Lutut ku lemas, tak sanggup lagi berjalan lebih dekat ke arah sosok yang terbaring dengan wajah tertutup rambut panjang itu, gaunnya berubah menjadi warna merah di bagian bawahnya meskipun air hujan sudah mengguyurnya.
Aku tak tahu, apakah aku menangis atau tidak karena aku merasa air mataku sudah habis untuk menangisi Alan setiap malam. Aku hanya menyadari bahwa air hujan yang membasahi pipiku.
***
Hari ini kulihat Billie tidak masuk kerja, padahal dia tidak terlihat sakit atau memiliki tanda-tanda akan sakit. Sehari sebelumnya juga dia tidak bercakap banyak bahkan dengan rekan kerja disebelahnya, aku penasaran kenapa dia tiba-tiba berubah begitu cepat tanpa memberitahuku, sahabatnya sendiri.
“Apa tidak ada yang tahu kemana Billie?” tanya manajer kami. “Hei kau,” dia menunjuk ke arahku, “kau tidak diberi kabar oleh Billie?” kemudian manajer tersebut mengerutkan dahinya.
Aku menggeleng dengan cepat.
Aku memang tidak tahu kemana anak itu pergi, dia menghilang seenaknya sementara yang di sini bertanya kabarnya. Atau Billie tidak masuk karena ada hubungannya dengan kekasihnya itu? Aku mulai mencurigainya.
Billie sedikit banyak bercerita padaku tentang kekasihnya dan katanya kekasihnya itu akan menikahinya dalam waktu dekat ini, namun hingga kini aku tidak tahu kemajuan tentang hubungan yang serius itu. Tetap akan berlanjut atau berhenti ditengah jalan seperti kebanyakan hubungan lainnnya. Kurasa aku harus mencarinya sepulang dari kantor nanti sore.
Angin bertiup kencang sore itu dengan dedaunan yang melayang berhamburan, berjatuhan dari pohon-pohon mapel yang tumbuh di sekitaran kantor. Udara bulan ini memang mulai dingin mengingat sudah pertengahan September. Entah kenapa saat-saat seperti ini selalu ku rindukan, tentang berkunjung ke toko roti bersama dengannya, mendiang suamiku. Kami akan menghabiskan waktu akhir pekan di danau dekat sauna yang selalu tutup di bulan itu, membawa beberapa roti dan minuman panas untuk dinikmati bersama. Seolah kami tidak punya banyak waktu lagi untuk dihabiskan bersama. Bulan depan adalah peringatan tiga tahun kematiannya, aku bahkan tidak menyadari bahwa kami sudah tidak bertemu selama itu meski aku sering mengunjungi makamnya setiap minggu pagi, membawakannya bunga kesukaanku dan bercerita tentang hari-hariku yang tidak pernah berubah.
Selama diperjalanan menuju apartemen Billie, aku singgah di toko buku, karena ku dengar ada novel keluaran baru dari penulis lokal yang banyak diminati para remaja. Meski sebenarnya aku bosan dengan perihal cinta dan kisah-kisah cinta mereka yang cukup menakjubkan, aku tetap ingin membacanya sebab aku benar-benar kesepian. Tidak bisa ku pungkiri bahwa kehilangan benar-benar merubah sesuatu dalam sekejap, sebab Alan terlalu sempurna bagiku untuk digantikan posisinya dengan orang lain.
Sesampainya di toko buku, aku tidak sengaja bertemu mata dengan seseorang yang rupanya sudah memperhatikanku sejak aku melangkah masuk ke dalam toko. Dia tersenyum padaku, wajahnya tidak asing bagiku atau mungkin aku memang lupa siapa dia. Langkahnya cukup lebar hingga beberapa detik setelahnya dia sudah berada di depanku.
“Hei, Jessy.” sapa nya, suaranya serak dan berat khas lelaki.
“Apakah aku mengenalmu?” tanyaku seraya memiringkan kepala, memperhatikannya lebih mendetil.
Lelaki itu tertawa, “Aku teman Alan, kau sungguh lupa wajahku ya mengingat kita memang baru bertemu dua kali.” matanya melihat sekeliling, seolah mencari-cari sesuatu atau seseorang.
“Kau mencari temanmu? Atau istrimu? Atau siapa? Kau pergi bersama seseorang?” tanyaku ikut melihat kesana kemari.
“Tidak,” dia menggeleng, “kau bersama Alan? Kulihat sekeliling tidak ada wajah yang mirip dengannya.”
