"Kkyyaaa.... Lihat!! pangeran kita udah dateng!!!"
"Paanggeerraann...!!! Lihat aku dongg!!"
"Astagah, itu orang tuanya bikinnya pake apa yah?"
"Iya tuh, keluarnya macem gituan."
"Terlalu tampan!"
"Fix dia punya gue! Nggak mau tau, pokoknya dia punya gue!"
Bacot kalian semuahh....
Hhhh... Gue hanya bisa menghela nafas melihat para gadis amatir yang berteriak-teriak layaknya orang gila. Berisik dan bodoh. Hanya karena si 'pangeran' (katanya) lewat semua gadis di sekolah gue pada heboh. Layaknya orang kerasukan.
Hampir setiap hari- eh bukan, tapi lebih tepatnya tiap detik, menit, dan jam mereka selalu berteriak histeris jika melihat lelaki itu. Seolah-olah mereka tidak pernah melihat orang tampan saja. Tidak peduli dengan suasana dan keadaan. Bahkan di saat jam pelajaran pun mereka masih sempat berbuat hal-hal nekat. Fans gila!
Sungguh, gue benar-benar muak dengan hal itu. Gue sama sekali nggak bisa tenang di kelas. Kenapa sih gue apes banget sekelas sama dia?
➡ Jay. Lelaki tinggi yang suka tebar pesona. Genit, sok manis, pura-pura ramah di hadapan cewek (di mata gue)
"Udah jangan di pelototin mulu tuh cowok! Entar naksir bahaya." ucap Hana yang tiba-tiba aja udah berjalan beriringan dengan gue.
Nih anak udah kayak setan, tiba-tiba nongol. Bikin gue kaget aja.
Eh tunggu, Hana bilang apa tadi? Gue naksir Jay
Gue?
Jangan gila. Gue benci sama tuh cowok yang hobby tebar senyum manis di depan cewek.
"Sorry, he is not my type!" ucap gue percaya diri.
Gue udah memantapkan hati buat nggak tertarik sama tuh cowok. Walau pun banyak anak gadis yang bilang dia ganteng, tapi gue nggak tertarik. Karena di mata gue dia itu genit. Titik. Nggak pake koma!
"Haaalaahh.... Awas kemakan omongan sendiri loh!"
"Bodo. Udah buruan, entar lagi bel masuk!"
Akhirnya gue masuk kelas bersama sahabat gue satu-satunya yang bernama Hana. Hana, gadis yang cukup normal dari para gadis di sekolah yang tergila-gila pada si 'pangeran'.
Saat gue masuk, gue sempet ngelirik
Jay yang duduk di bangku barisan depan nomor dua dari kanan. Dan sempat terjadi adegan tatap-tatapan antara gue dan dia.
Tuh cowok malah senyum ke gue. Tuh kan sok manis.
"Pagi Lia." sapanya kek anak bocah. Dan hal yang dia lakukan itu berhasil memancing para siswi yang ada di dalam kelas maupun di luar kelas menatap gue iri.
Gue yang ditatap gitu udah terbiasa. Udah tiga tahun. Dan untungnya ini udah tahun ke tiga gue sekolah di 'Morim High School'. Ya kalian bayangin aja, tiap kali gue di sapa Jay, tiap kali itu juga gue dapet tatapan iri dari meraka. Dan itu selama tiga tahun.
Gue tekankan sekali lagi, TIGA TAHUN!
Itu lah yang bikin gue nggak begitu suka sama nih cowok.
Tapi untungnya gue nggak sampek di hajar kaya di drakor-drakor yang sering guMon.
"Hmm." jawab gue tanpa ekspresi. Jangan berfikiran buruk dulu tentang gue. Bukannya gue sok-sok an, tapi ekspresi gue emang sulit keluar kalo udah berhadapan sama nih cowok.
"Kamu masih nggak berubah ya Li, udah tiga tahun loh. Kalo di sapa 'hmm' mulu jawabnya." ucapnya lagi masih dengan senyum p*psod*nt yang melekat di wajahnya.
Senyum mulu, entar kering tuh gigi.
Gue nggak bales ucapan dia dan langsung duduk di bangku kolom 4 dari kanan dan duduk di bangku barisan no 2 dari depan.
"Li, segitu nggak sukanya ya lo sama Jay? Padahal dia kan cowok baik.
Cakep lagi!" tanya Hana ke gue waktu kita berdua udah sama-sama duduk. Gue sama Hana sebangku.
