Hari ini Edo terpaksa meminjam mobil sahabatnya, Reza karena mobilnya masuk bengkel. Apesnya, ponsel Reza yang berprofesi sebagai driver taksi online masih tertinggal di mobil dan Reza pun belum menonaktifkan aplikasi taksi online nya. Tak ayal, satu order masuk ke akun nya.
"Za, hp lo ketinggalan di mobil nih! Mana ada order masuk," Edo menghubungi Reza ke nomor ponsel Reza lainnya.
Reza memang punya dua ponsel pintar, 1 untuk urusan pribadi, dan 1 khusus untuk urusan pekerjaannya.
"Ya ampun Do! Sorry, gue lupa banget!" sesal Reza.
"Terus ini gimana?" tanya Edo panik.
"Tolong handle orderannya ya, satu ini aja,"
"Enak aja lo! Gue pinjem mobil lo buat transportasi pribadi, bukan buat narik!" tolak Edo keras.
"Iya Do sorry, tapi gue bener-bener lupa matiin aplikasinya. Satu orderan ini doank Do, please ya. Kalo dicancel nanti gue kena suspend,"
"Ah, lagian lo sih pake lupa matiin aplikasi segala!"
"Ya sorry, abis orderan ini selesai lo langsung off in aja aplikasinya,"
Edo menghembuskan nafas pasrah. Dia tidak tega menolak permintaan Reza sedangkan Reza sudah berbaik hati meminjamkan mobilnya.
"Oke gue bantu lo, tapi sekali ini doank,"
"Ok, thanks banget ya Bro,"
"Iya,"
Sambungan telepon terputus.
Edo segera menyusuri jalan menuju titik penjemputan Jl. Alamanda 10 yang memang tidak jauh dari lokasinya sekarang, menjemput calon penumpang Reza yang bernama Tania.
"Mbak Tania?" tanya Edo sambil membuka kaca mobil sebelah kiri depan.
Dalam hati, Edo memuji kecantikan calon penumpangnya itu.
"Iya," jawab Tania seraya melongok ke dalam mobil.
"Kok mukanya beda sama yang di aplikasi?" selidik Tania saat melihat Edo di belakang kemudi.
Dia jadi ragu untuk masuk ke dalam mobil.
"Iya Mbak, ini mobil temen saya, namanya Reza,"
Tania mengecek aplikasinya. Memang benar di aplikasi tertulis bahwa driver yang dipesannya bernama Reza Wisesa.
"Terus Mas Reza nya kemana? Anda supir tembak ya? Atau anda mencuri mobil ini dari pemiliknya?" tanya Tania dengan penuh curiga.
"Bukan bukan.. Ceritanya panjang Mbak, intinya saya temennya Reza, nama saya Edo, dan hari ini saya pakai mobil Reza. Kalau Mbak ngga percaya, Mbak bisa telpon Reza sekarang juga,"
Tania dengan segera menelpon Reza melalui aplikasi. Setelah beberapa menit mendengar penjelasan dari Reza akhirnya Tania bersedia memakai jasa Edo untuk mengantarnya. Lagi pula dia bisa terlambat datang ke wawancara kerja kalau dia harus memesan ulang taksi online.
"Ke Kafe Mozaik ya Mbak?"
"Iya,"
Dalam hati Edo sedikit bersyukur karena tujuan penumpangnya sama persis dengan tujuannya, Kafe Mozaik.
"Lewat jalan biasa aja Mas, ngga usah muter-muter!" ucap Tania ketus.
"Iya Mbak,"
Beberapa menit dalam perjalanan, mereka menemui kemacetan parah.
"Ngga bisa cepetan Mas jalannya? Saya bisa telat wawancara kalo begini," ucap Tania gusar.
Dia sudah lama menginginkan pekerjaan ini, bahkan dia rela resign dari pekerjaan lamanya demi bisa bekerja sebagai supervisor di kafe Mozaik, dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan wawancara ini.