Ternyata dia mencari suamiku, batinku.
Aku membalas gelengan, “Aku hanya sendiri.” ujar ku datar tanpa ekspresi.
Apakah orang ini tidak tahu sama sekali? Atau dia sengaja menyinggung perihal itu padahal dia sudah tahu? Tapi kelihatannya dia memang tidak tahu apa-apa.
“Oh ya, bagaimana kabar lelaki itu?” dia memasukkan tangannya ke dalam saku jaket tebal miliknya tanpa memindahkan matanya dari menatapku.
Aku bingung akan menjawab pertanyaan itu bagaimana, dalam keadaan yang seperti itu, tentu saja Alan sudah tenang dan beristirahat dengan damai, namun secara fisik dia mungkin sudah tidak ada lagi. Hal itu membuatku terdiam cukup lama.
“Kau terlihat kelelahan.” lelaki itu berlagak mengenaliku dengan baik. Padahal kami hanya bertemu dua kali dan itu pun dengan tenggat waktu yang cukup lama.
Seingat ku, pertemuan pertama dengannya ketika aku dan Alan masih berpacaran, itu di usiaku yang masih termasuk muda sekitar dua puluh dua tahun, sementara pertemuan kedua saat pesta pernikahan kami diawal usia ku dua puluh empat tahun.
“Alan baik-baik saja, kurasa dia sudah mendapatkan tempat yang tenang untuknya beristirahat.” tukas ku.
Lelaki itu menatapku aneh, dia seolah tertampar oleh sesuatu. Ekspresinya yang tidak dapat ku baca itu hanya membuatku menerka-nerka tentang apa yang sedang dipikirkannya. Dia membuka mulutnya seakan-akan mau berbicara namun bibirnya kembali tertutup rapat sedetik setelahnya, matanya berbinar dengan tiba-tiba. Kurasa dia mendapati pesanku yang singkat itu.
“Aku benci diriku sendiri, aku tidak bisa bertemu dengannya untuk terakhir kalinya.” kedua tangannya menangkup sebagian dari wajahnya, menutupi hidung dan mulutnya. “Kapan itu terjadi?” tanyanya akhirnya.
Aku tersenyum miris melihat keterpurukan seorang teman dari mendiang suamiku, aku sangat mengerti dengan perasaan yang campur aduk itu. Rasa kesal dan sedih yang datang secara bersamaan, serta perasaan kehilangan yang tidak dapat terelakkan. Aku sudah biasa melewatinya selama beberapa tahun belakangan ini.
“Hampir tiga tahun lalu.”
”Entah bagaimana aku tidak tahu apa-apa soal itu, apakah aku pantas disebut sebagai teman baiknya?” suara itu benar-benar terdengar putus asa sekaligus merasa bersalah.
“Bagaimana kalau kita duduk sebentar di depan sana?” aku menunjukkan tempat duduk khusus untuk pembaca. Entah bagaimana pemilik toko buku tersebut memiliki ide untuk membuatkan bangku.
Kami berjalan menuju bangku tersebut dan sambil menunggu lelaki itu angkat bicara, aku menaruh buku yang akan ku beli di atas meja.
Dia melihat buku itu lalu bibir kanannya terangkat, “John, ya, tak ku sangka kau suka buku itu juga.”
“Alan yang merekomendasikan buku jilid pertama John kepadaku, dia seolah tahu apa yang membuat diriku terasa hidup. Hingga kini, aku terus menanti buku-buku keluaran baru miliknya.” Ujar ku dengan semangat, mengingat kami membahas perihal buku yang mana biasanya aku akan merundingkan soal buku dengan Alan.
“Aku benar-benar berterima kasih kepada Alan atas apa yang sudah dia lakukan padaku waktu dulu. Kami bahkan jarang sekali bertemu mengingat aku cukup sibuk karena terus-terusan mengejar pencapaian ku, dan aku tidak ada di sana di saat-saat terakhirnya padahal dialah sumber semangatku ketika aku terpuruk. Dia seperti halnya keluarga kedua bagiku yang tidak ku dapatkan selama hidupku.” Dia menghela napas panjang sambil merebahkan punggungnya ke sandaran bangku. “Kau termasuk seseorang yang beruntung, yang mendapatkan hatinya. Karena aku benar-benar mengenal sosok Alan. Waktu dulu, dia adalah pemuda yang memiliki banyak pengagum. Hampir semua orang suka padanya. Aku betul-betul kehabisan kata-kata bila harus mengatakan kebaikan-kebaikannya kepada banyak orang, aku seperti melihat malaikat dalam dirinya.”
