Ini adalah aku si anak broken.
Terlahir dengan segalanya dan berlimpah merupakan keberuntungan ku sejak lahir.
Aku merupakan anak tunggal dari pasangan konglomerat terkenal, Papa adalah seorang CEO dari PT terbesar dinegara A, sedangkan ibu merupakan aktris cantik yang terkenal diseluruh Asia.
Jika kalian bertanya siapa aku, maka jawabannya sangat mudah aku adalah anak kebanggaan dari mereka, orang orang bilang aku terlahir begitu sempurna bagaikan boneka yang bisa diotak atik dengan mudah.
Aku tidak masalah dengan hal ini karena dengan kemampuan ku bagaikan boneka sekarang aku bisa menjadi bintang dipergaulan kelas atas, aku pernah merasakan suasana dimana semua mata hanya tertuju kepada ku, aku juga pernah merasakan ketika semua orang menatapku dengan berbinar binar, aku juga pernah merasakan dimana semua orang tunduk dihadapan ku hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Aku tidak perduli dengan motif dibalik mereka bersujud di kaki ku, karena yang aku butuhkan hanya orang orang yang bisa dimanfaatkan dan juga berguna", begitulah fikir ku saat sedang kesal mengetahui bahwa orang orang baik hanya untuk memanfaatkan.
Tapi fikiran itu juga yang menjatuhkan ku ketika aku sedang dilambungkan kelangit yang tinggi.
~~~~~~~~~
23 Oktober
Hari ini adalah hari kelahiran ku, dimusim panas yang menyenangkan, tangisan Pertaman seorang bayi perempuan menggema didalam ruang persalinan.
Ya... Benar sekali bayi itu adalah aku Teresa Liliyana Putri Digantara, pewaris satu satunya dari keluarga Digantara. Kata Feronika teman kecilku, kelahiran ku dimusim panas menjadi sesuatu yang dinanti oleh banyak orang, bukan mama papa saja, tapi juga seluruh konglomerat yang entah aku kenal atau tidak.
Aku senang pastinya mendengar itu semua, tapi kesenangan tak bertahan lama, berkali-kali ia mengalami keretakan, lalu dengan waktu lama kemudian hancur tanpa sisa.
"Kejadian yang sungguh memilukan". Begitulah yang selalu aku lontarkan ketika sedang mengingatnya. Cinta, kasih sayang, serta perhatian, itu semua hanya panggung sandiwara' setelah tragedi yang tak kuinginkan melanda hidupku.
Mama yang sekarang menjadi kepala keluarga membuat semua orang semena-mena, dengan fikiran buruk untuk mengambil kedudukannya. Aku tak bisa mengelak kalau kebenaran aku mengetahui tentang kebusukan mereka.
Namun aku tetap tidak mau keluar dari batas aman, karena mama pasti akan kesulitan menghadapinya.
"Selamat siang nona".
"Nona anda sangat cantik sekali malam ini".
"Maukah anda berdansa dengan saya nona Teresa".
"Aku menyukai gaunmu Teresa, dimana kau membelinya".
Setiap saat selalu seperti ini, memberikan senyum palsu yang membuat ku muak hingga ingin menghancurkannya sampai berkeping-keping.
Aku benci kebohongan, aku muak sandiwara, aku juga tidak suka para pengusik seperti mereka mendekati mama serta kediaman Digantara. Tapi apa daya ku, para tokoh sandiwara itu sangat dibutuhkan oleh mama sebagai partner kerjanya, sehingga aku pun tidak bisa melakukan hal lebih dari kekesalan.
Mari kita hitung sejenak, berapa lama aku menahan kekesalan dihati dari semua sandiwara mereka...
1,2,3,4,15 atau 20 ya ??, Hahh... Aku lupa, sepertinya sudah banyak sekali mereka menjatuhkan aku dari sudut pandang harga diri, dan juga atas harta kekayaan tentunya.
