Hidup dalam serba kekurangan sudah merupakan hal biasa dalam hidupku . Namaku Anisa Rahma. Banyak orang yang memanggilku Nisa. Aku bekerja sebagai pelayan restoran untuk memenuhi kebutuhan sehari- hari dalam hidupku. Hidup tanpa orang tua membuatku tegar dalam mengalami kerasnya kehidupan . Selama sepuluh tahun lebih , aku hidup sebatang kara. Dengan berbagai upaya, aku berusaha untuk bertahan hidup.
Suatu hari , sepulang kerja aku melihat sebuah kecelakaan yang dialami oleh dua mobil di depan mataku. Naasnya, salah satu mobil kabur setelah menabrak satu mobil lainnya yang tampak ringsek. Aku mendekati mobil yang sudah rusak parah tersebut, dan ternyata ada seorang laki - laki muda yang terluka parah di dalamnya.
Aku mencoba memecah kaca mobil tersebut agar orang yang ada di dalamnya tidak kehabisan napas, aku pun segera memanggil orang- orang sekitar untuk meminta pertolongan
" Tolong....tolong....", teriakku yang membuat banyak orang berhamburan datang mendekatiku.
Mereka pun segera menolong lelaki yang belum aku tahu identitasnya tersebut. Aku ikut bersama mereka di rumah sakit dan berusaha merawatnya dengan baik di bantu oleh dokter dan perawat yang ada di sana.
Selama dua hari, lelaki itu tak sadarkan diri . Aku merawat dan menunggunya sampai dia tersadar dan aku bisa menghubungi keluarganya.
Lama aku menunggunya. Perlahan - lahan aku melihat pergerakan tangannya . Matanya mulai melihatku .
" Kamu Siapa? ", tanyanya karena bingung aku berada di sampingnya .
" Tenanglah , aku yang membawamu kemari saat kecelakaanmu dua hari yang lalu. Namaku Nisa . Aku belum menghubungi keluargamu karena tidak tahu nomer keluargamu.", ucapku menjelaskan padanya
" Terima kasih Nis, kamu telah merawatku selama itu . Kenalkan , namaku Dimas Setiawan . Kamu bisa memanggilku Dimas" , ucapnya sambil mengulurkan tangannya untukku
Aku pun membalas uluran tangannya yang masih terpasang infus dan sesaat kemudian , aku melepaskannya. Ada rasa hangat ketika kami berjabat tangan . Selama ini aku tak pernah memiliki teman laki - laki .
Dan pertama kali inilah aku berkenalan dengan lawan jenis yang membuatku sedikit gugup.
***** RASA YANG MULAI TUMBUH *****
Setelah beberapa hari setelah aku menolong Dimas, dia sering datang ke rumahku untuk sekedar mampir. Dia juga menawariku pekerjaan di kantornya , tapi aku menolaknya secara halus . Aku sadar kalau aku hanya lulusan SMA. Tak ada pekerjaan yang layak di kantornya kecuali sebagai OB.
Lagi pula , aku tidak ingin pamrih setelah menolongnya . Biarkan saja aku bekerja sebagai pelayan restoran , asalkan hatiku senang. Tapi Dimas bukanlah orang yang mudah putus asa, dia masih ingin membantuku dengan cara lain , dengan istilah Bersahabat , dia sering membantu perekonomianku. Dia juga sering mengantar jemput diriku saat bekerja.
Kelembutan dan kebaikan hati Dimas , membuat hatiku luluh . Aku mulai merasakan getaran- getaran cinta di hatiku, perasaan yang belum pernah aku miliki sebelumnya.
Aku mencintainya tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan apapun darinya. Perasaan yang tidak pernah di ketahui oleh siapapun didunia ini kecuali Tuhan dan diriku sendiri. Aku sering menangis dalam doaku dan memohon kebahagiaan untuknya. Dimas adalah orang yang pertama kali bisa membuatku tersenyum dan mengenal arti cinta. Aku tidak ingin berharap lebih kepadanya karena ada gadis lain yang ada di hatinya.