Aku tersenyum puas menyadari bahwa semua orang mengakui kebaikan yang dia lakukan selama hidupnya, “Aku tahu kau melebih-lebihkan, tapi, Alan begitu sempurna sampai aku bertanya-tanya apakah dia pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya. Aku bahkan tidak akan membiarkan seseorang menggantikan posisinya meski aku begitu kesepian, belum.”
“Kalau saja waktu itu aku berkunjung sebentar dan berjumpa dengannya, aku hanya ingin bilang bahwa aku iri padanya.” lelaki itu terkekeh, “Karena aku tidak mampu bangkit sendirian namun dia bisa.”
Aku tahu cerita itu, Alan sudah terlalu banyak makan asam garam kehidupan sampai dia terbiasa dengan situasi apapun. Namun sekali seumur hidupku ketika melihat Alan menangis, dia bahkan sudah tidak mampu lagi menyembunyikannya dariku dan aku ingat persis apa yang dikatakannya waktu itu.
”Aku sudah tidak bisa lagi menjadi alasan untuk kau tertawa bahagia, selepas apa yang telah kita lalui bersama. Aku Alan, sebagai suamimu, benar-benar minta maaf karena terlalu cepat meninggalkanmu. Aku sungguh minta maaf karena mimpi yang ingin kita wujudkan bersama harus terlupakan begitu saja sebab tidak ada lagi aku. Menangis lah, Jessy, tak apa. Mungkin inilah saat terakhir kalinya aku bisa menghapus air matamu. Kau tidak perlu memaksakan keadaan, jika semuanya terasa berat beristirahatlah. Aku ingin sekali berbohong kepadamu bahwa aku tidak mencintaimu agar kepergian ini tidak terasa begitu berat, tapi nyatanya aku tidak bisa melakukan apa-apa.”
Benar adanya, mimpi itu tidak bisa ku wujudkan sendirian. Aku butuh bantuan Alan, aku butuh semuanya darinya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini?”
Kulihat wajah lelaki itu, “Tentu saja aku akan melanjutkan sisa hidupku.”
Ponselku berdering cukup nyaring sehingga membuatku nyaris terkejut, aku merogoh tasku dan mencari benda itu. Kutarik keluar saat aku menemukannya lalu menjawab panggilan masuk tersebut.
“Aku butuh kau, sekarang!” dan panggilan langsung mati.
Dadaku terasa sesak, seolah perasaan tiga tahun lalu menghujam ku kembali. Isak tangis tersedu yang berada diseberang telpon membuatku beranjak dari bangku. Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres terjadi kepadanya.
“Maaf, aku harus pergi.” Kataku buru-buru.
Lelaki itu ikut bangkit dari kursinya dan merogoh saku celananya, dia mengeluarkan kartu nama lalu memberikannya padaku.
“Hubungi aku jika kau butuh sesuatu, Jessy. Sampai bertemu.” Dia tersenyum kembali kemudian melangkah pergi dengan cepatnya, meninggalkan kenangannya bersama Alan di sini.
Aku langsung menyimpan kartu nama tersebut ke dalam tasku tanpa melihatnya lebih dulu dan buru-buru masuk ke mobil, aku bahkan tidak sadar kalau hari mulai gelap namun angin tetap berhembus dengan kencangnya. Aku masuk ke jalan utama menuju Utara, membelah jalanan yang ramai dengan kecepatan penuh sebab aku sangat khawatir dengan keadaan temanku itu. Billie bisa saja melakukan hal yang bodoh suatu waktu karena itu aku tidak bisa bersantai.
Lampu-lampu kota baru menyala menerangi jalanan sesaat aku tiba di depan apartemen Billie dan cepat-cepat aku keluar dari mobil. Aku berlari sekuat tenaga menuju pintu lift dan beruntungnya tidak ada orang di dalamnya sehingga aku bisa langsung masuk dan menuju lantai lima.
Denting lift berbunyi bersamaan dengan pikiran-pikiran aneh serta menyeramkan datang memenuhi kepalaku, aku terus berucap dalam hati bahwa Billie akan baik-baik saja. Dan penampakan yang kulihat pertama kali saat ku dorong pintu kamarnya ialah hancur. Bahkan kata itu sedikit lebih baik daripada kenyataannya. Pecahan gelas kaca dan piring berhamburan di dapurnya, vas bunga yang biasanya di atas meja kini berhamburan menjadi kepingan kecil yang siap melukai siapa saja yang tidak melihatnya. Hatiku seolah ikut hancur mendapati sosok Billie yang seperti bukan Billie, duduk di kursi krem beludru, matanya merah dan bengkak, wajahnya sembab dengan hiasan wajah yang sudah luntur, membuat bawah matanya ikut menghitam. Gaun putih seorang pengantin bergantung ditubuhnya, sepertinya aku sudah bisa menebak apa yang terjadi beberapa waktu lalu.
