Semuanya telah berakhir. Panggung besar, lampu kerlap-kerlip, dan tepuk tangan meriah serta teriakan-teriakan untukku. Aku golden maknae, dulu. Namun sekarang hanyalah si pincang yang menyedihkan.
Bisakah kau selamatkan aku dari kegelapan yang semakin mencekikku-berikan cintamu sebelum aku benar-benar jatuh kedalam kegelapan yang sangat menakutkan.
Jeon jungkook si golden maknae. Apakah masih ada yang tak mengenal nama itu? maknae yang menggemaskan dengan wajah polos dan sejuta pesona serta serba bisa, masihkah kalian tak mengenal itu? Maknae yang disayang para hyungnya walau kerap kali tak mau mendengarkan apa kata hyung-hyungnya, dan maknae yang selalu mengusili hyung-hyungnya. Apa kalian juga masih tak mengenalnya?
Kecelakan 5 bulan yang lalu itu membuat hidupku berubah 1800. Hidup gemerlapku, kebahagiaanku, kesenanganku bahkan mimpiku semuanya musnah dalam sekejap. Semuanya hilang tak berbekas sedikitpun. Aku menyerah semuanya sudah berakhir. Jeon jungkook si golden maknae telah MATI.
.......
[Let’s Dance]
Author : Ichachim
Cover : Seulchan
Cast :
• Jeon jungkook
• Min younji
Other Cast :
• BTS members
Genre : Friendship // Rommance // Sad
Length : Oneshoot
• 4.000+ words
***
Seoul, korea selatan
Musim semi 2015
musim semi telah kembali, bunga-bunga telah bermekaran indah. Hawa sejuk begitu menyejukkan. Semangat muda terpancar dari tatapan-tatapan mereka yang haus akan mimpi. Namun tidak untuk satu orang, dia hanya berjalan lurus tanpa menghiraukan sekitar. Tak ada semangat bahkan mimpi dari matanya semua suram-Jeon jungkoon Pria kelahiran 97 itu terus berjalan tanpa senyum yang menghiasi wajahnya, bahkan ia nampak tak peduli dengan orang sekitarnya yang terus berbisik-bisik mengenai dirinya. Kepercayaan dirinya bahkan mimpinya telah hilang akibat kecelakaan 5 bulan lalu. Sebuah vonis dokter terasa hukuman mati baginya. Kaki kanannya pincang dan tak akan pernah bisa kembali seperti semula yang artinya selamanya dia tak akan pernah bisa menari lagi bersama kawan-kawannya.
Kecelakaan itu bukan hanya merenggut mimpinya namun juga merenggut kedua orang tuanya bahkan kakak tersayangnya, hidupnya semakin hancur tanpa siapapun disisinya tatkala ia mengundurkan diri dari sebuah boygroup yang membesarkan namanya.
“hyung aku ingin berhenti,” ucapan lirih itu terdengar dari bibirnya, terasa amat berat mengucapkannya namun toh dia sudah tidak berguna lagi disini, pikirnya.
“apa maksudmu?” sang leader bertanya dengan suara bariton nya, membuatnya semakin menunduk merasa amat bersalah. Tapi pikirnya ini adalah keputusan yang tepat ia tak mungkin selamanya menjadi benalu dalam group nya. Ia harus menyerah, menyerah pada takdir yang mengoyak hidupnya.
“aku ingin berhenti dari group ini, maafkan aku tapi aku tidak bisa lagi melakukannya. Semuanya telah berakhir hyung!”
“kau menyerah? Hanya karena hal sepele seperti ini?” kini Hoseok bertanya padanya-kecewa? Yah tentu saja kecewa, bagaimana bisa seseorang yang sudah ia anggap sebagai adiknya menyerah begitu saja seperti ini.
“hal sepele? Kau benar! Ini memang hal sepele untukku. Tapi bagaimana denganku? Bukankah group ini dibentuk untuk menari dan menyayi! Lalu bagaimana dengan diriku yang pincang ini? Bahkan untuk berjalan-pun aku memerlukan tongkat, bukankah kau dengar sendiri apa yang dokter katakan waktu itu!” ucapan demi ucapan yang ia lontarkan membuat semuanya terdiam. Dia benar group ini dibentuk untuk menari dan menyayi, lalu bagaimana dengan orang yang pincang? Akan terlihat sangat menyedihkan bukan?
“persetan dengan ucapan dokter! Dia bukan tuhan yang mampu memutuskan, kau hanya perlu berusaha dan kami akan membantumu,” Yoongi menatapnya tajam sambil memegang kedua pundaknya. Berusaha? Apalagi yang harus ia usahakan. Ia-Jeon jungkook menepis kasar tangan Yoongi yang berada dipundaknya. Ia muak. Benar-benar muak dengan kata berusaha, harapan atau apapun itu karena pada akhirnya sama saja.
“berhentilah membuatku terus berharap hyung. Aku benci jika harus mengharapkan sesuatu yang mustahil.”
“bukan hanya fisikmu yang berubah bahkan kecelakaan itupun merenggut kepribadianmu,” Jimin tersenyum sinis menatap tajam adik yang ia sayangi selama ini. Dia-Jimin benar-benar kecewa dengan sikap Jeon jungkook saat ini.