Entahlah, gue akui dia cowok baik-baik, bahkan berprestasi. Tapi ya gitu, tetep aja Jay terlihat menjengkelkan di mata gue, walau pun dia nggak bermasalah sama gue. Mungkin karena sikap para fans fanatic-nya yang udah mengubah pola pikir gue tentang dia. Gue tau, sikap dingin gue ke Jay ini hanya karena gue mendapatkan perilaku yang tidak mengenakkan dari fans-nya, bukan salah dia juga sih. Tapi tetep aja gue jengkel.
"Gue nggak tau. Gue cuman nggak suka aja. Lo tau sendiri kan ulah fans dia ke gue. Dapet tatapan sinis kayak gitu bikin gue risih. Apa lagi gue digituin selama hampir tiga tahun."
Hana mengelus punggung gue perlahan, mencoba menenangkan gue. Sesekali gue denger bisik-bisik setan dari mulut para fans Jay. Yah begitulah, mau bagaimanapun sikap gue ke Jay, tetep aja gue bakal terlihat salah di mata mereka.
_________________
Pulang Sekolah....
"Lia, lo pulang naik apa? Atau di jemput kah?" tanya Hana saat kita berdua keluar dari kelas.
"Gue-"
"Lia! Pulang bareng yuk!" ajak seseorang yang tiba-tiba mendesak berdiri di antara gue dan Hana.
Gue reflek menoleh ke si tukang rusuh di sebelah gue ini.
Glukk!
Deg.....
Deg.....
Deg.....
Deg.....
Ini kenapa jantung gue malah deg-degan liat wajah nih bocah?
Apa gue punya kelainan jantung ya?
Aggghhhhh....!!!!
"Nggak mau, gue bakal di jemput kakak gue. Mending lu pulang bareng sama para fans lu!" ucap gue rada sewot. Habis gue kesel ngeliat muka dia.
"Tapi aku pengennya pulang bareng kamu." ucapnya polos dan nunjukin wajah tak berdosanya.
"Aaakkkhhhh.... Tidakkk!!! Pangeran ku!!!"
"Please deh, aku lebih baik dari dia!!"
"Eunwoo pulang bareng aku aja! Nanti aku traktir!"
"Hati gue perih mendengar semua itu!"
Para cabe alay beraksi. Pusing gue!
Ini semua gara-gara Jay, tuh cowok kenapa sih selalu bikin gue kesel!
Akhirnya gue tinggalin si Jay, bahkan Hana yang ada di sana udah nggak gue peduliin.
'Sorry Hana, lo gue tinggal. Gue harus cepet-cepet pergi dari cowok tebar pesona itu'
.
.
.
______________________
Di rumah....
"Lia, ayah pengen ngomong sesuatu sama kamu. Ini penting."
Ayah gue tiba-tiba masuk ke kamar gue tanpa permisi dan langsung berucap demikian. Gue lihat raut wajah ayah gue yang kelihatan sedih. Entah apa yang membuat beliau sampai seperti itu. Biasanya dia selalu ceria dan humoris. Tapi saat ini, seperti ada beban berat yang ia pikul.
"Ah, ayah mau ngomong apa? Ngomong aja."
"Ayah butuh bantuan Lia. Ayah harap Lia mau bantu ayah."
"Lia anak ayah! Lia bakal selalu ada buat ayah. Lia bakal bantu ayah sebisa Lia. Jadi apa yang membuat ayah kesayangan ku ini murung?"
Beliau terkekeh saat gue berkata seperti itu. Yah walau pun cuman sebentar.
"Tapi janji yah Lia, jangan benci ayah. Ayah nggak mau di benci sama anak ayah yang paling ayah sayangi." ucapnya lesu.
"Iya, Lia janji. Dan Lisa janji bakal bantu ayah, selama permintaan ayah nggak berbahaya bagi keluarga kita."
Setelah gue berucap demikian, ayah gue menarik nafas dalam-dalam. Mungkin dia mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk di utarakan.
"Saham perusahaan ayah belakangan ini mengalami penurunan. Dan kerugiannya lumayan besar juga."
Ayah menjeda sejenak kalimatnya. Gue sempet shock waktu ayah berkata seperti itu, gue nggak tau kalo perusahaan ayah bermasalah, karena beliau selalu tersenyum tiap kali kita berjumpa. Seolah-olah tidak ada masalah.
"Ibu dan kakak mu udah tau masalah ini, cuman kamu yang belum tau. Ayah cuman nggak mau kamu keganggu dengan masalah ayah. Akan tetapi sekarang perusahaan ayah sudah kembali normal seperti biasa karena ayah mendapat bantuan dari salah satu sahabat ayah. Beliau juga seorang pembisnis sama seperti ayah."
