#AkuMenjadiAntagonis
Malam itu, seorang laki - laki melangkah menyusuri jalan setampak. Sedikit lengang dengan rintik gerimis yang masih turun.
Laki - laki itu adalah aku, seorang laki - laki mapan dengan sejuta kharisma dan wajah yang menawan. Sosokku tinggi tegap dengan segudang prestasi dengan segala jerih lelahku membangun perusahaan raksasa. Aku yang dikenal keluarga dan bawahanku adalah seorang yang pendiam dan tenang, penuh tanggung jawab dan berdedikasi tinggi dengan pekerjaanku. Tapi ada yang berubah sejak aku melihat seorang gadis yang menarik perhatianku.
Seperti saat ini, aku yang biasa bergelut dengan laptop dan berkas - berkas proyek, malah asyik berjalan kaki menyusuri jalan di belakang kompleks apartemen mewahku.
Hoddie warna gelap telah sempurna menutup tubuhku, menghangatkan tubuhku dari cuaca dingin yang tiba - tiba menyergap.
Aku melangkah dengan cepat. Tujuanku hanya mencari udara segar karena suntuk yang melandaku sejak beberapa hari lalu bergelut dengan beberapa proyek yang belum selesai.
Aku adalah seorang yang sukses sebagai seorang pimpinan sebuah perusahaan IT. Nilai kekayaan cukup untuk hidup tujuh turunan. Tetapi ada ruang yang kosong dalam hidupku yang membuat aku tidak bahagia. Sepi dalam kesendirian.
Aku tidak menampik bahwa aku adalah seorang pemain wanita. One night stand hal biasa bagiku. Tapi hampir sebulan berlalu, kesukaanku untuk bermain perempuan terasa hilang. Aku lebih sering setiap malam keluar apartemenku dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak di belakang kompleks apartemen mewahku.
Rintik hujan mulai semakin deras. Dengan langkah panjang, aku bergegas memasuki kedai terdekat.
Yah sebuah kedai dengan lampu kuning yang sedikit temaram menjadi tempat favoritku sejak sebulan ini.
Kedai coffe milik seorang teman menjadi langgananku sesudah seharian bergelut dengan banyak berkas.
" Selamat malam, Tuan. " seorang gadis menyambutku dengan senyum manis.
" Meja seperti biasa, Tuan ? " lanjut gadis itu seakan hafal kebiasaanku.
Gadis itu melangkah mendahuluiku menuju sudut ruangan. Tempat kesukaanku ketika berkunjung ke kedai coffe ini.
" Silahkan, Tuan ! " Gadis itu menarik sebuah kursi dan mempersilahkanku duduk.
Sejenak, kutatap wajahnya. Manis. Itu kata yang tepat. Kulit coklat dengan rambut bergelombang, mata yang tajam dan bibir penuh yang sensual.
" Wow, jackpot. " batinku.
" Anda, akan memesan apa, Tuan ? " tanya gadis itu lagi dengan tangan yang siap menuliskan pesanan pada sebuah note.
Pandangan kami bertemu. Mata tajam yang cemerlang. Kukagumi wajahnya yang manis.
Gadis itu segera menundukkan wajahnya ketika pandangan mata kami bertemu. Ada rasa yang tiba - tiba muncul ketika kulihat sorot matanya.
" Kopi hitam tanpa gula, " ucapku lirih dengan mataku yang masih menatapnya tajam.
Ku amati keseluruhan wajah dan bentuk tubuhnya. Perfect.
" Baik, silahkan menunggu sebentar ! Saya akan segera kembali dengan pesanan Anda, " ucapnya sopan dan berlalu ke bagian pantry.
Tak berapa lama seorang datang memgantarkan pesanan.
" Silahkan, Tuan ! " suara seorang terdengar sambil menaruh nampan dan menyodorkan segelas kopi yang masih mengepul.
