Sedih rasanya, ketika kebahagiaanku bersama Sahabatku, direngut paksa oleh ego dari diri kita masing-masing.
.
Masalah ini bermula pada saat temanku menanyakan sesuatu, tetapi Aku menjawabnya dengan kebohongan. Bukan berarti Aku seorang pembohong, melainkan pada saat itu Aku hanya bercanda.
Yah, karena Aku memang orangnya suka bercanda. Namun, ternyata temanku malah menganggapnya serius, dan sekarang Ia marah padaku.
Aku hanya memiliki 3 orang teman, yaitu Karin, dan temanku yang Aku bohongi, adalah Ratry dan Rahmi. Mereka sebenarnya
orang yang humoris, tetapi terkadang pula mereka serius.
Sudah dua hari kami berempat tak seperti biasanya. Aku, Ratry, Rahmi dan juga Karin tidak pernah berkomunikasi lagi, dan itu membuatku sangat sedih.
Walau mereka duduk di depanku, tapi mereka masih cuek terhadap celotehanku akhir-akhir ini.
.
Bel sudah menunjukkan jam pulang. Bahkan, seharian ini kami belum bertatap muka.
Dan keesokan harinya, kami bertemu lagi di kelas. Seperti biasa dengan ulah jailku, kuganggu mereka dengan beberapa candaan.
“Try, Ami, ke kantin yuk, Kalian yang traktir yah, seperti biasa.” Gurauku sambil mencolek mereka berdua, tapi ternyata mereka masih tidak meresponku.
Hahh... Kupikir mereka telah memaafkanku, jadi Aku mengganggu mereka seperti biasanya, tapi ternyata....
Semenjak kejadian itu, Aku yang mulanya seorang gadis periang, berubah menjadi gadis yang murung, dan memilih untuk menyendiri.
.
Pada malam hari, Aku menyatakan sesuatu di sosial mediaku.
“Assalamualaikum Ratry? Kamu marah yah sama Aku? Kok gak ngomong-ngomong sama Aku? Terus, kalau Kamu memang marah, Aku ngertiin kamu."
"Aku cuman bohong-bohongan kok, gak serius, Aku cuman mau godain Kamu ajah. Yah, walaupun udah kelewat batas sih, tapi intinya Aku cuman mau minta maaf ajah sama Kamu dan Rahmi."
"Karena Aku gak mau hubungan silaturrahmi kita terputus hanya karena keegoisan dari diri kita masing-masing, dan Aku ingin semoga esok hari Kamu tersenyum dan menyapa Aku, layaknya seperti pada saat kita masih berteman dan berkomunikasi baik”.
Begitulah isi dari pernyataanku pada Ratry di sosial media yang Aku kirim ke kronologinya.
.
Waktu sudah bergulir lumayan lama, tapi masih belum ada balasan darinya. Sambil menunggu, Aku memutuskan untuk menonton TV sejenak.
Tetapi, bukannya terhibur, Aku malah nambah down, karena acara televisi yang Aku lihat itu sedih banget, apalagi isinya tentang persahabatan.
Daripada Aku makin terpuruk, akhirnya Aku putuskan untuk menyudahi melihat tayangan itu. Lalu, Aku pun membuka sosial mediaku, dan ternyata masih belum ada jawaban dari permintaan maafku.
Aku tidak berputus asa, kucoba untuk chat Rahmi yang berisi permohonan maaf juga. Tetapi, hasilnya tetap saja nihil. Sama saja tak dijawab.
Malam ini pun menjadi malam kelabu yang membuat Aku semakin sedih. Aku benar-benar tulus dengan persahabatan kami, tetapi balasan yang mereka berikan padaku tak seimbang dengan apa yang Aku lakukan pada mereka.
Bukan berarti Aku ingin imbalan, melainkan Aku ingin dihormati seperti Aku menghormati mereka. Walaupun mereka masih seperti itu, tapi malam ini, Aku bertekad akan bersikap seperti biasa terhadap mereka.
Kukuatkan hatiku untuk tersenyum dan menyapa, walau nanti tak ada balasan dari mereka…
Tapi, sekuat apapun Aku menahan rasa sakit itu, akhirnya air mataku sudah tidak mampu kutahan lagi, tanpa sadar, bersamaan dengan air mata yang keluar, Aku langsung membaringkan tubuhku keras ke atas kasur.
Hah!?" Tiba-tiba Aku terbangun dari tidurku, badanku penuh keringat yang bercucuran, air mataku masih mengalir dari sudut mataku.
Aku melamun sejenak sembari memikirkan kejadian tadi, setelah sedikit tenang, Aku langsung mengambil segelas air, dan meneguknya cepat seperti orang kehausan.
Aku melihat jam dinding, ternyata baru menunjukkan pukul 02.00 Pagi. Aku tidak bisa mengungkapkan keadaan itu dengan kata-kata, entah Aku harus tertawa atau menangis.
Ternyata tadi semua, hanyalah bunga tidur. Aku pikir akan kehilangan sahabat terbaikku, ternyata… hehehehe. Aku masih termasuk orang yang beruntung lah.
Tapi dengan mimpi tadi, Aku jadi sadar, bahwa dalam bercanda tidak boleh keterlaluan, selama ini Aku selalu keterlaluan bercanda kepada mereka, maafkan Aku teman-teman.
Walau mereka tidak pernah memasukkan ke dalam hati, dan menganggapnya biasa, tapi tetap saja, hal itu tidak boleh terus Aku ulangi.
Dan pagi itu, Aku tidak bisa lagi melanjutkan tidurku, Aku memilih untuk membaca komik.
Waktu pun berlalu dengan cepat, Adzan Subuh sudah berkumandang, menandakan shalat akan segera dimulai, kuambil air wudhu dan segera melaksanakan shalat.
Setelah itu, Aku bergegas merapikan tempat tidur, dan memilih untuk memasak nasi untuk bekal ke Sekolah.
.
Pagi telah tiba, ayam sudah berkokok keras, matahari perlahan mulai muncul menampakan dirinya dari arah timur. Pukul 06:00 Aku sudah standbye dengan seragam sekolah putih abu-abu Ku.
Di kelas, Aku menceritakan semua mimpiku ini kepada Sahabatku itu, mereka semua tertawa lepas kepadaku. Kami bercanda seperti biasanya.
Kejadian ini membuatku benar-benar sadar, bahwa dalam bercanda juga memiliki batasan tertentu. Sejak saat itu, Aku tahu bahwa mereka adalah segalanya bagiku.
Siang itu Kami menghabiskan waktu berempat, dan seperti biasa, saat jam istirahat, kami akan duduk bersama di Taman, lalu mengeluarkan bekal masing-masing, dan menyantapnya bersama disana.
Siang itu kami juga berjanji, untuk mengikat Tali Sahabat untuk selamanya, dan tidak lagi mementingkan keegoisan dari kami masing-masing.
Kami memang berbeda, tetapi ikatan dan cinta kami yang membuat kita satu, yaitu menjadi seorang sahabat.
Bukan hanya hari ini, tetapi sampai ajal memisahkan kami, persahabatan ini akan terus melekat dalam jiwa kami masing-masing.
°°°°°°°°