malam yang dingin mewakili hati seorang istri yang juga seorang ibu yang telah hancur hati nya di kala percaya hilang dari suami dan ayah bagi anak-anak nya.
"kamu ada main sama, dia?"
tanya suami yang marah ketika melihat isi pesan yang masuk pada aplikasi WhatsApp sang istri Dina.
"Liet dulu dong, dia itu cuma mau pesen tas rajut untuk istrinya." aku pun tak tinggal diam.
merasa aku benar dan tidak ada niet di dasar hati untuk menghianati pernikahan ku dan dirinya. Berusaha menjelaskan pada mas Dafa, suami yang telah menjadi teman hidupnya selama 8 tahun.
Teman di kala suka dan duka, manis dan pahit nya rumah tangga, namun lebih pahit bila percaya tidak lagi ada pada diri Dafa. Dafa memang lelaki yang pencemburu namun protektif.
"Alah... tinggal ngaku aja. Pake ngeles kamu tuh." ucap Dafa, dengan penuh emosi.
setelah mengatakan itu, Dafa langsung pergi meninggalkan rumah dengan membanting pintu.
"beribu kali pun di jelas kan, tidak ada gunanya di mata mu, tetap aku yang salah." ucap Dina lirih.
"mami, kenapa nangis?" tanya Tata, yang langsung memeluk erat maminya.
Tata gadis kecil imut dengan pipi chubby yang baru menginjak 6 tahun. Selalu menjadi obat paling ampuh untuk Dina di kala hatinya nelangsa dan gundah gulana.
"Mami gak apa-apa, sayang. Mata mami tadi kelilipan debu. Bobo lagi yuk.. biar mami temenin ya?" kata Dina sambil menggendong tubuh mungil Tata.
""Tata bobo ya..." ucap Dina, lalu menidurkan Tata di atas kasur empuk.
Tata pun mengangguk kan kepalanya.
"Mami... papi kemana?" tanya Tata dengan wajah polosnya.
"Papi lagi ada perlu sebentar, sayang. Nanti juga papi pulang."
"Papi perginya lama gak mih?" tanya Tata lagi, dengan memeluk erat tubuh sang mami.
"Cuma sebentar ko..." ucap Dina.
Dina pun berusaha membuat Tata tertidur dengan mengelus lembut punggung Tata sambil bersenandung shalawat nabi, pengantar tidur untuk Tata.
Tidak berapa lama pun, Tata tertidur larut dalam alam mimpi yang indah. terlihat kala Tata menyunggingkan senyum manis saat matanya terpejam rapat.
"Anak pintar." Dina mengecup sayang kening dan pucuk kepala Tata.
Dengan perlahan Dina meninggalkan tempat tidur dan meninggalkan Tata sendiri di kamar. Dina berjalan ke luar dan duduk di ruang tamu sembari menunggu Dafa pulang. Dina mulai merajut tas pesanan yang di minta oleh teman yang tadi mengiriminya chat lewat aplikasi WhatsApp.
"apa mas Dafa tidak akan pulang malam ini?" tanya Dina dalam gumamnya.
Cekrek, kreeek... suara pintu di buka.
"Kamu dari mana, mas?" tanya Dina sambil mencium punggung tangan kanan Dafa.
"Dari mana aku? bukan urusan mu!!" ucap Data datar dan duduk di bangku lain.
"Aku berhak tahu mas, aku ini istri mu. Tadi Tata nanyain kamu." jawab Dina, sambi tangannya kembali merajut.
"kamu sedang buat apa?" tanya Dafa sinis.
"Buat pesenan tas yang tadi di minta Joko buat istrinya. Lumayan uangnya bisa buat bayar sekolah Tata." ujar Dina.
"Joko, selingkuhan mu?" tanya Dafa dengan sorot mata tajam.
"sudah berapa kali aku jelasin. aku dan dia hanya teman, aku tidak selingkuh." jawab Dina, dan menyimpan kembali perlengkapan rajutnya.
"apa buktinya?" tantang Dafa.
"Buktinya kamu itu sudah di butakan dengan rasa cemburu kamu, mas. mau aku bilang apa pun tidak ada gunanya di mata kamu." ujar Dina.
"Kamu tuh, selalu saja menjawab perkataan ku." ucap Dafa.
"mau kamu apa, mas?" tanya Dina lirih.
Hatinya tak lagi kokoh, hatinya remuk terus di tuduh selingkuh. terus di tuduh melakukan apa yang tidak pernah ia lakukan.
"pulangin aku kerumah ibu, mas." kata Dina dengan derai air mata.
