Nama ku adalah Mega umurku 12 tahun aku tinggal di Desa Kernat bersama Ibuku sedangkan Ayahku sudah lama pergi ke kota menigalkan kami saat aku berusia 7 tahun
setiap hari aku selalu mengirimkan surat untuknya namun aku belum pernah mendapatkan balasan satu pun dari Ayahku meskipun begitu aku terus mengirim surat untuknya
pagi hari mata hari yang terbit di Timur dan sinarnya yang memantulkan cahaya ke jendela dan mengenai wajah ku, aku menarik selimut menutupi wajahku dan kembali memejamkan mata
" Mega bangun hari sudah siang" teriak ibuku suaranya yang begitu nyaring selalu saja mengangu ku di pagi hari bahkan suara bisa terdengar oleh satu kampung
dengan keadaan malas aku mencoba membangunkan badanku yang masih menempel di ranjang rasanya aku tidak ingin turut dari ranjangku karena malas
perlahan aku melangkah kaki ku dan keluar dari kamar dan mendapti Ibuku yang sudah menyiapkan makanan di atas meja tak lama kemudian ada suara ketokan pintu
tok!tok!tok! " permisi"
" sudah datang" teriak ku
aku berlari dengan semangat dan membuka pintu awalnya aku berpikir itu adalah tukang pos pengantar surat ternyata orang itu hanya mencari alamat
aku kembali dengan perasan suntuk melihat wajah ku yang di tekuk membuat ibuku kembali mengejek ku
" belum ada balasan juga, bukankah ibu sudah bilang dia tidak akan pernah membalas surat mu itu karena dia tidak peduli lagi terhadap kita"
" buk ini masih pagi Mega tidak mau bertengkar lagi"
" sampai kapan kamu akan terus mengirim surat kepada pria yang sudah jelas tidak menganggap mu lagi"
" sampai ayah membalas suratku"
" bu Mega tidak berharap ayah mengirimkan uang tapi aku hanya berharap ayah membalas suratku"
" ibu sangat heran entah apa yang kamu harapkan dari pria itu"
" lihat mungkin dia tidak mengingat mu lagi atau mungkin dia sudah memiliki anak yang baru karena itu dia tidak pernah membalas surat mu"
" seharusnya kamu itu lebih peduli terhadap ibu karena sekarang ibu yang mengurus mu bukan dia ibu yang memberikan kamu makan uang apa semua itu kurang"
" kalau bukan karena keegoisan ibu mungkin ayah masih disini "
karena kesal dengan perkatan ibuku aku berlari keluar rumah menuju sebuah bukit yang taj jauh dari rumahku aku selalu menghabiskan waktu ku disana dengan menulis surat
karena dari bukit itu aku bisa melihat bangunan yang sangat tinggi meskipun jauh namun ujung bangunan itu tetap terlihat aku menutup mataku dan merasakan angin yang berhembus
tak terasa air mataku terjatuh membasahi pipiku
" ayah aku rindu kenapa ayah tak pernah membalas surat ku apa itu sulit bagimu" teriak ku dengan sambungan tangis
" hey Mega" sapa seorang wanita berbadan gemuk namanya Tiara dia selalu membawa cemilan di tangannya
" apa yang kamu lakukan disini"
" aku tadi kerumah mu namun kata ibumu kamu tidak ada jadi aku berpikir pasti kamu ke sini"
" ada apa kamu mencari ku"
" aku sudah memikirkan sesuatu bukankah di kota banyak sekali orang mengunakna media sosial bagaimana jika kita pergi ke warteg untuk mencari tahu siapa tahu kita bisa menemukan ayah kamu"
" ya kamu benar, kalau begitu kumpulkan yang lain aku akan segera kembali"
aku berlari dengan penuh semangat menuju ke rumah aku mengambil foto ayahku dan menyimpannya di dalam sakuku namun ibuku melihat apa yang aku lakukan dan dia mencoba menghentikan aku
" mau kemana kamu" tanya ibuku sambil berdiri di depan pintu kamar ku
