Actually this is more like a creepypasta too, but I will make this to cerpen :))
------------
'Sal, malam ini senggang ga? Kalau ga, dinner yu!'
Aku menatap layar ponsel, itu pesan dari senior jurusanku. Tapi langsung kumatikan ponselku, sungguh pesan yang tidak penting. Aku tahu aku cantik dan ramping, Tapi dia tidak harus selalu mengirimiku pesan yang selalu mengajak jalan-jalan, bukan?
Semua orang tahu, senior itu sedang melakukan pendekatan tapi haruskah selalu menggangguku? Aku mengambil tas selempangku dan segera bersiap pergi ke kafe di dekat apartemenku untuk sekedar mengerjakan tugas matkul yang memusingkan dan gilanya aku baru mengerjakan tugas jam 7 malam, hanya beberapa langkah aku sudah sampai di kafetaria itu.
Aku memesan segelas macha latte lalu duduk di tempat duduk paling ujung, itu tempat yang tidak panas dan berada di pojok setidaknya membuatku bisa lebih fokus dalam mengerjakan tugas. Jadi segera saja aku mengerjakan tugasku, sungguh tugas yang merepotkan aku harus mencari berbagai materi untuk bahan matkul dan di bukukan dengan halaman minimal 30 halaman sungguh menyiksa.
Tapi hanya perlu dua jam, aku sudah menyelesaikan tugasku dan menghabiskan 2 gelas macha latte. Segera aku membayar dan kembali pulang karena waktu sudah menunjukkan jam 9 malam. Tapi tiba-tiba ada suara dering ponselku, aku segera berhenti dan mengecek apa yang menyebabkan ponselku berbunyi.
"Ah, notifikasi grup." Gumamku.
Aku melihat apa yang dibicarakan teman-temanku, mereka membicarakan tentang tiga orang mahasiswa yang sudah menghilang selama seminggu ini. Mereka tidak di temukan dimana-mana, para polisi juga sedang menginvestigasi dan memeriksa TKP. Jujur membaca beritanya membuatku merinding, mereka bertiga hilang saat jam malam dan aku sekarang tengah di luar di jam malam.
Tapi kemudian ponselku bergetar, aku melihat layar. Di layar tertera nama 'Wendy' itu sahabatku, jadi segera aku mengangkatnya.
"Halo?"
"Sally, kamu besok masuk, kan?"
"Iya, aku masuk."
"Jangan lupa bawa bukunya ya!"
"Buku?"
"Iya, dosen sudah suruh kita buat beli buku matkulnya. Jangan bilang kamu lupa?"
Aku menepuk dahiku, betapa pelupanya aku.
"Aduh, sudah malam gini lagi Sal. Kamu berani beli buku sendiri?" Tanya Wendy.
"Berani, lagian masih jam 9 belum malam banget."
"Oh, iya deh kalau kamu ngomong gitu. Sampai ketemu besok ya,"
"Iya, bye."
Aku menutup telepon, dan melihat ke sekitar jalan. Segera aku menunggu di halte bis, berharap masih ada bis yang lewat jam segini.
Tin!
Ah, rupanya masih ada bis pada jam ini. Aku segera masuk, lalu duduk. Aku berfikir keras tentang cara mencari buku yang langka itu, jika memesan online percuma saja karena akan datang dua hari paling cepat dan aku harus membutuhkan buku itu besok. Kalah fotokopi juga mustahil, satu-satunya cara adalah membeli. Tapi sempatkah aku?
Aku segera turun dari bis dan pergi ke toko buku terbesar di kotaku, langsung pergi ke buku jurusan ekonomi dan mencari buku tebal itu. Satu-satu kulihat buku yang ada, tapi nihil tetap saja tidak ada.
"Kamu mencari apa?"
Aku menoleh, di sampingku ada seorang laki-laki yang memegang sebuah buku yang kukenal.
"Ah, buku ini!" Seruku tiba-tiba.
Laki-laki itu menatapku aneh, kemudian aku menjelaskan bahwa buku yang dia pegang adalah buku yang sangat kubutuhkan.
"Rupanya begitu, kalau seperti itu ambillah."
"Eh? Kamu tidak memerlukannya?" Tanyaku.
"Tidak, aku hanya suka pelajaran ekonomi dan tidak terlalu membutuhkannya seperti mahasiswi sepertimu."
Aku langsung mendesah lega, tidak sia-sia tapi tetap saja aku merasa tidak enak.
"Terimakasih, kamu memberikan buku ini cuma-cuma-"
"Siapa bilang aku memberikannya secara cuma-cuma?"
Aku terdiam, ah, benar tidak ada yang gratis di dunia ini.
"Kalau begitu apa yang kau mau?" Tanyaku.
"Makan malam denganku, yuk."
Aku merasa curiga, baru juga kenal sudah mengajak makan malam? Tapi ini biasa sebenarnya bagiku, setiap lelaki yang batu kukenal memang selalu begini, selalu ingin mendekatiku. Tapi aku harus menurutinya, dia sudah sangat baik memberikan buku ini.