Amanda adalah gadis beruntung yang mendapatkan hatinya Dimas. Dia adalah seorang model yang memiliki paras yang amat cantik dan juga berasal dari keluarga konglomerat , sama seperti Dimas.
Setiap kali bertemu denganku, Dimas sering bercerita tentang Amanda. Kebiasaan Amanda, makanan favorit dan hobi Amanda sering ia ceritakan kepadaku . Aku hanya bisa memendam rasa kecewaku saat aku mendengar ceritanya.
Berulang kali , aku merasa kecewa kepadanya. Aku sudah berusaha melupakannya, tapi sangat sulit bagiku melupakan Dimas yang hampir tiap hari menemuiku.
" PERGI DI HARI H "
Kali ini Dimas mendatangiku dengan sebuah undangan di tangannya.
" Nisa, ini adalah undangan pernikahanku yang akan berlangsung minggu depan . Aku sangat berharap kau bisa datang di hari bahagiaku" , ucapnya kepadaku
Derr....Derrr......derr...
Hatiku bagai terasa disambar petir di siang hari. Buliran air bening mengalir deras di pipiku. Aku tak kuasa menahannya lagi . Segala keresahan yang ada dihatiku tumpah seketika. Aku benar - benar tak kuasa
menahannya lagi .
Aku membalikkan wajahku tapi Dimas terlanjur melihat tangisanku .
" Kenapa kamu menangis Nisa, apa aku menyakitimu? Atau sekarang kau sedang ada masalah? " , tanya Dimas padaku
Aku masih menangis dan posisiku masih membelakanginya.
Tiba - tiba Dimas membalikkan tubuhku dan dia menatapku dalam - dalam
" Ada apa Nisa . Ceritalah , dan jangan membuatku khawatir!...." , ucapnya padaku dengan lembut.
Aku berusaha menguatkan hatiku yang hancur berantakan .Aku berusaha mengumpulkan energiku yang masih tersisa dan memberikan jawaban padanya
" Aku hanya terharu dan merasa bahagia Dimas . huhu....akhirnya sahabatku akan menikah dengan wanita yang sangat di cintainya . Aku selalu berdoa agar kalian bisa bahagia selamanya Dimas.", ucapku sambil terisak ...
Dimas yang tak menyadari perasaanku hanya tersenyum tipis .
" Aku tidak pernah mengerti Nis mengapa perasaan bahagia harus di luapkan dengan menangis " , katanya kemudian .
" Terkadang seseorang akan menangis bila bahagia Dimas . Oh ya Dimas, kamu jangan khawatir aku akan datang saat pestamu nanti" , ucapku kemudian .
Karena tak sanggup menahan rasa sakit di dadaku , aku meminta Dimas untuk pulang dengan alasan aku ingin istirahat karena kurang enak badan .
Saat itulah aku bertemu dengan Dimas untuk yang terakhir kalinya.
Sekuat - kuatnya diriku , aku tetaplah wanita yang lemah .Aku tidak akan sanggup untuk datang di pesta pernikahannya . Sebenarnya, aku ingin menuruti permintaan Dimas , tapi apa daya , aku tak kuasa menahan rasa sakit yang aku rasa karena cinta yang tak terbalas ini.
Tiba di hari H pernikahan Dimas, aku memutuskan pergi dari kota ini dan merantau ke tempat yang sangat jauh dari kota ini agar aku tak bertemu dengan Dimas lagi .
' Maafin aku Dimas aku tidak bisa menepati janjiku .Aku tidak sanggup melihatmu bersanding dengan wanita lain' , ucapku dalam hati sebelum aku meninggalkan kota ini.
**** LIMA TAHUN KEMUDIAN ****
Kisah cinta yang terpendam ...
Tak bisa di katakan....
Hanya menjadi sebuah cerita dalam hati....
Dan akan selalu membekas sampai nanti....