“kau benar! Bahkan kecelakaan itu telah merenggut semua yang kumiliki,”
“sekarang aku benci sifatmu yang seperti ini,” Kim taehyung berujar lirih menatap Jungkook dengan pandangan yang kecewa,
“begitupun denganku.”
“kau masih memiliki kami-apakah itu tidak cukup?” ucapan Seokjin membuat semuanya terdiam. Benar! Apa yang ia ucapkan benar Jungkook terlalu berlarut dengan kesedihan hingga ia tak sadar jika ia masih memiliki keluarga-BTS & ARMY.
“maafkan aku tapi aku benar-benar tidak bisa bertahan,” ujarya lirih dengan air mata yang mengalir.
“baiklah pergilah sesuka hatimu. Mulai hari ini kau bukan lagi bagian dari kami( BTS & ARMY)-kau hanyalah orang asing. Semuanya masuk!”
“Yoongi,”
“Hyung,”
Lirih mereka bersamaan mereka tak menyangka jika Min yoongi akan mengucapkan kata seperti itu.
“KU BILANG MASUK BODOH!”
“tapi Jungkook.”
“DIA BUKAN LAGI BAGIAN DARI KITA dia hanyalah orang asing,” jujur saja Yoongi pun sakit mengucapkan kata itu, tapi ia muak. Muak pada adik terkecil yang ia sayangi itu, tak bisakah ia bertahan demi mereka. Kenapa harus menyerah semudah ini?
Jungkook hanya tersenyum pahit, bukankah ini yang ia harapkan. Tapi mengapa terasa angat menyakitkan saat Yoongi menyebutnya hanya orang asing.
“terimakasih atas segalanya hyung, aku menyayangi kalian,” setelah mengatakan itu Jungkook pergi menjauh dari mereka. Ia resmi keluar dari Boygroup yang telah ia anggap sebagai keluarga keduanya itu.
“Yoongi!"
“Hyung!”
“hiks..hiks..hiks..” hanya isak tangis yang terdengar mereka semua memeluk Yoongi dengan perasaan yang sama-hari ini mereka kehilangan, kehilangan adik yang mereka sayang.
“aku mengusirnya, aku mengusirnya.” Lirih Yoongi dengan air mata yang mengalir deras dan membuat mereka ikut menangis sambil memeluk erat Yoongi.
***
-4th of March 2015-
“Selamanya kita muda
Di bawah kelopak bunga hujan turun
Aku berlari, sehingga hilang dalam labirin ini
Selamanya kita muda
Bahkan saat aku jatuh dan menyakiti diri sendiri
Aku terus berlari menuju impianku.”
_______Forever Young-BTS__________
Jungkook tertegun, bukan hanya karena lagu yang ia dengar namun suara yang menyayikannya juga membuatnya terdiam, harus ia akui suara itu begitu lembut dan membuat pendengarnya nyaman. Suara siapa ini?
Penasaran adalah perasaan yang paling ia benci karena akan membuatnya terlibat dalam urusan yang tak ia mengerti, ia berjalan perlahan mengintip seseorang dari celah pintu yang sedang asik menyayikan sebuah lagu yang sangat familiar baginya. Forever young-lagu yang pernah ia nyanyikan bersama kawan-kawannya-dulu.
Ia tersenyum sinis dan masih memperhatikan seorang gadis yang terus bernyanyi dan sepertinyagadis itu mencoba menari-sontak membuat pria kelahian 97 itu terkikik geli. Bagaimana bisa itu disebut menari, pikirnya. Benar-benar menggelikan. Untuk pertama kalinya ia tersenyum setelah kecelakaan itu-ia tersenyum karena orang yang sama sekali tak ia kenal.
Kriettttttt... Brugghhh
Akibat sandarannya pada pintu, pintu itu terbuka dan membuat tubuhnya terjatuh kelantai ia memaki dirinya sendiri karena kecerobohannya-ia ketahuan sekarang, ia mencoba bangkit dan terduduk. Gadis itu berjalan pelan kearahnya dan membantunya berdiri serta membantu membereskan buku-bukunya dan menyerahkan tongkatnya. Namun tak ada sedikitpun senyum ataupun makian dari gadis dihadapannya ini membuatnya termenung. Teralu semu karena tak ada reaksi apapun dari gadis itu.
“Apa ada yang ingin kau tanyakan?”
Setelah beberapa menit berlalu dengan keheningan akhirnya sebuah pertanyaan gadis itu membuatnya mengerjap-ngerjapkan matanya, apakah dia berbicara padaku? pikirnya,
“Jika tidak ada kau bisa pergi.” Namun sebelum dia melontarkan jawaban lagi-lagi gadis itu berujar yang membuatnya kembali terdiam. Apakah dia tak mengenalku? Pikirnya. Bukankah dia baru saja menyanyikan lagu itu,
“Ka..Kau tidak mengenalku?”
Seperkian detik ia terdiam, akhirnya ia memberanikan diri bersuara-mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi terus menggerogoti otaknya.