"Perusahaan ayah kan udah stabil, terus masalahnya di mana?" tanya gue sedikit bingung. Yah walau pun cerita awalnya sedikit menghawatirkan tapi toh sekarang udah baik-baik aja. Lah terus bagian mananya yang perlu bantuan? Minta bantuan dari gue lagi. Gue mah bisa apa? Gue aja nggak tau apa-apa soal perusahaan ayah gue. Harusnya ayah minta bantuan sama kakak laki-laki gue, karena dia juga punya hobby yang sama seperti ayah.
"Mmm, begini, demi menjaga hubungan antara persahabatan dan juga hubungan kerja sama perusaahaan, ayah dan sahabat ayah ingin punya ikatan yang lebih kuat lagi."
"Ikatan yang lebih kuat? Emang ikatan apa?"
Tanya gue bingung untuk kedua kalinya. Entalah perasaan gue mendadak tidak enak. Suhu udara di kamar gue sedikit memanas, apa mungkin AC gue bermasalah ya?
"Ayah ingin kamu nikah sama anak dari rekan kerja sekaligus sahabat ayah." ucap ayah cepat sambil menutup matanya.
"Oh..."
"........"
"APA? NIKAH? AKU?"
NIKAH KATANYA?
INI GILA! GUE AJA MASIH SMA KELAS 3 WOYYY!!! BELUM UJIAN JUGA!
MASAK IYA GUE NIKAH? GUE NGGAK MAU JADI PASUTRI MUDA...!!
MASIH BANYAK HARAPAN GUE YANG BELUM KEWUJUD!!!😭
"AYAH! LIA MASIH SMA YAH, BELUM UJIAN SEKOLAH DAN LAIN-LAIN. MASAK LIA NIKAH MUDA. AYAH JANGAN BERCANDA DONG! NGGAK LUCU!!" ucap gue dengan nada tinggi di selingi dengan rengekan.
Bukannya gue mau jadi anak durhaka nolak keinginan ayah gue, tapi gue juga nggak mau jadi mama muda!
Gue nggak bisa bayangin kalo gue udah punya anak duluan disaat teman-teman gue lagi ujian.
Eh, gue mikirnya kejauhan kayaknya.
Ah bodo amat! Gue nggak mau nikah muda.
"Lia, bukannya tadi kamu sudah bilang janji mau bantu ayah selama permintaan ayah nggak membahayakan keluarga kita?"
"Iya, Lia janji. Dan Lia janji bakal bantu ayah, selama permintaan ayah nggak berbahaya bagi keluarga kita."
Deg!
Sial.
Iya sih ya nggak bahaya bagi keluarga, tapi bahaya bagi masa depan gue!
Ini serius? Kisah hidup remaja gue sampek disini nih?
______________________
Di hari pernikahan....
Gue nggak punya pilihan lain, terpaksa gue harus menikah sesuai dengan permintaan ayah. Seperti kata pepatah yang pernah gue dengar-
'Hidup itu butuh pengorbanan'
Iya, dan hidup gue di korbankan. Demi mengikat dua perusahaan.
Awalnya gue bingung, kenapa harus gue yang nikah? Kenapa bukan kakak gue yang udah jelas-jelas kerja dan hidup mapan. Eh tarnyata-
"Ayah pilih kamu karena anak sahabat ayah itu cowok. Anak tunggal lagi. Nggak mungkin kan ayah nikahin kakak kamu sama anak sahabat ayah. Emang terong makan terong? Nggak lucu dong!"
Hhhh.... Nasib-Nasib! Yah semoga saja nanti hidup gue bakal mujur. Gue setuju nikahin dia pun ada syaratnya. Gue harus tetep sekolah sampek lulus dan ngelanjutin ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Dan ternyata kedua belah pihak setuju-setuju aja.
Dan sayangnya, gue masih belum tau calon suami gue sendiri sampai saat ini di hari pernikahan. Kakak gue bilang dia ganteng, manis, tinggi, dan supel. Katanya....
Gue ngggak di kasih tau sama sekali, bahkan fotonya. Eh tunggu, pernah sekali kakak gue nunjukin fotonya. Tapi fotonya nge-blur.
Resek emang kakak gue. Kayak dia sengaja deh mau bikin gue mati penasaran. Apa lagi pas denger kata-kata kakak gue seminggu sebelum acara pernikan.