"Aku mau, tapi bisa besok saja?"
Laki-laki itu terdiam sebentar lalu mengangguk, syukurlah dia pengertian.
"Baik, tapi malam ini aku harus mengantarmu. Bagaimana?"
Aku ragu, kenapa dia jadi agresif begini?
"Aku kebetulan membawa mobil, bis tidak akan beroperasi karena sudah terlalu malam." Jelasnya.
Aku mengangguk, tidak ada salahnya. Lagipula akan semakin cepat aku pulang, walaupun masih ada rasa ragu di hatiku.
Aku menaiki mobilnya, mobil yang bagus sepertinya keluaran terbaru tahun ini. Apa laki-laki ini orang kaya?
Tapi setelah sampai aku langsung berpamitan, tapi dia memaksa untuk mengantarkan ku sampai lift. Aku tidak bisa menolak lagi, jadilah aku dan dia berjalan menuju lift apartemenku.
Tapi seseorang muncul dari sisi berlawanan dan langsung ingin menyentuhku.
"Sally, gadis sialan kau ternyata mempermainkanku ya!"
Aku langsung menghindar, laki-laki itu melindungiku. Lalu aku melihat siapa yang menyerangku, senior jurusanku.
"Apa maksudmu?" Tanyaku.
"Kau bersikap seolah-olah menggodaku, tapi ternyata kau ular!"
Aku jelas kesal di hina begitu, siapa yang menggodanya?
"Hei, aku tidak pernah menggodamu! Kau yang selalu menggangguku!" Seruku tidak terima.
"Jalang sialan kemari kau!"
Hampir saja aku di celakai, laki-laki ini cepat tanggap dengan melindungi dan melawan balik senior gila itu. Hampir saja senior itu dibuatnya sekarat, aku langsung menghentikannya.
Buk! Buk!
"Berhenti! Sudah cukup, kau mau membunuhnya hah?"
"Kalau untukmu aku akan melakukannya." Gumamnya.
"Apa yang kau katakan tadi?"
"Tidak apa-apa. Apa dia dibiarkan begini saja?" Tanya laki-laki itu.
"Taruh saja di depan pos polisi, lalu terimakasih atas tumpangannya."
Laki-laki itu tersenyum, "Tidak apa, besok kita bertemu di restoran xxx jam 7 ya."
"Restoran yang mahal itu? Kau yakin?" Lalu setelah mengatakannya aku menepuk dahi, dia kan orang kaya.
"Kalau begitu sampai nanti."
Dia menahan tanganku, "Jangan terima pesan atau telepon dari laki-laki lain."
Aku pergi begitu saja mengindahkan ucapannya, dan masuk ke kamar lalu mandi dan kemudian tertidur pulas. Jam 12 malam aku mendapati ponselku berdering keras, dengan kesal aku mengangkat tanpa melihat namanya.
"Kenapa jam segini menelpon?"
"Laki-laki yang bersamamu tadi, dia seorang penguntit dan pembunuh hati-hatilah," terdengar suara senior di ujung telepon, aku merasa aneh karena ini.
"Jangan bicara sembarangan, kau darimana tahu itu?"
"Dia yang membunuh tiga mahasiswa dan membunuh adikku,"
"Kau kira aku akan percaya? Sudahlah, aku mau tidur."
"Tung-"
Tut!!
Aku menutup telepon langsung, lalu tanpa berfikir tentang omongan sang senior aku langsung tertidur kembali.
Esoknya, di restoran...
"Apa anda sudah reservasi ruangan?" Tanya seorang pegawai restoran itu.
"A-ah, saya ada janji disini. Jadi saya tidak tahu sudah direservasi atau tidak." Balasku.
Mendengar jawabanku pegawai itu langsung tersenyum, "Siapa nama anda?"
"Sally Neversa."
"Ah, kalau begitu silahkan masuk di ruangan nomor 6."
"Ah, baik. Terimakasih,"
Aku langsung menelusuri lorong yang ada, Dan menemukan ruangan nomor 6. Sebelum masuk aku sempat tidak sengaja menubruk seseorang, sungguh memalukan.
Saat masuk ruangannya masih sepi, berarti laki-laki itu helum datang. Jadi aku duduk di kursi dan di dekati seorang pramusaji.
"Mau memesan apa nona?"
"Ah itu-"
"Ini menunya,"
Aku melihat menu, semua makanan disini sangat mahal. Tapi ada satu makanan yang menjadi top rating disini dan harganya lumayan jauh berbeda dari makanan lainnya, makanannya jauh lebih murah.
"Tolong steak ini, ya." Ujarku.
Pelayan segera pergi, aku menikmati white wine yang tersedia. Kukira ini akan gratis, tapi aku tunggu laki-laki itu belum muncul.
"Ah, apa dia lupa? Tapi kenapa dia sudah membayar kamar ini?" Gumamku.