" itu aku ma......" belum selesai bicara ibuku mengambil foto di saku ku dan mengunciku didalam kamar aku berteriak namun ibuku tidak membukan pintu
namun aku tidak menyerah begitu saja aku keluar melalui jendela dan bertemu dengan teman-teman ku
" kenapa kamu lama sekali lihat kami seperti ikan asin yang berjemur sepanjang hari" kata seorang pria dia adalah Didit teman sekampung ku
" apa kamu membawa foto ayahmu"
" ibuku mengambil foto itu dan mengunciku didalam kamar tapi aku berhasil keluar melalui jendela"
" jadi foto itu tidak ada bagaimana bisa kita mencari ayahmu"
" tenang saja aku masih ingat seperti apa wajah ayahku"
" ya sudah tunggu apa lagi Ayo kita pergi"
sesampainya di warneg kami mengunakan komputer untuk mencari ayahku melalui media sosial namun sayang kami tidak menemukan apa pun dan aku pulang dengan sedikit kecewa
sesampainya di sana ibuku sudah menunggu ku di depan pintu dengan sebatang kayu dia sangat marah dan memukuli ku
" dari mana kamu" tanyanya dengan nada tinggi
" aku dari sana bu " jawabku dengan wajah menunduk
tanpa banyak tanya lagi dia mengacung kayu itu kearah ku dengan sangat keras Beberapa kali dia memukul ku meskipun aku meminta maaf dan memohon ibuku terus memukul ku
" apa yang kamu pikirkan, kenapa kamu selalu mencari orang yang tak pernah menafkahi kamu"
" buka mata kamu Mega selama ini ibu yang selalu merawat kamu"
" ibu yang membesarkan kamu"
" dimana hati kamu Mega "
" ibu hanya meminta kamu untuk melupakannya apa begitu sulit"
" ya itu sangat sulit"
" aku tidak bisa melupakannya dia itu ayah aku "
" kenapa ibu membencinya"
" apa kerena ayah tak pernah memberikan uang kepada kita "
" atau karena ibu yang terlalu egois sampai ayah pergi dari rumah"
mendengar perkataan ku ibuku terus memukul ku karena kesakitan dia akhirnya melepaskan pukulannya
" jika kamu masih terus memikirkan ayah kamu maka sekarang juga angkat kaki dari rumah ku"
" ibu mengusir ku"
" ya"
lalu Ibuku mendorong ku hingga terjatuh dia mengambil barang-barang ku dan melemparkannya ke arah ku lalu aku memungut semua bajuku dan pergi meninggalkan dirinya
meskipun begitu aku mendengar suara tangisnya dari dalam rumah dengan berat hati aku pergi karena aku tak memiliki tempat tujuan akhirnya aku memutuskan untuk nginap di rumah Aurel
" jadi kamu di usir " tanya Aurel sambil ngemil jajanan yang ada di tangannya
" hmm" jawabku spontan
" lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang"
" entahlah aku akan terus mencarinya dan menunggu balasan surat dari ayah"
" kenapa kamu tidak menyusulnya ke kota bukankah kamu mengetahui alamat rumahnya"
setelah mendengar solusinya aku memutuskan untuk pergi ke kota untuk mencari ayahku pagi hari Aurel dan Adit mengantar ku untuk naik bus
sebelum pergi aku menitipkan surat untuk ibuku melalui Aurel dan Adit
tok tok tok " permisi"
" sebentar"
membuka pintu
" ehhh nak Aurel nak Adit ada apa kalian mau mencari Mega ya kebetulan Mega tidak ada di rumah saat ini"
" begini bu" tanpa banyak kata Aurel menyerahkan surat itu kepada ibuku lalu Ibuku membuka surat itu dan membacanya
* isi surat*" bu aku pergi ke kota untuk mencari ayah mungkin aku tahu ibu sangat marah karena aku pergi tiba-tiba tapi ibu harus tahu satu hal aku sangat menyayangimu bu aku mohon biarkan kali ini saja aku mencari ayah jika memang betul yang dikatakan ibu maka aku tidak akan lagi mencarinya
'Mega'
setelah membaca isi surat itu ibuku menagis sejadi-jadinya
" kenapa kamu menigalkan ibu "
