Halo, perkenalkan, saya adalah seekor burung hias. Saya akan menceritakan kehidupanku sebagai burung peliharaan mewakili semua burung peliharaan yang dipelihara oleh makhluk bernama manusia. Saya hanya menceritakan sebagian pengalaman saya karena kecerdasan hewan hanya sebatas mengingat, tidak lebih dari itu.
~•~
Saya melihat sebuah cahaya, sangat dekat dengan diriku. Saya berusaha menggapai cahaya itu dengan menggerakkan seluruh tubuhku.
Saya mendapati diriku baru saja keluar dari cangkang telur yang pecah. Penglihatan saya saat itu masih sangat amat rabun, tapi saya dapat merasakan kehangatan dan kelembutan sarang tempat saya menetas yang terbuat dari ranting pohon dengan sentuhan. Kondisi saya waktu itu sangat amat lemah karena telah mengggunakan sebagian besar tenagaku untuk berusaha keluar dari cangkang telur.
Saya tidak mendapati orang tua saya disekitarku. Saya terus berjalan disekitar sarang dengan tertatih-tatih berharap dapat menemukan orang tua saya. Saya terus berjalan hingga saya terjatuh dari sarang yang posisi nya cukup tinggi dari tanah. Saya merasakan sakit yang luar biasa dikakiku dan berusaha untuk bergerak dengan kondisiku yang sangat lemah. Hingga ada makhluk yang tidak ku ketahui membawa diriku dengan tangan nya yang hangat, membuat diri ku tertidur dalam keadaan terluka dikakiku.
Saya kemudian terbangun dengan makanan berada dimulutku, rasa nya sangat enak menurutku waktu itu. Saya merasa lebih bertenaga setelah memakan makanan yang diberikan makhluk yang tidakku ketahui namanya itu. Saya mendapati kakiku diikat oleh benda yang menurutku aneh, benda tersebut mengikat kakiku dengan tidak terlalu kencang. Saya berpikir jika benda itu dimaksudkan agar diri ku tidak pergi ke mana-mana, tapi saya masih terlalu kecil untuk berpikir serumit itu, jadi saya melupakannya saja.
~•~
Halo, kembali lagi dengan saya, saya sekarang sudah berukuran lebih besar dan mulai bersuara, anggap saja berteriak dan mulai melompat-lompat dikandang.
Saya baru mengetahui nama makhluk yang memelihara diri ku yaitu bernama manusia. Nama itu saya ketahui dari teman baruku yang merupakan burung juga, sama sepertiku. Saya juga mulai bersuara yang dianggap oleh manusia suaraku itu merdu, padahal itu adalah caraku untuk berkomunikasi dengan temanku karena telinga burung yang kecil dan tertutup oleh bulu sehingga harus berteriak untuk berkomunikasi satu sama lain.
Saya diberikan makanan dan minuman yang cukup oleh manusia yang memelihara diriku. Kandangku selalu dibersihkan oleh nya dari kotoranku sendiri. Saya sendiri merasa lega saat kotoranku sendiri dibersihkan. Karena saya sendiri merasa sangat tersiksa karena setiap saat menghirup aroma busuk kotoranku sendiri.
Kadang-kadang saya dibuat kelaparan, sebenar nya masih ada makanan, tapi naluri hewan ku mengatakan jika makanan itu sudah tidak bisa dimakan. Dan pada saat saya kelaparan itulah ada manusia yang berukuran lebih kecil dari manusia yang memelihara diriku tapi masih cukup besar dari pandanganku. Wajahnya juga berbeda dari manusia yang memelihara diriku, tapi menurutku masih mirip. Kedua nya mempunyai semua bagian wajah, itu yang membuat ku beranggapan kedua manusia itu mirip.
Dan sering juga ada manusia yang melewati kandang tempat aku berada, manusia itu mirip seperti manusia yang lain nya. Manusia itu hanya menatap diri ku sebelum kemudian pergi meninggalkan kandang tempat diriku dipelihara.
