(Tantangan hari ke7) Kau Tidak Akan Pernah Aku Dapatkan
Aku melihatnya melewatiku, aku mengaguminya sungguh karena ia memang adalah laki- laki yang menarik, dan tentu saja aku wanita yang 100% normal. Walau banyak yang mengartikan aku sebagai wanita yang sulit dimengerti bahkan menganggap aku tidak suka laki-laki. Tapi sungguh itu hanya membuatku tertawa dan bangga, karena itu berarti aku bukan wanita gampangan.
Dan tentu saja aku mengerti berapa banyak wanita yang diam-diam menyukainya ‘by just look on his face’ awalnya aku hanya menikmati wajahnya tanpa punya perasaan apa pun. Karena toh menikmati wajah yang indah dan tanpa pikiran yang aneh tidak apakan? Dan aku sama sekali tidak bermaksud untuk flirting… Tapi ketika ia lewat dengan muka yang cemberut di dekatku setelah berlalu lalang depan ruanganku begitu sering, membuatku merasa ingin tahu, jiwa ke-kepo anku menguat. Ada apa dengannya?
Oh my God, ternyata ia marah karena tidak termasuk dalam kontak WA ku, karena hanya orang yang termasuk dalam daftar kontakku yang bisa membaca statusku. Dan sebenarnya ini cuma sekedar feeling….berada dalam lingkup kerja baru membuatku malas untuk menambah daftar kontak baru, toh ini hanya sementaaaaaaara pikirku.. dan aku menguji hipotesaku.
Yap benar! Dalam beberapa hari mukanya yang manyun tapi ganteng tidak lagi menebar dalam jarak pandangku, sikapnya membaik padaku. Setelah dia masuk daftar kontak, bisa melihat setatusku wa ku yang super aneh.
Hari yang lewat dia hanya melewatiku tanpa pernah bicara sepatah kata pun padaku, terkadang aku hanya melihatnya sambil melihat, betapa tampan? Imut? Tidak, mungkin lebih tepatnya enak dipandang mata. Selalu saja ia tidak berani untuk mendekati padaku, tapi wajahnya selalu terlihat kesal jika aku berbicara dengan laki-laki lain. Aku baper? Mungkin, kadang separuh hatiku ingin mengatakan itu. Dia mengungkapkan perasaannya lewat baju yang dipakainya yang terlalu sering warnanya sama denganku, karena aku jenis manusia yang tidak ingin punya banyak baju (bagiku itu pemborosan dan makin bikin puyeng) mark zukenberg saja hanya punya baju yang warnanya itu-itu saja padahal ia sangaat amat kaya, kenapa aku yang hartanya cuman nyempil pingin baju lebih banyak dari dia? Hari-hari tertentu pasti ada baju seragam yang wajib dipakai, dihari lain aku selalu pakai baju yang sama untuk hari jumat pakai baju hitam dan sabtu misalnya aku pakai baju merah. Beberapa kali aku sering melihat kami sama memakai baju dengan warna yang sama. Kebetulan?
Ada hari ketika dia sama sekali tidak lewat tapi aku juga tidak berusaha untuk mencarinya bukan karena aku tidak ingin bertemu. Tetapi rasionalitasku sebagai seorang dewasa mengalahkan emosiku, ada jarak yang tidak bisa dijangkau antara kami berdua. Kadang aku ingin sekali membuang semua logika mengambil semua yang ditawarkan, tapi ketika menyadari bahwa akan ada banyak yang hancur bahkan semua dimulai membuatku menahan semuanya,setidaknya aku harus melindungi diri sendiri dari kenyamanan sesaat.
Dan disaat aku lepas kontrol, maka aku akan menatapnya dari belakang, dan sangat berharap dia tidak tahu keberadaanku, diam-diam merasa bahagia karena melihatnya memakai baju yang warnanya sama denganku, mungkin ini adalah cinta yang ditunjukkan lewat warna baju, merasa konyol dengan pikiranku, bahagia dan sedih.
Tentu saja aku mengerti mengapa dia tak bisa atau lebih tepatnya tidak berani mendekat padaku, karena jarak yang sangat sangat , entah … sebuah pertanyaan apakah bisa terlampaui, dimengerti dan sanggup untuk dijalani?
Karena ketika ini semua dimulai maka yang menjadi pertanyaan adalah akan dibawa kemana hubungan ini? Jalan ditempat? Atau malah jalan-jalan kelayapan karena tidak tahu jalan mana yang akan ditempuh? Dan semua bukan pilihanku, aku menolak keduanya! Sebuah hubungan tanpa ending adalah sebuah penghinaan bagi seorang wanita.
Hari ini lagi, melihatnya dalam jarak pandangku, terlihat begitu sedih, dalam hatiku aku merasa bertanya seberapa bodohnya dia. Sampai bisa-bisanya pikirannya tertuju padaku dan kemudian malah menyimpan perasaan padaku. Ketika begitu banyak perempuan yang memujanya bisa dipilih dari banyak sisi wajah, keceriaan yang ditawarkan dibandingkan dengan aku, wanita dengan jiwa galau, yang tentu saja kututupi dengan baik dengan segala senyuman. Jadi memandangi dalam diam walau mengerti perasaanmu tapi mencoba tidak perduli adalah caraku melindungimu.
