Namaku Aliya Rajasa, aku baru pindah rumah ke Jakarta, dulunya aku di Bandung. karena aku di tugaskan bekerja di Jakarta aku harus pindah, karena waktunya lama aku membeli rumah di Jakarta, dan sekarang aku sudah tiga hari di Jakarta, namun dalam waktu tiga hari itu, ada hal yang menganehkan di rumah baruku.
Sebuah pintu di kamar dapur sering terbuka sendiri, sebuah alat-alat masak di dapur sering berjatuhan dan sering juga mendengar suara orang memasak di dapur, atau terkadang juga tv di ruang tamu menyala, dan itu sering terjadi pada malam hari, ntah pukul berapa, karena aku tidak berani melihat jam karena takut.
Namun kali ini aku ingin tahu siapa orang yang melakukan semua ini, malam ini akan menjadi malam tantangan bagi Aliya.
Tepat pukul 12:00, aku ingin membuktikan apakah itu manusia atau bukan, kali ini belum ada tanda-tanda mereka datang, rumah masih merasa sunyi dan belum ada suara sedikitpun.
"Sepertinya tidak ada apa-apa, mungkin aku salah dengar waktu itu" Aliya keluar dari persembunyiannya, ketika ia ingin melangkahkan kakinya ke kasur, entah kenapa Aliya merasakan yang aneh dengan rambutnya, Aliya meras sepertinya ada yang memainkan rambutnya.
"Ini perasaan ku atau ini benar-benar.." bulu kuduknya berdiri dan dengan cepat mengelus semua rambutnya membuktikan bahwa rambutnya tidak apa-apa.
Memang pas Aliya mengelus rambutnya, rambut itu tidak ada yang aneh, karena Aliya merasa itu hanya perasaan nya saja, ia melanjutkan jalannya ke atas kasur.
Setiba di kasur, Aliya mencoba tidur dengan tenang dan tidak berpikir aneh-aneh, namun pas Aliya sudah siap tertidur, tiba-tiba selimut yang ia pakai melorot ke bawah, karena Aliya masih tersadar ia segera menarik kembali selimut itu dan segera menyelimuti kembali badannya.
Namun, saat Aliya menyelimuti badannya selimut itu semakin cepat melorot, seperti ada yang menariknya, padahal di rumah itu tidak ada siapa-siapa.
Aliya mencari tahu, kenapa selimut nya bisa melorot, ia segera turun dari kasurnya, saat kaki kanannya menyentuh lantai tiba-tiba ada tangan menarik kaki Aliya sampai ia terjatuh dan hampir saja tertarik kedalam kolong kasur itu, sekuat tenaga Aliya menahan tarikan itu, namun tangan itu semakin kuat menariknya.
"Astaghfirullah haladzim, tolong, lepaskan kaki ku, lepaskan, Allahu Akbar" Teriaknya sangat ketakutan dan tidak bisa terlepas dari tarikan itu, Aliya terus berusaha meraih meja yang ada di kamarnya sebagai pegangannya.
Namun saat Aliya mulai menarik keras kakinya tiba-tiba tangan itu langsung melepaskan kakinya Aliya, sampai Aliya terjedot pada meja itu.
Meski ada sedikit darah di kepalanya, namun Aliya tidak merasa sakit, karena rasa sakitnya tertutup oleh rasa takutnya, dengan cepat Aliya berdiri dan berlari ke luar, lagi-lagi makhluk itu mengganggunya, kini Aliya di kaget kan oleh sesosok nya.
Badannya tinggi besar matanya merah dan sekilas mengeluarkan suara tawa namun seperti bapak-bapak. Aliya melihatnya langsung Istighfar.
"Astaghfirullah haladzim, Makhluk apa itu" Dari kata-kata itu, tiba-tiba seseorang menimpuk pundaknya dan Aliya langsung meliriknya kaget, namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya, kini ia kebingungan dan semakin ketakutan.
Trong,, Trangg,,
Suara bisik di dapur membuat jantung Aliya semakin kencang berdetak nya, ia semakin yakin bahwa rumahnya ini adalah angker, Aliya mencoba membalikan badannya dan berlari untuk keluar, namun sesosok hitam besar itu mengagetkannya dan hampir saja membuatnya terpingsan namun bisa menahannya.
Tangannya yang bergetar ketakutan, membuat sesosok itu semakin merasa berkuasa, Aliya menjauh darinya dan mencoba pergi dari sesosok itu, tanpa ada perlawanan darinya, Aliya segera pergi mengambil handphone nya yang terletak di kasur kamarnya.
Entah kenapa rambutnya merasa berdiri dan merasa dirinya panas dengan aura ruangan itu, nafasnya semakin sesak saat ingin memasuki kamarnya.
