❤️Old Love Back in The Soffee Shop❤️
Di jalan anggrek, perumahan Flamboyan, ada sebuah kedai kopi terkenal yang sering didatangi orang-orang.
Selain rasa makanan dan minuman yang enak dan tempatnya yang nyaman, pegawai disana juga sangat ramah pada para pengunjung.
Hari ini, Thania dan adiknya, Rena ingin mengunjungi kedai itu. Rumah mereka juga lumayan dekat dengan kedai itu. Hanya 5 menit, mereka sudah sampai disana.
Setelah sampai, Thania dan Rena langsung duduk di bangku. Mereka lalu ditanyakan pesanan yang diminta.
"Mau pesan apa kak?" tanya pegawai wanita disana.
"Pesan es kopi susu satu, dan tahu gorengnya empat ya mba" ucap Thania.
"Saya es kopi susu nya satu dan nasi goreng spesialnya juga ya mba" sambar Rena.
"Baik kak" jawab pegawai itu sambil mencatat pesanan tadi dan memberikannya ke koki.
"Eh kak, besok aku diajak sahabatku untuk pergi ke festival malam besok karena mereka mau anniversary disana" ucap Rena.
"Kamu emang mau ngapain, Re?" tanya sang kakak.
"Ya tentu aja jajan, dan jalan-jalan disana! Kan mumpung gitu di traktir sama temen" tutur Rena.
"Ish, aneh-aneh aja! Jangan banyak beli tapi, udah baik tuh temen kamu traktir" ujar Thania menasehati.
"Tenang kak, aku juga bukan orang serakah kok! Kan masih ada lima temannya juga yang diajak" jelas Rena mengangguk.
"Re, kamu tunggu disini dulu ya! Kakak mau cari toilet soalnya sakit perut." izin Thania.
"Ok siap!" Jawab Rena mantap.
Thania meninggalkan Rena dan mencoba mencari letak toilet disana.
Bukan karena baru pertama kali kesana, biasanya, Thania tidak pernah pergi ke toilet karena jarak rumah yang dekat, di rumah dia sudah bersiap-siap lebih dulu.
Brukk...tanpa sengaja, ia menabrak seorang pria dengan jas hitam rapi.
"Ma..maaf mas, saya gak sengaja!" Ucap Thania pada pria itu.
Pria itu bukannya menjawab dan mengangguk, wajahnya justru memasang ekspresi terkejut.
"Kamu..." Ucapannya terhenti. Ia memalingkan wajahnya.
"Sekali lagi mohon maaf ya, mas! Oh ya, anda tahu toilet di kedai ini gak? Dari tadi saya cari gak ada!" ucap Thania sambil bertanya.
"Kamu lurus, dan belok kanan," ujar Pria itu dan berlalu.
"Eh eh, kok malah pergi gitu aja sih, ishhh" kesal Thania.
Thania mengikuti arahan pria tadi, benar saja, ia akhirnya bisa menemukan toilet.
Setelah keluar dari kamar mandi, Thania menghampiri adiknya dan makan bersama, dan mereka pun pulang setelah makan bersama.
Esoknya pada hari Sabtu, seperti biasa Thania pergi ke kampusnya karena di kampusnya hari Sabtu tetap masuk, sementara Rena, dia pergi ke taman bersama ibu karena hari ini dia libur.
Di kampus...
"Tha, besok kan hari Minggu tuh, semua cowok pada ngajak pacarnya pasangan! Lo ga mau gitu malem mingguan bareng pacar?" tanya Elsa, teman Thania.
"Kalau mau menghina bilang aja, ish! Gue tau gue jomblo!" ucap Thania kesal.
"Iya iya, ya udah kan aku cuma bercanda! Jangan cemberut gitu donk nanti cantiknya hilang" ujar Elsa.
Saat jam 15:00, semua murid pulang termasuk Thania.
Di perjalanan pulang, Thania yang dari tadi masih kesal karena ucapan Elsa tidak melihat jalan. Ia pikir, jalanan nya kosong jadi dia terus melihat ke arah depan.
TITTTT..... Klakson mobil terdengar jelas di telinga Thania, karena syok, dia bahkan tidak bisa berjalan.
Bruk...mobil itu menabrak kaki Thania sedikit. Sebelum semakin parah, pengemudi di dalamnya keluar dan berlari menghampiri Thania.
"Maaf, saya gak sengaja" ucap pria si pengemudi tadi.
"Hikss..." Thania meneteskan air matanya. Ia heran, kenapa hari bahagia untuk para pasangan ini malah justru adalah hari sial baginya?!
"Sa..saya benar-benar minta maaf! Youn, ambil kotak P3K di bagasi" titah pria itu pada pria di sampingnya.
