Percayalah semua pertanyaan akan selalu ada jawabannya meski terkadang jawaban itu sangat sulit untuk dimengerti.
- Anta(gonis).
"Gue terlahir untuk menjadi jahat, jangan tanya 'kenapa?' karena sudah begitu adanya."
Dirgantara menjadi sosok yang begitu jahat bagi sebagian orang. Karena prinsip yang ia pegang; jika kejahatan akan di balas dengan kejahatan. Tidak ada iba, tidak ada maaf. Baginya saat ini adalah dirinya yang baru dari masa lalu. Jangan memulai jika tidak ingin diakhiri, atau jangan memancing jika tidak ingin di terkam.
Luka yang mengubah dan kepercayaan yang mengkhianati. Akankah ia menjadi lebih kejam dari dunia yang terus berputar dan memiliki begitu banyak orang jahat di luar sana? Atau ia akan menemukan seseorang yang dapat menyembuhkan lukanya, mengenalkan kembali rasa percaya, dan mengajari apa itu 'cinta'?
———————————
Dia Dirgantara, hanya nama itu yang bisa disebutkan untuk kalian. Tidak perlu tahu tentang siapa dia dulu, karena yang perlu kalian tahu adalah tentang siapa dia sekarang.
Menjadi pendendam saat umur 10 tahun ketika kedua orangnya dibunuh di depan matanya, dan dirinya bertanya-tanya selama 7 tahun ini siapa dalang dari semua itu. Tentu jika dia tahu, dia tidak akan melepaskan mereka atau dia begitu saja
Katakanlah 7 tahun itu, Dirgantara masih kecil yang bahkan takut dengan darah. Tetapi tidak untuk saat ini. Kini, darah adalah makanannya sehari-hari. Letak kebahagiaannya.
Aneh, Memang.
Ini lah dia. Inilah sosok berusia 17 tahun. Usia yang mungkin tidak akan pernah disangka bahwa dirinya kini adalah seorang pembunuh bayaran. Ia ingat seseorang pernah berkata, "Jika kamu ingin balas dendam, maka cobalah untuk membunuh terlebih dahulu", dan setelah melakukannya, dirinya seperti mendapat apa yang dulu pernah hilang. Ia merasa hidup. Merasa menjadi manusia sesungguhnya.
Tidak mudah menjalani semua itu tetapi ia menyukainya sampai ada orang asing yang ingin menyewa jasanya. Entah dari mana orang itu menemukan kontak pribadinya dan dengan lancang terus menghubunginya dan berbicara selayaknya teman lama.
Sampai Dirgantara menjawab panggilan telepon itu dan suara bariton memasuki pendengarannya, berucap bahwa dia mempunyai pekerjaan yang harus dirinya selesaikan.
Hanya menangkap tikus di sekolah yang orang itu miliki, banginya itu perkara mudah tetapi ia tak 'kan mudah tergoda.
"Gue nggak minat!"
"Berapa pun yang kamu mau, saya akan berikan."
"Gimana kalau gue mau nyawa lo sebagai ganti upah?"
Orang itu cuman tertawa ringan seakan lawan bicaranya bukan siapa-siapa, "ayolah, ini serius. Kalau bukan urusan yang serius, nggak mungkin saya menghubungi kamu."
"Memang lo pikir gue bercanda?" Dirgantara mulai tersulut emosi walaupun nada suaranya tetap terdengar biasa.
"Kalau gitu, I will do that first before you can touch me. What do you think?"
Dirga tersenyum samar, this is kinda fun. "Hm, apa gue lagi ngobrol sama malaikat maut? Why does it sound like that?"
"Tentu aja nggak. Bukannya itu diri kamu sendiri, kiddo?" Yang gue dengar cuman kekehan setelah kalimat itu terlontar.
"Apa? Gue? Malaikat maut? Kayaknya itu julukan bagus."
"Okay, sekarang cukup basa-basinya, kalau kamu setuju, saya bakal mengirim orang untuk ketemu kamu."
Sepertinya akan ada keberuntungan yang akan menghampirinya, seperti pepatah lama yang mengatakan; membunuh dua burung dengan satu batu. Ia menyeringai.
"Ya, gue setuju." Ucapnya singkat lalu menutup panggilan secara sepihak. Peduli setan dengan orang diseberang sana sedang merutukinya.
Dan tunggu, sepertinya ia lupa dengan pikirannya jika ia tak mudah tergoda.
.....
Setelah saat lalu, hari-hari berikutnya berjalan dengan seperti biasa dan ia berhasil menangkap tikus itu, membunuhnya dengan sangat tragis. Benar-benar diperlakukan seperti tikus.
Tapi siapa yang menebaknya? ini semua hanya permainan dari penelepon itu. Jebakan. Satu kata yang membuat Dirgantara murka.
Dia mengatakan akan bertemu dengan Dirga untuk membayar uang secara di muka. Sangat disayangkan Dirgantara hanyalah seorang remaja naif yang percaya pada hal semu. Semua sudah direncanakan dengan apik dan dirinya tertipu.
Bertemu di sebuah jalanan sepi yang menuju ke hutan, ia menunggu dengan bodoh, sampai ketika orang itu datang dengan mobil mewahnya, ternyata benar saja dia dengan para bawahannya mencoba melenyapkan dirinya saat itu juga.
"Dirga, Dirga. Look at you, how stupid you are."
Pria itu mencengkeram rahangnya yang sudah babak belur.
