Bagi warga Kampung Gondolawe, melewati rumpun bambu di samping puskesmas tetap membuat kulit merinding, walau itu dilakukan pada siang hari. Selama bertahun-tahun mereka termakan mitos tentang penunggu pohon bambu yang berupa genderuwo, makhluk astral bertubuh besar dengan rambut panjang menutupi seluruh tubuhnya. Kulitnya yang hitam kemerahan menjadikannya terlihat semakin menyeramkan.
Walaupun disebut mitos, warga di sana tahu, makhluk itu nyata. Dan ada. Terbukti dari bocah-bocah yang hilang secara misterius sepanjang satu abad ini. Seorang kakek yang berusia sembilan puluh tiga tahun pernah bercerita, bahwa teman mainnya menjadi salah satu korban genderuwo penghuni pohon bambu itu.
"Ayo, giliranmu, San."
Beberapa bocah laki-laki saling tantang untuk melintasi pohon bambu wingit itu. Mereka teman sepermainan, juga teman satu sekolahan. Di kampung itu, sekolah memang menjadi barang langka, dan SDN Gondolawe menjadi satu-satunya sekolah dasar di sana. Anak yang sudah SMP atau SMU, harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk bisa menuntut ilmu di kota—sebutan warga Gondolawe untuk kabupaten tempat kampung tersebut bernaung.
"Ayo, San, katanya gak takut." Rudi mendorong bahu Ahsan agar anak berusia sepuluh tahun itu segera memulai langkahnya.
"Sabar. Aku memang gak takut, kok." Ahsan meneguk liurnya, lalu menarik napas dalam-dalam. Kakinya terasa berat untuk memulai langkah pertama.
Sebelumnya, Zaki sudah terlebih dahulu membuktikan bahwa dirinya berani. Namun, rupanya itu tak cukup untuk menambah nyalinya. Ahsan merasa sedikit ragu.
"Halah, pembohong kamu, tadi bilang berani, nyatanya tempe."
Ahsan merasa marah dibilang pembohong.
"Lihat ini, aku gak takut."
Dengan sedikit memaksa, dia mengayunkan kakinya. Cepat. Dan semakin cepat saat sudah dekat dengan rumpun berbau menyengat itu. Ada yang bilang bau busuk itu berasal dari jasad bocah-bocah yang hilang diculik genderuwo. Namun, tak ada yang pernah tahu kebenarannya.
Tangan Ahsan dingin begitu jaraknya dengan pohon bambu semakin menyempit. Aura mistis menyelimutinya. Bukan hanya bau memualkan, tetapi juga bunyi berkerasak yang berasal dari batang-batang hijau panjang itu membuat siapa saja bergidik ngeri. Daun-daunnya yang bernyanyi bersamaan dengan berembusnya angin meremangkan bulu kuduk Ahsan.
Dia memfokuskan pandangan ke arah depan. Di sana Zaki berdiri memberi semangat. Ahsan berusaha terus bergerak, tetapi sesuatu mencengkeram kakinya. Dia menjerit. Teman-temannya di seberang tersentak dan kompak menutup mulut.
Kaki kecilnya lemas. Perlahan, bocah nakal itu memberanikan diri menengok ke bawah, dan ternyata hanya beberapa helai daun bambu yang menempel pada kakinya yang basah karena keringat.
Ahsan berhasil tiba di seberang dan membusungkan dadanya. Merasa hebat karena telah berani melewati rumpun bambu rumah si genderuwo. Sebagai catatan, warga Kampung Gondolawe lebih suka memutar jauh mengelilingi puskesmas daripada harus melewati setapak di dekat pohon bambu itu.
***
"Berangkat sekarang, Nang, biar gak kesorean pulangnya." Mbok Mirah—ibunda Ahsan—menyuruh anaknya mengirim lauk untuk pakdenya.
Rumah Pakde Saleh berada di pinggir lapangan. Itu berarti Ahsan harus melewati rumpun bambu kalau mau cepat, atau mengitari puskesmas kalau mau aman.
