Aku dan temanku mendapat Surat Perintah Tugas dari pimpinan untuk mengikuti kegiatan Sosialisasi Peraturan Pemerintah yang baru mengenai Pengadaan Barang dan Jasa.
Kami berdua tiba di hotel sehari sebelum kegiatan dimulai. Aku mengurus administrasi sedangkan Tari menunggu di lobi. Pendaftaran dan registrasi selesai siang itu juga. Panitia memberiku kunci kamar kami. Karena kami berdua sama-sama perempuan, maka kami menempati kamar yang sama.
"Vita, jalan-jalan yuk." ajak Tari, temanku.
"Nggak deh Tar, aku di kamar aja." aku merasa lelah, oleh sebab itu aku memilih untuk tetap di kamar .
"Nggak apa-apa nih kamu sendirian aja." tanya Tari lagi.
Aku mengangguk dengan yakin, Tari menggedikkan bahunya dan beranjak dari kamar.
Aku menghabiskan waktu dengan menonton drakor yang banyak kusimpan dalam laptopku. Hingga tak terasa matahari mulai terbenam. Karena mata terasa lelah, aku pun tertidur.
Sesaat kemudian aku sudah berada di lorong hotel depan kamarku. Sayup-sayup aku mendengar suara anak laki-laki menangis. Aku melangkah ke menuju sumber suara. Saat tiba di tikungan lorong yang menuju lift aku berhenti, tampak seorang anak laki-laki duduk di lantai tak jauh dari tempatku berdiri. Anak itu duduk dengan menekuk kedua lututnya, ia menunduk dengan dahi menempel pada kedua lengannya yang bertumpu di lutut. Aku melihat ke sekitarku, tak terlihat ada orang dewasa.
'Kemana orang tuanya?" aku bertanya-tanya dalam hatiku.
Tangisannya belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Segera kudekati dia, kuulurkan tanganku hendak menyentuh pundaknya. Tiba-tiba...
Tappp
Aku membuka mata karena terkejut, Tari sedang memegang pergelangan tanganku.
"Mimpi ya." ujarnya sambil melepaskan tanganku dan menyodorkan sebotol air mineral.
Aku hanya mengangguk dan meneguk minuman itu. "Sudah lama pulangnya?" tanyaku pada Tari.
"Nggak juga. Baru sebentar beresin barang, aku kaget lihat kamu tidur sambil tangan gini-gini." Tari menirukan gayaku tadi. Aku hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Tari.
***
Kegiatan yang aku ikuti berlangsung dari pukul 08.00 sampai 17.00, membuat tubuhku terasa sangat lelah. Begitu tiba di kamar aku meletakkan barang-barang dan langsung menghempaskan tubuhku di kasur. Niatnya sih ingin baring sejenak untuk menghilangkan rasa sakit di punggung, tapi nyatanya aku langsung terlelap.
Aku mengernyit, saat ini aku berada di lorong depan kamar. Sama seperti mimpi kemarin sore, aku mendengar tangisan anak kecil. Aku membulatkan tekadku dan melangkah ke depan menuju sumber suara.
Di tempat yang sama seperti kemarin, anak laki-laki berbaju merah dan celana pendek hitam itu tengah menangis.
"Hai, kenapa kamu menangis?" tanyaku saat telah berada di dekatnya.
Anak itu mendongak dengan cepat, kulit wajahnya putih seakan tak memiliki darah. Tatapan matanya tajam dan terasa menusuk, bibirnya berwarna kebiruan. Tiba-tiba saja ia berdiri.
"Pergi dari sini!!! Cepat Pergi!!! Larilah!!! Lari!!!"
Aku tercekat saat mendengar suaranya. Berat dan dalam serta membawa aura lain yang membuat ketakutan mulai merayapi dadaku. Aku mundur perlahan, hatiku berkata untuk segera meninggalkan anak itu. Saat jarak sudah mulai jauh aku segera berbalik. Namun karena berputar terlalu cepat, tubuhku jadi hilang keseimbangan. Aku menggunakan tangan kananku untu menahan tubuh di dinding.
