Genre: Romance/Sad/Drama/Japanese Teen
-- Cerita ini hanyalah fiksi dan mungkin mengandung konten yang tidak nyaman bagi sebagian pembaca --
***
Nyanyian tonggeret mulai memekikkan telinga. Keringatku sedikit bercucuran. Sembari melonggarkan kerah, secara tidak sengaja pandanganku mengarah ke anak-anak yang berbincang di depan kelas.
"Liburan musim panas ini mau ke mana?"
"Pantai, lah."
"Kalau begitu pokoknya harus beli baju renang baru-- ah, tapi para cowok jangan lihat kami dengan pandangan aneh, ya."
"Ya. Atau kalian mending gak usah ikut ke pantai sekalian."
"Hah? Jahat banget!"
Mataku sedikit menyipit. Bisa-bisanya mereka membicarakan jadwal liburan di depan kelas-- lebih tepatnya di depan anak-anak yang tidak ikut dalam golongan mereka.
"Liburan musim panas, ya ...."
Aku terkejut mendengar suara yang tiba-tiba muncul di sebelah telingaku.
"Jangan seenaknya muncul kau, Matsumoto." Aku sedikit menjauh.
"Jadi? Mau liburan ke mana?"
"Gak tertarik."
"Padahal namamu Natsuo(*). Setidaknya nikmatilah masa muda bersama teman-temanmu daripada berdiam diri di rumah," kata Matsumoto yang mulai menarik kursi mendekat ke bangkuku.
"Berisik."
Aku, Shirone Natsuo, tidak ingin menghabiskan liburan musim panas dengan pergi ke pantai bukannya karena aku tidak memiliki teman. Matsumoto teman yang lumayan dekat denganku sejak SMP. Tidak kusangka kami akan satu SMA lagi, malahan sekelas.
Hanya saja, aku tidak terlalu terbiasa kalau pergi dengan banyak orang. Kalau berduaan dengan Matsumoto ke pantai, sedikit aneh, bukan? Padahal kami sama-sama lelaki. Dan di sekolah ini hanya dia yang dekat denganku, jadi ....
"Kalau Mafuyu, mau menghabiskan liburan panas ke mana?"
Mataku kembali mengarah ke anak-anak yang sedang berbincang.
"Entahlah," jawab anak yang dipanggil Mafuyu itu, dengan sedikit tawa.
Kemudian mereka membicarakan hal yang tidak menarik kembali.
"Kalau saja kita pergi ke pantai bersama cewek," kata Matsumoto. "Terutama cewek cantik dan baik seperti Kitayama, pasti rasanya seperti di surga."
Aku tidak bisa menolak pemikiran Matsumoto. Kitayama Mafuyu adalah perempuan yang terkenal di kelas kami; supel, ceria, baik hati, dan cantik. Dia juga memiliki rekaman akademis yang bagus. Hanya saja aku jarang melihatnya berbicara duluan kalau sedang bersama anak-anak yang lain. Apa dia tidak nyaman bersama banyak orang?
Pandanganku dan Kitayama entah kenapa bertemu secara tidak sengaja. Aku mengalihkan perhatian. Sepertinya aku menatapnya terlalu lama.
"Yah, walau sepertinya kau tidak terlalu tertarik dengan cewek," sela Matsumoto. "Kalau kau senggang akan kuhampiri di rumah, siapkan waktumu," katanya lagi sebelum dia kembali ke kursinya.
Bel berbunyi.
Anak-anak kembali ke bangku mereka masing-masing. Sembari memiliki perasaan yang gundah akan liburan musim panas, aku tidak menyangka kejadian setelah ini akan mengubah sedikit banyak hidupku.
---
Berada di jalan sangat membuatku merasakan gerahnya musim panas.
Mulai besok libur musim panas dimulai. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain mengerjakan tugas menumpuk sebisanya.
Kalau Kitayama ... apa yang akan dia lakukan, ya?
Di balik wajahnya yang ceria kadang-kadang aku melihatnya berdiam diri seperti memikirkan sesuatu dan itu membuatku penasaran. Bukan berarti aku tertarik dengannya. Tapi mungkin saja karena dia sangat menyilaukan dan pandangan kami terkadang bertemu tanpa sengaja-- tunggu, itu karena aku terlalu melihatnya.
Setelah agak lama berjalan, aku melihat seorang perempuan dengan seragam sekolahku yang berjalan agak jauh di depanku. Rambut hitam yang panjang tergurai dan tinggi badan itu-- baru saja kupikirkan, dia ada di depanku. Aku tidak ingat kami memiliki rute yang sama saat pulang sekolah.
Sesaat aku bingung ingin memanggilnya atau tidak. Dia berada agak jauh dari tempatku sekarang. Sedangkan aku akan belok sebelum rel kereta api yang sekarang ada di hadapannya.