Bocah itu beringsut malas-malasan. Sudah dua minggu ini setiap sore simboknya mengirim lauk untuk kakaknya, karena Bude Narti—istrinya—minggat.
"Jangan lupa bilang pakdemu, nanti malam buntilnya dipanasi biar besok masih bisa dimakan."
Ahsan hanya mengangguk dan menyambar rantang tiga susun bermotif loreng hadiah lomba tujuh belasan. Biasanya paling bawah berisi nasi, atasnya sayur-sayuran, dan yang paling atas goreng-gorengan. Ahsan sering mengintip dan mengutil tempe atau bahwan dari sana.
"San, ayo ikut ke rumah Abang. Tanding catur." ajak Bang Indra ketika Ahsan sedang menimbang-nimbang hendak mengambil jalan lurus atau memutar.
Mata Ahsan membulat. Dia suka sekali bermain catur. Sejak umur tujuh tahun dia sudah mahir memainkannya, walaupun belum pernah menang. Mendiang bapaknya yang mengajarkan.
"Aku disuruh antar makanan ke Pakde Saleh."
"Ya, antar saja dulu, habis itu ke rumah Abang. Sudah ada Zaki dan yang lainnya."
Sesaat Ahsan ragu, dia belum pamit ibunya. Namun, akhirnya dia menurut. Toh, dia biasa pulang sore karena bermain-main bersama temannya.
Ahsan berjalan tepat di belakang Bang Indra. Matanya terus melirik ke rumpun bambu yang kini tengah mereka lewati. Ahsan heran, kenapa Bang Indra sama sekali tidak takut?
Tiba-tiba dia tersentak karena melihat sosok yang tadi diikuti berubah menjadi makhluk besar. Bau busuk yang khas tercium sangat menyengat. Ahsan mual. Dia tak tahan lagi dan langsung berjongkok. Perutnya bergolak dan diteruskan sampai di mulut. Namun, tak ada apa pun yang dimuntahkan.
"Kamu kenapa, San?" Bang Indra kaget dan ikut berjongkok di depan Ahsan. Penampilannya sudah kembali seperti biasa.
Napas Ahsan tersengal. Dia masih gemetar, membayangkan wajah ramah di depannya itu tadi baru saja berubah menjadi genderuwo.
"Gak pa-pa, Bang, tiba-tiba mual."
"Oh ... ya, udah, ayo cepetan." Bang Indra bangkit dan langsung melanjutkan langkah. Ahsan tak mau ketinggalan. Dia segera menyusul.
Sampai di pinggir lapangan, Ahsan berbelok ke rumah Pakdenya.
"Nanti langsung ke rumah Abang, ya."
"Oke, Bang."
Di rumah Pakde Saleh, Ahsan tidak bisa langsung pergi begitu menyerahkan rantang. Seperti biasa, Laki-laki berparas mirip ibunya itu meminta Ahsan menemani minum teh. Namun, kali ini dia terang-terangan menolak.
"Aku ditunggu teman-teman, Pakde, mau tanding catur."
"Di rumah Indra?"
Ahsan mengangguk.
Laki-laki yang tubuhnya semakin kurus itu seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.
"Pulangnya jangan kesorean, ya. Apa lagi sampai Magrib. Jalan muter saja, jauh sedikit tapi lebih aman."
Ahsan tahu maksud pakdenya, pasti tentang rumpun bambu wingit itu. Orang-orang tua di Kampung Gondolawe selalu mengingatkan anak-anaknya agar tidak melewati pohon bambu, terutama kalau sudah masuk waktu Magrib. Menurut cerita, semua bocah yang menghilang itu nekat berkeliaran saat petang menjelang malam.
.
"Udahan, San, jam lima lebih, nih." Zaki terlihat cemas. Matanya berkali-kali melirik jam bundar yang tergantung di dinding ruang tamu rumah Bang Indra.