“Aku tahu. Kau Jeon jungkook bukan?”
kini ia membalikkan badannya dan mentap kearah Jungkook yang masih terdiam,
“Apa karena aku bukan lagi bagian dari mereka, kau mengacuhkanku?”
bukan menjawab pertanyaan dari Jungkook gadis itu malah tersenyum dan berjalan menghampirinya, membuatnya menatap gadis itu bingung, apa yang akan gadis ini lakukan?
“Apa kau berfikir seperti itu?”
Lagi-lagi suara lembut itu menyapu pendengaran Jungkook, membuatnya tanpa sadar mengangguk. Sejujurnya ia juga tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Mengapa ia merasa kecewa saat gadis dihadapannya ini mengacuhkannya.
“Jika seperti itu-kenapa kau tak kembali pada mereka.”
Ucapan yang tak masuk akal dari gadis didepannya ini membuatnya melotot tak percaya-gadis ini gila? sinting? Atau kurang waras? Bagaimana bisa ia mengucapkan kata semudah itu, apa ia tak melihat bagaimana kondisi Jeon jungkook sekarang?
“Apa kau sedang bercanda,Padaku?”
“Ani.”
“kau mengejekku?”
“Ani.”
“Lalu apa?” dia hanya menghendikan bahunya.
“Ah. Seharusnya aku tak menanyakan itu, baiklah aku pergi. Kuharap kau melupakan percakapan yang tadi.”
Jungkook mendengus sebal, ia kesal pada dirinya sendiri. Kenapa ia peduli jika ada orang yang tak mengenalnya, bukankah ia sudah biasa diacuhkan. Benar-benar menyebalkan.
“Jeon jungkook mantan golden maknae bangtan sonyeondan.”
Jungkook menghentikan langkahnya, air mukanya mengeras mendengar ucapan gadis itu barusan, apa motif gadis itu sebenarnya?
“bisakah kau ajari aku menari?”
Melihat Jungkook yang terdiam gadis itu berjalan perlahan kearah Jungkook, ia berhenti tepat di hadapan Jungkook,
“Kau belum mengerti? Haruskah kuulangi lagi permintaanku?”
“Kau yang belum mengerti! Apa kau masih belum mengerti juga dengan keadaanku yang sekarang. Haruskah kujelaskan? Aku hanyalah sipincang yang menyedihkan. Kau belum mengerti juga? Kakiku pincang berjalan saja aku dibantu dengan tongkat bagaimana bisa aku menari. Apa sekarang kau belum mengerti juga? Jika hanya ingin mengejek keadaanku berhentilah kau tidak akan berhasil.”
“aku bersungguh-sungguh meminta bantuanmu. Kukira julukan golden maknae itu nyata, ternyata aku salah. Kau tidak lebih hanyalah kumpulan pecundang yang menyedihkan. Bukan karena kau yang pincang sekarang tapi karena kepercayaan dirimu telah hilang. Mereka meninggalkanmu bukan karena kau tidak bisa menari atau bukan lagi si golden maknae dari bangtan sonyeondan tapi karena mimpi-mimpimu yang telah hilang. Kau hidup bagai mayat berjalan sangat kaku dan membosankan. Kau berubah itu yang membuat mereka meninggalkanmu. Untuk apa bertahan dan memberi dukungan pada orang yang menyerah akan mimpi-mimpinya. Untuk apa bertahan pada orang yang tak memiliki tujuan untuk hidupnya. Payah aku telah salah memilih orang, pergilah aku tidak akan memintamu lagi.”
Kata-kata yang ia lontarkan begitu menusuk hatinya benarkah dia-Jeon jungkook telah berubah? Berubah menjadi sosok yang menyedihkan tanpa mimpi dan tujuan hidupnya? Tapi semuanya telah berakhir-semua mimpinya hilang digerut kecelakan sialan yang membuatnya cacat seperti ini. Apa ini menjadi salahnya jika ia menyerah. Menyerah pada mimpi dan tujuan hidupnya sekarang?
“Oke. Kurasa ucapanku terlalu berlebihan, hehehe mian. Jadi kau mau-kan mengajariku menari?”
(kau adalah gadis aneh yang terus berubah-ubah aku bahkan tak mengerti apa tujuanmu memintaku mengajarimu menari, tapi kau adalah gadis yang pertama yang membuatku tersenyum setelah kejadian itu-jadi haruskah kuucapkan terimakasih padamu?)
“Tidak mau.”
“Jeon jungkook, Jungkookie, Kookie-ya. Kau mau kan membantuku?”
Jungkook terus berjalan dan mengabaikan gadis itu, membuat gadis itu kesal karenanya
.
“YAKK!!!! JEON JUNGKOOK!!”
....................keesokan harinya....................
“Kookie...Kookie...Kookie kau manis sekali.”
“aku sudah tahu.”
“Aishh percaya diri sekali,”
“Kau bilang apa?”
“kubilang kau tampan.”
.......................Hari berikutnya......................
“Wahh. Kurasa makanan khas indonesia ini sangat enak. Apa yah namanya? Ah. Otak-otak. Ini benar-benar enak.”
Jungkook melirik sekilas gadis yang berada disampingnya, ia menelan salivanya saat gadis itu terus mengoceh sambil memakan makanan yang ia bilang enak itu. Jungkook mau-mau makanan itu.
“Emm.. permisi bolehkah aku...”
