Pagi yang cerah, dengan matahari yang bersinar lembut. Burung - burung berkicau dengan nyaring, saling bersahutan di atas dahan - dahan pepohonan di halaman.
Mellina Anggraini, seorang gadis manis nampak sedang menggerakan tubuhnya ke kiri dan kanan. Sesekali tubuhnya meliuk - liuk untuk melenturkan tubuhnya.
Perjalanan dari Jakarta semalam ke kota kecil ini sangat membuatnya lelah. Apalagi travel yang ditumpanginya lumayan penuh sehingga membuatnya tidak nyaman untuk tidur.
Yah Mellina termasuk gadis yang tidak mudah beradabtasi dengan lingkungan baru apalagi membiarkan matanya tertutup di tengah orang baru yang tidak dikenal. Selalu timbul rasa khawatir dan was - was yang berlebihan.
" Nduk, wedangan dulu sana ! Setelah itu baru mandi. Biar tidak masuk angin. " Seorang wanita paruh baya nampak menghampiri Mellina dan menyentuh punggungnya.
Mellina menoleh kaget.
" Akh, Simbok. Sebentar. Saya masih pegel, Mbok. Kursi travel sangat tidak nyaman, " keluh Mellina dengan manja.
" Nanti, simbok pijat setelah kamu mandi. Minum tehmu dulu baru mandi sana ! " Wanita paruh baya itu menepuk punggung Mellina dan mendorongnya masuk ke dalam rumah.
" Nanti kalau sudah mandi, pasti pegele ilang. " Mbok Narti kembali berujar sambil sesekali tangan keriputnya membelai rambut Mellina yang sedikit berantakan.
Di balik pohon yang rindang, sepasang mata sedang menatap Mellina dengan tatapan tajam penuh rindu. Sebuah seringaian penuh hasrat tersungging dibibirnya.
" Akhirnya Kau datang, sayang Aku sangat merindukanmu. " bisiknya perlahan.
Mellina menoleh cepat ke arah pohon Nangka di halaman rumah. Mata indahnya mencoba mencari sesuatu.
" Kenapa celingukan, Nduk ? Cari apa ? " Mbok Narti akhirnya bertanya curiga.
" Tidak ada siapa - siapa, Nduk. " ujar Mbok Narti lagi.
Mellina bergidik. Bulu kuduknya seketika meremang. Tangannya menyentuh punggung Mbok Narti, seakan mencari perlindungan.
Mellina kembali menoleh, memperhatikan sekelilingnya. Mellina merasakan ada sepasang mata yang sedang menatapnya.
Mellina kembali meremang ketika mengingat suara tadi begitu dekat dengani telinganya. Suara berat seorang laki - laki.
" Sudah. Ayuk mandi ! Biar segar tubuhmu. Nanti simbok pijat biar bisa tidur. " ajak Mbok Narti supaya Mellina segera mandi.
Tak sampai satu jam, setelah Mellina menghabiskan segelas teh panas dan mandi, Mellina masuk ke dalam kamar.
" Kamar itu saja, Nduk. Yang biasanya sedang diperbaiki Pak Tukiman. Kemarin bocor karena genting ketiban dahan pohon. " Mbok Narti memberitahu Mellina dan membantunya mengepak lagi barang - barang yang sudah berhamburan di atas tempat tidur.
" Ayuk, simbok tunjukan kamarnya. " ajak Mbok Narti sambil menjinjing tas Mellina.
Gadis itu nampak mengekor di belakang Mbok Narti. Rambutnya yang basah dan tubuhnya yang segar dengan parfum khas aroma sabun yang lembut menyergap indera penciuman sesosok bayangan yang sejak tadi menatapnya penuh rindu.
Kembali Mellina merasakan kehadiran seseorang yang selalu menatapnya dari jauh. Bulu kuduknya kembali meremang
" Kau milikku, manis. " Bayangan laki - laki itu bergumam dengan sorot mata yang penuh hasrat.
