Setiap hari aku kesal melihat kucing peliharaan tetanggaku yang selalu buang air besar sembarangan di taman depan rumahku. Apa kucing memang tidak punya tempat buang air besar sendiri? Apa tetanggaku itu tidak menyediakan tempat buang air besar untuk kucing peliharaannya sendiri? Kucing itu, dia pikir tamanku ini WC umum!
Sumpah, aku sudah muak atas segala ini! Hari ini saja kucing itu tetap buang air besar sembarangan di atas taman depan rumahku. Lebih ngeselin lagi ketika kucing itu menyembunyikan kotorannya di bawah tanah. Dia pikir kotorannya tidak akan ketahuan olehku, hah?!
Aku sangat benci taman depan rumahku jika dinodai oleh busuknya kotoran kucing itu!
Seketika sifat-sifat protagonis yang ada dalam diriku lenyap, digantikan sifat antagonis yang meluap-luap, akan kucing itu!
'Siksa. Siksa, lalu bunuh ia. Jangan buat ia merasakan nafas di dunia ini lagi! Jangan ada nyawa dalam tubuh kucing itu lagi!'
😈😈😈
Siang harinya, hari Sabtu, pukul 13:00.
Di rumahku sepi, tak ada siapapun kecuali aku. Ibuku pergi sebentar, sedangkan ayahku bekerja.
Aku berjalan perlahan, mengendap-ngendap menuju depan rumah tetanggaku, pemilik kucing itu.
Mataku sedang berusaha untuk mencari kucing ngeselin itu, ke kanan dan ke kiri. Aku harus mendapatkannya!
Biasanya tetanggaku itu membiarkan kucingnya bebas di luar rumah. Jadi harusnya aku dapat menemukannya di luar.
Tiba-tiba saja kucing itu ada di depanku!
'Bagus, kau datang juga, mwahahahaha! Sekarang aku akan...'
"Hai Razki!"
Sial. Tetanggaku keluar dari rumahnya.
Jantungku berdegup kencang.
"Eh, t...tante." Aku menyapanya.
Aku berusaha untuk membuat wajahku terlihat sebaik mungkin agar tidak mencurigakan.
"Kok kamu gak sekolah?" Pertanyaan pertamanya siang ini.
Sial, aku diajak basa basi. Aku khawatir kucing itu akan hilang dari pandanganku.
"I...iya tante. Kalau di sekolah saya hari Sabtu tuh memang libur."
"Ooh..." Tetanggaku mengangguk. "Omong-omong, kamu mau kemana, Raz?"
Jantungku semakin berdegup kencang.
"Ah, ti...ti...tidak ke mana-mana. A... aku hanya ingin menunggu Ibuku saja."
"Ooooooh." Tetanggaku mengangguk lagi.
Tetanggaku hendak mengambil pakaian-pakaian yang ia jemur di luar, setelah itu ia masuk ke dalam rumahnya lagi.
"Tante masuk dulu ya, Raz."
"Oh oke Tante." Aku mengangguk.
Tetanggaku sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Fiuuuh..." Aku menghembuskan napas pelan.
Inilah saatnya untuk kembali beraksi.
Eh tunggu! Kucing itu kemana?
Arrgh, aku kehilangan ia gara-gara tetanggaku sekaligus pemilik kucing ngeselin itu mengajakku untuk basa basi!
Tiba-tiba saja aku mencium bau kotoran, asalnya dari taman depan rumahku.
Kotoran kucing!
Ya, dia pasti ada di taman depan rumahku.
Aku bergegas ke sana. Benar sekali!
'Mwahahahahaha...'
"Pus pus..." Aku memanggil kucing itu dengan suara yang halus, walau sesungguhnya batinku sudah memiliki niat jahat padanya.
Kucing itu menoleh padaku.
"Sini. Pus pus..."
Lalu ia menghampiriku.
Bagus!