"Ini jalanannya macet Mbak, kalau mau lebih cepat kita harus lewat jalan alternatif,"
"Jalan alternatif? Anda bukan mau macem-macemin saya kan?"
"Enggak Mbak, saya ini orang baik-baik," jawab Edo sambil tersenyum menanggapi sikap Tania yang terlalu berlebihan.
"Dari mana saya bisa percaya? Bisa aja kan Anda dan Mas Reza sekongkol untuk jahatin saya?"
"Kalau Mbak ngga percaya, silahkan Mbak cari taksi online lain. Mbak tidak perlu kok membayar ke saya," jawab Edo berusaha seramah mungkin.
Tania diam sebentar. Dengan waktu yang mendesak dia tidak mungkin sempat memesan ulang taksi. Lagipula, hari masih pagi jadi kalau pria yang mengaku bernama Edo itu menjahatinya dia masih bisa dengan mudah minta pertolongan.
"Oke, kita lewat jalan alternatif," jawab Tania.
Dengan cekatan Edo mengambil rute alternatif yang jauh lebih lancar.
"Tadi Mbak bilang, mau wawancara di kafe Mozaik?" tanya Edo mencairkan suasana.
"Iya," jawab Tania singkat. Dia tidak mau terlalu banyak bicara dengan orang asing.
"Ngelamar sebagai apa Mbak?" tanya Edo lagi.
"Pengen tau banget sih!" jawab Tania ketus.
Edo hanya diam mendengar jawaban Tania, dia kembali fokus mengemudi.
Tania dari kursi penumpang diam-diam memperhatikan Edo dengan mata tajamnya. Jika dilihat sekilas, tampangnya tidak seperti orang jahat. Dan dia pikir tidak ada salahnya sedikit mengobrol selama itu tidak terlalu bersifat pribadi.
"Supervisor," jawab Tania kemudian.
"Ooh.. Supervisor," gumam Edo pelan.
"Memangnya Mbak nya lulusan apa?" tanya Edo lagi.
Lagi-lagi Tania melirik Edo sinis sebelum menjawab.
"S1 manajemen," jawabnya singkat.
"Oo.. S1 manajemen," gumam Edo lagi.
"Sebelumnya udah pernah kerja Mbak?"
"Perlu banget ya driver taksi online banyak tanya sama penumpangnya?!" jawab Tania kesal.
Edo kemudian hanya terdiam.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan antara mereka sampai akhirnya mereka sampai di Kafe Mozaik.
Tania membayar ongkos taksi online yang tertera di aplikasi setelah itu turun dari mobil.
Tidak selang berapa lama Edo pun keluar dari mobil.
"Ngga usah nganterin sampe dalem Mas, cukup sampe sini aja!" tukas Tania ketus.
"Saya ngga berniat nganterin Mbak kok," jawab Edo sopan.
Tania hanya melirik sinis mendengar jawaban dari Edo. Mereka lantas beriringan memasuki kafe.
"Pagi Pak Edo," sapa seluruh karyawan kafe dengan sikap hormat saat melihat Edo datang.
"Pagi," jawab Edo sambil tersenyum.
"Yang mau interview sudah datang?" tanya Edo kepada salah satu karyawan sambil melongok arlojinya.
"Itu orangnya Pak," tunjuk bawahan Edo dengan sopan ke arah Tania.
Tania sontak terkejut dengan apa yang terjadi di hadapannya.
Tapi tidak dengan Edo, rupanya sejak di mobil tadi Edo sudah mengira bahwa Tania adalah pelamar yang akan diwawancarainya hari ini.
Edo menoleh ke arah Tania yang hanya berdiri mematung.
"Suruh dia ke ruangan Saya," perintah Edo kepada bawahannya.
"Mbak Tania, silahkan langsung ke ruangan Pak Edo," ucap karyawan kafe sopan.
"Pak.. E.. Edo??" tanya Tania terbata.
"Iya, Pak Edo, manajer kafe ini,"
Seketika tangan dan kaki tania terasa kaku dan dingin, wajahnya pun terlihat pucat pasi.
======