Tok...tok...tok...
Bunyi ketukan pintu.Jam menunjukkan pukul 2 malam,lantas siapa yang mengetuk pintu dini hari.Aku kembali memejamkan mata, karena ku anggap hanya halusinasi semata.
tok...tok...tok
Kembali terdengar.
Kedua anakku masih tidur terlelap.Setidaknya bayiku tidak rewel.Aku bangun dari kasur,mencoba memastikan bahwa ketukan itu benar dipintu rumahku.
Kalian tahukan mitos jika pintu rumah diketok tiga kali pada tengah malam,kira kira oleh siapa?Tapi aku tidak merinding ataupun mencium dan mendengar sesuatu.
Aman
Aku berjalan keluar kamar perlahan karena lampu ruang tengah memang selalu dimatikan menjelang kami semua tidur.
tok...tok...tok...
" assalamualaikum.Yu...." jelas terdengar suara dibalik pintu dan itu suara adikku.
" Wa'alaikum salam.." jawab ku seraya merapikan rambut yang sedikit berantakan. Bergegas aku membuka pintu.
" Lo man,kok tumben malam malam datang.Masuk dulu..." ajakku sembari membuka pintu.
Adikku langsung masuk,hanya membuka sepatu dan tas ransel menempel di punggungnya.Beribu tanda tanya bergelantungan di kepalaku.Adikku yang datang dini hari dengan tas ransel.
" Siapa Ti..." tanya mertuaku dari kamar mendengar ada orang bercakap-cakap.
" Nur pak..." jawab ku saat bapak mertua ku keluar kamar.
" Lo Nur,tumben ?" tanya bapak mertuaku mengajukan hal yang sama dengan ku.
" ngeteh dulu man..." aku langsung ke belakang saat adikku duduk lesehan di dekat pintu.
" gak usah Yu,aku buru buru " jawab adikku hingga akupun langsung kembali ke depan tanpa membawa secangkir minuman.
" Yu,bapak tadi telpon katanya Rizky keselong...".
Aku tak menjawab,otakku masih mencerna bahasa dari daerah ku.Aku pernah mendengar kata itu,tapi tak begitu paham apa maksudnya.
" Maksudnya gimana ya man ?" tanya ku yang memang tak terlalu paham bahasa didaerahku.Jujur saja, waktu kecil,aku hanya beberapa tahun disana dan belum menguasai benar bahasa daerahku lalu aku merantau kerja ke kota ini hingga sekarang.
" Keselong...hilang dilaut Yu..." jawab adikku.
" Oh..." jawab ku ringan masih belum menangkap dengan benar informasi yang aku dapatkan.
" Hah...." aku terkejut begitu menyadari informasi yang disampaikan.
" Aku pamit pulang dulu ya Yu...besok kalau bisa pulang sekeluarga,moga aja Rizky cepet ketemu..." pamit adikku lalu bergegas memakai kembali sepatunya.
Aku kembali ke kamar.Suamiku sudah duduk di kasur.Ternyata ia juga ikut terjaga.
" Napa mi...?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
" Kata Nur, Rizky keselong yah..." jawab sembari menahan tangis yang hendak pecah.
"Sabar...
Gak usah nangis...Moga aja segera ditemukan..." ucap suamiku sembari mengusap lembut punggung ku.
" Yah...." aku menghambur ke pelukannya, menumpahkan air mata dan kegelisahan yang tengah kurasa.
" Tapi yah.... biasanya kalau diselong, ketemunya sudah...." aku tak dapat meneruskan kata-kata, membayangkan apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya.
Memang didesa orang tuaku masih kental nuansa mistis nya.Apalagi menjelang bulan Suro.Setiap tahun,pasti ada orang yang tewas tenggelam di laut selatan.Jika tidak menjelang Suro,pasti saat lebaran,dimana banyak wisatawan yang datang dan berenang disana.Mitosnya mereka dijadikan abdi 'penguasa' disana.
" Sudah gak usah nangis, tidur dulu.Kasihan adek kalau kamu banyak pikiran,nanti kalau dia rewel gimana...besok aku ijin pulang dulu " hiburnya seraya menjatuhkan tubuh ke kasur.