Mbok Narti membuka kamar yang terletak di ujung, sebuah kamar yang cukup besar dengan jendela yang langsung menghadap ke taman samping dengan bunga melati dan pohon nangka yang rindang. Sepetak kecil kolam ikan dengan tanaman air di atasnya. Nampak indah.
" Tak tinggal sek, Nduk. Simbok mau ke warung cari gula sama teh buat tukang, Kamu kalau bisa istirahat dulu. Nanti Mbok pulang tak pijeti. Jangan kemana - mana ! " Mbok Narti pamit keluar.
Mellina mengangguk.
Mbok Narti keluar dan menutup pintu dengan perlahan.
Mellina duduk di atas ranjang dan mengamati seluruh ruangan. Cukup nyaman dan terkesan mewah untuk sebuah kamar di pedesaan kecil ini.
" Kamar siapa ini ? Bunda hanya memberikan kamar di ujung kanan setiap Mell berlibur kemari. Tumben, besar juga ini kamar ? " Mellina bermonolog dengan dirinya sendiri sambil menjulurkan kakinya di atas ranjang.
Mellina meraih ponselnya. Sesaat kemudian, mulai berselfie dan berbalas chat dengan sahabatnya.
" Akh, " Mellina sedikit tersentak ketika merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya.
Mellina menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa - siapa.
Bulu kuduk Mellina meremang.
Mellina kembali mengarahkan kamera depan ponselnya untuk berselfie lagi.
Cekrek. cekrek.
Mellina merasakan ada sebuah tangan yang kokoh kini melingkar di pundaknya, sesekali tangan itu bergerak menyentuh pinggangnya dan melingkar disana. Mellina memperhatikan perutnya. " Tidak ada apa - apa. " gumam Mellina berusaha menenangkan diri.
Hari beranjak siang, suasana nampak lengang dan sepi. Para pekerja dengan palunya sudah tidak terdengar. Padahal tadi sebelum masuk ke kamar mereka sangat ribut dengan peralatannya.
Mellina mencoba menenangkan diri. Mellina mencoba menyibukkan diri dengan ponselnya dengan berbalas chat.
Tanpa sadar matanya memandang jendela. Hari masih siang, terik sinar matahari mulai memasuki kamar. Tanpa sengaja, Mellina menoleh ke sisi ranjang.
Sebuah lukisan seorang laki - laki dengan kharisma yang luar biasa. Wajah yang tegas, mata yang tajam dan dagu yang ditumbuhi bulu - bulu halus dengan rahang yang kokoh memancarkan aura dingin yang sangat menarik.
Mellina menatap lukisan itu tanpa berkedip. Tanpa disadari, tubuhnya bangkit dari duduknya dan kakinya melangkah mendekati lukisan.
Tangan Mellina menyentuh perlahan lukisan di depannya. Tangannya dapat merasakan kasarnya polesan yang membentuk lukisan.
" Gagah dan ganteng sekali. " puji Mellina menatap lukisan itu. Senyumnya merekah dengan tangan yang terus mengelus permukaan lukisan.
Mellina tersenyum lagi, hampir memerah wajahnya ketika mata seorang dalam lukisan tampak menatap matanya dengan tajam.
Mellina sedikit bergetar dan terasa pias wajahnya kini. Mellina menunduk dan sesekali mencuri pandang wajah seorang laki - laki dalam lukisan.
" Sadar, Mell ! Sadar ! Hanya lukisan. " Mellina menenangkan diri karena merasa suasana dikamarnya sedikit mencekam.
" Kau sangat cantik, "
Mellina tersentak ketika mendengar sebuah suara. Mellina menoleh ke sumber suara. Tidak ada seorangpun dalam ruangan.
Mellina kembali menatap sekali lagi lukisan di depannya.
Tiba - tiba angin berhembus sangat kencang memasuki ruangan.
" Akh, ada apa ini ? " Mellina berusaha perpegangan pada lukisan. Angin semakin kencang bertiup dan suasana yang terang menjadi gelap.l seperti pada malam hari.