Berbicara tentang pemanfaatan kekayaan keluarga ku, aku jadi teringat tentang satu kisah. Kisah dimana awal mula aku mendapatkan julukan singa betina dari keluarga Digantara.
10 tahun yang lalu...
"Nona !!".
"Drap...drap...drap !!".
"Nona besar !".
Ditengah malam yang harusnya hening karena semua orang sudah pergi ke alam fananya masing-masing, aku malah mendengar derapan kaki seseorang yang mengejar langkah kaki ku. Suara ini berhasil membuatku terhenti dan menoleh ke arahnya.
"Hmmm ?, Feronika, ada apa kamu lari-lari begini ??".
"Hah...hah...hah...". Mendapati bahwa langkah kakiku sudah berhenti, Feronika yang ternyata mengejarku pun dengan spontan langsung berhenti dengan nafas tidak beraturan.
Didalam nafas yang terengah-engah itu Feronika tetap ingin menjelaskan sesuatu yang sepertinya sangat penting hingga tak bisa ditunda dalam jangka waktu singkat. Aku tentu merasa penasaran ada apa sebenarnya ini, karena atas dasar itulah aku mendekati Feronika, lalu bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Hei, tenanglah Feronika, kau bisa menjelaskan semuanya kepada ku". Aku mengelus pundaknya dengan lembut, namun hal itu tak berpengaruh aku masih bisa merasakan getaran ditubuh Feronika.
"Be-begini nona, tadi saya lewat didepan kamar nyonya, lalu ada suara teriakan". Cerita Feronika terhenti.
"Lanjutkan Feronika".
"Lalu. Saya mengejar nyonya masuk kedalam kamar, dan... Ternyata didalam kamar nyonya ada sebuah teror berupa pisau dengan darah segar dan juga surat ancaman".
"Apa !!!". Aku langsung berteriak kaget seketika.
Kalau ditanya bagaimana reaksiku saat itu maka jawabannya aku tidak tau, karena yang pasti saat mendengar satu-satunya orang yang kucinta diteror, mataku dengan spontan langsung membulat, dengan kepalan tangan yang hampir terbentuk sempurna.
Aku tidak mau menunggu waktu lama lagi diluar dengan pembicaraan omong kosong itu. Dengan cepat aku berlari sekuat tenaga hingga pada akhirnya dapat mencapai kamar mama yang berada di lantai 4 rumahku.
"Tok !...tok !...tok !". Sebelum masuk aku mengetuk pintu terlebih dahulu, karena ini pelajaran dasar tentang etika seorang nona muda keluarga konglomerat.
"Mama aku sudah pulang, bolehkah aku masuk ??".Baru setelahnya aku meminta izin untuk masuk kepada mama.
"Ouhh sayang sudah pulang ?, masuklah tidak apa". Setelah mendapat izin aku sekarang bisa melangkah masuk kedalam kamar mama.
Ketika memasuki kamar mama aku menyadari sesuatu, aku menyadari bahwa mama saat ini sedang merasa ketakutan. Aku tidak pernah sekalipun melihat mama ketakutan seperti sekarang ini, aku selalu melihat mama yang tenang dan juga pemberani, namun sekarang apa yang aku lihat tidaklah seperti dirinya. Meski didalam ketakutan mama, aku dapat merasakan bahwa mama sedang mencoba menyembunyikan rasa takutnya itu kepada ku.
Aku berjalan mendekati mama yang ada diujung kepala tempat tidur, dengan tujuan agar aku bisa menanyakan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi tadi.
"Mama, ada apa ??". Begitulah awal pertanyaan ku dimulai, aku menggenggam tangannya lalu menatap kearah wajah mama.
"Mama tidak apa-apa". Tapi sama seperti biasanya mama selalu menyembunyikan perasaan tidak menyenangkan miliknya kepada ku.
Aku mengetahui bahwa jalan ini hanya akan menghasilkan kegagalan. Jadi aku secara spontan langsung berlari menuju sudut kamar mama dan membuka satu persatu pintu lemarinya. Awal aku membuka pintu pertama dari si lemari, sama sekali tidak ada yang mencurigakan, begitu pula saat aku membuka pintu ketiga hingga ke 5.
