"Malam ini akan ada hujan meteor, aku harus bersiap untuk melihatnya..." Monolog seorang gadis sembari melihat tanggal yang tertera di kalender kecil di meja belajarnya.
Tangannya menangkup kedua pipinya yang tembam, membuat bibirnya mengerucut. Matanya menerawang jauh kedalam ingatan yang telah lama tersimpan disudut terdalam pikirannya.
"Andai sekarang kau ada disini, kita pasti bisa menonton hujan meteor bersama lagi..." Gumamnya entah pada siapa, lalu mendesah dan menyilangkan tangannya di atas meja lalu menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.
Kenangan paling indah yang pernah ia miliki, bersama seseorang yang sangat istimewa. Yang kini, sudah tak bisa menemaninya lagi.
Tak lama, sebuah isakan terdengar dari gadis itu. Beberapa tetes air mata lolos dan menetes diatas meja, membentuk seperti genangan kecil.
Hidung gadis itu memerah, demikian pula dengan pipinya. Ia benar-benar merindukan sosok itu, sosok yang telah membuatnya keluar dari keterpurukan dan depresi berat. Sosok yang menjadi mataharinya, yang menjadi sumber kehangatannya di tengah-tengah dunia yang suram dan dingin.
"Hanse... Aku merindukanmu..." Gumamnya dengan suara yang bergetar.
Kepalanya terangkat untuk menatap potret yang diletakkan disudut meja, dimana ada seorang gadis dan remaja laki-laki seusianya saling merangkul pundak dan tersenyum lebar.
Di foto itu, keduanya tampak bahagia dan dipenuhi dengan kepolosan masa muda, naif, dan sembrono. Dibelakangnya, ada sebuah pohon Sakura yang tengah mekar. Bunga berwarna merah muda itu berguguran dan beberapa kelopaknya mengenai dua remaja tanggung tersebut.
Gadis itu terkekeh kecil, merasa miris dengan keadaannya saat ini. Ia benar-benar menyedihkan.
Do Hanse, adalah sahabat sekaligus kekasihnya. Pria bermata kucing itu berhasil menaklukkan hati seorang Kim Saerim, gadis pendiam yang menderita depresi berat hingga hampir bunuh diri.
Sayangnya, Hanse harus pergi untuk melanjutkan pendidikannya di Amsterdam karena keinginan orang tuanya. Ini sudah tahun kelima Saerim ditinggal oleh kekasihnya.
Dirinya ingat ketika mereka pertama kali bertemu, saat itu Saerim hampir saja melompat dari gedung SMP nya karena terlampau kecewa dengan hidupnya. Tapi karena kedatangan Hanse, ia gagal melakukannya.
Hanse membujuknya dengan nada yang halus dan memberinya tatapan yang lembut, dia juga memberinya semangat untuk tetap melanjutkan hidupnya meski dunia tak seindah yang Saerim pikirkan.
"Kau tahu? Hidup ini akan lebih berarti jika kau melihatnya dari sudut pandang lain. Kau tidak bisa memutuskan bahwa dunia ini kejam hanya dengan sudut pandangmu saja, lihatlah dari sudut pandang lain! Maka kau akan menemukan arti sesungguhnya dari hidupmu." Itulah kata-kata yang diucapkan pemuda itu padanya saat itu. Yang mana, selalu ia ingat sampai sekarang.
Saerim tak bisa bertukar kabar dengan Hanse lagi, sejak tiga tahun lalu, e-mail milik kekasihnya itu tak membalas pesan terakhirnya. Media sosialnya juga tidak ada, membuat Saerim merasa kehilangan Hanse begitu saja.
Entah apa statusnya sekarang, ia tidak tahu. Single? Tapi Hanse tak pernah mengatakan ingin putus dengannya. Berpacaran? Tapi ia seperti seorang yang tidak punya pacar.
Selama beberapa tahun ini, sudah banyak pemuda yang mendekatinya untuk mengisi hatinya. Namun, tak ia terima. Hanya ada Hanse disana, dan akan selalu begitu.
"Saerim-ah! Ayo kita lihat bintang jatuh!!" Suara Hanse yang agak kekanakan terngiang di benaknya.
Setiap kali ada berita bahwa akan muncul hujan meteor, Hanse akan dengan penuh semangat melingkari tanggal yang telah ditentukan. Lalu dengan tidak sabar menunggu hari itu tiba.
Matanya penuh dengan binar saat pemuda itu membayangkan banyak meteor yang berjatuhan tampak indah di langit malam. Sekali lagi, Saerim tertawa miris.
Kenangan mengenai Hanse tak pernah bisa dihapus, seolah-olah itu tertanam kuat di benaknya. Dan tak akan pernah hilang.
Lama kelamaan, mata Saerim terpejam. Ia tertidur setelah menangis dan mengenang kembali momen indahnya bersama pujaan hatinya, Hanse.
