Semua bersiap akan pulang. Pekerjaan telah selesai. Masing-masing membenahi meja kerja mereka. Hanya Kin pemuda dua puluh lima tahun yang masih berkutat di depan komputer.
"Kin sudah belum?" Tanya Arya sang teman yang amsih bersamanya di ruangan tersebut.
"Sebentar lagi. Nanggung nih."
"Oke."
Pekerjaan menuntut untuk diselesaikan saat awal bulan begini. Perhitungan-perhitungan dan rincian di atas kertas kerja mengejar deadline. Laporan ditunggu pihak atasan.
"Cewek-cewek sudah pulang semua." Arya bersuara lagi. Sunyi senyap di ruangan itu. Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan.
"Biarkan saja. Loe takut?" Tanya Kin.
"Tidak juga."
Arya memandang ke atas pintu. Di samping pintu adalah kaca lebar yang ditutupi tirai tarik buka menggunakan tali penarik. Halus bayangan sekelebat lewat. Aryaenajamkan penglihatan. Tidak ada siapapun selain mereka.
"Cepetan Kin. Jam sembilan. Go!"
"Iya ini sudah. Matikan semua kontak kecuali WiFi. Biarkan saja printer itu hidup." Perintah Kin.
Hari memang semakin larut. Beginilah jika di awal bulan, di mana semua laporan harus selesai tepat waktu untuk kemudian diserahkan. Mereka selalu saja lembur menyelesaikan tugas mereka.
Meskipun jarak tempuh ke kantor yang jauh, mereka dengan ketekunan menjalani semua itu dengan senang hati. Kantor cabang tidak berada di kota namun di kecamatan yang lumayan jauh. Jarak tempuh setengah jam lebih untuk tiba di sana. Pergi di pagi hari dan selalu pulang malam bahkan hampir larut malam.
Wuuuussshhh. Braaakkk. Pintu tertutup tiba-tiba. Angin besar terasa sesaat dan menghilang.
Kin dan Arya saling berpandangan.
"Apa itu?" Tanya Arya.
"Tidak tahu. Ayo pulang." Wajah mereka menjadi pucat.
Kriiieek. Pintu berbunyi saat mereka membukanya.
Keduanya mempercepat langkah keluar dari ruangan mereka. Tiga pintu harus mereka lewati untuk sampai di halam depan kantor.
Taak. Taak. Taak.
Langkah kaki tidak terlalu kuat tapi cukup terdengar. Kin menggapai tangan Arya. Mengajaknya lebih cepat melangkah.
"Tidak ada orang di sini. Hanya kita." Ucap Arya.
"Ya dan langkah itu punya siapa?" Bisik Kin. Langkahnya semakin cepat. Mereka tidak berpaling sedikit pun ke belakang.
"Tidak ada siap-siapa." Arya menjawab.
Huuuuhh. Mereka membuang nafas lalu mengatur nafas lagi.
Akhirnya berdua menghampiri motor yang sengaja di parkir di depan.
"Kita makan dulu ya."
"Sudah malam Kin. Pulang saja."
"Ya udah. Loe udah nggak sabar ketemu bantal?"
"Ya jelaslah."
"Hiiiiii. Astaga."
Kin memalingkan wajah ke bawah seketika. Kain putih bergantung di pohon di depan sana baru saja membuat jantungnya berdebar. Warnanya kontras dengan pekatnya malam. Lalu mata seram itu membuat bulu kuduk Kin berdiri.
"Kenapa?"
"Tidak apa. Cepat hidupkan motor." Perintah Kin.
Breeuummm.
Motor Arya berbunyi. Tidak dengan motor Kin. Motor Kin tidak mengeluarkan suara sama sekali. Kin menstarter motornya. Masih sama. Menghidupkan mesin kembali. Tetap sama. Motornya mogok. Kin menendang motornya. Motornya bukan motor keluaran lama. Kenapa malam ini mogok?
"Kin tinggalkan motor itu di sini. Kita sudah kemalaman. Cepatlah naik." Ajak Arya.
"Aku ke sini pakai apa??"
"Aku jemput besok."
Arya tidak keberatan menjemput Kin esok walaupun jarak rumah mereka sangat jauh.
"Cepat Vim."
Geluduk pelan dan kilatan petir menghiasi langit malam. Titik-titik hujan turun mengenai jas dan helm mereka. Gerimis.
"Sudah." Kin memberi aba-aba.
Sebelum motor melewati pintu gerbang dan meninggalkan satpam jaga di pos, Kin sempat melihat warna putih bergelantung di atas pohon waru dan mendengar suara tawa makhluk astral.
"Hiiii kau dengar itu?" Tanya Kin.
"Dengar apa? Tidak ada." Suara Arya berteriak menanggapi pertanyaan Kin.