"Astaghfirullah haladzim, apa ini, kenapa sangat panas dan pengap di sini" Gumamnya lalu seketika matanya bisa melihat para makhluk halus yang ada di dalam kamarnya, Aliya sangat terkejut melihat segerombolan makhluk halus di dalam kamarnya.
Dengan cepat Aliya berlari keluar dan lagi-lagi ada seseorang yang mencegatnya dengan menarik rambut Aliya sampai Aliya tertarik kebelakang.
"A,, jangan, lepaskan aku, aku mohon, tolong tolong. siapa saja yang mendengar ku, tolong aku" Tawa Kunti itu semakin membuat Aliya ketakutan, keringat yang tadinya tidak ada kini membasahi seluruh badan dan wajahnya.
"Tolong" Teriaknya kembali sembari terus melepaskan tarikan dari mbak Kunti itu, karena Aliya tidak mengikat rambutnya, sehingga mbak Kunti itu suka pada rambut Aliya dan ingin memilikinya.
Tawa mbak Kun tidak henti-henti menghiasi bunga telinganya Aliya, dia benar-benar sudah tidak bisa apa-apa lagi, di sekelilingnya banyak sekali makhluk halus, Aliya mencoba membaca surat pendek yang terdapat di Al-Qur'an, dengan surat itu, Aliya terlepas dari tarikan mbak Kun.
Dengan cepat Aliya meraih handphone nya, dan langsung berlari ke luar, kini Aliya bebas dari mereka, namun entah kenapa lagi dengan matanya ia tidak bisa melihat jelas, Aliya sampai kebingungan pintu yang mana yang menuju luar ruang ini.
"Pintu yang mana yang harus aku lewati, kenapa semuanya tiba-tiba terlihat kabur di mataku, aku harus mengambil jalan mana!!" Karena Aliya mendengar bisikan, dan memberi tahukan kalau jalan keluar adalah pintu sebelah kiri, sehingga Aliya langsung menuju pintu yang sebelah kanan.
Padahal itu adalah jebakan untuk Aliya agar Aliya bisa masuk kedalam ruangan itu, dengan cepat Aliya masuk kedalam ruangan itu.
Setiba di dalam Aliya melirik sekitar dan berjalan mundur, tiba-tiba Aliya menginjak sesuatu, entah apa, bahannya kenyal dan mengeluarkan suara seperti tulang, saat di injaknya tadi.
Aliya melirik ke bawah dan terkejut, ternyata yang ia injak adalah tangan mbak Kun, dengan cepat Aliya menjauh dari tangan itu, dan kembali berjalan mundur.
Tiba-tiba sesosok hitam itu mencengkeram wajah dan badan nya Aliya, sampai Aliya ketakutan dan tidak berani berteriak karena takut mengundang makhluk halus lainnya, tangannya yang hitam itu semakin meraba wajahnya Aliya.
Dengan nafas yang tidak teratur, dan tidak terasa dirinya mengeluarkan air mata dan bergumam meminta tolong pada ibunya.
"Ibu tolong Aliya Bu, Aliya ketakutan di sini, tolong Aliya Bu" Tangan hitam itu sudah sampai lehernya, Aliya semakin ketakutan dan menelan ludah, ketika pergerakan dari leher Aliya tiba-tiba makhluk itu berhenti meraba dan langsung mencekik lehernya Aliya, sampai-sampai Aliya tidak bisa bernapas.
Aliya sudah tidak kuat ingin berteriak minta tolong, tapi tangan itu semakin kencang mencekik lehernya, sampai Aliya terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
"A,, lepaskan aku makhluk jelek, lepaskan" Dengan suara yang Aliya paksakan, Karena benar-benar sangat erat cengkraman itu.
"Lepaskan, Uhukk,, Uhukk,, Uhukk,," Sekuat Aliya berbicara sampai dia terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah lagi, makhluk itu merasa kesal dan marah, ia melempar Aliya ke sebuah lemari kaca, sangking kencangnya lemparan itu, sampai-sampai kaca lemari itu pecah dan menggores sebagian badan dan wajahnya Aliya.
"Kau berani pada ku, nyawamu yang melayang" Ucap makhluk yang berbadan besar itu dengan sedikit berbisik, tapi Aliya tidak merasa takut padanya malahan ia semakin berani untuk menyingkirkan makhluk itu dari rumahnya.
"Dengar kau, aku tidak takut padamu, aku akan memusnahkan mu, sebelum kau memusnahkan ku" Teriak Aliya, membuat makhluk hitam itu semakin marah, dengan kekuatan jarak jauh makhluk itu mencekik kembali lehernya Aliya sampai Aliya melayang di udara tanpa sentuhannya.
"Lepaskan, tanganmu dari leherku, lepaskan" Sekuat tenaga Aliya mengeluarkan suaranya, tangannya terus mencoba melepaskan cekikan itu, namun tidak bisa, malah lehernya terluka karena cakaran dari tangannya untuk melepaskan cekikan makhluk itu.
