Aku tidak tahu dari mana semua berawal. Jatuh, rapuh, kecewa, dan bahagia. Ya, itulah hidup. Ada baik ada pula yang buruk. Ada hitam dan ada yang putih. Ada manis dan ada pula yang pahit. Bayangkan apabila si manis dan si pahit saling berkolaborasi, aku yakin semua akan terasa indah. Dan terlengkapi tentunya. Bukankah semuanya diciptakan untuk saling melengkapi? Ketika jatuh, bangkitlah. Lihatlah ke depan. Masih panjang jalan yang akan dilalui. Untuk menjemput sebuah impian. Kadangkala apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hasil yang diperoleh. Begitu pula yang terjadi pada diriku. Aku menyukai sastra. Menulis karangan bebas salah satunya. Apa yang salah menjadi seorang penulis? Orangtuaku meragukan itu. Menjadi penulis tidaklah mudah. Merangkai kata menjadi sebuah kalimat kemudian menyusunnya menjadi paragraf, rumit.
"Sayang, cepat keluar Mas Andra sudah menunggu!” teriak mama dari luar kamar. Satu hal yang membuatku sebal. Mendengarkan Mas Andra yang berceloteh tentang rumus-rumus fisika dan matematika membuatku sedikit frustasi. Aku tidak menyukai itu semua! “Jadi kalau soalnya begini harus memakai rumus ini. Paham dek?” tanyanya.
“Iya.” jawabku singkat. “Cukup sampai di sini pelajaran kita. By the way, besok ada acara? Makan yuk, aku yang traktir deh.” ajaknya kemudian. “Oke Mas” jawabku. Kemudian Mas Andra pamit pulang.
Rumus-rumus tersebut cukup membuatku pusing. Kuambil laptop kesayanganku kemudian mencoba merangkai banyak kata menjadi kalimat yang tepat. Entah kenapa aku sangat menyukai hal ini. Aku tidak ingin bakatku terbuang sia-sia karena menuruti kedua orangtuaku. “Anin, Mama boleh masuk?” suara ketukan pintu mengagetkanku. Mama kemudian memasuki kamarku. “Kamu ngapain sayang?” tanyanya sembari mengelus-elus rambutku. “Lagi nulis.” jawabku singkat.
“Kenapa sih kamu membuang waktumu untuk menulis hal-hal konyol? Lebih baik kamu membaca buku. Ini mama beliin kamu buku.” mama menyodorkan buku yang sedikit tebal. Tertulis di sana Pedoman Awal Kedokteran.
"Percuma Mama beliin aku buku seperti ini. Itu semuanya nganggur. Bahkan belum ku jamah sama sekali.” jawabku yang kemudian menunjuk rak buku di sudut ruangan kamarku. “Kenapa sih kamu tidak pernah mendengarkan Mama sama Ayah? Sudah merasa tidak butuh Mama sama Ayah hah?” Tanya mamaku sambil menahan gejolak dalam hatinya.
“Bukan seperti itu. Mama tolong biarin Anin sendiri,” pintaku kepada mama. Kemudian tanpa bicara sepatah kata pun mama beranjak ke luar dari kamarku. Selalu seperti ini, batinku.
Sore ini aku mengunjungi salah satu tempat makan untuk menemui Mas Andra. “Maaf telat.” ucapnya kemudian duduk berhadapan denganku. “Aku pesan minum dulu sama makan. Kamu mau pesan apa?” tanyanya sopan. “sama seperti Mas Andra saja” jawabku kemudian. Mas Andra segera beranjak untuk memesan makanan. Mas Andra, anak sahabat ayahku yang sekarang mendalami ilmu kedokteran di salah satu PTN yang ternama di kotaku.
"Dek, kalau Mas lihat kayaknya kamu tidak suka IPA ya?” tanyanya hati-hati.