"Baik pak"
Setelah diambilkan kotak P3K, pria itu mengolesi obat dan memakaikan perban di mata kaki Thania yang terluka akibat tertabrak ban mobil tadi.
"Maaf" ucap pria itu lagi.
"E-eh, kamu kan..orang yang ada di kedai kopi waktu itu?!" Thania menghentikan tangisannya.
"Eh, iya, saya tidak sadar!" ucap pria itu.
Pria itu terdiam sejenak saat melihat leher Thania, di lehernya, terdapat kalung setengah hati yang Thania pakai.
"Ka..kamu.." pria itu membuka matanya lebar.
"Kenapa ?" Tanya Thania.
"Hemm, punya nomor telepon gak? Kalau ada, boleh saya pinta nomor nya?" tanya pria itu.
"Tentu punya, tapi anda pria asing! Mana mungkin saya memberikan telepon saya sembarangan, huh" tolak Thania.
"Lalu, kalau malam ini? Bisa ketemuan di festival malam ini?" tanya pria itu lagi.
Thania menegakkan tubuhnya, "sebenarnya apa sih mau mu?! Saya gak kenal kamu jadi jangan macam-macam ya! Bisa saja saya melaporkan tindak ini ke polisi!" ujar Thania.
"Apa...anda sudah punya pacar?" tanya pria itu lagi.
"Be..belum sih" ucap Thania menggeleng.
"Baiklah, kalau begitu kita bertemu disana! Kumohon.." ucap pria itu yang menampakkan senyumnya sebelum pergi meninggalkan Thania.
"Benar juga sih, kalau aku ketemuan, terus nanti ketemu teman perempuan aku, bisa kan aku beralasan udah punya pacar biar gak dihina jomblo terus gitu?!" Batin Thania.
"Tapi...kenapa, di hatiku ada perasaan tidak asing ya.." lanjut nya.
Malam hari..
"Eh Tha, kok Lo disini? Bukannya Lo gak punya pacar?" Ejek teman perempuan nya yang bernama Netta itu.
"Emang kenapa? Gajelas" sahut Thania yang bodo amat.
Thania pergi mencari pria yang ia temui tadi, ia menoleh ke segala arah untuk menemui pria tadi.
Srett... tiba-tiba, matanya ditutup oleh kedua tangan dari belakang.
"Eh siapa ini? Tolong! Ada penculik!" ucap Thania.
Orang itu membuka mata Thania.
"Hai, Nia!" Panggil pria yang ternyata seseorang yang menutup matanya tadi
"Kau...pria tadi kan?" tanya Thania.
"Hum, benar" jawab pria itu.
"Ke..kenapa kau tahu namaku?! Ditambah...panggilan itu-- SIAPA KAMU?" Thania meneteskan air matanya.
Pria itu menarik tangan Thania tanpa berkata-kata, ia membawa Thania di bukit lentera.
"Lepas! Siapa kamu?" tanya Thania lagi.
Pria itu menghembuskan nafas panjang, ia mengeluarkan sebuah kalung yang sangat mirip dengan kalung Thania.
"Nia, apa kabar?" tanya pria itu sambil menunjukkan kalung miliknya.
Thania menangis tiada henti melihat kalung itu sambil terus berkata "Ken....Kenzo..." Tangisnya.
Pria itu memeluk Thania, "Iya Nia, Ini aku, Kenzo Pratama Alexander!" Ucap pria yang bernama Kenzo itu sambil tersenyum.
"Huwaa...Ken...Ken..kamu kemana aja? Hiks" Thania kembali menangis.
"Sudah, jangan nangis lagi ya!" Ucap Kenzo.
Thania mengangguk dan menghapus air matanya. Sementara Kenzo, dia memakai kalung setengah hati persis seperti kalung Thania. Kenapa kalung itu hanya setengah hati? Karena 1/2 hatinya dimiliki Thania, dan sisanya dimiliki Kenzo.
Dulu, Kenzo harus meninggalkan Thania karena harus belajar di luar negeri. Kini, mereka akhirnya dipertemukan.
"Lalu, kenapa kamu bisa ada di kedai kopi waktu kemarin?" Tanya Thania.
"Disana, aku adalah manager nya! Sebenarnya, aku punya perusahaan sendiri, tapi aku senang berada disana karena orang yang ramah-tamah. Jadi, aku memutuskan untuk menjadi manager di kedai kopi itu" ucap Kenzo.
Thania tersenyum, "Ken, jangan tinggalkan aku lagi ya, janji!" Ujar Thania.
Kenzo tersenyum dan memeluk Thania kembali
~Happy Ending❤️