"Apa yang kau inginkan dariku!!" Tanya Aliya sudah sangat kesesakan, lalu makhluk itu menjawab pertanyaan Aliya.
"Aku ingin nyawamu" Suara serak itu terdengar sangat jelas di telinga Aliya, lalu Aliya mencoba membohonginya, ia menyuruh makhluk itu melepaskannya, baru dia akan memberikan nyawanya.
"Lepaskan dulu aku, lalu akan ku berikan nyawaku, cepat sekarang" Benar-benar sudah tidak kuat lagi berbicara, lalu makhluk itu sangat mudah di bohongi, Aliya segera ia lepaskan sampai-sampai Aliya terjatuh dari ketinggian yang lumayan tinggi.
"Ah, huh,, Huh,," Hembusan napas Aliya yang sedari tadi ia inginkan kini membuat dirinya tidak putus asa dan segera meraih Handle pintu itu dan berlari keluar.
Namun saat kakinya melangkah keluar, tiba-tiba kakinya di seret sampai Kamarnya.
Bughh,,
"A,, tolong, tolong, A,, hikss,, hikss,, tolong,, tolong" teriakannya benar-benar sangat keras, Aliya tidak bisa menghentikan tarikan itu karena Aliya tidak menemukan barang yang bisa menahannya atau menjadi pegangan nya.
sampai sudah di kamar pintu itu tertutup sendiri dan tarikan itu berhenti, Aliya berdiri dengan nafas yang tidak beraturan dan mencoba membuka pintu kamarnya itu.
Ckk,,Kckk,, Kckk,,
"Buka, tolong buka pintunya, buka"
Jedor jedor jedor.
Pintu itu terus di ketuk Aliya sekuat tenaganya dan terus mencoba membuka pintunya, hingga sampai ingin mendobraknya namun tidak bisa.
Badannya tidak bisa di hentikan dari tarikan seseorang di belakang tanpa sentuhan apapun, Aliya semakin berteriak kencang dan menangis memanggil ibunya.
"A, Ibu tolong Aliya, ibu tolong Aliya, ibuuuu... hikss hikss hikss"
Tawa mbak Kun semakin menjadi-jadi, membuat Aliya semakin menangis kencang, Suara dari luar dan dapur sangat lah berisik, Aliya terperangkap di rumah yang tidak layak di huni manusia.
Aliya semakin di tarik masuk kedalam cermin di kamarnya, tawa mbak Kunti tidak henti membuat Aliya semakin ketakutan, dengan cepat Aliya merentangkan tangannya dan menolak tarikan dari mbak Kun itu.
"Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, ya Allah, Ya Allah, Ibuuu... hiks hiks hiks" Tangannya terus menjadi penyangga tubuhnya, Aliya terus menerus mengucapkan kata-kata itu, sampai dia benar-benar mendapatkan bantuan dari orang-orang.
...
Pagi tiba, tetangga yang sedari malam tidak bisa tidur karena kegaduhan yang terdapat di rumah Aliya, membuat ibu itu penasaran ingin melihatnya.
"A,, Allahuakbar" Teriak Aliya membuat ibu itu semakin merinding dan segera menelpon polisi, tidak lama dari telpon itu di tutup, polisi datang beserta pasukannya.
"Maaf Bu, yang mana rumahnya" sesampai polisi itu di tempat kejadian.
"Yang ini pak"
"Bagaimana ibu bisa tahu kalau ini sebuah pembunuhan!!"
"Sedari malam saya mendengar teriakannya, tidak henti memanggil ibu dan meminta tolong, saya sempat mengeceknya ke rumah itu, namun saat saya ingin memasuki gerbang rumahnya, tiba-tiba ada ibu-ibu keluar dari rumah itu, dan langsung berbicara,"bahwa tidak ada apa-apa di rumah ini, dan jangan khawatir, itu suara anakku sedang menonton film horor". Itu yang di katakan ibu-ibu semalam, karena saya merasa percaya dengan omongannya saya langsung pergi, dan saya yakin orang yang semalam berbicara padaku itu adalah ibunya, tapi tidak mungkin juga kan pak, jam 3 masih saja terjerit-jerit seperti kesakitan dan ketakutan, terus tadi tidak lama dari bapak datang, orang itu berteriak kembali mengucapakan, Allahuakbar, dan memanggil ibunya, saya sangat tidak kuat mendengarnya, makanya saya telpon bapak untuk membuktikan apakah, orang itu baik-baik saja atau gimana!!"
"Oke baik Bu, mari kita cari bersama. Semuanya ikuti saya" Ucap pak polisi itu mengajak rekannya masuk rumah, karena rumahnya di kunci sehingga tim polisi mendobrak pintu itu dan berhasil masuk.