Aku berjalan kearahnya tanpa hati-hati, aku duduk disampingnya kemudian memeluknya. Tangisnya pecah begitu tubuh kami bersentuhan, dalam artian yang berbeda. Kubiarkan dia menangis sejadinya dan semakin ku eratkan pelukan ku padanya agar dia tahu bahwa aku bersamanya. Aku tidak akan bertanya apapun dan mengatakan apapun sebelum dia memulainya. Sebab aku tahu perasaan macam apa ini.
Setelah beberapa waktu lamanya, menunggu tangisan Billie mereda. Aku mendapati bercak darah di gaun putih tersebut. Pikiranku kembali dipenuhi prasangka-prasangka buruk terhadap Billie, bahkan mencoba berpikir tenang bahwa tidak akan terjadi apa-apa lagi sangat mustahil.
“Aku senang kau akhirnya datang juga.” suaranya serak, dia tersenyum yang begitu nampak terpaksa. “Aku sengaja baru menelpon mu dan membiarkan pintu tidak dikunci, karena semua orang sejak siang hari mencoba mendobrak masuk. Aku tidak bisa membiarkan mereka masuk.”
“Jangan tersinggung, tapi kau memang berantakan, Bill.” sahutku tanpa peduli dengan omongannya yang barusan. “Jika kau lelah, istirahatlah, jangan memaksakan diri.”
“Tidak.” dia menggeleng, “Aku baru saja terbangun sebelum aku menelpon mu.”
Ku tatap matanya yang masih memerah, aku benar-benar penasaran tentang apa yang mampu membuatnya sampai berantakan seperti ini. Bahkan seisi rumah pun ikut hancur.
Billie menghela napas panjang, bahunya merosot bersamaan dengan wajahnya yang kusut. Aku curiga apakah dia sempat menjabaki rambutnya sendiri atau tidak karena hanya bagian itu yang terlihat cukup rapi dibanding yang lainnya.
“Aku tahu kau tidak akan bertanya apapun sebelum aku yang mengatakannya. Namun aku takut aku akan menangis lagi.”
Ku balas senyuman tipis padanya, “Kau bebas melakukan apa saja selagi kau mampu, karena kita manusia tidak bisa benar-benar menahan sesuatu terlalu lama.”
“Mungkin semua orang mencari ku, karena aku memang tidak memberi kabar kepada siapapun.” katanya pelan, seolah dia berbicara kepada dirinya sendiri.
“Ya,” tukas ku, “termasuk aku.”
“Karena pagi itu aku benar-benar sibuk mencari rias pengantin, bahkan mengukur baju pun dengan tergesa-gesa karena kami semua mengejar waktu. Sebab, kemarin malam..” Billie terdiam sesaat. “Chris masuk rumah sakit.”
Entah mengapa ketika mendengar itu aku seolah bisa melihat kejadiannya secara utuh, dimana suara panik dan tangisan bercampur menjadi satu. Aku bisa merasakan perasaan-perasaan semua orang yang berada di sana.
“Kau tahu bahwa Chris bukanlah seseorang yang akan mengingkari janjinya, mau bagaimanapun, dia akan menepatinya. Jadi di malam itu, dengan keadaannya yang sekarat hampir mati, dia meminta ayah dan ibunya untuk diadakan pernikahan besok hari. Saat itu aku tidak bisa berbohong bahwa aku bahagia walaupun tahu dia akan mati dalam waktu dekat. Aku tahu bahwa kedua orang taunya ragu dengan itu tapi mengingat kalau permintaan itu adalah permintaan terakhirnya, mereka mengiyakan.”
Aku berangkat dari kursi dan berjalan menuju balkon dengan pintu terbuka, angin kembali menerpa kulitku untuk yang kesekian kalinya hari ini. Langit sudah seluruhnya menghitam sementara Bulan menampakkan citranya dengan cahaya redup yang dikelilingi gulungan awan kelabu, persis akan turun hujan namun aku meragukannya.
