"Bagaimana bisa kau menjadi seorang ibu?!! Jika kau tak bisa menjaga anak-anakmu!" teriak Pak Hendra pada sang Istri.
"Apa maksudmu? Aku menjaga mereka, bahkan lebih baik dari dirimu!" balas Bu Rahayu dengan menahan emosinya.
"Jika aku yang sudah berusaha menjaga mereka dengan semaksimal mungkin tidak pantas menjadi seorang ibu, lalu bagaimana dengan dirimu?" sambung Bu Rahayu.
Pak Hendra hanya diam tak bergeming. Matanya tertuju pada anak-anaknya yang sedang duduk di ruang makan. Dalam hatinya, ia teramat mengasihani anak-anaknya. Namun, pada perilakunya, ia seolah tak peduli dengan apa yang dilakukan anak-anaknya itu.
Ya, anak-anaknya yang tengah makan, Fallen dan Arsyah. Mereka hanya menjadi pendengar setia pertengkaran ayah dan ibunya, tanpa berani menoleh.
"Hiks...hiks...tak bisakah mereka membiarkanku makan dengan tenang?" cletuk Fallen yang hendak memasukkan nasinya ke mulut.
"Sabar kak...sabar..." ujar Arsyah sembari menepuk-nepuk punggung Fallen pelan.
"Uwaaahhh...Ingin kubanting piring ini saat juga..."
Fallen mengangkat piring yang ada di hadapannya, ia hendak menjatuhkan piring yang masih berisi makanannya itu. Untungnya, Arsyah dengan sigap menghentikan aksi konyol kakaknya itu.
"Hey kak! Jangan sembarangan banting piring. Kau tahu? Hanya tersisa tiga buah piring yang ada di dalam rak," ujar Arsyah.
Fallen melirik ke arah adiknya. Arsyah membalas lirikan Fallen dengan memasang muka meledek.
"Cih! Jika kau bukan adikku, sudah kulempar piring kau dari tadi," batin Fallen kesal.
Fallen dan Arsyah pun melanjutkan makan mereka.
Mungkin Fallen dan Arsyah terlihat tak memedulikan pertengkaran kedua orang tuanya itu. Namun nyatanya, mereka menangis dalam hati. Hati mereka seolah teriris oleh belati tumpul. Tak menimbulkan berdarah, tapi cukup sakit untuk dirasa.
Tak ada lagi suara saling meneriaki atau saling memojokkan. Fallen pun mencoba untuk sedikit menoleh ke arah ayah dan ibunya berada. Seolah tahu anaknya akan menoleh ke arahnya, sang Ayah pun angkat bicara.
"Biarkan anak-anak ikut denganku! Aku tak mau jika mereka nanti sama seperti dirimu!" tunjuk pak Hendra pada istrinya.
Mendengar penuturan ayahnya, sontak membuat Fallen dan Arsyah memandang ke arah ibunya. Bu Rahayu hanya diam. Ia tak sanggup lagi membalas perkataan demi perkataan calon mantan suaminya itu. Sakitnya luka luar dapat diobati, tapi sakitnya luka hati? Akan membekas walau waktu berlalu.
"Kau? Ingin aku ikut bersamamu? NEHI!" batin Fallen kesal.
"Maaf ayah, aku lebih baik ikut bersama dengan ibu. Aku tak mau jika harus hidup bersama dengan istri-istri barumu itu!" ujar Arsyah dengan berterus terang.
Fallen melirik ke arah adiknya, ia berpikir bahwa adiknya cukup berani juga mengatakan hal seperti itu. Ya, memang sedari kecil Arsyah sudah menjadi anak yang pemberani. Berani melawan apa yang dikatakan oleh ayah mereka.
"Aku pun tak mau ikut ayah," ucap Fallen menimpali perkataan adiknya.
"Memangnya ayah bisa masak seenak masakan ibu? Apalagi para ibu tiri itu! Tak ada yang bisa masak seenak masakan ibu!" sambung Fallen lagi.
Arsyah mendelik ke arah kakaknya. Ia tak percaya jika kakaknya malah menyangkutpautkan perihal makanan dalam pembicaraan seriusnya itu.
Mendengar jawaban anak-anaknya yang tak sesuai dengan ekspetasinya, pak Hendra pun mendengus kesal. Ia berlalu pergi tanpa berucap apa pun lagi.
Bu Rahayu menghampiri kedua anaknya, ia merangkul mereka dari belakang.
"Terima kasih anak-anakku..." ucap Bu Rahayu penuh dengan haru.
Fallen dan Arsyah hanya diam. Mereka enggan membalas pelukan, bahkan ucapan ibunya itu.