Mataku melihat sekitar, ke sana kemari. Syukurlah tidak ada seorangpun yang sedang memperhatikan tingkah lakuku.
Aku menggendongnya, membawanya ke dapur. Untungnya kucing itu tidak gelisah ketika aku menggendongnya. Sepertinya ia belum tahu apa yang hendak aku lakukan.
😈😈😈
Kini mataku menatap blender yang sudah aku siapkan sebelumnya.
Aku memasang senyum jahat.
Aku membalikkan tubuh kucing itu, lalu memasukkannya ke dalam blender.
Inilah harga yang lebih dari mematikan atas apa yang kau perbuat padakuuuu...
"MEOOONG."
Ah, rupanya dia sudah tahu apa yang akan aku perbuat.
Baiklah kalau begitu!
Aku mulai mengatur kecepatan blender dengan pelan. Mengapa demikian? Pertama, karena jika aku memasangnya dengan kecepatan maksimal, itu dapat menimbulkan suara yang berisik, dan aku takut tetanggaku curiga padaku karena kucing itu sudah lebih dulu mengeong kencang. Kedua, karena jika diatur dalam kecepatan maksimal, itu tak akan seru karena kucing itu akan mati dalam sekejap. Jika aku mengaturnya dengan pelan, aku bisa melihat ia tersiksa dalam jangka waktu yang cukup lama, dan sensasi untuk melihat kucing itu tersiksa akan lebih terasa, bukan?
Seluruh bagian tubuh kucing itu dan organnya perlahan terpotong oleh blender, dimulai dari kepala agar ia berhenti mengeong. Blender dan dapur kini dilumuri oleh darah kucing itu.
Tiada sedikit perasaan kasihan dalam diriku pada kucing itu.
Aku justru bahagia ketika kucing itu merintih kesakitan.
Hari ini, ia telah berhenti menghembuskan napas.
'Mwahahahahahaha... MuwuwuwuhuAHAHAHAHAHAHAHA...'
😈😈😈
Besoknya tersebar berita di kompleks bahwa kucing milik tetanggaku telah hilang.
Spanduk berisi foto kucing itu dan penjelasannya telah dipasang lebar-lebar di depan kompleks.
Terlihat tetanggaku yang sedang menangis tersedu-sedu di depan spanduk itu.
"Aku sempat mendengar ia mengeong kemarin, aku amat tahu bagaimana bunyi mengeongnya. Aku tahu ia diambil oleh orang lain atau semacamnya." Kata tetanggaku itu sambil menangis.
Aku menghampirinya, berjalan perlahan, ikut menangis,"Aku turut bersedih, Tante. Aku amat suka dengan kucingmu karena begitu menggemaskan. Aku yakin, ia pasti akan kembali bersama Tante lagi."
Tetanggaku mengangguk, tersenyum lebar padaku.
Tapi tentu saja apa yang kulakukan hanyalah sandiwara belaka.
Batinku seolah ingin meluapkan segalanya, ingin tertawa jahat di bagian depan komplek ini, mengungkapkan kebahagiaanku.
Sungguh hari yang teramat baik bagiku untuk selamanya. Aku tak perlu khawatir akan kotorannya yang membuat busuknya taman depan rumahku lagi.
😈😈😈
Tahun telah berlalu, sampai sekarang tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa aku yang membunuh kucing itu.
Tetanggaku masih merasa kehilangan, rindu akan kucing miliknya.
Tapi aku tak peduli.
Kini aku bahagia, selamanya.
'Muwuwuuwuahahahahahhaaa.'
~ TAMAT ~
Follow IG ku: @rainhard.frealdo
Follow MLBB ku: TheCircleOfFire. ID: 635724455
Jangan lupa untuk membaca cerpen karya saya yang lain di bawah ini ya :) 👇🙏
Jangan lupa juga untuk membaca novel pertama saya: "Dunia Langit". 🙏🙏