Waktu berlalu dengan cepat, malam telah tiba menggantikan tugas sang mentari. Untungnya, tak ada awan hitam malam ini. Yang sangat sempurna untuk menonton hujan meteor nanti.
Hujan meteor kali ini, akan berlangsung dari pukul 22.00 sampai pukul 22.30. Hanya tiga puluh menit, tapi itu sangat berharga untuknya.
Sekarang sudah pukul sembilan malam, Saerim sudah siap untuk pergi ke bukit tempat ia biasa menyaksikan fenomena alam itu.
Dengan berbekal pakaian hangat dan sepeda miliknya, Saerim siap untuk pergi.
"Eomma, aku pergi dulu. Aku akan kembali sebelum tengah malam." Pamit Saerim pada ibunya.
Sang ibu menatap putri satu-satunya itu dan melihat tanggal hari ini. Lalu mengangguk paham, "hati-hati, jaga dirimu."
Saerim mengangguk dan keluar dari rumah, lalu mendorong keluar sepedanya dari garasi dan menaikinya. Ia mengayuh sepedanya dengan perlahan menuju bukit yang terletak di sebelah timur rumahnya.
Lingkungan tempat tinggalnya masih terjaga, jadi udara malam ini sangat sejuk dan sedikit dingin. Membuat pipi dan hidungnya memerah. Nafasnya membentuk asap saat ia sudah mulai kelelahan mengayuh sepedanya.
Setelah lima belas menit berlalu, ia akhirnya sampai dan turun dari sepedanya. Lalu menuntun sepedanya keatas bukit, dan meletakkannya dibawah pohon apel yang tidak berbuah.
Disana, tidak ada siapapun. Hanya ada kesunyian dan hanya sesekali suara serangga malam yang terdengar. Dari sini, Saerim bisa melihat pemandangan kota Daegu yang tampak tidak pernah tertidur.
Lampu dari bangunan-bangunan tinggi, kesibukan di jalan raya, dan tempat hiburan malam bisa ia dengar sayup-sayup dari jauh. Tak jarang, suara sirine mobil polisi terdengar. Mungkin ada beberapa aksi balapan liar yang terjadi.
Ketika sudah hampir waktunya, Saerim berjalan ke tengah bukit itu dan duduk diatas rerumputan yang berembun. Meski celananya mungkin akan basah, ia tak peduli. Yang jelas, selama tiga puluh menit kedepan dirinya ingin melepas rindu pada kekasihnya dengan melihat fenomena alam yang paling disukai sang kekasih. Hujan meteor.
Tak lama, satu meteor melesat di atas langit sana. Disusul dengan beberapa meteor lain disaat berikutnya.
"Kudengar jika kita membuat permohonan pada bintang jatuh, itu akan terkabul! Jadi, ayo cobalah! Mungkin nanti permohonanmu akan terwujud jika kau mencobanya." Kata-kata konyol Hanse kembali terngiang di benaknya saat sekelompok meteor melesat di langit yang bertabur bintang.
"Aku harap kau bisa kembali... Aku merindukanmu... Hanse..." Gumamnya, air mata sekali lagi mengalir di pipinya yang agak berisi. Ia menggigit bagian dalam bibirnya untuk mencegah isakan keluar dari mulutnya.
Tanpa ia sadari, seseorang berjalan di belakangnya dengan senyum penuh kerinduan. Nafasnya sedikit terengah-engah, dan ada bulir keringat di pelipisnya.
"Aku tahu kau pasti ada disini..." Ujar sosok itu.
Saerim tersentak saat mendengar suaranya, ia langsung menoleh kearah suara dan mendapati sosok yang selalu ia rindukan selama lima tahun ini berada tak jauh darinya.
"Hanse!!" Saerim bangkit dan berlari menuju sosok itu, lalu memeluk tubuhnya erat. "Hanse... Hiks... Aku merindukanmu... Hiks... Permohonan ku terwujud... Kau kembali... Hiks... Hanse.." racaunya, tangannya meremat pakaian sosok itu.
Ia adalah Do Hanse, kekasihnya yang telah lama pergi dan kini telah kembali. Tangan besar Hanse melingkar di tubuh mungil kekasihnya, mengelus surai coklat pendek gadis itu dengan sayang. Sesekali ia mendaratkan kecupan di kepalanya.
"Aku juga merindukanmu... Maaf membuatmu terlalu lama menunggu, Saerim-ah.." balas Hanse dengan perasaan menyesal.
Saerim menggeleng, ia tidak peduli berapa lama ia harus menunggu. Asalkan Hanse-nya kembali dan bisa menjadi mataharinya lagi, membuat hari-harinya bersinar seperti dulu.
Dibawah hujan meteor, keduanya berpisah. Dan dibawah hujan meteor pula, keduanya kembali dipersatukan.
Setelah melepas rindu, keduanya lalu duduk bersama diatas rerumputan. Menikmati sisa hujan meteor yang sebentar lagi akan selesai. Dengan Hanse yang merangkul kekasihnya dalam pelukannya.