Ia mengakui kesalahannya, bagaimanapun profesionalnya dia, jika diserbu banyak orang tentu akan kewalahan.
"Bunuh aja gue! Itu kan yang lo mau." Dirga berteriak ke arah lelaki itu.
"Seharusnya kamu udah saya bunuh sekalian dengan orang tua kamu dulu, tetapi kenapa saya masih bisa kecolongan sama anak yang baru lahir kemarin sore kayak kamu."
Cengkeramannya bertambah kuat, Dirga mencoba melepaskan cengkraman itu dengan menusuk tangan orang itu dengan belati.
"Argh! Anak sialan!" ia mengerang kesakitan melihat genangan darah yang keluar dari tangannya, lalu menendang wajah Dirga dengan sepatunya.
"Apa yang kalian liat?! Habisin dia!" Lelaki itu berteriak marah. Ia menyuruh para bawahannya untuk menghabis Dirga yang ingin berdiri saja rasanya tidak sanggup.
Dirga pingsan di jalanan dengan gelapnya malam dan dinginnya aspal. Dia ditinggalkan, tergeletak begitu saja setelah mereka puas menghabisinya.
Namun ini bukan akhir segalanya.
Pria tua yang menjebaknya mungkin saja tidak tahu jika ini semua adalah rencana Dirga.
Sayup-sayup terdengar suara ambulance dan seorang laki-laki yang memanggil namanya terus menerus. Ia ingin menjawab hanya saja ia tidak punya tenaga untuk itu.
"Dirga! Dirga! bangun woi anjing nggak lucu lo. Jangan mati dulu, dosa lu masih banyak di gua ya." Ujar lelaki itu yang ternyata adalah teman Dirga.
"Dokter. Suster, siapa pun cepetan. Orang mau sakaratul maut juga lari nya lama banget, aduh."
————————
Dirga masuk rumah sakit dan mengalami koma selama beberapa bulan. Ketika ia bangun, teman yang waktu itu menolongnya selalu hadir dan menemani nya di rumah sakit.
"Lo udah bangun?" Arlo, teman Dirga satu-satunya bertanya dengan khawatir.
"Masih koma gue." Balas Dirga asal.
Plak
"Goblok!"
"Kenapa gue di geplak sih kepalanya, baru juga bangun koma anjir. Kalau koma lagi gimana?!"
"Ya udah deh gapapa gue ikhlas."
"Bagi minum dong gue haus." Arlo langsung memberinya segelas air dan langsung di tenggak rakus oleh Dirga.
"Soal pak tua itu, gimana dia?" Ia berbicara setelah gelas itu di tempatkan lagi di nakas.
"Tenang... sesuai apa yang lo arahin, gue udah ikutin terus kegiatan dia. Untungnya dia bener-bener nggak tahu kalau lo masih hidup."
Dirga mengangguk pelan, "bagus, langkah selanjutnya biar gue yang bakal beresin."
"Sembuh dulu goblok, udah nggak usah aneh-aneh, lo sakit gue juga yang susah. Awas lu, berhutang budi lu sama gue."
"Iya deh iya lo bawel banget sih, gue jadiin pacar juga lo."
"Ih, mau dong sama Mas Dirga." Arlo membuat suaranya dan bertingkah seakan-akan dia adalah seorang gadis remaja dan langsung di sentil oleh Dirga di kening, Arlo mengaduh sakit.
"Gue pisahin juga usus lo!" Dirga memutar matanya malas.
"Iya deh ampun, Mas Siko." Kedua tangan Arlo disatukan dan di buat seolah-olah sedang menyembah dewa
"Apaan siko?"
"Psikopat!" Arlo langsung berlari menghindari Dirga.
"Anjir sini ga lo Ar! Mau kemana lo, bangsat."
"Kabur. Gue mau panggil dokter dulu biar koma lo di perpanjang."
"Sinting."
Dirga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi seorang teman seperti Arlo itu agak sulit, karena dalam keadaan serius pun dia masih tetap bercanda.
Tidak sengaja ekor matanya melihat goresan luka di sekujur tangannya. Dirga menggeram pelan dan melipat tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. Ia bersumpah tidak akan membiarkan pria itu berkeliaran di dunia.
"Gue bakal bales semua perbuatan lo, tunggu aja kapan pemainan sebenarnya bakal dimulai."
Jika ada awal pasti ada akhir, jika Dirga mengawali, Dirga juga yang akan mengakhiri.
———————
Bersambung.....
Ini adalah cerpen atau ringkasan singkat dari salah satu cerita yang saya dan teman saya buat (Ms.S) di salah satu platform (orange) terkenal yang mungkin kalian ada yang tau dan ada yang tidak tau.
Di cerita lengkapnya tentu akan saya lanjutkan, dan sedikit berbeda pasti. di sini saya tidak memberi tau tentang jelas siapa tokoh tokoh nya, terutama si tikus yang di bunuh Dirga itu. Ini akan berlanjut, dan akan banyak konflik di dalam cerita ini.
Secara singkat nya cerita ini berfokus pada seorang anak remaja sekolahan yang menjadi pembunuh bayaran dan membalaskan dendam nya, di sini juga terdapat sisi romansa rumit berakhir tragis yang pemeran utama tersebut alami.
————————
Terimakasih sudah membaca, kalian juga bisa mampir ke cerita saya lain nya. Bila ada salah ketik (typo) maafkan ya guys......