Lalu aku melihat ponsel yang berdering lagi, telepon dari senior sinting itu lagi. Aku menolak panggilannya, tapi dengan cepat muncul pesan darinya.
'Kalau sekarang kau diam di luar, jangan makan apapun!'
"Siapa sih dia, enak sekali menyuruhku." Ujarku kesal.
Tapi pesananku sudah datang, aku menatap steak dengan curiga sedikit takut dengan pesan dari seniorku itu.
Tapi dengan sendok aku mengambil sedikit bumbu steak itu, menyesapnya dan merasakan kenikmatan bumbu di dalamnya. Enak sekali!
"Gila ya aku jika tidak memakan steak seenak ini?" Aku segera langsung melahapnya, benar-benar penuh citarasa.
Aku sudah menghabiskan steak ku, lalu menunggu laki-laki itu. Tapi setelah satu jam aku disini dia tidak datang, benar-benar laki-laki tidak menepati janji!
Aku segera bangun dari kursi, tapi kemudian ada pelayan yang menghalangiku.
"Anda belum membayar."
"Ah, iya." Aku langsung merogoh tasku untuk mencari dompet, tapi dompet itu tidak ada.
"T-tidak mungkin aku sudah memasukkannya tadi." Seruku panik.
Tapi aku langsung menatap pelayan itu.
"Hei, steaknya sangat enak tapi maaf aku kehilangan dompetku."
Pelayan itu tersenyum, laku menunjuk piring steakku yang kosong.
"Dia juga kehilangan dompetnya."
Aku langsung merinding seketika, dia? Steak itu?
Hup!
Tanpa kusadari ada yang menyergap ku dari belakang, aku di beri obat bius hingga pingsan. Setelahnya aku terbangun, melihat di sekelilingku adalah mayat.
Mengerikan, mayat-mayat ini mati dengan tersisa Tengkoraknya saja! Ada beberapa mayat yang masih ada kulitnya tapi mengerikannya bagian dalam tubuhnya sudah hilang tak tersisa. Saat sedang fokus melihat sekiranku aku mendengar suara yang berisik, aku menoleh dan mendapati laki-laki yang mengajakku makan malam ada di hadapanku dengan mesin pisau bergerigi yang menakutkan karena berlumuran darah bahkan berwarna merah yang sepertinya itu bukan warna asli Mesin itu.
"Enak tidurnya, hm?"
Aku merinding seketika, laki-laki ini berbahaya!
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanyaku ketakutan.
"Padahal sudah kuberi tahu jika jangan berhubungan dengan laki-laki lain."
Aku terdiam, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kau melakukan ini?"
Laki-laki itu mengangkat daguku lalu tersenyum, "Karena kau tidak patuh padaku, harusnya kau patuh."
"Memangnya kau siapa!" Bentak ku.
"Aku ini pengusaha daging manusia,"
"Da-daging apa?" Aku syok mendengarnya.
"Ah kau pasti terkejut, tapi karena sudah terlanjur aku akan menceritakannya." Laki-laki itu duduk di hadapanku.
"Aku ini pembuat steak hebat lho, puji aku dong." Ujarnya.
"I-iya kau hebat." Aku terpaksa memujinya.
"Tapi karena aku tidak suka daging hewan aku mencari alternatif lain, contohnya daging manusia."
Dia melanjutkan ucapannya, "Daging manusia tidak sulit di dapatkan, hanya perlu menarik satu orang dan kau akan dapat daging sebesar 25 kilogram dengan tulang dan organ dalam yang mahal. Lalu hasilnya bisa membuatmu kaya raya, karena itu aku membuat restoran ini. Restoran yang terkenal dengan steaknya yang semua orang sukai, tanpa tahu jika semua steak berasal dari campuran daging manusia."
Aku merasa mual, berarti yang tadi aku makan?
"Tapi kenapa harus manusia?" Tanyaku.
"Karena aku benci manusia,"
"Tapi kau sendiri manusia." Ucapku.
"Aku berbeda,"
Apanya yang berbeda?
"Aku tidak sekotor manusia rendahan itu, begitu juga kamu." Laki-laki ini mengangkat daguku lagi, mendekati bibirnya dengan bibirku lalu menciumku perlahan.
"Uhm!"
Pangutannya terlepas, dia menatapku dengan tatapan buas.
"Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu, andai saja kau mengikuti ucapanku aku akan membebaskan mu."
Aku ketakutan, dia mulai memegangi mesin bergerigi itu.
"Maaf sekali sayang, kita harus berpisah sampai sini. Tapi tenang saja dagingmu akan kusimpan hanya untuk makan pribadiku, kau senang kan?"
"Itu bukan hal yang membuatku senang! Bebaskan aku!"
"Sudah telat, tapi tenang saja kamu akan kumakan perlahan-lahan nanti."
Crats!
Darah keluar mengucur deras dari tubuhku, kesadaranku hilang.
*****
QnA:
Apa kalian setelah ini akan sanggup memakan satu porsi steak? bon appetite, untuk yang lagu makan daging🎃