"Sudah lama aku tak merasakan kehangatan ini..." batin Fallen dan Arsyah secara bersamaan.
Merasa tak tahan dengan suasana haru itu, Fallen beranjak dari duduknya. Ia melangkah meninggalkan ibunya yang masih merangkul adiknya.
Praaannggg...
Piring yang dibawa Fallen pun terjatuh. Ia benar-benar gemas dengan perilaku kedua orang tuanya itu.
"Kak, bukankah sudah kubilang! Jangan pecahkan piringnya!" teriak Arsyah yang melihat kakaknya masih mematung di dekat serpihan piring itu.
"Maafkan aku dek, aku tak sengaja, sungguh! Tanganku licin akibat minyak dari gorengan itu," kilah Fallen dengan pernyataan tak masuk akal.
"Minyak gorengan, endasmu! Jelas-jelas makan dengan lauk sayur dan telur dadar!" batin Arsyah sengit.
~•~•~•~•~•~•~•~•
Seminggu setelah pertengkaran sengit itu, akhirnya terdengar kabar bahwa pak Hendra dan juga bu Rahayu resmi berpisah.
Setelah perpisahan itu, bu Rahayu mendepak istri muda pak Hendra dari rumah yang ia tinggali. Bu Rahayu merasa tak sudi jika dia harus tetap tinggal dengan wanita yang tak tahu malu. Sayangnya, tempat tinggal para istri muda itu juga tak berlokasi jauh dari rumah utama.
Ya, itu adalah rumah cabang. Yang berada di belakang rumah utama.
Seringkali para istri-istri muda pak Hendra dengan tak tahu malu melewati jalan rumah utama jika berlalu lalang. Itu jelas membuat bu Rahayu naik pitam.
"Enyahlah kalian dari hadapanku! Jangan lagi melewati rumah ini jika hendak berlalu-lalang!" ujar bu Rahayu dengan amarah yang hampir mencapai ubun-ubun.
Tak hanya para istri muda yang terkena omelan bu Rahayu, tapi anak-anak dari mereka pun kena juga. Mereka yang masih polos dan kecil tak mengerti apa-apa dengan apa yang diperbuat orang tua mereka.
Mereka hanya tahu sifat bu Rahayu adalah seorang yang penuh kasih dan penyayang. Ia pun gemar menebar senyum indahnya ke semua orang. Tapi sekarang? Hilang semua aura kedewiannya itu.
Bu Rahayu acapkali marah dan mengomel tak jelas pada anak-anaknya. Terlebih pada Fallen dan Arsyah. Sedangkan anak-anak yang lain, jarang menjadi korban bual-bualan bu Rahayu.
Hati Fallen yang begitu lembut, tak sanggup menerima semua perlakuan ibunya itu. Seringkali ia menangisi nasibnya. Seringkali ia menahan gejolak emosi yang ada dalam hatinya.
Siapa anak yang akan tahan melihat keluarganya terpecah? Siapa anak yang akan diam, jika ia merasakan broken home?
Bukankah sangat jarang ada anak yang seperti itu? Ya, seperti Fallen dan Arsyah. Walau mereka merasa broken home, mereka masih berjalan di jalannya. Maksudnya tak melakukan perbuatan yang menyimpang. Mereka malah melampiaskan kekesalan mereka pada pak Hendra.
Arsyah kini semakin berani menentang semua perkataan ayahnya itu. Sedangkan Fallen, ia sama sekali tak menentang. Hanya saja, Fallen punya caranya sendiri. Ia sengaja mengulur-ulur waktu pendidikannya. Fallen selalu meminta uang lebih dari jatah yang biasanya.
"Daripada uang habis untuk kebutuhan tak penting para istri muda, lebih baik dihabiskan olehku saja." ✌🏻
Begitulah kiranya motto hidup Fallen setelah perpisahan kedua orang tuanya itu.
Banyak sekali pelajaran yang diambil oleh Fallen dari apa yang dialaminya sampai saat ini. Masa sulit dan senangnya itu.
_Bahwa tak ada istri yang sepenuhnya rela untuk dimadu.
_Jika orang lain berkata bahwa sabar tak memiliki batas, itu salah. Manusia biasa memiliki batas kesabarannya masing-masing.
_Keadilan yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang diberikan secara merata. Tapi sesuatu yang diberikan sesuai tingkat kebutuhannya.
_Baik? Tentu harus, tapi jangan terlalu baik. Karena kebaikanmu akan dimanfaatkan oleh yang lain.
_Lari dari masalah? Jangan!
Itu hanya akan menambah kesulitan. Bukankah lebih baik dihadapi? Itu akan menambah nilai plus.q