“Aku mengerti akhirnya mengapa gaun itu ternodai.” Ujar ku pelan tapi aku yakin Billie mendengarnya. “Ya, perjanjian macam itu memang sulit, bahkan untuk seorang lelaki sepertinya. Walaupun dia mampu, tetapi tetap saja dia menyakitimu.” ku hembuskan napas seraya menyinggung kan senyum. “Dengar, aku tidak menyalahkan mendiang Chris ataupun kau. Namun, kau harus tahu bahwa setiap orang akan dengan bergilir datang dan pergi dalam hidupmu, atas kehendak mu atau tidak.”
Billie tidak bersuara sama sekali, aku tidak tahu apa yang dilakukannya karena aku masih menghadap keluar, berdiri di antara pintu menuju balkon dan kamar Billie.
“Aku bukan ingin menghakimi mu, Bill, tapi kau harus tahu sesuatu.” kataku seraya berbalik menghadapnya. “Kehilangan adalah perasaan yang paling berat dari perasaan lainnya, dan yang perlu kau lakukan hanyalah berdamai dengan waktu.” ku tatap Billie dengan tatapan penuh keyakinan. “Perjanjian Chris tentang pernikahan, aku tahu kau langsung membayangkan momen-momen terbaik dalam hidupmu yang hanya berlangsung sehari dan berharap hanya untuk sekali seumur hidup. Tangis haru dan tawa bahagia memenuhi halaman yang dihiasi karangan bunga Lily kesukaanmu, putih terang selaras dengan gaun pengantin mu. Kau mengenakan mahkota putih yang selalu kau damba-dambakan, seperti seorang ratu yang disenangi rakatnya.”
“Kau memang sahabatku, Jes.” sela Billie.
“Terima kasih kau telah mengingatkanku bahwa semuanya hanyalah tentang waktu. Walaupun dalam hati aku masih menyalahkan Chris dan diriku sendiri.” dia menyunggingkan senyuman. Entah itu palsu atau bukan aku tidak melihatnya dengan jelas.
“Kalau begitu, kau butuh aku malam ini.” aku masuk dan menuju Billie. “Aku akan menginap.”
Billie balas mengangguk, “Dengan adanya kau, aku tahu apa yang harus kulakukan.”
“Aku akan kembali secepat mungkin, karena aku lupa mengunci mobilku. Aku bahkan meninggalkan tasku di sana.”
Aku langsung menuju lift dan sebelum benar-benar masuk, aku mendapati kilatan cahaya dari luar diikuti dengan suara gemuruh yang nyaring lalu meredam menjauh alih-alih menghilang. Aku tahu hujan memang akan turun malam ini, seolah menyambut kesedihan yang dirasakan sabahat ku.
Sambil berlari menuju mobil, aku mencari kunci mobil sesampainya di lantai dasar. Kubuka pintu mobil dan menarik tasku namun beberapa barang berhamburan keluar. Aku takut kalau-kalau barang itu akan penting sekali, jadi aku terpaksa memungutnya satu-satu yang memakan waktu sedikit banyak. Mataku mendapati kartu nama dan melihat nama yang tertera di sana adalah John. Awalnya aku tidak yakin, namun akhirnya aku ingat bahwa John adalah penulis lokal tersebut dimana Alan merekomendasikan buku-bukunya kepadaku. Aku memang sudah melupakan sosok John.
Hujan turun begitu cepatnya dan membuatku sadar bahwa aku sepertinya sudah terlalu lama di mobil. Ketika menutup pintu dan akan menguncinya, aku melihat sesuatu yang jatuh dari atas. Aku kurang yakin tentang apa itu namun kakiku berinisiatif untuk mendekatinya meskipun hujan mengguyur ku seenaknya.
Dari kejauhan aku menyadari bahwa sesuatu itu adalah seseorang dan kenyataan yang pertama kali menghantam ku adalah bahwa dia baru saja terjatuh dari atas gedung apartemen. Kenyataan kedua, seolah menamparku begitu sakit adalah bahwa aku mengenal pakaian orang tersebut. Lutut ku lemas, tak sanggup lagi berjalan lebih dekat ke arah sosok yang terbaring dengan wajah tertutup rambut yang panjang, gaunnya berubah menjadi warna merah di bagian bawahnya meskipun air hujan sudah mengguyurnya.
Aku tak tahu, apakah aku menangis atau tidak karena aku merasa air mataku sudah habis untuk menangisi Alan setiap malam. Aku hanya menyadari bahwa air hujan yang membasahi pipiku.