Awalnya aku begitu bingung dengan apa yang bisa aku lakukan di sini, di kota baruku . Aku yang tidak memiliki pengalaman lain selain sebagai pelayan restoran memulai usaha dengan berdagang gado - gado kecil- kecilan . Dulu , sebelum meninggal , ibuku adalah seorang pedagang gado - gado . Aku sering membantunya dan ibu juga mengajari resepnya padaku .Dari resep ibuku, aku mulai berdagang di pinggir jalan raya. Dan syukur Alhamdulillah , secara pelan tapi pasti warungku bisa mendapat banyak pelanggan .Mereka banyak yang tertarik dengan gado - gado yang aku buat .Sehingga sekarang, setelah lima tahun aku sudah memiliki tiga cabang outlet gado- gado di kota ini yang memiliki 15 karyawan di setiap outletnya .
Aku sangat bersyukur pada Tuhan yang telah menganugerahkan semuanya ini padaku .Aku selalu bersedekah kepada fakir miskin dan juga rumah yatim piatu untuk bisa membantu mereka dan sedikit mengurangi beban mereka.
Setiap hari , dengan di temani oleh sopirku aku selalu mengunjungi restoranku untuk mengecek secara langsung
" Selamat siang Mbak Nisa", ucap Mia , seorang karyawanku dengan ramah .
" Siang Mia . Gimana hari ini restoran kita?
" Setiap hari restoran kita semakin banyak pengunjungnya Mbak ", ucap Mia menjelaskan padaku .
Saat ini , aku sedang duduk di salah satu meja makan yang ada disini. Saat aku berdiri , tiba - tiba ada seorang anak kecil yang berusia sekitar 5 tahun menabrakku .
Brukk....
Dia menangis
" Hua ...hua ....Ayah...Ayah ...", serunya memanggil nama ayahnya.
Aku membantunya berdiri dan menggendong nya untuk menenangkan anak imut yang sedang aku gendong ini
" Jangan menangis Sayang !!! Cup ...cup ..
Jangan takut sama Tante . Tante ga jahat kok...." , ucapku menenangkannya
Setelah ia tenang , aku mendudukkan gadis kecil itu di kursi di depanku .
" Nama kamu siapa Sayang? terus kamu kesini sama siapa Sayang? " , tanyaku pada gadis imut di depanku
" Risa Tante . Ayahku sedang di kamar mandi Tante .." , ucapnya menatapku .
Kemudian ada seorang laki - laki yang memanggil Risa
" Risa....Risa Sayang , di mana kamu? " , teriaknya
Saat aku menoleh , aku begitu terperanjat karena aku melihat Dimas ada di depanku.
" Ayah , Risa di sini sama tante yang baik hati ", ucap Risa sambil tersenyum padaku ....
Aku dan Dimas saling berpandangan satu sama lain. Dimas masih sama seperti dulu , dia sangat perfeksionis , gagah dan tampan .Dan ternyata Risa, anak ini ....
Mungkin dia adalah anak Dimas dan Amanda....
Saat aku tersadar dari lamunanku dan melihat Dimas yang mendekatiku , aku segera berlari menjauh darinya .Dimas mengejarku dengan kecepatan yang lebih tinggi .
Saat meraih tubuhku , Dimas menghentikanku
" Berhenti Nisa, kenapa kamu lari dariku? " , teriaknya sambil memegang tanganku erat .
Tangannya terasa hangat saat menyentuh kulitku . Hatiku masih bergejolak seperti dulu saat bersamanya
Risa pun berlari ke arah ayahnya yang mengejarku tadi
" Ayah kenal tante ini", tanyanya kepada ayahnya .
Dimas yang masih menatapku kemudian beralih memandang Risa dengan penuh kasih
" Dia bundamu Sayang !!! ", ucap Dimas kepada putrinya
Aku yang mendengarnya kaget setengah mati
' Bunda? ..Maksudnya apa Dimas berkata seperti itu? ', tanyaku dalam hati
" Kamu selalu bertanya dimana Bundamu berada kan ? Wanita ini adalah Bundamu ", ucap Dimas lagi pada Risa yang membuat isi kepalaku dengan banyak pertanyaan
Risa pun berlari dan memelukku
" Bunda .. Bunda...Risa kangen Bunda.Huhu....jangan tinggalin Risa lagi Bunda....Risa ingin selalu bersama Bunda..." , ucapnya sambil memelukku dengan erat . Tampak nya gadis kecil ini sedang menangis lagi .Aku yang belum mengerti ucapan Dimas hanya diam dan membiarkan Risa memelukku .