Gadis itu menghentikan ucapan Jungkook dengan menyodorkan makanan khas indonesiaa yang ia sebut otak-otak itu, tanpa basa-basi Jungkook merebutnya dan memakannya-bahkan sekarang ia seperti orang kelaparan memakan makanan itu. Itu karena enak atau karena dia lapar?
“Enak?”
“Hmmm. Enak sekali.”
“Aku bisa membawakanmu setiap hari, asal-kan kau mau mengajariku menari. Bagaimana?”
“uhuk uhuk,”Jungkook tersedak mendengar ucapan gadis itu ia langsung menyerahkan kotak makanan itu kasar dan pergi,
“Yakk!!! Jeon jungkook. Kau mau kemana? Aishh dasar menyebalkan.”
............................Beberapa hari berikutnya............................
Min younji-gadis ceria dan pantang menyerah. Bahkan sudah berapa kali kata-kata tajam itu terlontar dari mulut Jeon jungkook dan sudah berapa puluh kali Jungkook menolak membantunya, tapi ia pantang menyerah. Baginya menyerah bukanlah pilihan melainkan keputua asaan.
“Yakk!! Min younji. Dengar ini baik-baik! Aku Jeon jugkook tidak akan pernah membantumu jadi berhentilah mengikutiku karena aku risih dan muak selalu diikuti olehmu!” untuk yang kesekian kalinya kata-kata itu keluar dari bibir Jungkook. Dan kali ini reaksi Younji sungguh berbeda, ia terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.
“Hiks...HIKs....Hiks......” untuk pertama kalinya setelah puluhan kali Jungkook menolak-Younji menangis.
“Aku.. Apa kau benar-benar tak bisa membantuku? Hiks.
Kumohon kali ini saja? Untuk yang terakhir kalinya. Aku berjanji tak akan mengganggumu lagi, jebal.”
“Jungkook-ah, jebal hikss....”
Namun Jungkook hanya menghela nafas kasar sebelum akhirnya ia meninggalkan Younji yang sedang menangis.
“YAKKK! KAU SI PINCANG YANG MENYEDIHKAN!”
Teriakan Younji membuatnya berhenti, air mukanya mengeras, hatinya terasa sakit saat pendengarannya menyapu kata tersebut. Younji berjalan tergesa dan menghapus kasar air matanya, ia berdiri tepat dihadapan Jungkook yang mengepalkan tangannya.
“Kau, apakah kau benar-benar orang yang tak memiliki hati? Apa kau benar-benar akan mengabaikanku? Apa kau benar-benar tak akan membantuku?”
“Younji-ya berapa kali harus kukatakan, aku..”
“Si pincang yang menyedihkan?”
“Hmmm.”
“Kau terlalu naif Jeon jungkook. Kau bersembunyi pada kelemahanmu.”
“Anggap saja seperti itu.” Jungkook berbalik dan hendak pergi namun lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya ia berhenti,
“Selamanya kita muda
Di bawah kelopak bunga hujan turun
Aku berlari, sehingga hilang dalam labirin ini
Selamanya kita muda
Bahkan saat aku jatuh dan menyakiti diri sendiri
Aku terus berlari menuju impianku.”
_______Forever Young-BTS__________
(kau selalu mampu membuatku terhenti saat aku ingin melarikan diri darimu, siapa kau sebenarnya?)
“Apakah lagu itu sama sekali tak memiliki makna untukmu? ‘Bahkan saat aku terjatuh dan menyakiti diri sendiri-aku akan terus berlari menuju impianku.’ Apakah benar tak ada sedikit-pun mimpimu yang tersisa? Apakah benar kau tak ingin kembali pada mereka? Berjuang bersama untuk meraih mimpi kalian?”
“A..Aku aku..”
“Berhentilah untuk membatasi dirimu, Bahkan seorang yang tak mempunyai kaki-pun mampu untuk menjadi balerina. Dan kau. Bahkan anggota tubuhmu masih lengkap, apa kau tak ingin mencobanya? Meraih mimpimu kembali?”
(sifat tak menentumu selalu membuatku bingung, kau orang yang seperti apa? Dan kau orang pertama yang telah menyadarkanku arti dari sebuah mimpi sesungguhnya. Tak perlu mempunyai fisik yang sempurna jika kita ada kemauan kita pasti bisa meraihnya,)
“Aigo aigo uri kookie. Neomu neomu kyopta.”
(sepertinya aku akan selalu tersenyum karenamu mulai saat ini,)
“Ayo kita mulai semuanya dari awal, untuk meraih mimpi kita,”
(dan untuk yang kesekian kalinya aku mengucapkan terimakasih padamu.)
-18th of March 2015-
“Bukan seperti itu dasar bodoh! Gerakan kakimu kesini lalu badanmu jangan terlalu kaku. Kau pikir kau robot hah?” untuk yang kesekian kalinya Jungkook dibuat emosi oleh gadis didepannya yang sedang menundukan kepalanya. Sudah berapa kali gadis ini salah dalam gerakannya bahkan kaki dan tangannya tidak sinkron dalam bergerak-membuat Jungkook sangat jengkel karena-nya.