Akan ada banyak yang menertawakan dan mencemooh, dan lagi secara rasional takkan bisa dijalani. Jadi ketika tahu endingnya adalah sebuah kesia-siaan apakah harus diteruskan? Jadi aku memohon padamu tetaplah bertahan disana, jangan lagi bergerak menuju kearahku dan jangan terpancing pada kebodohanku ketika aku mulai merindukanmu karena diam-diam aku menikmati perhatianmu.
Hari ini aku melihatmu seperti orang gugup, berulang kali melintas ruangan dan melihat kearahku, alam sadarku, logikaku menguat, ini bukanlah sesuatu yang harus menjadi kesemuan, hanya hati yang bicara
“Mm mbak, bisa kita bicara? Tanya Irwan ragu,ketika berpapasan denganku di lobi.
Kutatap wajahnya, menikmati kekerenan wajahnya, mencoba menerka seberapa gugupnya dirinya.
“Ya, tentu mas, bisa keruanganku kalau ada yang ingin dibicarakan” jawabku berusaha tenang, padahal aku betul-betul hampir ingin berlari menghindarinya.
“Baiklah, mari mbak..” Irwan menungguku berjalan terlebih dahulu. Kami segera berjalan menuju arah ruanganku yang hanya berjarak 15 meter dari lobi utama.
“Silakan duduk mas”, aku mempersilahkan lelaki muda itu, untuk segera duduk sehingga kami bisa memulai pembicaraan kami.
“Mm.. mbak Ratna, saya ingin mengatakan sesuatu, saya harap mbak Ratna tidak tersinggung” kata Irwan hati-hati.
“kenapa saya harus marah? Apakah mas Irwan ingin meminjam uang sama saya?” tanyaku menggoda.
Irwan menatap heran, hampir tidak bisa berkata-kata.
“Hahahahaha..” aku tertawa terbahak melihat sikapnya, dan Irwan semakin salah tingkah.
“Mmm mbak, saya menyukai mbak Ratna” kata Irwan pelan tapi matanya menatap kearah lain.
Aku menghela nafas, mencoba menata hati , mengambil sikap dengan menggunakan logika.
“Mas Irwan tahu setatus saya? Tahu anak saya berumur berapa?” tanyaku pelan.
Irwan mengangguk pelan. Aku menatap ke arahnya memantapkan hati, meski ada bagian dari diriku yang tidak rela. Tapi ada sedikit rasa tanggung jawab sebagai seorang yang dewasa, harus lebih matang dalam mengambil keputusan, bukankah begitu?
Umurku 35 tahun, mempunyai anak usia 15 tahun, statusku single parent. Sedangkan Ihsan? Baru berusaia 23 tahun fresh graduate, wajah diatas rat-rata, dan yang terpenting lajang. Apakah harus kubuat masa depannya kacau atas nama cinta? Tidak! Aku bukanlah orang yang seegois itu untuk berbahagia sebentar kemudian membuat luka yang sulit untuk disembuhkan.
“Sangat disayangkan, jika mas Irwan menjatuhkan pilihan kepada saya.. Bagaimana dengan keluarga mas Irwan? Mereka pasti tidak akan rela jika mas Irwan berpasangan dengan saya, umur yang selisihnya lebih dari 10 tahun, punya anak, wanita yang berpisah karena bercerai dengan suaminya.. saya yakin keluarga anda tidak akan mengijinkannya.” Aku mengucap segala uneg-unegku padanya.
Irwan tertegun, akhirnya aku bisa memahami, dia hanya ingin mengungkapkan perasaannya, tanpa embel-embel tujuan untuk menikah. Aku menjadi tersenyum antara sedih dan lega. Ternyata hubungan ini sangat mudah untuk diselesaikan, Irwan hanya menginginkan hubungan pacaran dan aku menginginkan hubungan yang serius yaitu pernikahan, dan itu belum terpikirkan atau mungkin tidak ada niatan dari Irwan untuk menikah dengan aku.
“Saya.. “ Irwan terlihat ragu untuk meneruskan ucapannya.
“Saya yakin, mas Irwan belum berpikir untuk menikah, tapi setiap saya menjalin hubungan dengan seorang laki-laki , siapa pun itu, saya bertujuan untuk menikah dengannya, saya tidak ingin membuang waktu seperti anak ABG, lagi pula untuk menghindari fitnah” jelasku
“Bagaimana mas Irwan? Kita tidak berada dalam jalur yang sama. Saya sangat yakin mas Irwan punya banya penggemar lhoo..” aku berusaha memecahkan ketegangan diantara kami.
Irwan melihat ke arahku sambil menatap setengah tidak mengerti,
“Reina kelihatannya naksir berat sama mas Irwan lho.. aku saja yang ga seruangan sama kalian aja bisa tahu..” godaku
Irwan sedikit tersenyum, “ Baiklah mbak Ratna, terima kasih sudah mendengarkan perkataan saya.. saya sangat memahami maksud mbak Ratna “ Irwan berdiri dan beranjak keluar dari ruanganku.
Ada sedikit perasaan tidak rela, tetapi harus kulepaskan. Selamat tinggal cinta dalam