"Tau nggak dek. Calon suami mu nggak sabar banget pengen ngelangsungin pernikahan sama kamu. Awalnya sih dia nolak, tapi pas di kasih foto mu, dia langsung bilang-'oke aku mau, kalo bisa dipercepat pa!' nggak nyangka dek, dia nge-gas. Tapi kakak juga khawatir, kakak takut nanti kamu malah isi duluan sebelum lulus."
Sumpah! Gue jadi jarang tidur setelahnya. Gue penasaran sekaligus takut. Calon suami gue bukan pedofil kan?
_____________
"Lia, udah siap? Yuk kita keluar, acaranya kita mulai"
Gue sampek nggak sadar ayah gue masuk ke ruangan gue. Gue terlalu banyak bengong karena terlalu mikirin pernikan ini. Bahkan sekarang aja gue masih belum percaya kalo hari ini gue nikah.
Entah kenapa kalimat
'Hari ini gue nikah' rasanya sedikit mustahil dan menyesakkan.
"Lia siap yah."
Setelah itu gue keluar dari ruangan rias gue dan pergi menuju ketempat acara pernikahan dengan gue yang menggandeng lengan ayah.
Pernikahan gue pun termasuk pernikahan rahasia, jadi hanya pihak keluarga gue dan pihak keluarga mempelai pria yang hadir. Itu pun hanya beberapa orang. Belum apa-apa gue udah memikirkan sekolah, hari ini gue ngirim surat izin selama 2 hari ke sekolah. Itu perintah ayah gue. Bahkan gue nggak ngasih tahu Hana.
Maaf ya Hana...
Gue udah berdiri ditempat pelaminan sambil mengamati para tamu yang ada. Gue nggak sengaja ngeliat kakak gue yang duduk berdampingan dengan ibu gue. Dan gue lihat kakak gue lagi ketawa cekikikan.
Kakak ampas emang!
"Itu calon kamu." bisik ayah.
Gue yang tadinya fokus ngeliat kakak, langsung beralih ke orang yang bakal jadi calon suami gue. Gue cuman nge-liat punggung dia. Entah kenapa kok gue kayak kenal sama nih orang.
Disaat gue udah berada sampai di altar, lelaki yang bakal jadi calon suami gue berbalik badan dan mengulurkan tangannya.
Dan disaat itu lah, dunia gue berasa gelap dan suram.
Kenapa di antara banyaknya orang tampan harus Jay yang jadi suami gue? Kenapa?
Please, jangan bilang kalo ini takdir.
.
.
.
.
.
.
.
Seusai pembacaan sumpah pernikahan, acara pun selesai. Tapi, malah timbul bencana baru akibat kakak gue yang punya mulut lemes.
"Cium... Ciumm... Ciummm..!!!"
Dan di ikiuti oleh sorakan lainnya.
Mampus. Gue nggak bisa berkutik.
Gue ngelirik Jay dan ternyata Jay malah menatap gue lekat-lekat. Tatapan yang bikin gue pusing.
"Boleh?" ucapnya lirih.
Ini ceritanya dia nanya apa minta izin ke gue? Gue harus jawab apa?
First kiss gue dipertaruhkan di sini.
"Ng-n-bo-"
Cup!
Mata gue reflek terpejam. Bukannya gue menikmati, tapi gue malu. Malu sama diri gue sendiri yang nggak bisa nolak.
Gue merasakan ada gerakan di bibir gue. Lembut, kenyal, dan manis.
Apa ini yang dinamakan ciuman?
Astagah! Gue makin pusing! Ditambah lagi jantung gue mendadak jadi nggak normal.
Jay masih saja memperkosa bibir gue. Gue nggak tau, ini dia-nya lagi akting atau emang dia-nya terlalu menikmati.
Dia sepertinya udah ahli dalam hal ini. Sedangkan gue? Berpengalaman kalo pas ciuman sama tembok atau pun pintu.
"Nngggghh-"
Sial! Kenapa gue malah nge-desah!
Jujur, ini gue udah kehabisan stock oksigen. Gue udah nyoba nahan Jay, nyudahin acara ciuman. Tapi, dia makin bernafsu.
Dia nge-gigit bibir bawah gue. Sehingga secara reflek bibir gue kebuka. Dan setelahnya gue merasakan benda kenyal nan hangat menyusup tanpa permisi ke mulut gue. Dan tangan Jay semakin berani meraih pinggang gue.
Dan gue mendengar sorakan yang makin ricuh... Terutama kakak gue.
"WOI! UDAHAN, LANJUTIN NANTI DI KAMAR!"
The End...😂