"Aaahhh!" aku memekik kesakitan. Aku membuka mata dan melihat telapak tanganku memerah karena memukul dinding.
"Ya ampun Vita, mimpi apa lagi sih kamu?" Tari yang sedang menyisir rambutnya tersenyum geli.
Aku memandangi telapak tanganku dengan banyak sekali pertanyaan bermunculan. 'Mimpi tadi terasa sangat nyata, dan apa maksud ucapan bocah laki-laki itu?' gumamku dalam hati.
"Aku mimpi ketemu anak laki-laki lagi nangis. Mimpinya sama kayak kemarin." ucapku sambil melangkah mengambil handukku. Entah mengapa Tari langsung menghentikan aktifitasnya. Namun aku tak memperdulikan hal itu.
Aku masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku. Saat keluar aku mendapati Tari sedang berdiri membelakangiku.
"Ngapain Tar?" tak ada jawaban. "Tari!" aku menyentuh pundaknya.
Seketika itu juga Tari berbalik menghadapku. Aku terkesiap, kulit Tari sangat pucat sama seperti anak dalam mimpiku.
"Aaaaaaaaahhhh!" aku berteriak histeris.
Tari melayang, matanya menatapku dengan tajam. Tiba-tiba ia mengulurkan kedua tangannya dan melayang ke arahku. Sedetik kemudian jari-jarinya yang dingin telah mencengkram leherku.
"Uhukk...Uhukkk...Uhukk...T-Tari, in-i ak-aku Vit-a. Uhukk..Uhukkk..."
"Pergi dari sini!!!" desis Tari sambil mencampakkan tubuhku ke dinding.
"Aaahhhhh!!!" aku merasa nyeri di sekujur tubuhku.
"Hiksss...Hiksss...tinggalkan tempat ini." Tari terisak.
Demi apapun di dunia ini, aku sungguh berharap menjadi orang tuli saat ini juga. Suara tangisan Tari membuat seluruh bulu kudukku meremang. Namun suara tangisannya semakin lama semakin melemah bersamaan dengan gelap yang mulai meliputiku, hingga rintihan Tari tak terdengar sama sekali.
***
"Mbak...Mbak..." suara lembut seorang wanita samar-samar terdengar.
"Mbak...Mbak..." kali ini terdengar begitu jelas.
Perlahan aku membuka mata, kelopakku terasa sangat berat. Aku menutup mataku rapat-rapat untuk mengurangi rasa sakit yang mendera.
Saat kedua mataku telah terbuka sempurna, aku melihat seorang wanita berseragam pegawai hotel sedang duduk disisiku dan tersenyum. Aku mengedarkan pandangan, nampak juga beberapa orang pegawai dan panitia kegiatan.
"A-ada apa ini?" aku bingung dengan situasi yang terjadi.
"Mbak tadi teriak-teriak, jadi kami masuk menggunakan kunci cadangan khusus manager. Ternyata mbak lagi mengigau." jelasnya sambil mengulum senyum.
"Mengigau?" aku tak yakin dengan penjelasannya.
"Iya, waktu kami masuk mbak lagi tutup mata sambil teriak kesakitan."
Aku terdiam, berusaha mencerna penjelasan pegawai itu. Semalam Tari....
"Eh, Tari. Mana Tari?" aku mengedarkan pandanganku.
Mereka semua saling memandang. "Tari siapa mbak?" tanya pegawai wanita itu.
"Tari yang sekamar dengan saya, peserta kegiatan dari kantor yang sama dengan saya." aku risih dengan pertanyaan pegawai itu.
"Ta-tapi mbak." wanita tadi mengernyit. "Mbak di kamar ini hanya sendiri, mbak datangnya juga sendiri."
"Nggak mungkin mbak." aku mulai kesal dengan pegawai dihadapanku ini.