setelah beberapa jam akhirnya aku tiba di kota disana Sangat ramai karena ini pertama kali aku pergi ke kota aku beberapa kali tersesat dan hampir saja di rampok
dengan alamat di tangan ku aku mencari keberadaan ayahku setelah beberapa hari aku mencarinya aku tidak menemukannya dimana pun uang saku ku sudah hampir habis dan aku juga tidak bisa lagi membayar uang sewa kamar
akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kampung namun sebelum kembali aku mencari sekali lagi alamat rumah tersebut dan takdir berpihak kepadaku akhirnya aku menemukan rumah yang aku cari selama ini
namun sayang ketika aku masuk ke rumah itu aku tidak mendapi siapa pun disana dan ada banyak sekali Surat yang berserak di depan pagar ternyata itu adalah surat dari ku selama ini
pikiran ku teralihkan dan mataku berkaca-kaca saat melihat surat yang berserak di depan pagar tak lama kemudian datang seorang wanita tua yang membawa kabar buruk untuk ku
" maaf cari siapa ya" sapa wanita tua tersebut
" ahh ini saya mencari orang yang tinggal di sini "
" siapa kamu"
" ahh saya adalah anaknya yang tinggal di rumah ini"
" sebenarnya orang yang tinggal di rumah ini sudah lama meniggal dunia"
aku sangat terkejut mendengar pengakuan wanita tersebut nafasku tersengal dan tubuhku langsung lemas seketika aku terjatuh karena tak kuat aku memungut semua kertas itu dan memeluknya sambil menagis
lalu wanita itu menuntun ku ke sebuah makam tempat peristirahatan terakhir ayahku aku mengusap batu nisannya yang sudah usang aku mencabut rerumputan yang tumbuh di atas makamnya
" jadi selama ini ayah tak membalas surat ku karena ayah sudah tiada"
" kenapa ayah tega menigalkan aku dan ibu "
aku tak bisa menahan kesedihanku lagi aku terus menagis dan menagis sampai aku tak sadar aku tidur di samping makam ayahku setelah beberapa jam datang lah seorang penjaga makam dan membangunkan aku
akhirnya aku menyimpan semua surat itu di samping makam ayahku dan aku memutuskan untuk kembali ke kampung disana aku di sambut oleh Aurel dan Adit namun aku masih sedikit ragu untuk pulang
akhirnya aku memberanikan diri untuk pulang dan bertemu ibu dengan ragu aku mengetok pintu dan saat ibuku membuka pintu dia menatap aku dengan mata berkaca-kaca
" kenapa kamu kembali" teriaknya
" bu maafkan aku" jawabku sambil memeluk ibuku
lalu aku menceritakan semuanya kepada ibuku setelah itu ibuku mengeluarkan beberapa lembar surat dan ternyata itu dari ayahku yang selama ini membalas surat ku
" jadi selama ini ayah membalas suratku"
" kenapa ibu tega menyembunyikan semua ini"
jadi ibu juga tau tentang kematian ayah tapi ibu tak mau memberitahuku"
" katakan bu kenapa ibu tega"
" kenapa ibu membohongi ku"
aku berlari ke kamar ku dan membuka surat dari ayahku satu persatu aku membaca semua isi surat tersebut dengan linangan air mata
sore hari sebelum matahari terbenam aku duduk di bukit sambil membawa surat-surat dari ayahku aku membakarnya satu persatu lalu aku melihat seekor kunang-kunang
" ayah yang tenang di alam sana aku janji aku akan menjaga ibu dan akan menjadi anak yang baik hey angin tolong sampaikan pada Tuhan untuk menjaga ayahku hey bulan munculkan wajah ayahku sekali saja aku hanya ingin mengatakan kepada kalau aku sangat mencintainya"
Hey ayah I Love you"
setelah puas teriak ibuku datang menghampiri ku dan membawaku pulang ke rumah dalam perjalanan aku menggandeng tangan ibu dengan erat dan berjanji tidak akan melepaskan tangannya kapan pun.