“kenapa kau selalu marah-marah? Menyebalkan!” ungkapnya kesal. Ia akui ini salahnya-bahkan ia tak mempunya bakat menari tapi ia memaksakan ingin belajar menari. Tapi hey! Apakah perlu sampai berteriak-teriak dan mengatakannya bodoh. Dia tak sebodoh itu Jungkook.
“karena otak udangmu membuatku marah, bagaimana bisa kau tak mengingat gerakan yang baru saja ku ajarkan.” Gadis itu-Min younji hanya menggeram kesal memandang Jungkook yang berada didepannya. Jangan salahkan Younji jika dia tak bisa mengikuti gerakan yang Jungkook ajarkan karena gerakan itu lumayan susah untuk seorang pemula seperti Younji.
“Aishh sudahlah, akan ku ulangi lagi. Seperti ini gerakan badanmu lalu memutar, mengerti?” oke berdebat tak akan menyelesaikan masalah. Akhirnya Jungkook mengalah ia mulai mengajarkan Younji dari awal, secara perlahan-sedang Younji hanya mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan dari Jungkook.
“ah iya iya, seperti ini?”
“hmm.”
“benarkah? Seperti ini? Seperti ini?”
“hmm.”
“Yeyeye.. Aku bisa. Jeon aku bisa.”
(Aku menyerah, seberapa keras-pun aku menolakmu pada akhirnya aku menerimamu-kau sikeras kepala berotak udang selalu bisa membuatku takluk akan kesungguhanmu.)
***
-24th of March 2015-
“bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Jungkook pada gadis yang berada disebelahnya, gadis itu-Younji menoleh kan kepalanya menatap Jungkook seolah bertanya ‘apa itu?’
Jungkook menghebuskan nafas perlahan sebelum berujar,
“mengapa kau memaksaku untuk mengajarimu menari? Padahal kau pun tahu jika kau tak mempunyai bakat itu?” gadis itu tersenyum menatap Jungkook sebelum akhirnya menjawab,
“kukira kau tak akan menanyakan alasanku memintamu untuk mengajariku menari. Seperti yang kau ketahui. Aku tak mempunyai bakat menari, bahkan sama sekali tak berminat untuk menari, tapi aku melakukannya untuk seseorang. Aku ingin orang tersebut melihatku, aku ingin membuatnya selalu tersenyum bahagia dan menari bersamanya. Juga aku ingin mengatakan padanya bahwa dia tak sendirian masih ada musik yang selalu memanggilnya untuk menari bersamanya,” lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya gadis itu tersenyum menatap Jungkook yang berada disampingnya.
“siapa orang itu?” ujar Jungkook lirih, menatap serius manik mata sang gadis yang berada didepannya.
Gadis itu hanya terkekeh menampilkan deretan giginya yang putih dan rapih, ia bangkit dan merentangkan kedua tangannya seolah menyambut angin yang datang kearahnya membiarkan sang angin menerpa wajah dan tubuhnya-memejamkan matanya seolah ingin merasakan kehadiran angin yang menyejukkan baginya. Jungkook hanya diam memperhatikan tingkah gadis yang disampingnya.
“kau pasti akan terkejut jika mengetahui orang tersebut,” ujar Younji tanpa membuka matanya.
(Waktu berjalan begitu cepat. Hingga tanpa kita sadari, kita semakin dekat dan saling bergantung satu sama lain. Kau adalah orang pertama yang mampu membuatku nyaman disisimu. Setelah semuanya meninggalkanku, kau malah datang menemuiku.
Saat takdir benar-benar kejam dalam hidupku dan menghempaskanku dalam keterpurukan kau datang mengulurkan tanganmu dan membawa semua harapan. Ku mohon jangan pernah tinggalkan aku-karena aku telah terbiasa dengan kehadiranmu,)
-29th of March 2015-
“Aku akan rehabilitasi,” ucap Jungkook lirih. Younji langsung melirik kearahnya seolah menunggu ucapan Jungkook selanjutnya,
“Aku akan mulai rehabilitasi untuk berjalan tanpa tongkat,” ia menghela nafs sejenak-kemudian menatap Younji dengan senyum yang mengembang.
“Dan aku akan memulai semuanya dari awal. Menata ulang semua mimpiku yang telah terabaikan,” Younji hanya tersenyum menatap Jungkook didepannya detik berikutnya ia menarik Jungkook kedalam pelukannya, tanpa Jungkook sadari setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Younji,
“terimakasih. Terimakasih karena tidak mengerah,”
“terimakasih juga karena telah meyakinkanku dan menyelamatkanku dari kehancuran hidupku,” lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya Younji hanya mampu tersenyum-ia mendekap Jungkook sangat erat dengan air mata yang terus menetes.
-2nd of April-
musim semi di Korea juga makin ramai dengan adanya Cheongpungho Cherry Blossoms Festival. Pada festival yang dilangsungkan di area Danau Cheongpungho ini, para turis atau pengunjung akan disajikan pemandangan indah dari bunga-bunga yang bersemi. Di lokasi festival, akan terlihat banyak bunga Cherry Putih, Forsythias, Azaleas, dan bunga-bungan liar lainnya yang juga tak kalah indah.