Aku juga berbaring.Alih alih bisa tidur, pikiran ku justru kemana mana mengingat keponakan ku yang hilang di laut selatan.
Aku lumayan paham hal yang ' demikian' karena sewaktu nenekku masih hidup,dia banyak memberitahuku hal mistis di desa kami.
Keponakan kembar bersaudara dan kembarannya sudah tiada saat umur mereka masih seratus hari.Sejak dilahirkan,ia tidak pernah disusui karena langsung ditinggal pergi oleh kakak iparku,berbeda dengan kembarannya yang sempat menyusu meski hanya satu kali.Jadi bisa dibilang kalau keponakan ku bayi bajang.Terlebih weton mereka,makin menambah banyak teka teki akan kehilangannya.
Lama- lama,aku mulai mengantuk juga.
" BI...dingin Bi...dingin...." sayup sayup aku mendengar suara keponakanku, karena hanya ia yang memanggil ku Bibi bila ke sini.
***
Aku tak kuat lagi menyaksikan ibuku yang selalu histeris.Tadi pagi sewaktu aku datang,ia memanggil manggil keponakan ku untuk bangun, padahal sudah dua hari ia hilang.Untung saja dirumah ada para tetangga yang menjaganya.Setelah berteriak
dan mengingat ia hilang,ibuku pingsan.
" Ky... Bibi pulang sama keponakan.Cepet pulang ya, bagaimanapun kondisi kamu saat ini " ujarku dikamarnya yang kini ku pakai untuk ku dan anak-anak.
Para tetangga membantu menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan.Bahkan saat ada saudara saudara jauh yang berdatangan,mbak Sri,istri keponakan ibu yang menemui,aku hanya menemani karena aku sendiri tidak tahu situasi nya secara pasti.
Di dapur,ibu ibu menyiapkan masakan yang akan dibawa ke laut untuk makan para tim SAR dan tetangga yang ikut membantu mencari,juga untuk acara Yasinan nanti malam selepas sholat Isya.Adikku selalu mendampingi ibu yang masih meracau tentang keponakanku.
Malam hari,acara Yasinan berjalan lancar.Tapi aku tak tau orang orang bubar karena aku sudah tertidur, kecapekan selama perjalanan tadi pagi.Kedua anakku juga sudah tidur pulas.
" Ti...Adiik e dah ketemu " bapak membangunkanku.Orang tua kami memang menganggap nya anak sendiri, seperti aku dan kedua saudara ku.
" Alhamdulillah...." ucapku.
" ketemu dimana ?" tanyaku selanjutnya.
" Di warung Ongkleh...".
Mendengar kata warung,ada setitik harapan dalam hatiku.Tapi aku kembali ragu.Beberapa pamanku datang dan merapikan barang barang.Seketika,wangi bunga menyeruak di dalam rumah.Perasaanku makin tak karuan.
Ibuku sudah siuman.Seulas senyum terkembang diwajahnya mendengar keponakan ku sudah ditemukan dan akan segera sampai rumah.Aku tak mampu mengatakan firasat yang tengah kudapat,tak tega menghapus senyuman dari wajah ibuku yang sangat kehilangan atas kepergian keponakanku.
Beberapa tetangga mulai datang,sama sama menunggu kedatangan keponakanku.Anak anak masjid dan tim SAR yang ikut mencari datang terlebih dahulu dengan motor mereka . Tak ada suara dari mereka semua.
Jantung ku berdegup kencang.
Lamat Lamat,kudengar sirine ambulans.Ibuku langsung keluar, menerobos orang yang berdiri didepan pintu.Adikku segera mengajaknya masuk kembali.Ambulans berhenti di jalan pinggir rumah.
Dari dalam,aku masih bisa melihat orang orang membawa tandu tertutup sarung.
jantungku seakan melompat keluar ketika tandu itu melintas dan sebuah tangan terbujur kaku keluar tak tertutup sarung.
" Rizky ,"aku dan ibu berteriak bersama mendapati keponakan ku pulang tak bernyawa.