"kamu serius?" ucap Dafa yang tidak percaya jika Dina minta di pulangkan ke rumah orang tuanya.
"Aku serius, mas. Hati ku lelah, setiap kali bertengkar kau selalu menuduh ku dengan setiap pemikiran mu. tanpa kamu mau membuka mata untuk melihat bukti kesetiaan dan ketulusan hati ku." ujar Dina.
"Alah, bilang aja... kalo kita pisah, kamu mau balikan lagi sama mantan kamu itu." kata Dafa.
"Itu urusan ku, buat apa aku setia pada seseorang yang tidak pernah mau menghargai setia ku? ketulusan ku? cinta ku?" jawab Dina, sambil menghapus kasar air mata di pipinya.
"oke.. aku anter kamu pulang ke rumah orang tua mu. tapi sampai di gang. karna kau sendiri yang minta di antar ke rumah orang tua mu." ucap Dafa.
Dua hari kemudian...
malam hari di rumah orang tua Dina. Semua keluarga baik ibu dan ayah Dina serta adik perempuan Dina sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton TV di selingi dengan celotehan Tata yang sedang di pangku Dina.
"Miih, papi kapan kesini? Tata kapan pulang kerumah papi, mih?" tanya Tata dengan wajah polosnya.
"Tata di rumah oma opa aja yah! papi lagi sibuk kerja sayang." ujar Dina.
"Tata kangen papi." celoteh Tata sambil memeluk tubuh Dina.
Hati ku tersayat mendengar celotehan Tata yang merindukan papinya. Entah di sana Dafa merindukan putri kecilnya atau tidak. Yang pasti dalam 2 hari ini, tidak ada kabar dari Dafa atau pun keluarganya yang datang berkunjung kerumah orang tua Dina.
💔💔💔
keesokan harinya... 🌹🌹🌹
"assalamualaikum.." ucap Dafa dari balik pintu rumah orang tua Dina.
"waalaikum salam.." Dina membuka kan pintu untuk Dafa.
Dina mempersilahkan Dafa duduk, Tata yang mendengar suara papinya pun langsung berlari menghampiri Dafa dan langsung minta di gendong.
"papi kerjanya jauh ya? ko baru jemput Tata sekarang?" tanya Tata saat berada dalam gendongan Dafa.
"Iya sayang, papi kerjanya jauh. Tata mau kan pulang sama papi ke rumah?" tanya Dafa pada Tata namun matanya menatap Dina.
Di lihatnya mata Dina bengul, pasti tiap malam Dina menangis dalam diam. Sama seperti yang Dina lakukan saat masih berada di rumah nya dulu, rumah yang ia tinggali bersama dengan keluarga kecilnya.
Tidak di pungkiri, Dafa sangat mencintai keluarga kecil nya, namun hanya kadar cemburu nya yang kadang lepas kendali dan membuat lelah hati Dina.
"Kamu pulang ya Din?" pinta Dafa mengiba pada Dina.
"Maaf aku gak bisa." ucap Dina.
"Mami, kita pulang kerumah papi ya! Tata kangen rumah mih." pinta Tata yang ikut bersuara.
"Aku lelah dengan sikap kamu, mas." ujar Dina.
"Aku janji, ini yang terakhir kali. lain kali aku akan berusaha ngertiin kamu." ujar Dafa, sambil menggenggam tangan kanan Dina.
"Aku..." belum selesai Dina berucap, di potong perkataan nya oleh ibunya.
"Beri Dafa kesempatan sekali lagi Dina.Gak ada orang tua yang ingin melihat rumah tangga anaknya hancur." ucap ibu Ranti, orang tua Dina.
"Kamu Dafa, rumah tangga itu harus saling percaya, buat apa setia kalo kamu sendiri gak percaya sama Dina?" tegur Adi, ayahnya Dina.
"Dafa janji, gak akan kaya gini lagi ibu, ayah." ujar Dafa.
"Tata mau pulang sama papi, mami juga ikut." ucap Tata yang memeluk erat leher Dina.
Dafa pun memeluk tubuh sang istri, Dina.
keluarga kecil itu pun larut dalam kehangatan. rumah tangga yang di ambang kehancuran hanya karena kecemburuan semata yang membutakan mata.
🌹 lelahnya hati istri itu bukan karena cape nyuci baju, ngelel lantai atau pun masak.
🌹 lelahnya istri itu di kala tidak dapat percaya dari suami
🌹 udah cape di rumah, di cemburuin gak jelas. cape hati bukan lagi cape badan.