Jungkook dan Younji pun terlihat diantara banyak kerumunan orang yang sedang menyaksikan Cherry Blossoms Festival, sesekali Younji tersenyum dan membuat Jungkook ikut tersenyum karenanya.
“Jungkook-ah festifal tadi sangat keren. Ah aku jadi ingin kemari lagi dimusim semi mendatang,” lirih Younji sambil menyeruput minuman yang berada ditangannya.
“Tahun depan. Ayo kita kemari lagi,”
“Janji ya? Kau telah berjanji padaku. Dan tak boleh mengingkarinya,”
“yakkso?”
“yakkso,”
Keduanya tersenyum menatap satu sama lainnya dengan jari kelingking yang saling terpaut adalah saksi bisu dari pernyataan janji mereka.
“Ah, aku lapar Jeon,” gumam Younji lirih sambil mengelus perutnya yang datar,
“ayo kita cari makan!” pernyataan dari Jungkook membuatnya tersenyum cerah dan langsung bangkit seraya menggandeng tangan Jungkook. Lagi-lagi entah untuk yang kesekian kalinya Jungkook tersenyum karena tingkah Younji,
“Jungkook-ah kau tahu aku sering kelaparan akhir-akhir ini karena terlalu sering berlatih. Aishh aku benar-benar kelaparan,” keluh Younji cemberut, Jungkook hanya terkikik geli melihat tingkah Younji-ia sangat hapal apa maksud dari ucapan Younji tadi,
“pilihlah makanan sesuka hatimu, aku teraktir.”
“yes, kau memang yang terbaik.” Ucap Younji ia segera pergi meninggalkan Jungkook mencari rumah makan yang dekat tempat itu, lagi-lagi Jungkook hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat Younji.
(ku harap kebersamaan ini tak pernah berakhir. Tuhan biarkanlah aku tetap tersenyum dan bahagia seperti ini,)
***
-25th of April 2015-
Hari yang paling tunggu-tunggu-yaitu hari dimana perlombaan Younji dimulai. Hari ini Younji ditemani Jungkook sedang bersiap untuk perlombaan yang sebentar lagi akan dimulai. Younji menggigiti kukunya-kebiasaannya jika sedang gugup ia akan menggetiti kukunya, kakinya tak bisa diam dan sesekali ia bergerak gelisah. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggamnya. Dengan penuh kelembutan.
“Kau pasti bisa. Jangan gugup karena jika kau gugup semua yang kau pelajari akan lupa,” ujar Jungkook menatap Younji dalam sambil tersenyum. Mau tidak mau Younji tersenyum kearahnya.
“hmm, gommawo,” lirihnya.
***
Tibalah saat Younji maju, dengan senyum yang mengembang dibibirnya-ia melangkah maju memantap kan hatinya. Ia memegang mic-nya.
“Aku berdiri disini untuk seseorang yang berharga dihidupku. Aku ingin dia melihatku dan menyadari bahwa dia tak sendirian didunia ini, musik selalu menemaninya walau semuanya pergi. Ia-musik selalu memanggil dirinya untuk menari bersamanya.”
“Ah satu hal lagi aku ingin berterima kasih untuk guruku. Jeon jungkook si mantan golden maknae bangtan soyeondan. Terima kasih telah mengajariku banyak hal, dan mau repot mengajariku menari. Jeon songsaenim khamsahamnida,” penonton pun mulai berbisik-bisik mengenai Jungkook.
“huh yang benar saja, bukan kah sekarang ia cacat?”
“bagaimana mungkin orang cacat bisa mengajari menari?”
“bukankah kaki kanannya pincang sekarang?”
“apa gadis itu gila? bagaimana bisa ia meminta orang cacat mengajarinya menari.”
Jungkook hanya mampu terdiam mendengar mendengar ucapan demi ucapan itu. Bahkan ia terlihat tak peduli sama sekali dengan yang diucapkan para penonton mengenai dirinya, matanya hanya terfokus pada Younji yang mulai menyanyikan sebuah lagu, suara lembut Younji dan diiringi dengan dentingan piano membuat semuanya terkesima dibuatnya. Suaranya benar-benar indah. Younji mengakhiri menyanyi-nya dan sekarang lah saatnya ia menunjukan bakat menarinya. Hal yang ia pelajari selama ini bersama Jungkook, ia tersenyum sebelum tangan dan kakinya bergerak seperti yang Jungkook ajarkan waktu itu.
Kenangan-kenangan akan dirinya dan Jungkook saat berlatih bersama dengannya berputar bagai film diotaknya. Setetes air mata itu jatuh saat ingatan demi ingatan kebersamaannya dan jungkook terus menggerogoti pikirannya.
‘Terimakasih Jungkook-ah. Terimakasih karena bersedia membuat kenangan indah bersamaku’ lirih Younji sebelum akhirnya ia terjatuh dan pingsan.
***
Jungkook menunggu diruang tunggu wajahnya pucat. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya, nafasnya sedikit memburu ia meremas tangannya sangat kuat. Kenangan itu-kenangan pahit dimana semua mimpi dan kebahagiaannya diregut dirumah sakit ini5 bulan yang lalu Berputar diotaknya. Saat dimana vonis dokter bagai hukuman mati baginya. Ia tak ingin lagi sungguh ia ingin bahagia kali ini.
