“Aku sibuk. Pergilah!”
Berulang kali kata itu meluncur dari mulut Detty, si detektif cantik yang jenius dan misterius. Jarang-jarang Detty menolak permohonan penyelidikan dari seseorang. Biasanya Detty akan bermurah hati mengiyakan, lantas memecahkan kasus dengan cekatan.
“Nona Detty, tolong bantu saya!” Seorang pria berkemeja putih sekali lagi menghadang langkah Detty hingga sukses membuatnya berhenti.
“Maaf, aku sibuk!”
Lagi-lagi Detty menolak. Dengan ringan langkah, Detty meninggalkan si pria yang hampir saja putus asa. Hingga kemudian, kalimat yang keluar selanjutnya justru mampu membuat Detty menanggapi lebih dari sebelumnya.
“Tolong! Nyawa saya terancam!” Si pria meyakinkan.
“Hati-hati dengan ucapanmu, Tuan!”
“Dari tadi saya sudah hati-hati. Maka dari itu, tolong saya sekali ini saja! Teman dekat saya baru saja kehilangan nyawa. Sekarang, tetangga saya juga. Saya tidak mau bernasib serupa."
Keseriusan si pria membuat Detty tidak lagi cuek seperti tadi. Detty berbalik badan, menatap si pria dalam-dalam, kemudian meluncurlah kata-kata penjelasan yang membuat si pria langsung terbungkam.
“Teman Tuan kehilangan nyawa karena ketidaktahuannya dalam membedakan ikan yang boleh dimakan dan tidak. Sedangkan tetangga Tuan, dia sudah lama mengidap penyakit dalam. Kejadian orang-orang yang Tuan sebutkan sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Tuan hari ini.”
Sekian detik tidak ada kata balasan dari si pria. Detty benar-benar membungkam dengan penjelasan yang rasional.
“Sebaiknya Tuan segera pulang dan istirahat. Saya permisi.”
“Tunggu!”
Lagi-lagi langkah Detty terhenti. Si pria asing itu kembali menghadang langkah. Akan tetapi, sikap si pria lebih dari sebelumnya. Si pria kini dengan berani menggenggam tangan Detty tanpa permisi.
“Dasar lancang!” Detty melepas paksa genggaman tangan si pria.
“Ma-maaf. Tapi, dari mana Nona Detty tahu semua itu? Atau jangan-jangan, Nona Detty memperhatikan saya diam-diam, ya?”
Kreeekk!
Ranting di dekat kaki Detty patah seketika. Tanda bahwa Detty mulai kesal dan enggan untuk meladeni ucapan si pria.
“Semua itu masuk dalam berita. Semua yang membaca berita itu pasti tahu, sama seperti aku. Permisi, aku harus pergi!”
Langkah Detty terus diayun menjauh dari lokasi. Sebelum masuk mobil, Detty sekilas melayangkan perhatiannya pada si pria. Ada kucing berbulu putih bersih di dekatnya. Seketika Detty mengenali identitas si pria hanya dari kucing yang berada di dekatnya.
“Ricard dan Mao-mao. Pengusaha sukses dan kucing bintang,” gumam Detty sambil menyuruh sang sopir melajukan mobilnya.
Di tengah perjalanan, tanpa disangka sang sopir justru menunjukkan kartu nama dan sebuah bingkisan dari Ricard, si pria yang tadi memohon-mohon agar dibantu olehnya. Berlian seharga jutaan, itulah isi bingkisan yang kini membuat Detty kesal.
“Apa dia kira aku bisa disogok dengan mudah, ha? Akan kukembalikan ini semua.”
Sore hari, Detty melajukan mobilnya sendiri menuju rumah Ricard sesuai kartu nama yang ditinggalkan bersama sekotak berlian yang akan dikembalikan. Sampai di rumah Ricard, ekspetasi Detty tidak sesuai harapan. Detty kira akan bisa dengan mudah mengembalikan sogokan dari Ricard. Nyatanya, Detty harus membantu Ricard dengan kekacauan di rumahnya.
