"Pa kenapa setiap hujan papa selalu duduk di teras rumah?"
Ku tatap mata jernih itu dengan penasaran, tangan besar yang terlihat kasar itu mengusap kepala ku dengan lembut.
Papa tersenyum"Karena hujan mengingat kan pertemuan Papa dengan Mama mu."
Aku membuang muka saat mendengar Ibu ku di sebut, kenapa Papa masih saja memikirkan wanita yang telah di rebut orang lain? Tangan ku menaruh secangkir kopi hitam di meja kecil samping Papa dan duduk di seberang nya.
Sementara gerimis hujan masih membasahi tanah. Bau perpaduan tanah kering yang mulai basah oleh air hujan memang unik. Setiap percikan air mengenai wajah ku, luka yang menganga seolah perlahan sirna.
"Papa, kenapa Papa tidak melupakan nya saja? Dia sudah menjadi milik orang lain bahkan dia terlihat jauh lebih bahagia dengan pria itu." Lirih ku.
Embun bening menggelayut di pelupuk mata lelaki paruh baya itu. Namun tak kunjung turun juga sementara senyum nya tak pernah surut dari ujung bibir nya.
"Asya biarpun Mama mu sudah bersama yang lain Papa ikhlas nak, Papa juga memiliki kesalahan yang tak mungkin di maafkan oleh nya." Perlahan Papa meminum kopi nya.
"Lalu itu kah yang tidak bisa membuat papa melupakan Mama?"
Aku merapatkan sweater ku saat dingin menyergap tubuh ku membuat ku menggigil.
Papa mengangguk kelu ada luka yang terlihat di mata nya.
Hujan mereda semburat warna warni muncul di balik awan hitam perlahan disertai sinar matahari. Wajah Papa mendadak terlihat berseri-seri seolah-olah ada kebahagiaan yang muncul di hidup nya.
"Kamu lihat Sya? Pelangi itu seperti menyampai kan kabar gembira dari ibu mu."
Nyuttt ...dada ku terasa nyeri mendengar itu, rasa sesak mengarungi jiwa ku membuat ku ingin meluapkan emosi yang selama ini ku pendam. Luka yang selalu ku rajut dan tertata apik mendadak terbuka kembali.
"Iya Pa, Asya tahu Mama pasti bahagia ya pa?"
"Tentu saja, kamu tahu Sya? Cinta sesungguh nya itu tidak akan membiarkan seseorang yang di cintai nya menderita." Bisik nya pelan lalu kehangatan muncul dari tatapan sendu nya.
"Dan cinta yang sesungguhnya pasti akan melakukan hal yang membuat orang di cintai nya bahagia."
Tubuh tergetar mendengar nya lagi - lagi, aku hatiku merasa tertohok . Papa bisakah kamu berhenti bicara tentang itu? Sangat di sayangkan aku tak bisa memberitahu itu pada nya.
"Meski pun seseorang itu mencintai yang lain?" Tanya ku serak.
"Ya kita harus rela membiarkan dia bahagia bersama yang lain." Ucap nya.
Aku menunduk lesu, diriku tidak setuju dengan pendapat Papa tapi mungkin saja itu yang terbaik untuk nya dan untuk ku.
"Papa jika pelangi itu mengingat kan pada Mama, mulai saat ini pelangi itu akan mengingat kan ku pada Papa." Bathin ku.
Rintikan hujan masih saja turun, senja pun mulai mengarungi langit dengan warna jingga nya. Suasana saat ini masih meninggalkan bekas luka yang harus ku rajut ulang.