Mellina buru - buru meraih tombol saklar yang tepat berada disisi lukisan. Suasana menjadi terang karena lampu menyala. Tapi pandangan mata Mellina dibuat kaget saat melihat sekeliling ruangan menjadi porak poranda.
" Akh, " Mellina tiba - tiba berteriak histeris, tangannya yang masih menyentuh permukaan lukisan kini berlumuran darah.
Mellina mengibaskan tangannya. Tangannya berdarah. Tercium amis darah segar.
" Akh, " Mellina berteriak lagi ketika ada sebuah kekuatan entah datang dari mana yang menarik tubuhnya untuk mendekat kepermukaan lukisan.
" Lepaskan ! " Mellina meronta dengan kekuatan penuh untuk melepaskan diri.
Mellina merasakan tubuhnya sedang dipeluk seseorang.
" Kau milikku, sayang. " Seseorang bersuara dengan berat ditelinganya.
Bulu kuduk Mellina meremang sempurna. Mellina sungguh merasakan ada tubuh kekar yang sedang memeluknya kuat. Bahkan ia merasakan ada tangan kokoh yang sedang mengelus rambut panjangnya.
Mellina bergidik lagi. Kesadarannya memintanya untuk memberontak dan dengan segala kekuatannya, Mellina menyentak dari pelukan bayangan itu. Tapi bayangan atau lebih tepatnya wujud yang tak nampak itu memeluknya semakin erat.
" Jadilah milikku, dan kau akan bahagia selamanya. " seorang berucap tepat ditelinga Mellina.
Mellina menggelinjang berusaha melepaskan diri. Ketakutan terpancar dari wajahnya.
" Lepaskan ! Aku tidak mengenalmu dan aku tidak mau. Lepaskan ! Akkhhhh ... Simbok tolong aku ! " Mellina berteriak minta tolong.
Deru nafas Mellina mulai tak beraturan. Tangannya terus berusaha melepaskan diri dari pelukan wujud yang tak kasat mata.
" Akh lepaskan ! "
Akhirnya Mellina bisa melepaskan diri. Mellina mengatur nafasnya yang menderu. Suasana kamar sangat mencekam.
Tiba - tiba dari arah lukisan, muncul kepulan asap berwarna kuning. Lukisan tampak hidup, mata yang tajam memandangnya, senyum yang dingin dengan aura yang mencekam benar - benar membuat Mellina ketakutan.
Tiba - tiba seseorang keluar dari lukisan itu dan tangan kokohnya segera menarik tangan Mellina masuk ke dalam lukisan.
" Kau milikku. Jadilah pengantinku ! Dan kita akan hidup bersama selamanya. " ucap laki - laki itu dengan senyumnya yang menakutkan.
Tarik menarik terjadi, tenaga Mellina yang tak sebanding dengan kekuatan laki - laki itu pun tertarik masuk ke dalam lukisan.
" Akh ... tidak. " Mellina berteriak lagi. Asap kuning menyelimuti tubuhnya. dan tiba - tiba sebuah kekuatan yang sangat besar menarik tubuhnya masuk ke dalam lukisan.
Sejurus kemudian, suasana kembali tenang dengan burung - burung gereja yang sesekali bercicit bersahutan di atas dahan pohon. Kamar yang tadinya berantakan menjadi bersih dan rapi lagi, seperti tidak terjadi sesuatu.
Ruangan hening dan sepi.
Seseorang mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Senyum manis dibibirnya tersungging dengan sempurna.
Seorang wanita paruh baya dengan kecantikannya yang sempurna melangkah dengan anggun, memasuki kamar. Senyumnya mengembang dengan sempurna saat matanya menyorot ke arah lukisan di samping jendela. Lukisan seorang pria dengan seorang gadis dengan gaun pengantin yang cantik.
" Terima kasih nduk, Bunda akan selalu mengenang pengorbananmu. Karenamu Bunda tetap menjadi seorang yang cantik, kaya raya dan disegani. Hahahaha ... . "