Jungkook mulai berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan Younji. Hatinya mulai tak karuan sekarang.
“Ba..Bagaimana keadaannya?” ujarnya lirih hampir seperti bisikan, dokter itu menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Jungkook-membuatnya semakin waswas.
“Apa ada orang dewasa disini?” tanya dokter itu melihat sekeliling Jungkook.
“Beritahu padaku saja dok, aku sahabatnya. Dia, dia sudah tak punya siapapun.” Lirih jungkook. Dan lagi-lagi dokter itu hanya mampu menghela nafas detik berikutnya ia menepuk pundak jungkook menyuruhnya untuk berbicara di ruangan-nya.
***
Jungkook tersenyum miris menatap gadis yang terbaring lemah di hadapannya itu-perlahan namun pasti air mata itu mengalir dari pelupuk matanya. Ia mencoba menghentikan tetesan demi tetesan air mata yang semakin deras yang membuatnya perlahan terisak hebat ia menggenggam tangan yang sedikit pucat itu.
Bahkan saat ini bibirnya tak mampu mengucapkan sedikitpun kata yang berada dibenaknya. Ia terlalu terpukul mengetahui vonis dokter terhadap gadis didepannya ini, bagaimana bisa ia menyembunyikan penyakitnya selama ini? Bagaimana bisa dia terus tersenyum dan menahannya sendirian? Bagaimana gadis ini terlihat begitu tegar walau sebenarnya ia amatlah rapuh? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa semua ini terjadi pada gadis yang telah mengisi hari-harinya akhir-akhir ini?
Kenapa tuhan selalu mempermainkan hidupnya? Kenapa tuhan memberinya kebahagiaan jika pada akhirnya ia mengambilnya? Kenapa tuhan menyembuhkan lukanya jika pada akhirnya membuat luka baru yang lebih besar? Kenapa tuhan mempertemukannya jika pada akhirnya akan memisahkannya?
Bolehkah ia membenci tuhan sekarang? Bolehkan ia membenci takdir yang selalu mempermainkannya? Bolehkah ia sekarang membenci hidupnya sekarang? Muak- hidupnya terlalu
memuakan. Jadi bolehkah ia menyerah sekarang?
(Nona Younji telah lama mengidap kanker otak bahkan sekarang telah stadium 4 yang artinya ia akan mengalami kelumpuhan,)
Jungkook menggigit bibirnya mencoba menahan isakan yang akan keluar dari bibirnya.
(bisakah dia sembuh?)
(kemungkinan itu sangat kecil, bahkan kemungkinan hidupnya hanya tinggal 1 bulan lagi,)
“Hiks...hiks...hiks..” ia terisak hebat disamping Younji yang terbaring lemah. Pertahannya runtuh lagi-lagi vonis itu membuatnya hancur. Tak bisakah ia tersenyum lebih lama? Tak bisakah ia merasakan kebahagiaan lebih lama? Kenapa semuanya berlalu begitu cepat?
“Eung..” lenguhan Younji membuat Jungkook segera menghapus air matanya walau matanya masih memancarkan kesedihan yang mendalam. Perlahan Younji membuka matanya dan menatap Jungkook yang berada disampingnya-tersenyum. Seolah semua baik-baik saja adalah sifat Younji yang mungkin akan menjadi hal yang paling Jungkook benci mulai sekarang.
“Jung,” lirih Younji menatap Jungkook dengan pandangan yang sulit diartikan. Jungkook diam-ia berusaha menahan air mata yang sebentar lagi keluar.
“Jung,” lagi-lagi suara Younji menyapu pendengarannya, kali ini ia menoleh menatap Younji yang terbaring lemah dihadapannya dan saat itu juga air matanya kembali jatuh. Pertahanannya runtuh-kali ini ia tak bisa membohongi perasaannya ia tak akan mampu bertahan lagi, jika kali ini Younji meninggalkannya.
Cukup! Cukup sudah ia ditinggalkan dan merasa kesepian-hidup dalam keterpurukan dan penderitaan. Ia ingin bahagia kali ini.
Younji menggenggam tangan Jungkook dengan erat. Dan detik berikutnya Jungkook membawa Younji dalam pelukannya. Ia benar-benar benci takdir yang selalu mengoyak hidupnya. Ia benci takdir yang selalu mempermainkan kebahagiaannya. Baru saja ia bisa tersenyum. Baru saja ia mempunyai mimpi kembali. Baru saja ia mempunyai harapan kembali. Berkat gadis yang berada dipelukannya kini, lantas apakah semua akan berakhir lagi?
Cukup. Cukup kedua orang tuanya dan kakaknya yang meninggalkannya, cukup ia sudah banyak kehilangan dan ditinggalkan oleh orang yang berharga dihidupnya. Ia tak ingin kehilangan untuk yang kesekian kalinya, jadi bisakah? Bisakah tuhan mengabulkan permohonannya kali ini?
“katakan jika sakit. Jangan seperti ini kumohon,” lirih Jungkook masih memeluk Younji erat. Younji hanya mampu tersenyum miris ia sangat tahu mengapa Jungkook bersifat seperti ini padanya. Anak ini pasti sudah mengetahui tentang penyakitnya, pikirnya.