Mereka segera mencari keberadaan Aliya, namun tidak ada jejak apapun, semuanya terlihat biasa saja, tidak ada alat-alat yang berjatuhan atau percikan darah sedikitpun, namun ada sebuah tanda di setiap temboknya, seperti petunjuk bagi mereka.
"Pak apa mungkin ini sebuah petunjuk dari orang yang membunuh itu, ayo pak kita ikuti percikan darah di tembok ini" Lalu mereka semua mengikuti darah-darah yang berada di setiap temboknya, hingga sampai di sebuah Ruangan yang terdapat dua pintu.
"Coba kalian lihat di sekitar ada kah tanda-tanda lagi".
..
"A,," Teriakan Aliya karena Aliya sudah tidak kuat lagi untuk menahan tarikan dari mbak Kun itu, dan sedikit lagi tangannya masuk kedalam cermin dan menelan dirinya.
Namun ibu yang tadi mendengar teriakkan Aliya, ia memberitahukan kepada pak polisi, dan suara itu berasal dari pintu sebelah kiri.
"Pak sepertinya dia ada di pintu sebelah kiri, saya yakin pak, tadi saya mendengar teriakkan itu"
"Ya sudah Bu, semuanya buka pintu itu" menunjuk pintu sebelah kiri.
Brughh...
Aliya terkejut dan bahagia juga, akhirnya ada orang yang ingin menolongnya, Aliya langsung mengeluarkan lagi suara agar mereka segera menghampiri Aliya.
"Pak, Bu, saya di sini" Teriaknya membuat semua orang yang mendengarnya langsung melirik Aliya, namun mbak itu menarik Aliya dan hampir saja Aliya tertelan oleh kaca itu, namun tangan sebelah kanannya masih kuat memegang batang penguatnya.
"A, ibu, pak tolong" Teriak Aliya kembali.
"Astaghfirullah haladzim pak, apa yang harus kita lakukan!!" Tanya ibu itu sangat khawatir pada Aliya.
"Kita pecahkan kacanya cepat" Mereka bergegas menghampiri Aliya dan ingin memecahkan kaca itu, namun Aliya langsung menghentikan aksi mereka, karena Aliya mendapat bisikan dari mbak itu untuk tidak memecahkan kaca itu, jika Sampai kaca itu pecah, Aliya akan mati, karena separuh badannya sudah terkubur oleh cermin itu.
"Berhenti pak, jangan lakukan itu, panggil saja ustadz atau siapa saja yang bisa membantu ku, jika kalian menghancurkan kaca ini, bisa jadi kita semua akan menjadi mangsa dan mengundang makhluk lainnya datang" Ucapan Aliya itu di setujui oleh semuanya kemudian dengan cepat ibu itu berlari keluar mencari ustadz untuk membantu Aliya keluar.
"Cepat Bu" Aliya sudah sangat pegal, tangannya sedikit lagi tertelan kaca, wajahnya sudah memucat tidak kuat, tarikannya itu sedikit demi sedikit mengambil wajahnya, kini tinggal tangannya saja yang terlihat.
Saat jari jemarinya itu mulai terbuka satu persatu, dan sebentar lagi tangan itu tertelan juga tiba-tiba ibu yang tadi itu sudah kembali dan langsung menarik tangan Aliya, dan terus menariknya keluar.
"Astaghfirullah haladzim, A'udzubilahiminasyaitonirajim, Bismillahirrahmanirrahim" Ucap Ustadz itu membantu ibu itu menarik Aliya, dengan do'a-doa'a lainnya ustadz itu berusaha membantu menarik Aliya dengan tangannya yang ia arahkan ke arah cermin.
Suara Teriakan mengerikan terdengar oleh mereka yang menyaksikan, pagi-pagi seperti ini pun tetap merasa sangat horor bagi mereka.
"Allahuakbar" Teriak Ustadz itu sambil menarik tangannya lalu ia kepalkan dan membuang ke bawah, alhasil wajah Aliya ternampak kembali, meski banyak darah di setiap wajahnya, mukanya yang pucat dan terlemas tidak berdaya.
Lalu ustadz itu Kembali menarik tubuh Aliya dengan bacaan lainnya yang hanya bisa terdengar oleh dirinya sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahuakbar" Menarik kembali dan mengepalkan tangannya lagi dan mengucapkan "Allahuakbar" sambil membuangnya ke cermin.
"Argghh" Teriakan itu menjadi akhir dari penarikan Aliya, Alhamdulillah akhirnya Aliya dapat di tarik dari cermin itu, meski keadaannya belum tentu baik jika nanti ia hidup.
Tapi Alhamdulillah Aliya bisa terselamatkan dari kaca itu, dan pak ustadz menyelesaikan semuanya dengan memberi doa pada Aliya yang terbujur lemas di atas lantai.