Mao-mao menghilang. Berdasarkan keterangan Ricard, Mao-mao masih terlihat sebelum dua relasi bisnisnya datang berkunjung. Ricard sangat yakin bahwa Mao-mao telah diculik dan disembunyikan di suatu tempat. Bagi Detty, kasus ini menarik perhatin karena Ricard adalah pebisnis yang memiliki banyak pesaing, sedangkan Mao-mao adalah kucing ras yang sudah berulang kali muncul menjadi bintang iklan.
“Apa Tuan sudah menghubungi dua relasi yang sempat datang ke sini?”
“Ricard. Nama saya Ricard.”
“Iya. Saya tahu. Apa Tuan Ricard sudah menghubungi dua relasi tadi?”
“Ah, jangan panggil Tuan, dong! Panggil Ricard saja!”
Cetak!
Detty tidak suka keseriusannya tidak diimbangi dengan keseriusan yang sama. Jadilah, meja di dekat sana menjadi korban hentakan kakinya.
“Su-sudah. Tapi, mereka bilang tidak tahu. Bisakah Nona Detty membantu? Mao-mao bukan hanya kucing bintang, tapi dia adalah teman. Teman saya. Keluarga saya. Jadi ….”
“Baiklah. Aku bantu. Aku izin memeriksa rumah ini. Di mana kandang Mao-mao?”
“Kandang? Mao-mao tidak punya kandang. Dia teman. Tidak mungkin saya mengurungnya. Tapi, kalau tempat Mao-mao biasa rebahan ada di sana.”
“Tunjukkan padaku!”
Usai ditunjukkan tempatnya, Detty seketika bersikap layaknya detektif profesional. Segala tempat tidak luput dari perhatiannya. Tempat makanan dan minuman Mao-mao diperiksa, begitu pula dengan tempat Mao-mao biasa membuang kotoran di kotak pasirnya.
“Apa ini mainan Mao-mao?” Detty menunjukkan mainan kucing yang rusak.
“Benar. Mao-mao suka bermain itu. Tapi, sejak kapan mainan itu rusak ya?”
Detty tidak menggubris Ricard yang tampak sedang berpikir. Langkah Detty terus diayun menuju tempat-tempat yang menurutnya patut diselidiki. Detty juga menemui penjaga rumah sampai asisten rumah tangga Ricard. Dari sanalah Detty menggali dan mengumpulkan informasi.
“Tuan Ricard, kenapa rumah sebesar ini tidak dipasangi CCTV?”
“Ya … tidak apa-apa. Memangnya harus, ya?”
“Saya sarankan agar Tuan memasangnya. Tuan seorang pebisnis besar dan Mao-mao adalah seorang bintang.”
Usai berkata demikian, Detty sekali lagi memperhatikan beberapa sudut ruangan rumah Ricard.
“Em, maaf. Kenapa Nona Detty memperhatikan ke arah langit-langit rumah? Tidak mungkin juga Mao-mao bermain ke atas sana. Mao-mao bukan kucing terbang.”
“Diam! Biarkan aku memecahkan kasus ini!”
“I-iya. Baik.”
Detty terus memperhatikan ruangan bagian atas rumah Ricard. Bahkan, bagian bawah sama sekali tidak menarik perhatiannya. Setelah puas mencari tahu dan membuktikan asumsi dalam pikirannya, Detty menuju parkiran mobil rumah Ricard.
“Kapan terakhir kali Tuan mengendarai mobil ini?”
“Tadi pagi saat saya meminta bantuan Nona Detty tapi ditolak.”
Penjelasan Ricard tidak menjadi satu-satunya bahan penyelidikan. Detty terus berkeliling di sekitar mobil dan terus membuat asumsi dalam pikiran. Hingga beberapa menit kemudian, Detty telah sampai pada satu kesimpulan.
“Aku sudah tahu Mao-mao di mana.”
“Benarkah Nona Detty sudah tahu? Tapi, di mana?”
“Mao-mao disembunyikan.”