“Aku baik-baik saja,” lirih Younji-Jungkook langsung melepaskan pelukannya dan menatap Younji dalam.
“kau. Kenapa kau tak pernah bilang jika kau sakit? Kenapa kau merahasiakannya dariku? Bukankah aku selalu berkata jujur padamu. Bukankah aku selalu terbuka padamu. Kenapa kau lakukan ini padaku Youn? Kenapa? hikss...” tangisan Jungkook begitu pilu hingga membuat siapa pun miris mendengarnya.
“Aku tak ingin membuat mu khawatir dan sedih karna mengetahui penyakitku” lirih Younji.
“begitu yah? Jadi sampai kapan kau akan merahasiakannya? Sampai kau mati? Dan kau akan melihatku tertawa senang setelah mengetahui semua itu. Begitu? Lakukanlah sesuka hatimu.” Ungkap Jungkook tajam walau nampak jelas tatapan kecewa dari kedua matanya.
Sedang Younji hanya menatap lirih Jungkook yang berada didepannya. Bukan ini yang dia inginkan. Tak ada sedikitpun maksudnya untuk membohongi Jungkook namun ia hanya tak ingin membuat Jungkook terluka mengetahui keadaanya yang sebenarnya. Jika boleh ia berharap tuhan memberinya satu kesempatan lagi untuk hidup lebih lama. Ia ingin egois dan bersama Jungkook lebih lama lagi.
Sekian lama Younji dan Jungkook terdiam dengan pandangan yang terluka. Takdir terkadang memang kejam bukan? Ia bisa membuat sekejam saja menghilangkan kebahagian yang ia rasakan.
GREPP!
Jungkook tiba-tiba saja memeluk Younji dengan erat, hanya isakan yang terdengar diruangan yang mendominasi putih itu.
“jangan tinggalkan aku jebal. Aku tak mampu bertahan lagi jika
kau juga pergi meninggalkanku,”
“hiks.. uljiman aku disini. Aku tak akan meninggalkanmu,”
“janji?”
“hmm..”
***
25th of April 2016
Busan, korea selatan
Jungkook pov*
Kau terus saja berbohong. Kau beranji tak meninggalkanku namun kau tetap pergi meninggalkanku. Janji tinggal lah janji yang berlalu bagai angin. Banyak janji yang kita buat namun tak ada satu pun yang dapat kita tepati. Terlalu banyak kenangan akan dirimu hingga tak ada satupun tentang dirimu yang dapat ku lupakan.
Masih jelas ku ingat saat-saa terakhir mu.
(Jungkook-ah dikehidupan yang akan datang aku ingin bertemu denganmu dan ayo kita menari bersama,)
Senyum manismu tak mungkin ku lupakan. Dan ternyata orang itu. Orang yang kau bilang berarti adalah aku.
(kau ingin tahu untuk siapa aku ingin menari? Orang itu kau. Kau adalah orang yang berarti dihidupku Jungkok-ah.)
Bukankah kau bilang ingin menari bersamaku lantas mengapa kau meninggalkanku?
Aku merindukanmu sungguh. Tak bisa kah kau kembali ke sisi-ku. Menari bersamaku. Seperti yang kau suruh aku menjalani hidupku tidak terlalu keras meskipun aku menjadi seorang pecundang.
Senang bertemu denganmu Min younji. Ini adalah hari ulang tahunmu sekaligus hari kematianmu. Selamat ulang tahun Min younji. Aku mencintaimu.
“Jungkook-ah apakah masih lama,”
“aku sudah selesai kok hyung,”
Aku bergabung kembali dengan bangtan tepat setelah 3 bulan kepergiannya.
Kau lihat aku mampu meraih mimpiku kembali seperti katamu waktu itu bahkan saat aku jatuh dan menyakiti diri sendiri. Aku terus berlari menuju impianku.
“kajja, kita sudah terlambat. Konser sebentar lagi akan dimulai,”
“Iya hyung,”
Aku bersyukur orang itu adalah kau, kau adalah penyelamatku dan cintaku. Terimakasih telah hadir dan menyelamatkanku dari keterpurukan.
Selamanya kau akan ada dihatiku. Younji-ya saranghae.
Jungkook pov end.
***
Dikehidupanku selanjutnya aku ingin bertemu denganmu dan menari bersamamu maafkan aku jika hadirku hanya menamah luka dihatimu tapi aku bahagia bisa bertemu denganmu.
Jangan jadikan aku luka dihatimu anggap saja aku sebagai mimpi indah di musim semi.
~Min younji~
Hadirmu singkat namun membekas begitu dalam. Terimaksih aku mencintaimu. Di kehidupan selanjutnya ayo kita menari bersama.
Tak ada kata yang mampu ku ucapkan selain bahagia akan hadirmu dihidupku.
Ku harap aku bisa bertemu denganmu dikehidupan-ku selanjutnya.
Jika itu terjadi aku akan tetap mencintaimu.
~Jeon jungkook~
Tuhan selalu punya rencana dibalik kesedihan yang terjadi. Siapa yang bisa menebak pertemuan yang terduga akan membekas begitu dalam.
Percayalah tak selamanya takdir kejam dan menyakitkan.
.......
END-