Namun saat aku membuka pintu lemari terkahir tiba-tiba bau darah yang amis begitu menyengat kehidung ku, aku sangat kaget ketika menciumnya, dengan cepat aku pun mencari dari mana asal sumber bau tersebut. Setelah dicari-cari beberapa menit, aku pun berhasil menemukan ternyata sumber bau itu berasal dari plastik kresek bewarna hitam.
Aku mengambil plastik kresek itu, kemudian membukanya, saat aku membukanya disanalah aku terkejut untuk kedua kalinya hingga menjadi terbelalak.
Kalian tidak kan percaya apa yang aku temukan, disana aku melihat adanya darah segar yang menempel pada pisau cutter, beserta penggalan kepala tikus atau tupai yang sudah tidak jelas rupanya.
Aku langsung faham dengan yang sedang aku lihat dan aku pegang ditangan. Meski tanpa kata serta sepatah kata aku menggambarkan sedikit senyuman kepada mama.
"Jangan khawatir ma, besok pasti teror seperti ini sudah tidak ada". Begitulah ucapku sambil meyakinkan mama. Kemudian mama membalas kalimat ku tadi dengan anggukkan kepala dan senyum tipis.
Sesudah perbincangan singkat aku langsung menyarankan mama untuk istirahat agar mama dapat melupakan sedikit teror di lemarinya. Dan mama pun kembali setuju dengan saranku itu.
Dengan mengendap-endap aku keluar dari kamar mama setelah memastikan mama benar benar tertidur, baru setelahnya akau pergi kekantor CBR guna mencari siapa sosok manusia yang berani mengganggu mama ku.
.
.
.
Di kantor CBR...
"Selamat datang nona". (Semua pekerja menyapa Teresa sambil membungkuk)
"Yah, dimana ketua Jhonathan ??".
"Ketua sedang ada di tingkat 5 nona, beliau sedang melatih anggota baru".
"Baiklah terimakasih banyak". Aku langsung melangkahkan kakiku menuju lantai 5 dimana ketua Jhonathan berada. Setelah berada di lantai 5 aku dapat melihat bahwa ketua Jhonathan benar berada di sana.
"Oh nona !!, Selamat datang nona". Ini adalah kebiasaan mereka, sama dengan penyambutan di lantai 1, dilantai 5 ini juga aku mendapatkan penyambutan yang sama.
"Terimakasih atas sambutan kalian. Ketua Jhonathan saya perlu berbicara dengan Anda".
"Ada apa nona raut wajah anda sangat tegang".
"Ini bukan masalah besar, tapi sangat mengusik kebahagiaan ku dan mama".
"Baiklah. Saya faham, ayo ikut dengan saya nona, saya merasa perbincangan ini harus dirahasiakan".
"Oke, terserah pada mu ketua Jhonathan".
Akhirnya untuk kedua kali, aku harus berpindah tempat lagi menuju ruang kerja ketua Jhonathan. Ketika memasuki ruangan pribadi ketua Jhonathan, aku sempat melupakan bahwa ruangannya sangat besar dan juga penuh dengan jebakan, karena hampir 10 tahun aku tidak pernah mendatangi kantor ini lagi.
"Hufff ! Sejak kapan ya saya terakhir kali ke kantor ini, saya merasa sangat asing dengan ukuran besar dan juga suasananya". Aku tersenyum miring sambil duduk di sofa yang sudah tersedia.
"Hahaha, nona selalu saja sibuk jadi anda tidak sempat mengawasi perubahan dari tempat ini".
"Yah... Sepertinya begitu".
"Ada apa sebenarnya nona ?, Kenapa anda memanggil saya ??". (Sudah duduk di sofa depan Teresa)
"Ini, ada peneroro". Aku melemparkan plastik keresek keatas meja di antara aku dan ketua Jhonathan.
"Apa ini ??".
