Malam itu suasana begitu hening dan sunyi, pada hal jam di handphone milik Mila baru saja menunjukkan pukul setengah delapan malam
Tapi karena baru saja hujan reda di tambah tempat tinggal Mila yang masih dalam perkampungan dan suasana halaman rumah Mila yang banyak terdapat pohon besar seperti pohon ninjo yang menjulang tinggi.
Pohon mangga yang sengaja di tanam oleh ayah Mila yang memiliki daun lebat serta tidak terlalu tinggi namun sudah menghasilkan buah yang manis.
Ada juga beberapa pohon pisang yang tumbuh di pekarangan, serta pohon tetehan yang di papras serta di bentuk seperti pagar, maklum ayah Mila merupakan salah seorang yang sudah lama berkecimpung di dunia taman.
Malam itu... malam minggu, malam apel atau di kunjung pacar. 😅😅😅
Mila dan Dimas sedang duduk di lantai depan rumah Mila, karena habis hujan. Jalan pun basah dan becek karena jalan di depan rumah Mila masih tanah, tercium bau wangi tanah karena habis di guyur air hujan.
"Jam berapa sekarang, Mil?" tanya Dimas sambil bersender pada tempok rumah Mila.
"Nih liet, baru juga setengah delapan." ucap Mila, sambil memperlihatkan layar handphone miliknya ke depan mata Dimas.
"Baru juga jam segitu, kenapa sepi banget ya. Ini kan malam minggu. Biasanya ada aja yang lewat depan rumah kamu, Mil?" tanya Dimas keheranan.
"Mungkin karena habis turun hujan, jadi malas keluar rumah. Apa lagi... kamu liet sendiri tuh.." kata Mila sambil menunjuk jalan bertanah yang tergenang air.
"Ngopi enak nih, Mil.."
"Ya udah, aku buatin kopi dulu ya. Kamu tunggu sini.."
Mila langsung bangun dari duduknya dan beralih berjalan masuk ke dalam rumah dan tidak lupa ia menutup pintu kembali.
Mila memasak air panas, dan menuangkan kopi di gelas, sambil menunggu air matang dan mendidih. Mila memainkan game yang ada di handphone miliknya.
Sedangkan di luar, Dimas tengah memainkan game kesukaan nya lewat handphone yang ia genggam.
Dimas berseru
"Awas di belakang... aaah payah."
"Aah siit, aturan aku yang menang.." umpat Dimas kesel karena kalah dalam game permainan.
"Lama banget si Mila buat kopinya." monolog Dimas yang menanti kopi yang tak kunjung di antar oleh Mila.
Sreek... sreeek... sreeek
"Siapa itu?" tanya Dimas pada dirinya sendiri.
Sreeek... sreeek..sreeek...
"Woy Ardi. Jangan ngumpet luh, keluar luh." ucap Dimas, karena yang ia pikir itu adalah suara langkah Ardi temannya yang tinggal tidak terlalu jauh dari rumah Mila.
Sreek... sreeek...sreek
"Het yaa, siapa si.!" keluh Dimas sambil matanya melihat ke segala penjuru arah dan tidak lupa ia mencari sumber suara.
"Woy, siapa di situ?" ucap Dimas saat mendapati daun pisang yang bergoyang goyang.
Dimas pun bangun dari duduknya dan berniat untuk menghampiri pohon pisang itu.
"Usil banget sih tuh orang.." umpat Dimas saat beberapa langkah.
Kreeeeek... pintu di buka oleh Mila.
Dan Mila melangkah kan kaki keluar dan berniat untuk duduk lagi di teras.
Mila melihat Dimas yang berjalan menghampiri pohon pisang.
"Kamu ngapain di situ, Dimas?" tanya Mila sambil meletakkan segelas kopi ke atas lantai.
"Astaghfirullah..." Dimas membalikkan badannya ke belakang tepat dimana Mila bersuara.
"Kamu kenapa?" tanya Mila heran.
Dimas pun membatalkan niatnya dan berjalan menghampiri Mila.
"Kamu lama banget sih, buat kopi doang." tanya Dimas.
"Ya lama lah, kan aku masak air dulu." jawab Mila dengan santai.
Saat Dimas baru saja mendaratkan bokongnya ke lantai untuk duduk di samping Mila. Suara langkah sendal yang di seret pun berbunyi lagi.
Sreeek...sreeek...sreeek.
"Kamu dengan itu, Mil?" tanya Dimas.
"Iya, aku dengar." ujar Mila yang mencari sumber suara.
"Dari tadi suara itu mengganggu sekali." ucap Dimas.
"Emang itu langkah siapa?" tanya Mila.
"Mana aku tahu." ucap Dimas sambil mengangkat kedua bahunya kebatas tanda tidak tahu.
Sreeek... sreeek... sreeek...
"Wou, punya kuping ga luh?" tanya Dimas dengan emosi, pasalnya dari setadi cuma langkah kaki yang ia dengar tanpa melihat siapa yang berjalan.
Sreeek...sreeeek..sreeek.
Mila yang memang dasar penakut pun berusaha berfikir positif untuk menutupi ketakutannya.
"Itu bocah ngumpet kali, Dimas." ucap Mila sambil berdiri dan menarik ujung baju Dimas.
"Kamu kenapa?" tanya Dimas.
Sreeek... sreek... sreeeek...
"Itu.. emmm kucing kali, Dimas." takut-takut Mila berucap.
"Ada yang jail nih." seru Dimas.
Dimas hendak melangkah kan kakinya lagi ke depan untuk mencari tahu siapa yang punya suara langkah kaki itu. Namun di cegah oleh Mila.
Tanpa berkata lagi, Mila langsung membuka pintu serta menarik ujung baju Dimas yang ia pegang agar Dimas ikut serta masuk ke dalam rumah dan setelah Mila dan Dimas masuk ke dalam rumah.
Mila buru-buru menutup pintu depan kasar.
Praaak. suara pintu di tutup.
"Kamu kenapa sih? Kopi aku ituh ada di luar." ucap Dimas sambil menatap Mila bingung.
"Kamu udah berapa kali dengar suara itu, Dimas?" tanya Mila ragu.
"Emmm..." Dimas berfikir " Dari kamu masuk rumah buatin aku kopi. itu suara bunyi mulu." ucap Dimas.
"Kalian ngapain di depan pintu?" tanya ayah yang melihat Mila dan Dimas di depan pintu yang tertutup.
Dimas dan Mila berbalik badan dan melihat ayah yang berdiri di depan nya.
"Ituh yah, dari tadi Dimas denger suara orang jalan tapi ga ada orang nya." ucap Dimas.
"Nah luuuuh, siapa itu?" tanya ayah.
"Mana Dimas tau, yah." kata Dimas.
Dimas membuka pintu yang tadi di tutup Mila.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Mila.
"Mau ngambil kopi aku lah." ucap Dimas dan berlalu mengambil segelas kopi yang tadi di buatkan Mila.
Dimas meraih gelas yang ada di atas lantai dan...
"Ko kopi aku ga ada? Siapa yang minum?" tanya Dimas heran.
Siapa yaaaa?
sampai sekarang pun author masih bingung, ga tau itu langkah kaki siapa, yang jelas suasana mencekam bikin serem 🎃🎃