Temanku yang merupakan burung juga menceritakan kenikmatan jika hidup dihutan. Terdapat banyak makanan yang melimpah dan banyak teman baru antar burung dan antar hewan. Karena hal itu saya mulai berusaha menggigit Kandang dengan paruh ku setiap saat jika ada waktu tapi selalu menemui kegagalan. Teman ku memberi tau jika kandang yang mengurung ia dan saya terbuat dari sebuah benda bernama logam. Nama itu sangat asing ditelinga ku, itu sangat wajar karena saya baru pertama kali mendengarnya.
~•~
Saya mempercayai ada nya tuhan yang satu, saya juga sering memuji nya dengan zikir jika tidak ada manusia.
~•~
Saya mendapati asap yang sangat amat tebal menurutku yang membuat diriku susah bernapas. Saya melihat manusia yang memelihara diriku tidak langsung menyelamatkanku. Tapi ia hanya menyelamatkan benda mati yang menurutku itu tidak berguna.
Dan ada banyak manusia yang semua wajah nya mirip menurutku, mereka hanya melihat ke arah tempat tinggal manusia yang memelihara diriku. Sebagian hanya menatap ke arah tempat tinggal manusia yang memelihara ku dan sebagian lagi terlihat membawa sesuatu yang saya tidak tau apa itu. Kesemua manusia itu bersuara keras yang saya tidak tau apa yang mereka ucapkan dan terlihat panik.
Saya hanya dapat berteriak sekeras yang saya bisa sebelum kemudian ada benda bergerak-gerak berwarna merah dan panas yang tidak aku ketahui nama benda itu. Tanpa aku ketahui sebabnya, kandang tempat aku dipelihara terjatuh dan membuat pintu kandang terbuka lebar. Teman saya yang melihat hal itu menyuruh saya agar cepat pergi tanpa memedulikan dirinya. Awalnya saya ragu, tapi teman saya memaksa diri ku untuk pergi selagi kesempatan terbuka lebar.
Dengan berat hati saya harus meninggalkan teman saya yang masih terkurung didalam kandangnya. Baru beberapa centi meter terbang dari kandang, tiba-tiba ada benda berwarna merah menyambarku dari bawah yang membuat ujung sayapku sedikit terbakar. Tapi karena saya sudah terbang, benda berwarna merah itu seketika langsung menghilang karena hempasan udara saat aku terbang dan mengharuskan saya untuk terbang dengan tenaga lebih agar dapat terbang dengan sempurna karena ujung sayap ku yang sedikit hangus.
~•~
Saya sangat lelah karena menggunakan tenaga lebih agar dapat terbang dengan mulus. saya belum makan karena belum diberi makan oleh manusia yang memelihara ku karena menyelamatkan benda mati tanpa memperhatikan diriku.
Saya melihat makanan didalam kandang kayu yang pintunya terbuka, tanpa ragu saya langsung masuk ke kandang itu karena lapar. Setelah memasuki kandang itu pintu kandang langsung tertutup, saya tidak mengetaui penyebab pintu kandang itu tertutup. Tapi saya berpikir dapat keluar dengan mudah setelah menghabiskan makanan dikandang ini hanya karena kandang ini terbuat dari kayu oleh karena itu saya menjadi santai memakan makanan yang ada.
Namun, pemikiranku itu salah. Saat makanan nya tinggal sedikit (belum habis). Ada manusia yang melihatku dari kejauhan yang setelah itu ia pergi, tapi saya tidak terlalu memedulikannya. Dan manusia yang menatap ku dari kejauhan kembali dengan seorang manusia lagi.
Saya dengan panik menggigit kandang tapi itu semua sudah terlambat, saya sangat menyesal tidak pergi dari kandang setelah sedikit makan. Tapi itulah hewan, hanya memiliki nafsu.
Kedua manusia itu kemudian membawa kandang yang berisi diriku menuju tempat yang tidak aku ketahui. Saya hanya pasrah dengan nasibku sebagai seekor burung dan berharap manusia yang menangkap ku memeliharaku dengan baik.
Kenyataan tidak sesuai dengan harapanku sebelumnya. Tidak ada manusia memberi ku makanan, bahkan hingga tiga kali matahari terbit saya tidak diberi makanan.
