangan lupa!!" Abi mengingatkan kembali janji Galih.
Akhirnya Galih dan Abi pergi ke kampung sebelah dengan berjalan kaki, sebut aja kampung kebon pisang.
"Tuh kan lu liet sendiri, rame tuh jalan. Dari tadi kita ketemu orang mulu" celoteh Galih.
"He'em.."
"Bener orang kaga sih tuh yang lagi pada lewat, orang yang tadi papasan di jalan. Untung aja gue gak punya indra ke 6, kalo punya lah ya serem ini." batin Abi.
Sepanjang perjalanan Abi dan Galuh memang selalu berpapasan dengan orang yang berlalu lalang, entah itu dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan bermotor, ada juga penjual yang tengah mendorong gerobak nya menuju tempat tontonan dangdut berada.
"Aiiiih gila, lu denger gak tuh..." ucap Galih, yang tengah asik mendengar suara merdu sang biduan.
"Iya gue denger, noh lu liet." ucap Abi, sambil menunjuk ke atas langit.
Ada cahaya di atas langit, hasil lampu tembak dari tempat dangdut berada.
"Wiiiih kayanya rame banget nih..." Galih berseru senang dan semangat.
Galih yang udah gatel pengen joget pun mempercepat langkah kakinya. Hingga Abi tetinggal di belakang nya.
"Woy mao ngambil gaji, lu?" teriak Abi, yang di tinggal Galih di depan nya.
"Sorry, cepet dikit kek lu. Lelet banget dah lu." keluh Galih.
Akhirnya dengan melewati beberapa kebon pisang dan terjadi perdebatan yang alot namun mampu membawa Abi dan Galih ke tempat tujuan dengan selamat. 🤣🤣🤣
"Kita, di belakang ajah deh." ajak Abi, yang melihat keramain penonton dangdut yang terlihat berjubel.
"Ke depan dulu deh yuk." ajak Galih.
Sambil menyeret tangan kiri Abi. Akhirnya sampai lah Abi dan Galih di depan, paling depan panggung. Puas melihat aksi panggung biduanita yang tengah asik bergoyang sambil melantunkan lagu-lagu syahdu.
Jam pun terus berputar, malam semakin larut. Tidak terasa hampir pukul 2 dini hari, sudah banyak penonton dangdut yang meninggalkan lokasi. Terlihat dari yang tadinya banyak pemuda atau pun bapak-bapak yang berjoget. Kini terlihat lengang, hanya ada beberapa yang masih menikmati alunan musik dangdut dan suara merdu biduan.
"Pulang yuk." ajak Abi.
Abi memilih untuk duduk di atas tanah sambil menghirup sebatang rokok. Berharap dapat menghangatkan suasana yang dingin karena angin malam.
"Iya bentar lagi." ucap Galih, sambil tetap berjoget.
Galih mengedarkan pandangannya ke segala arah. Berharap ada seseorang yang ia kenal untuk di ajak nya pulang. Nunggu Galih, yang ada magi iya....
"Ituh kaya pak Asep." monolog Abi pada diri sendiri.
Yah, kini pandangan nya tertuju pada bapak paruh baya yang tengah berdiri sendiri, dengan kedua tangan bersilang di depan perutnya.
Terlihat jelas di mata Abi jika peria paruh baya itu, sebut saja pak Asep namanya, kini bahu kanannya tengah bersandar pada sebuah pohon pisang yang berdiri tegak.
"Aneh itu pohon pisang beda dari yang lain. Ngapa itu pohon dewekan ya? Ora kaya temen pohon pisang laennya." celetuk Abi.
Galih yang ikut duduk di sebelah Abi pun mendengar ocehan sahabatnya dan melihat ke arah yang Abi lihat.
"Mungkin ituh pohon pisang lebih senang menyendiri, kaya lu yang betah ngejomblo. Wahahha..." kata Galih yang di akhiri dengan tawa geli, puas menyindir Abi.
"Sue lu." ucap Abi, sambil mendorong bahu Galih ke samping.
"Selon, bang." kata Galih setelah menghentikan tawanya.
Abi melihat kembali ke arah pak Asep, dan betapa terkejutnya Abi saat melihat ke arah itu lamat-lamat.
"Iii iiii iiituuuu. Aaa aapan." ucap Abi dengan terbata-bata, dengan tangan kanannya menunjuk ke arah pak Asep berada.
Lidah Abi mendadak kelu, kakinya terasa berat untuk di gerakkan, belum lagi tangannya hanya mampu menunjukkan kearah pak Asep.
"Ngapa sih, lu?" tanya Galih heran.
Pak Asep yang tadinya tidak menyadari jika ada perubahan pada sandaran bahunya pun, seperti tersadarkan karena tidak sengaja melihat ke arah Abi yang sedang menujuk tangan kanannya ke arahnya.
"Ko lengan gua beda ya, kaya gajlugan gitu. Ora rata ini. Pohon pisang bukannya rata ya?" monolog pak Asep pada diri sendiri.
"Jantung gue napa gini ya? Buse* dah. mimpi apa gue semalam." keluh pak Asep.
Jantung pak Asep berdegup kencang seperti orang yang habis lari maraton, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya dan pak Asep pun berusaha membaca ayat kursi sambil memberanikan diri melihat apa yang sedang ia senderi.
Aaaaaaaaaaaaa.... (teriakan pak Asep)
Karena mendengar teriakkan yang kencang dari arah depan panggung, semua mata tertuju pada asal suara dan sontak kaget.
Yang melihat pun langsung ikut berteriak dan lari tunggang langgang tak terkecuali Galih yang langsung menarik paksa tangan kanan Abi yang di gunakan untuk menunjuk arah pak Asep.
Wajah hitam dengan mata berwarna merah menyala dengan pakaian berwarna putih yang ada beberapa ikatan seperti lontong sedang menatap pak Asep dan...
Encluk.... (pocong loncat ke arah kebon pisang dengan sekali loncatan)
Setelah pocong yang tadi pak Asep senderi menghilang di kebon pisang. Pak Asep baru lancar menggerakkan lidahnya dan teriak dengan sekencang kencangnya...
"pocooooooooong........"