Tapi pikiranku berubah setelah melihat palang kereta api yang lampu merahnya mulai berkedip. Rasanya sedikit aneh melihat Kitayama yang tidak bergerak sedikit pun sebelum ada peringatan kereta menyebrang. Saat palang kereta api hendak tertutup, dia mulai maju. Melihat hal itu aku terkejut. Kemudian saat palangnya benar-benar sudah tertutup, dia berada di tengah-tengah rel.
Yang benar saja.
Suara kereta melaju mulai terdengar. Kereta melaju begitu cepat---
--- kemudian dengan waktu sekejap telah melewati rel.
"Kau sudah gila, ya!?" teriakku kepada Kitayama.
Dia terlihat terkejut. Dia pasti tidak menyangka kalau aku membuka palang dengan paksa dan menariknya ke jalan untuk menjauh dari rel. Kami berdua sama-sama terjatuh di jalan. Untunglah aku sempat. Kalau saja aku tidak berlari tadi, entah apa yang akan terjadi. Napasku sedikit terengah.
Matanya masih menatapku tidak percaya.
Aku tidak pernah menyangka itu adalah kata pertama yang kutujukan pada Kitayama setelah kami sekelas beberapa bulan dan tidak pernah berbicara secara langsung.
Dia terlihat sedikit panik. Badannya bergetar hebat dan dia mulai menangis.
"M-Maaf, aku--," kataku sedikit salah tingkah. Aku baru sadar kalau aku berteriak terlalu keras kepadanya.
Kemudian dia menangis cukup lama dalam pelukanku.
---
Kami duduk di halte bus dengan mesin minuman otomatis di sebelahnya. Halte ini tidak terlalu jauh dari jalanan kami bertemu barusan.
"Anu, terima kasih untuk yang tadi." Dia mulai berbicara setelah keheningan yang lumayan panjang di antara kami. Kelihatannya dia sudah terlihat sedikit tenang.
Aku tidak menjawab.
Aku sedang bersama Kitayama Mafuyu, perempuan yang sangat terkenal dari kelasku karena kesempurnaannya.
Dan barusan dia mencoba untuk ... bunuh diri? Apa karena ini musim panas, jadi aku berhalusinasi hal yang aneh?
"Kamu tidak ingin bertanya apa-apa padaku?" tanya Kitayama, tanpa menatap wajahku. Pandangannya masih menunduk, tapi dia sedikit tersenyum.
"Aku ...." Aku tidak tahu. Aku tidak tahu harus menanyakan apa dan mulai dari mana. Aku juga bukan siapa-siapanya.
"Aku tidak tahu cara menghabiskan liburan musim panas," kataku kemudian.
Selang jeda beberapa detik, Kitayama tertawa kecil mendengar jawabanku. "Aku juga," katanya.
Percakapan kami tidak ada kemajuan. Kemudian aku mengingat kata-kata Matsumoto di sekolah waktu itu.
"Pantai ... setelah ini mau ke sana bareng, gak?" kataku was-was.
Kitayama melihat ke arahku dengan pandangan sedikit bingung.
"Sebentar lagi matahari terbenam, dan langit sedang cerah, apalagi besok libur, jadi ..." Aku mulai bingung harus mengatakan apalagi agar tidak terdengar aneh.
Karena hening, aku melihat ke arah Kitayama. Rupanya dia menungguku untuk memandang ke arahnya.
"Baiklah."
--
Kami berada di pantai yang berjarak tiga puluh menit dari kota. Dalam perjalanan kami duduk berjauhan, sama-sama memandang ke luar jendela.
Setelah sampai, Kitayama mulai melepas kedua alas kakinya dan berlari merasakan sensasi pasir putih. Suara ombak yang berderu, lalu angin sore yang berhembus segar.
"Enaknya," celetuk Kitayama. "Shirone, kamu juga harus mencobanya."
Sejak dia sampai di pantai, entah kenapa dia terlihat sangat ceria. Seperti ada beban yang sudah terlepas. Aku memandanginya yang berlarian, tersenyum karena bisa melihat sisi kekanakan miliknya yang seperti itu.
"Kenapa kamu senyum-senyum, hah?"
Dia menyipratkan air pantai ke arahku tanpa merasa bersalah.
"Hei, kena bajuku, nih!" gerutuku, mengibas seragam basah yang masih kukenakan.
Kitayama tertawa, menarik-narikku ke sana kemari. Dan entah kenapa perasaanku menjadi sedikit aneh karena berduaan di pantai bersama dirinya.
Setelah capek kejar-kejaran dan tertawa, Kitayama terdiam. Dia menghela napas dengan senyuman.
"Syukurlah aku masih hidup," katanya. "Kalau aku sudah tiada, aku tidak akan bisa menikmati pantai berdua bersama Shirone seperti ini."