*** Di rumah Nisa****
Setelah menidurkan Risa di kamarku, aku menemui Dimas yang ada di ruang tamu. Aku butuh jawaban atas banyaknya pertanyaan yang mengganjal di hatiku .
Dimas masih duduk di sofa ruang tamu . Setelah membuatkan teh hangat untuknya , aku menemuinya
" Silahkan di minum tehnya Dimas", ucapku mempersilahkan Dimas meminum teh yang aku buat untuknya
" Terima kasih Nis...", ucapnya
" Katakan padaku Dimas kenapa kamu menyuruh Risa memanggilku Bunda? Di mana Amanda ? Bukankah lima tahun yang lalu kamu menikahi Amanda? " , tanyaku penasaran
Dimas menarik nafas dalam - dalam dan mengeluarkannya seketika . Dia menatap wajahku dan sekarang posisi kami sangat berdekatan
" Aku ingin mengatakan sesuatu padamu Nis. Risa bukan anakku , tapi dia adalah anak Amanda dengan Riko, pacar Amanda yang lain . Riko tidak mengakui kalau Risa adalah anaknya . Lima tahun yang lalu aku tidak jadi nikah dengan Amanda karena dia tahu kalau dia sedang hamil anaknya Riko.Amanda melahirkan anaknya seorang diri dan dia meninggal karena terlalu banyak darah yang di keluarkannya. Amanda menitipkan Risa padaku karena orang tuanya tidak menerima Risa sebagai cucunya. Ketika aku kehilangan Amanda ,rasanya tidak sesakit ketika aku kehilanganmu Nis ...Entah kapan aku mulai menyukaimu...Sejak kamu menghilang dari kehidupanku , aku seperti tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas Nis . Aku sangat bersyukur akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi .Nisa, aku ingin melamarmu saat ini juga.... Aku sangat mencintaimu ....Aku harap kamu punya perasaan yang sama kepadaku ...", ucapnya menatap padaku ....
Aku masih tak percaya dengan apa yang aku dengar.Ternyata Dimas juga mencintaiku ...Ingin rasanya aku melompat - lompat karena perasaanku yang terbalas .
Dimas yang tadinya diam tiba - tiba memelukku
" Menikahlah denganku Nis. Cintaku bukan untuk balas budi . Aku sangat tulus mencintaimu... Mari kita menikah dan merawat Risa seperti anak kandung kita sendiri ...Dan kita akan membuat beberapa adik untuk Risa..." , ucapnya kepadaku
" Iya Dimas , aku juga sangat mencintamu , bahkan dari dulu", ucapku berusaha jujur kepadanya.
Dimas melepaskan pelukannya dan menatapku
"Benarkah Sayang ? Kenapa aku tidak menyadarinya...Sekarang aku tahu kamu pasti pergi karena cemburu dengan Amanda kan Sayang . Maafin aku karena terlambat menyadari perasaanku Sayang", ucapnya tulus .
Aku sangat malu karena tebakan Dimas memang benar. Dimas makin memelukku dengan erat .
" Aku sangat mencintaimu Sayang...Jangan pernah pergi lagi dariku ..." , ucap Dimas yang membuatku sangat bahagia.
Karena sudah malam , aku meminta Dimas pulang .Sementara Risa, aku ingin menemaninya . Ku tatap wajah Risa dan ku elus - elus pipi tembemnya
" Risa Sayang, Bunda akan menjadi Bunda terbaik untukmu ..." , ucapku pada diri sendiri sambil terus membelai wajah lucu milik Risa.
Akhirnya kesabaranku membuahkan hasil .Cinta yang selama ini aku pendam ternyata terbalas dengan sempurna . Hari - hari indah mengelilingi hariku bersama Dimas , Risa dan calon anak - anakku kelak .