"Bentar lagi, nanggung mau menang." Ahsan terlihat semringah karena lawannya—Bang Indra—sudah terpojok.
"Tau, ah, aku pulang duluan. Pamit, Bang!" Zaki langsung melesat tanpa menunggu dua orang yang masih serius menatap papan kotak-kotak itu menjawab. Memang mereka tidak menjawab, menengok pun tidak.
Ahsan merasa dia akan menang, tapi ternyata Bang Indra dengan lihai membalikkan keadaan. Skakmat.
"Sekali lagi, Bang. Kali ini pasti aku yang menang," tantangnya tak terima.
Bang Indra mengiyakan. Sembari menyeringai. Dia yakin kali ini akan menang. Lagi.
***
Azan Magrib sudah terdengar dari musala-musala. Walau cuma kampung kecil, ada tiga musala di daerah itu. Ahsan yang sadar telah terlambat, segera berlari pulang.
Jantungnya berdetak amat kencang. Disamping karena berlari, juga karena takut kena omel ibunya.
Dia bernapas lewat mulut, napasnya terengah-engah. Dan tiba-tiba berhenti ketika tiba di dekat rumpun bambu. Seharusnya Ahsan segera berbelok dan memutari puskesmas. Namun, karena ingin cepat sampai di rumah, dia nekat menerobos setapak yang ternyata lebih mengerikan saat petang.
Cahaya matahari sudah tak tersisa sama sekali. Penerangan hanya didapat dari lampu-lampu yang terpasang di atap teras puskesmas. Lampu dengan daya lima watt yang hanya menerangi daerah sekitarnya saja.
Ahsan menyeret kakinya yang mendadak terasa berat. Tidak ada waktu lagi, dia harus cepat sampai di rumah. Susah payah Ahsan menggerakkan kakinya agar terus maju.
Situasi kembali mencekam. Angin yang bertiup melewati batang-batang bambu menimbulkan siulan tinggi yang memekakkan telinga. Ahsan kembali diliputi ketakutan. Sebuah sentuhan di pundak membuat jantungnya seperti mau lompat.
"Bang Indra ... ngagetin aja!" serunya dengan badan gemetar. Ahsan meneguk liur untuk membasahi kerongkongan yang kering.
"Ayo aku antar."
Ahsan lega mendengar tawaran Bang Indra. Paling tidak, dia ada teman. Namun, baru selangkah bergerak, Ahsan kembali memergoki sosok pemuda itu berubah menjadi genderuwo. Badannya mengembang dua kali lipat, kulit wajahnya perlahan menghitam, seluruh tubuhnya muncul rambut panjang berwarna coklat tua yang tampak menjijikkan, dan aroma khas yang mengaduk-aduk perut Ahsan menguar tanpa menyisakan sedikit pun celah untuk bernapas.
Ahsan merasa pusing. Dia sulit bernapas. Juga ketakutan. Dalam beberapa detik dia merasa tubuhnya melayang, lalu selanjutnya dia tidak tahu apa-apa lagi.
Suara keras yang berasal dari kentongan dan wajan yang dipukul membangunkan Ahsan. Dia juga mendengar namanya dipanggil-panggil oleh warga yang mencarinya. Senter dan lampu emergency bergerak-gerak mengikuti yang memegang. Namun, tak satu pun dari mereka yang mendekat ke rumpun pohon bambu—tempat Ahsan disekap.
Ahsan mendapati dirinya tergantung di pohon bambu. Di batang yang lain, juga terlihat bocah-bocah lain yang bernasib sama. Hanya saja, mereka sudah mengering. Tinggal kerangkanya saja.
Ahsan menangis, menyesal kenapa tidak menuruti pesan ibu dan pakdenya. Cerita itu ternyata benar, bocah nakal yang masih berkeliaran saat menjelang malam, akan diculik oleh penunggu pohon bambu dan digantung di atasnya. Dibiarkan begitu saja berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun hingga mengering dengan sendirinya.