"Gas!!"
Arya segera melajukan motor yang mereka tumpangi. Jalanan yang sepi, malam yang gelap dan rintik hujan membuat suasana malam kian terasa. Inilah malam sesungguhnya. Tidak seperti di komplek perumahan Kin. Dimana lampu beranda setiap rumah menyala terang. Di sepanjang jalan yang mereka lewati ini, hanya satu lampu jalan yang menerangi setiap lima ratus meter. Jarak antara satu rumah dengan yang lainnya berjauhan. Pohon-pohon besar banyak mengisi halaman setiap rumah.
Rasa lelah dan kejutan malam ini membuat Kin langsung menuju kamarnya ketika tiba di rumah. Tidak lagi terpikir olehnya untuk mengucapkan salam saat masuk rumah seperti yang diajarkan oleh ibu.
Sempat diliriknya jam dinding. Hampir pukul dua belas malam. Pikirannya berkelana sebentar lalu tak berapa lama Kin terlelap.
Sunyi senyap. Dinginnya malam membuat Kin menarik selimutnya lebih tinggi menutupi seluruh tubuh. Hangat dan Kin terbuai dalam tidur malam itu.
Tuk. Tuk. Tuk. Telinga Kin menangkap bunyi ketukan tatkala jendela kamar tidur di samping diketuk tiga kali. Tidak mungkin suara pintu kamar. Bunyinya adalah suara kaca yang di ketuk. Pintu kamar Kin tidak bermaterial kaca.
Rasa ngantuk yang amat sangat mengalahkan rasa penasaran. Kin memilih memejamkan mata. Untuk berapa menit kemudian, jendela kaca kembali diketuk. Tiga kali ketukan. Akh berisik. Kini kesadaran Kin pulih. Rasa terkejut telah menguasai diri. Siapa sih mengetuk jendela tengah malam begini. Huuhh tamu tidak kenal waktu!
Kin membuka tirai jendela. Kain putih berlalu cepat dari pandangannya. Rambutnya tergerai panjang. Sangat cepat. Mustahil tamu jauh datang sebab keluarganya tidak ada yang mengatakan jika keluarga dari luar kota akan datang.
Pagi hari..
Sisa hujan masih terasa. Udara dingin, tanah dan jalanan di depan rumah basah oleh hujan tadi malam.
Kin harus berangkat kerja lagi. Menunggu Arya menjemput ke rumah. Kin memakai sepatu di beranda rumah.
"Pagi Kin."
Kin menoleh ke arah suara. Di depan sana seorang wanita yang Kin sebut Tante Ane menyapa Kin. Tante Ane tetangga mereka. Istri dari oom Dede.
"Selamat pagi Tante."
"Waah sudah rapi. Mau bekerja ya?"
"Iya nih Tante."
Vim membuka hp di tangan. Ibunya datang membawa sapu. Menyapa Kin yang dududk di sana.
"Kin belum pergi?"
"Belum ma. Menunggu Arya."
"Kok bareng Arya. Motor kamu kemana?" Ibu mulai menyapu.
"Motor Kin mogok di kantor. Nanti diperbaiki."
"Eehh mbak Eka.. pagi mbak." Sapa tante Ana yang selalu ramah.
"Pagi dik. Rajin sudah mengepel sepagi ini. ART kemana?" Tanya ibu.
"Ada di dapur mbak. Mbak.. ini loh aku tadi malam itu keluar mau wudhu di sini. Jam duaan kurang gitu. Tapi sesuatu melintas di sini mbak. Hiii wajahnya menatap tajam padaku. Hiii.. semua tubuhnya putih. Aku mengucapkan semua ayat karena takut." Cerita Tante Ana mengalir.
"Apa itu dik? Malam hari apa ada orang berkeliaran?"
"Tidak tahu mbak. Terus kutantang ayoo mau apa kau? hahaahaa.."
Ibu dan Tante Ana tertawa bersamaan.
"Lama nggak dik?" Tanya ibu semakin penasaran.
"Lumayan. Tadinya kulihat ia datang dari arah kamar itu!"
Tante menunjuk ke bagian samping rumah Kin. Arah yang ditunjuk tepat di sebelah kamar Kin. Berarti tadi malam suara ketukan itu dan rambut panjang, kain putih yang bergerak cepat itu adalah...
Kin tersentak dari lamunan ketika Arya datang dengan motornya yang sangat Kin hafal bunyinya.
"Kin..Arya datang." Panggil Ibu.
"Iya ma. Kin berangkat dulu."
Kin mengucapkan salam kepada Ibunya. Berpamitan juga pada Tante Ana. Motor Arya membawa Kin ke tempat kerja mereka.
🌳🌳🌳
~Tamat~
Lope..lope..