“Tuh, kan! Apa kata saya tadi. Mao-mao disembunyikan. Wajar jika Mao-mao disembunyikan karena dia adalah kucing bintang. Lalu, siapa pelakunya?”
Kali ini Detty tidak langsung menjawab. Sorot matanya tertuju pada Ricard untuk beberapa detik lamanya.
“N-nona Detty. Tolong jangan menakut-nakuti saya seperti ini.” Ricard menelan ludah karena ulah tatapan mata Detty.
Belati di tangan kanan Detty semakin membuat Ricard ketakutan. Setelahnya, Detty menyunggingkan senyuman. Senyum puas karena Detty sudah berada pada satu kesimpulan.
“Nona Detty, tolong jangan bermain-main dengan saya.”
“Tuan Ricard. Tuanlah yang sedang bermain-main. Tuan melepas semua CCTV yang sebelum ini terpasang untuk menutupi kebusukan. Tuan juga berbohong tentang mobil ini. Mesin mobil masih panas, tanda baru saja digunakan. Tuanlah pelakunya. Tuanlah yang menyembunyikan Mao-mao. Bukankah begitu?”
Untuk beberapa saat, Detty tidak mendengar pengakuan. Yang Detty lihat hanyalah wajah takut disertai peluh yang mulai bercucuran. Apalagi, belati di tangan kanan Detty kini sudah begitu dekat dengan pipi kanan Ricard.
“Maoooo!”
Fokus Detty teralihkan karena suara kucing. Itu suara Mao-mao. Dengan setengah berlarian, Mao-mao mendekat dan langsung rebahan di dekat kaki Ricard.
“Mohon maaf, Tuan. Mao-mao baru saja diantarkan lagi ke sini sama adik Tuan. Mao-mao pipis di bantal sofa katanya.” Salah satu asisten rumah tangga Ricard menjelaskan.
Dari sanalah Ricard semakin tersudut. Sedangkan Detty, dia semakin tersenyum lebar karena telah memecahkan kasus dengan benar.
“Tuan Ricard. Apa maksud semua ini?”
“I-itu belatinya singkirkan dulu.”
Detty menurut. Lagipula Detty hanya menggertak Ricard agar tidak berlama-lama dengan kobohongannya, juga belati yang dia pegang hanya mainan. Akan tetapi, begitu Detty menyingkirkan belatinya, Ricard justru kabur masuk ke dalam rumah. Detty dengan gesit mengejarnya, hingga mereka berdua sampai di suatu ruangan.
Terdiam. Itulah sikap yang seketika itu Detty tunjukkan. Detty takjub dengan ruangan yang dilihatnya. Ruangan dengan dominasi warna pink dan banyak buket mawar merah menghias di sana. Setelahnya, tulisan dari taburan kelopak bunga mawar membuat Detty tersenyum tertahan. Antara malu dan senang, itulah yang saat ini Detty rasakan.
“Nona Detty, tolong pecahkan tembok penghalang hatimu. Jangan melulu memecahkan kasus dan mengabaikan urusan hatimu.”
Ricard memberanikan diri untuk berdiri di hadapan Detty setelah memastikan tidak ada belati di tangan kanan Detty.
“Apa maksud semua ini, Tuan?”
“Ricard. Panggil aku Ricard. Dan, detektif jenius sepertimu pasti tahu apa maksudku.”
Senyum Detty seketika melebar. Sungguh, tidak lagi sanggup ditahan.
“Kamu tersenyum. Apa itu artinya kamu tersentuh?”
“Tidak juga. Aku kurang suka pink. Aku lebih menyukai warna bulu Mao-mao. Putih bersih, dan selalu dicintai.”
Setelah berkata demikian, Detty mengayunkan langkah keluar ruangan. Dengan cekatan Detty menggendong Mao-mao lalu berlari kencang.
“Hei, Nona. Kembalikan Mao-mao-ku!”
“Ambil sendiri ke rumahku jika kau mau! Sampai jumpa, Ricard!”
***