Keningku berkerut ketika menyadari bahwa bukan dia yang tadi mempersilahkanku duduk yang mengantarkan pesanan.
" Permisi, Tuan. " Gadis itu akan beranjak pergi.
" Tunggu ! " ucapku menghentikan langkahnya.
" Kemana gadis yang mencatat pesananku tadi ? Bukankah seharusnya dia yang mengantar ? " tanyaku langsung.
" Qiara, Tuan ? " Gadis itu balik bertanya.
Aku hanya menganggukkan kepala, sebenarnya aku tidak tahu namanya. Hanya rasa tertarik yang selalu membuatku rajin datang ke kedai coffe ini.
" Oh, Qiara sedang dijemput langganannya, Tuan. Biasa dia kan double job, " ucap gadis itu lagi.
" Hah ? Maksudnya ? " tanyaku bingung.
" Double job, Tuan. Akh, Tuan masa tidak tahu. Saya bisa menggantikannya, jika Tuan mau. " balas gadis itu dengan senyum genit dan kerling mata menggoda.
" Menjijikan ! " geramku pelan.
Kuraih uang selembar ratusan dari dompetku dan ku taruh di meja. " Kembaliannya ambil saja ! "
Aku segera beranjak dari dudukku dan keluar kedai dengan tergesa.
" Tunggu, Tuan ! " Gadis itu mencoba menghentikanku. " Qiara biasa mangkal diperempatan, Tuan . " teriak gadis itu lagi dengan senyum liciknya.
Aku tetap berlalu, keluar kedai dengan tergesa. Mataku dengan cepat menyapu seluruh halaman. " Tidak nampak seorang pun. Apalagi hari gerimis, tidak mungkin gadis itu pulang dengan berjalan kaki. Atau benar seperti yang diucapkan temannya, dia sedang menemani om - om tua. Oh no. " gumamku perlahan masih dengan mata yang tajam menyapu seluruh jalanan.
Jalan nampak lengang.
Dengan jengkel, aku melangkah di tengah hujan gerimis. Hatiku terasa mendidih. Ucapan teman Qiara tadi sangat membuatku emosi.
Hatiku panas, terbakar. Rasanya aku tidak terima.
" Akh ... . " Aku sangat marah. Kutendang kaleng bekas minuman yang ada di jalan hingga membentur bumper mobil hingga menimbulkan alarm mobil berbunyi.
Seseorang keluar dengan marah karena alarm mobil berbunyi.
" Hei, Kau yang disana ! Apa yang kau lakukan dengan mobilku ? " seorang pria buncit keluar dengan tergesa dari sebuah mini market.
Ucapannya sambil menunjuk - nunjukku membuatku emosi.
" Hei, Kau tulikah ! Dasar gembel jalanan. Minggir dari mobilku ! " ucap laki - laki buncit itu dengan sarkas
Rasa marah membakar tubuhku, belum reda emosiku mendengar perkataan teman Qiara di kedai tadi, ditambah laki - laki buncit ini.
" Jackpot. " Ku arahkan bogem mentah ke perut buncitnya.
Bug. Bug. Bug. Bug.
" Aw. Tolong ! Stop ! Tolong ! " teriak laki - laki buncit tadi ketika pukulanku membabi buta bersarang di seluruh tubuhnya.
Laki - laki itu mengaduh kesakitan dan terkapar di tanah dengan tubuh yang gemetar.
Kupandang sejenak tubuh gempalnya. Ku tendang sekali tubuh gempalnya dengan kekuatan penuh. Bug.
Rasa marah masih membara di dalam hatiku.
Aku segera berlalu dari depan kedai. Berjalan dengan cepat.
Di persimpangan jalan ke arah kampung, mataku menatap bayangan seorang gadis sedang berjalan dengan terpincang - pincang.
" Aw ... . " gadis itu tampak menunduk dan mengelus tungkainya.