“Iya memang. Tidak ada niatan untuk masuk jurusan IPA. Semua terjadi karena permintaan Mama dan Ayah. Mereka tidak menyukai bakatku. Sehingga mereka memaksaku untuk terjun pada bidang yang sama sekali tidak aku sukai” tanpa sadar aku menceritakan apa yang ku rasakan kepada lelaki ini. Sambil sesekali ku sesap jus alpukat yang dipesan Mas Andra.
“Lantas hal apa yang kamu sukai?” tanyanya balik.
“Aku suka menulis karangan, aku suka bernyanyi dan aku suka bermain piano” jawabku.
“Mamanya adek selalu bilang ke Mas kalau kamu menguasai beberapa bahasa asing. Hebat kamu!” pujinya yang membuatku tertunduk malu. “Menurut Mas kamu harus buktikan kepada mereka kalau kamu bisa membuat sesuatu yang membanggakan dari bakat mu. Seperti membuat buku. Atau mungkin kamu bisa daftar sanggar musik di kota ini. Dengan seperti itu mereka bisa paham Dek” lanjutnya panjang lebar.
"Aku takut Mas kalau pada akhirnya aku gagal. Bukan bikin bangga mereka malah sebaliknya” jawabku menunduk.
“Hei, bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu gagal? Kamu belum mencoba Dek. Percaya pada dirimu sendiri. Jadilah seperti matahari, ia tetap mengeluarkan sinarnya walaupun tidak sedikit orang yang menentangnya” ucapnya diiringi senyuman hangat. Kata-kata itu seakan menjadi suntikan sebuah semangat dalam diriku.
Ku rangkai hasil tulisanku menjadi satu kemudian aku bawa di salah satu penerbit buku di kotaku. Selain itu, aku juga mendaftar salah satu sanggar musik yang cukup ternama. Keahlianku dalam menguasai beberapa bahasa asing membuatku terdaftar menjadi guru di salah satu bimbingan belajar. Hitung-hitung kerja sambilan. Toh kerjanya juga waktu sore.
"Mama dengar kamu masuk sanggar musik? Mau jadi apa kamu? Pemusik? Atau penulis hah?” baru kali ini mama membentak ku. Hal seperti ini dipermasalahkan? “Mama, apa aku harus mengorbankan impianku demi Mama?” tanyaku balik dengan mata berkaca-kaca. Air mata mendesak ingin segara ke luar. “Sekarang kamu pergi dari sini! Cepat!” bentak mama. Aku beranjak dari sofa kemudian masuk ke kamar dan memasukkan beberapa pakaian dan laptopku ke dalam tas. Hatiku hancur. Tidak pernah mama seperti ini. Mama tega. Air mata membanjiri pipiku. Kemudian ku langkahkan kaki pergi dari sini.
Sementara waktu aku menginap di rumah Mas Randy atas izin orangtuanya. Ku lihat handphone-ku dan membuka salah satu pesan. Kemudian aku tersenyum puas. “Mas Andra, bukuku siap dipasarkan. Satu hal lagi, aku diundang salah satu group orchrestra yang ternama di kota ini untuk memainkan piano solo” mataku berbinar-binar saat itu.
“Kamu hebat, Mas yakin pasti orangtuamu bangga kepadamu” ucapnya sembari mengacak-acak rambutku.
Menjadi pianis solo dalam acara ini membuat kagum para penonton. Ditambah lagi launching novel pertamaku yang berjudul Akhir Sebuah Mimpi berjalan dengan lancar. Andai mama dan ayah di sini, batinku. Ku lihat di sudut ruangan seseorang yang sangat aku kenali tersenyum bangga ke arahku.
"Semua ini aku persembahkan untuk Mama dan Ayahku,” ucapku di depan panggung. Air mata kembali menetes. Kemudian aku menuruni panggung dan berjalan ke arah mereka. “Maafkan Mama dan Ayah sayang” ucapnya kemudian memelukku.
Bahagia menyelimutiku saat ini. Impianku dan kasih sayang orangtuaku telah berpihak kepadaku. Dari jauh ku lihat seorang lelaki memakai jas mengacungkan dua jempol ke arahku dan tersenyum hangat. Terima kasih Mas Andra, batinku.