Dirumah manusia yang memelihara diriku, aku hanya mendapati jika hanya diriku yang dipelihara manusia itu. Saya menyimpulkan jika manusia yang memelihara diriku baru pertama kali memelihara burung. Itu hanya pemikiranku saja.
~•~
Pada suatu hari saya dipindahkan ke dalam sebuah kandang yang ukurannya lebih kecil dari pada kandang tempat saya setiap hari berada di majikan baruku. Kandang tempat saya dipindahkan ditutupi sesuatu yang saya tak tau apa itu tapi saya merasa pernah melihat nya.
~•~
Benda yang menutupi kandang tempatku berada ditarik dan diriku melihat banyak manusia. Diantara banyak manusia ada suara manusia yang sangat tinggi suaranya yang aku tidak tau apa yang manusia itu bicarakan.
Kandang tempat ku berada diletakkan dekat dengan kandang-kandang lain, berisi hewan yang sama dengan diriku (burung). Setelah itu datang beberapa manusia yang membawa barang dikedua tangan :nya seraya melihat-lihat diriku dan juga hewan sejenisku (burung) yang berada dikandang lain.
Saya terus berada ditempat itu dalam waktu yang cukup lama. Setelah lama menunggu akhirnya majikanku membawa diriku pergi dari tempat ini. Tapi pemikiranku berubah karena diriku diberikan kepada orang lain oleh majikanku. Orang yang menerima diri ku kemudian memberikan sejumlah benda berwarna kepada majikanku.
Kandang tempat diriku berada ditutupi lagi oleh benda yang sama.
~•~
Benda yang menutupi kandang tempatku berada ditarik dan kandang pun dibuka memperlihatkan hutan dengan pohon lebat. Saya awalnya ragu untuk keluar dari kandang. Tapi saya dipancing dengan makanan, saya tergoda dengan pancingan itu karena saya belum makan sejak matahari terbit. Karena majikanku yang lama tidak memberiku makanan.
Saya keluar dari kandang kecil milik majikanku yang lama dan memakan makanan yang berada ditangan manusia yang memancingku untuk keluar dari kandang. Selesai memakan makanan ditangan manusia yang memancingku saya pun pergi dan terbang dengan bahagia karena saya bebas.
Saya diberitahu oleh penghuni hutan yang lain jika ini adalah kandang besar yang terdapat pohon-pohon dan air agar terlihat seperti hutan yang sesungguhnya. Tapi saya tidak terlalu memedulikannya karena tempat yang luas merupakan keinginanku sejak lama agar saya dapat terbang dengan bebas. Saya dapat berbincang-bincang dengan penghuni kandang lain yang merupakan burung juga sama seperti diriku. Saya merasa jika ini merupakan kebahagiaanku.
~•~
Pada suatu waktu saya sedang mencari makanan ditanah karena makanan yang diberikan manusia pemilik kandang besar ini habis. Saya mencari makanan hanya untuk mengisi waktu dan memenuhi nafsu hewanku.
Ada bebek yang mendekati diriku, saya tidak terlalu memedulikannya. Hingga tiba-tiba ia mengigit diriku yang berukuran lebih kecil darinya.
Saya refleks berusaha melepaskan diri dari gigitan bebek itu. Tapi tenagaku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tenaga si bebek.
Bebek itu membawa lari diriku hingga ia berenang diatas permukaan air. Saya kadang-kadang ditenggelamkan oleh bebek itu saat bebek itu berenang. Saya berusaha agar kepalaku berada diatas air.
Hingga bebek itu kembali berlari ditanah, saya dapat bernafas kembali dengan tenang tapi bebek itu masih belum melepaskan gigitannya kediriku. Saya merasakan sakit yang teramat sangat disayapku, saya mengira sayapku patah. Dan itu ternyata benar.
Saya kemudian terjatuh karena bebek itu melepaskan gigitannya dari diriku. Saya tergeletak ditanah dengan pasrah berharap ada yang menolong diriku. Hingga ada manusia yang berlari ke arahku dan mengambilku dengan hati-hati. Dengan samar-samar saya melihat bebek yang menggigit diriku dikejar oleh manusia lainnya.
Saya tidak dapat bertahan lama setelah kejadian itu, saya pun mati ditangan manusia yang mengambilku dengan keadaan sayap patah