"Buka saja !".
Atas perintah dariku ketua Jhonathan pun membuka plastik nya dengan sangat cepat, ketika plastik sudah terbuka ketua Jhonathan langsung memasang reaksi tenang, tanpa ada raut wajah terkejut.
Aku lantas langsung menanyakannya. "Anda tidak kaget ??".
"Tidak". Lalu ketua Jhonathan menjawabnya dengan sangat santai.
"Ini sudah biasa nona, seumur hidup entah seratus atau lima ratus kasus serupa yang saya hadapi". Ketua Jhonathan menyambung penjelasannya lagi.
"Bagus". Sedangkan aku yang mendengar informasi menguntungkan dari ketua Jhonathan seketika merasa sangat senang, karena di fikiranku sekarang, tidak perlu waktu lama lagi aku pasti bisa melacak sang pelaku hingga saat proses penangkapan pasti berjalan mudah.
Melihat reaksi puasaku, ketua Jhonathan menyunggingkan sedikit senyuman nya kepada ku. Lalu kami melanjutkan diskusi singkat...
"Kapan saya memulai penyelidikan ini ??".
"Hari ini, detik ini, dan didalam Minggu ini juga, aku mau dia mendapatkan hukuman secepatnya". Jawabku dengan seringai menghiasi.
"Jika sudah tertangkap bagaimana nona ??".
"Aku yakin ketua mengetahui apa yang aku inginkan".
"Baiklah". Ketua Jhonathan membalas seringai ku. "Sesuai dengan keinginan anda".
"Tentu. Oh ya, satu lagi, aku ingin darahnya jangan berserakan dan mengotori rumahku oke".
"Tenang saja nona saya akan melakukan dengan sangat bersih".
"Kita sepakat !".
.
.
.
28 Desember pukul setengah sembilan malam.
Dimalam dihiasi langit penuh bintang aku dan para bawahan ku berhasil menguasai seluruh keluarga konglomerat yang pernah mengusik hidup mama, meski penguasaan ku ini berlangsung dalam proses panjang dan memakan waktu lama.
Banyak orang mengatakan kenapa aku melakukan hal kejam sampai sejauh ini ?... Itu karena mereka memang tidak mengganggu ku, tapi mereka mengganggu kenyamanan mama yang seharusnya berada diatas mereka semua. Hal itu membuatku menjadi muak, hingga berubah menjadi kebencian.
"Tidak ada yang bisa menggangu kehidupan dan kebahagiaan ku beserta mama, bagi kalian yang mengusiknya aku akan pastikan kalian mendapatkan balasan 6 kali lipat diwaktu bersamaan".
Kalimat itu aku lontarkan setelah 6 keluarga konglomerat yang menggangu beserta meneroro mama berhasil aku genggam. Mereka gemetaran tiada henti, namun saat melihatnya entah kenapa ada kepuasan sendiri di hatiku, hingga tanpa sadar aku menyeringai kejam sampai membuat mereka bergidik entah untuk keberapa kalinya.
Dan disaat itu pula aku, TERESA LILIYANA PUTRI DIRGANTARA. Dikenal dengan sebutan singa betina dari keluarga Dirgantara.
~Tamat~
Catatan author :
Masalah keluarga akan membuat seseorang berubah 180°, karena bisa saja disebabkan rasa kaget dengan lingkungan baru yang sangat asing. Permasalahan besar ini hanya bisa menyebabkan 2 kemungkinan, bagi orang yang bisa beradaptasi masalah besar akan menjadi dorongan untuknya menjadi maju, namun bagi seseorang yang merasa terkejut hingga tidak bisa beradaptasi maka ia akan menjadi terpuruk hingga sesaat menjadi hancur.
Inilah yang terjadi kepada tokoh utama cerita, ia tak bisa menang perang dari masalah keluarga yang dihadapinya
.
.
.
Semoga para pembaca suka ya dengan kisah hayalan author. Terimakasih juga sudah hadir memberi dukungan 🙏🙏