Aku sedikit merasa canggung. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya dan mengapa tadi ia ingin mengakhiri hidupnya.
"Tapi karena aku masih hidup, aku tidak tahu harus bagaimana," tambahnya lagi.
"Apa kau benci musim panas?" tanyaku.
Ombak yang pasang surut menjadi latar belakang percakapan kami.
Kitayama menggeleng. "Aku suka, kok." Dia berbicara sambil menghadap ke arahku. "Kalau kamu?"
"Aku menyukai musim dingin."
Dia tertawa lalu berkata, "rasanya seperti pernyataan cinta, ya(*)."
Saat dia mengatakan hal itu dengan jelas, aku merasa sedikit geli. Kemudian dia menatap ke arah matahari yang hendak terbenam.
"Andai kita bisa tetap kabur seperti ini berdua, ya," katanya lagi.
"Kita menjelajah ke sana ke mari, melupakan semuanya, kemudian hidup di tempat di mana tidak ada yang bisa menemukan kita."
"Shirone, apa kamu mau kabur bersamaku?"
Wajahnya terlihat sedih. Tapi kata-kata yang diucapkannya terdengar sangat serius. Kemudian angin berhembus cukup kencang.
"Aku ... aku hanyalah teman sekelasmu," jawabku.
Aku tidak memiliki keberanian untuk menjawab terus terang.
"Begitu, ya," katanya.
"Tapi saat aku mengatakan aku menyukai musim dingin(*), aku bersungguh-sungguh," timpalku.
Kitayama tersenyum kemudian dia mengatakan, "Terima kasih."
Matahari mulai terbenam. Aku melihat sosoknya yang berjalan menjauh dariku, dengan rambut panjang hitamnya yang terurai dihembuskan angin.
Dan aku tidak menyangka itu terakhir kalinya aku bertemu Kitayama Mafuyu.
---
Satu tahun telah berlalu sejak kejadian itu.
Kitayama Mafuyu, anak sempurna yang dipuja banyak orang, tidak pernah kembali ke sekolah setelah libur musim panas.
Katanya dia pindah bersama kedua orang tuanya ke kota sebelah. Namun dia sama sekali tidak memberi kabar ke siapa pun bahwa dia pindah.
Sejak itu, aku selalu memikirkan bahwa ada kalanya seseorang ingin menghilang dari dunia ini. Bukan berarti dia menyerah, tapi hanya itu satu-satunya jalan agar dia dapat tetap bertahan.
Kitayama Mafuyu anak yang baik, populer, dan memiliki akademi yang bagus. Namun apakah benar dia bahagia dengan itu semua? Kurasa ia menjadi tertekan, dan saat itu ia ingin menghilang---
--- namun aku menghalanginya.
Kalau saat itu aku mengatakan ingin kabur bersamanya, apa yang akan terjadi?
"Besok liburan musim panas," kata Matsumoto yang membuyarkan lamunanku. "Mau ke mana?"
Aku yang berjalan bersama Matsumoto berpikir-pikir keras. "Entahlah."
"Harusnya kita bisa pergi bersama para cewek," kata Matsumoto lagi.
Aku hanya terdiam. Kemudian kami sampai di depan rel yang menjadi pertemuanku dengan Kitayama. Rasanya sudah sangat lama.
Jadi ingin ke pantai.
"Maaf, Matsumoto. Kau duluan saja, aku ada urusan sebentar."
Aku berlari tanpa menghiraukan Matsumoto yang kutinggal kebingungan.
Dengan segera aku menaiki bus dan pergi ke pantai waktu itu. Perjalanan tiga puluh menit yang memakan waktu, membuat hatiku sedikit berdebar.
Sesampainya aku di sana, aku tidak melihat siapa-siapa. Kemudian aku termenung sebentar dalam hening dan deru ombak.
Saat aku mengangkat kepala, aku menyadari ada seorang anak perempuan dengan rambut hitam panjangnya yang terurai. Kemudian tanpa sadar, aku mulai mendekatinya.
"Shirone, apa kamu mau kabur bersamaku?" Dia bertanya. Kemudian membalikkan badan dengan senyuman di wajahnya.
Dia Kitayama Mafuyu.
Dan kali ini, aku akan mengatakan hal yang ingin kukatakan sejak pertama kali melihatmu.
"Ya."
Kemudian, dia menarik tanganku dan bersama kami berlari melawan ombak dengan bergandengan tangan. Kali ini aku tidak akan menghalangimu, melainkan akan tetap berada di sisimu.
Kami berdua sama-sama tidak tahu cara menghabiskan liburan musim panas.
Sepertinya aku memang tidak berhalusinasi.
FIN
---
(*) Natsu juga berarti musim panas dalam Bahasa Jepang.
(*) Mafuyu juga berarti musim dingin dalam Bahasa Jepang.
Thumbnail source: https://www.pixiv.net/en/artworks/65379885