" Aw, sakit sekali. Kenapa juga harus terpeleset segala, " gumam gadis itu berhenti sejenak sambil sesekali mengurut tungkainya yang sakit.
Aku berada tepat dibelakangnya. Ku hirup harum tubuhnya yang terbawa angin.
Sebuah perasaan aneh menyelusup dalam dadaku. " Aku harus memilikimu, My Lady. Yeah, you are my lady. My woman. " tekadku bulat.
Gadis di depanku nampak terkejut ketika mendengar suaraku.
Ada raut ketakutan yang nampak diwajahnya dan dengan sedikit terpincang dia menghindar dariku.
Aku semakin frustasi karena gadis yang ku incar malah menghindariku.
" Oh Tuan ? " ucapnya sambil mengangguk dan berlalu pergi.
Perkataan teman Qiara tadi di kedai bertalu - talu ditelingaku sehingga membangkitkan kemarahanku lagi. Dengan langkah panjang ku sejajarkan langkahku.
Gadis itu nampak terkejut dan ketakutan. Langkahnya semakin cepat walau dengan tertatih. Sesekali bibirnya mengerang kesakitan.
Emosiku semakin terpancing dan ku raih tangan gadis itu untuk menghentikan langkahnya.
" Awww, Anda menyakiti saya, Tuan. " lirihnya. Tubuhnya hampir jatuh jika tangan gadis itu tak kugenggam kuat.
Rasa sesak dengan bayangan - bayangan yang menjijikan muncul di kepalaku.
"Anda mau apa, Tuan ? " ucap gadis itu ketakutan ketika dengan tatapan melecehkan kupandangi wajah dan tubuhnya.
Gadis itu berusaha berontak, melepaskan cekalan pada tangannya.
" Lepaskan ! " teriaknya marah.
" Kau harus menjadi milikku, Qiara ! " ucapku tegas.
" Saya tidak mengenal Anda, Tuan. Lepaskan ! " teriak Qiara lagi sambil terus berusaha melepaskan diri. Tungkai kakinya berdenyut nyeri.
" Lepaskan ! "
" My lady, " ucapku mengklaim dan ku rengkuh tubuh gadis itu dalam pelukanku.
Gadis itu berontak dan menggigit pundakku.
" Oh, no. " sambil mengendurkan pelukkanku
Kesempatan itu digunakannya untuk lari. Dengan tertatih gadis itu berlari menjauh.
Sebuah senyum smirk terukir di wajahku. " Mari kita berolah raga, my lady. " ucapku sambil mengejar dan menangkapnya.
Gadis itu berlari dengan susah payah. Tungkainya yang sakit memperlambat larinya dan itu memudahkan aku menangkapnya.
" Kena kau, "
" Aw ... lepaskan ! " teriaknya marah ketika kunaikkan tubuhnya dipundakku. Aku memanggulnya seperti karung beras.
" Kau jahat, Tuan ! Lepaskan ! Tolong ! "
" Hahahaaha ... " Aku tertawa bahagia.
Gadis itu memberontak dengan kaki dan tangannya. Bahkan giginya kembali menggigit pundakku. Dengan jengkel ku hempaskan tubuhnya ke jalan.
" Awww. "
Gadis itu mengaduh kesakitan dan beranjak berdiri dan akan berlari. Ketika menyadari gerakkannya yang akan kembali berlari, emosiku kembali meluap hingga tanpa sadar ku pukul tengkuknya dengan lenganku. Gadis itu terkulai tak sadarkan diri. Beruntung dengan sigap aku meraih tubuhnya dan kembali memanggulnya seperti karung beras.
Aku tersenyum devil dengan segala macam rencana besarku.
" Kau milikku, Nona. " ucapku sambil memanggul tubuh gadis itu pergi, berjalan di jalanan becek untuk kembali ke apartemen.
Biarkalah sesekali aku menjadi penjahat untuk kebahagiaanku sendiri. " Hahahaha ... . "