"Maaf mbak Vita, tapi seingat saya mbak memang hanya sendiri. Nanti saya bawakan data saat registrasi." seorang panitia akhirnya ikut bicara.
"Vita, kamu kenapa?" suara seorang pria yang sangat familiar bagiku, pimpinan kantor.
"Lho, bapak kenapa disini?" bukannya menjawab aku malah balik bertanya.
"Semalam saya datang ingin memantau kamu saat kegiatan hati ini." jawab pria itu tersenyum lembut.
"Pak, mumpung bapak disini. Tolong jelaskan sama mereka. Masa mereka bilang saya sendirian. Kan bapak mengutus saya bersama Tari." abaikan sopan santunku untuk saat ini.
Pimpinanku terdiam, ia terlihat kebingungan. Kemudian ia menunduk dengan jari bertaut.
"Vita, kamu tidak membaca grup kantor di WA saat akan berangkat?" pimpinanku terlihat sedih.
"Ada apa pak?" aku semakin penasaran.
"Tari meninggal malam hari sebelum berangkat kesini."
Deg!
Aku mencelos, refleks ku pegangi dadaku. "Ti-tidak mungkin." air mata mulai mengalir, aku merasa dipermainkan. "Apa bapak menuduhku gila? Aku benar-benar bersama Tari, Pak."
Pegawai wanita tadi berdiri kemudian memelukku, aku membiarkannya dan menangis sejadi-jadinya. Jika ia sudah meninggal, lalu aku bersama siapa. Lalu yang kualami itu apa.
Cukup lama aku menangis, entah sejak kapan di kamar itu kini tinggal aku dan pimpinanku. Beliau duduk di kursi yang diletakkan di samping ranjang. Tak ada satu pun yang berbicara. Aku mengingat setiap kejadian dan mimpi yang kualami. Refleks aku memegang kepala bagian belakang, karena saat Tari melemparku, kepalaku terbentur cukup kuat di dinding. Saat aku melihat tanganku, aku terkejut ada darah yang sudah menggumpal disana.
Pimpinanku langsung berdiri karena terkejut, ia menelepon seseorang. Tak lama kemudian panitia dan seorang dokter datang. Ia mengobati lukaku dan memeriksa kondisiku.
"Ini ada obat penenang, karena sepertinya nona ini belum siap menerima berita kematian temannya." jelas dokter itu pada pimpinanku.
"Terima kasih dokter." beliau mengantar dokter keluar kamar.
Selepas kepergian panitia dan dokter pemeriksaku, pimpinanku memberi obat untuk segera kuminum. Aku menurutinya saja, kepalaku terasa sesak, jadi aku tak bisa berpikir lebih jauh.
"Istirahatlah Vita. Ikhlaskan Tari, dia sudah bahagia bersama putranya di nirwana." ucap pimpinanku begitu aku selesai meminum obat yang ia berikan.
Aku tercenung mendengar kalimat yang ia ucapkan. "Kami di kantor bahkan tidak tahu Tari memiliki seorang putra. Bagaimana bapak bisa tahu?"
Hening, tak ada jawaban Pimpinanku itu menyibukkan diri membereskan obat-obatan dan air minumku di meja tak jauh dari ranjang. Setelahnya ia berbalik dan menatapku dengan pandangan yang sulit aku artikan.
Firasat buruk menyergapku, hatiku merespon aku harus segera lari dari tempat itu. Mungkin ini maksud bocah laki-laki dan Tari dalam mimpiku. Pimpinanku itu menyunggingkan seringaian yang menyeramkan.
"Aku lupa kau begitu teliti, Vita." ujarnya sambil melipat kedua tangan di dada.
Aku tercekat, segera aku turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu. Namun belum sempat menarik gagang pintu, aku merasa kepala dan mataku sangat berat. Aku terhuyung dan bersandar di dinding.
"Ob-obat apa itu?" samar-samar aku melihat pimpinanku menyeringai puas. "Ka-kau...." dan semuanya menjadi gelap.
.
.
.