Siang tadi cuaca nya cerah. Tapi saat waktu beranjak sore, cuaca nya berubah mendung. Sejak dulu aku suka hujan, apalagi hujan deras. Hawa nya dingin. Ditambah musik pop yang menggema di dalam gedung bersesakan penuh dengan para remaja. Aku ada disana. Sejak dulu aku suka band. Itu sebabnya aku sering menyisihkan uang sekolahku untuk menonton grup band kesukaanku.
Dan disana lah, aku bertemu dengannya. Cowok memakai celana jeans, kaos oblong berwarna putih, dan jaket jeans berwarna biru. Penampilannya seperti ... anak band. Dia membawa sebuah gitar. Aku tidak sengaja bertabrakan dan menumpahkan kopi di jaketnya.
"Ups, maaf ya,"kata ku merasa malu. Dia mengangkat kepalanya, tersenyum sampai mata nya menyipit. Sekarang aku tahu kalau ia mempunyai satu gigi gingsul.
"Tidak apa-apa kok, santai aja,"jawab nya lalu berjalan pergi.
Hari itu untuk pertamakalinya aku bisa terpesona hanya dengan seutas senyuman. Aku tak percaya. Tapi sejak hari itu, aku jadi kepikiran dengannya sampai aku tak bisa berhenti bercerita kepada Anya, sahabatku.
"Sela, kamu sudah cerita berapa kali tentang cowok itu ke aku? Aku hitung-hitung sih sudah tujuh kali. Senin sampai Minggu kamu cerita tentang dia terus. Tapi, kamu tau namanya aja enggak."
Anya Feraline. Sahabatku sejak duduk di bangku SMA. Sering bertemu Anya menumbuhkan kesamaan diantara aku dan Anya. Aku dan Anya sama-sama suka warna merah, makanan kesukaan kami ayam rica-rica, kami berdua suka film horor, dan aku dan Anya suka sekali membaca novel. Aku dan Anya punya perbedaan dalam hubungan asmara, contohnya, aku masih jomblo dan Anya sudah mempunyai pacar. Dan sekarang aku dan Anya duduk di kedai sambil menunggu seseorang yang akan dikenalkan Anya kepadaku. Tebak kira-kira siapa ya?
"Anya, kamu tuh nggak tahu aku lagi kasmaran banget."
Anya menyeruput jus jeruk nya, lalu berkata, "iya deh iya yang lagi kasmaran. Sampai kita nggak ingat kalau sekarang kita lagi nungguin pacarku yang belum datang-datang juga."
"Pacaran dari dua bulan yang lalu baru dikasih tau nya sekarang,"gerutuku, Anya hanya menyengir.
Anya tiba-tiba berdiri sambil mengangkat salah satu tangannya, "Daniel!!"teriaknya sambil melambai-lambaikan tangan.
"Maaf nunggu lama ya."
Aku mengangkat kepala. Pacar Anya sudah berdiri di samping meja sambil menunjukan senyum tanda menyapa. Ciri-ciri nya, tidak terlalu tinggi, putih, mata nya cokelat, alisnya cukup tebal. Cowok itu memakai sepatu cokelat, celana jeans, dan kaos berwarna hitam. Cowok Anya, tangan kiri nya memegang handphone, sedang tangan kanan nya terulur kepadaku.
"Daniel,"ucapnya memperkenalkan diri.
Anya menyentuh lenganku sambil menyahut," Sel, kenalin ini pacarku, namanya Daniel. Kamu kok melamun sih."
Aku tersadar kalau aku menilai pacar Anya terlalu lama. "Ah, iya. Aku Sela,"jawab ku sambil bersalaman dengan pacar Anya.
Aku tak menyangka kalau aku akan menyukai seseorang yang sama dengan Anya, sahabatku. Tapi Anya yang menyukainya lebih dulu karena Anya yang menemukannya lebih dulu. Dia pacar Anya. Dan aku tak mungkin menyukai pacar sahabatku sendiri. Aku baru tahu kalau seseorang yang ku suka ternyata sudah mempunyai pacar, dan pacarnya adalah Anya, sahabatku sendiri.
Trining! Trining!
Bunyi handphoneku yang berdiring di atas meja belajar mengganggu saja sih. Aku beranjak mengambil benda kotak itu di atas meja dan mengecek notifikasi. Terdapat sebuah pesan masuk.
'Sela, besok aku jemput kamu. Kita akan hange out bertiga sama Daniel. Tenang, Daniel yang akan nraktir kita kok. Jadi uang kamu aman karena aku yang ajak kamu.'
Aku lemas dan tak bersemangat membaca pesan dari Anya. Kalau di pikir-pikir, Anya tidak tahu kalau seminggu yang lalu, cowok yang aku ceritakan kepadanya itu pacarnya. Tidak, aku tidak suka pada Daniel. Waktu itu, di pintu keluar gedung tempat pertunjukan band kesukaanku, itu hanya rasa kagum sesaat ketika aku melihat senyumnya. Itu hanya kagum bukan suka.
'Maaf ya Nya, aku besok nggak ikut. Aku males keluar rumah dan aku nggak mau jadi obat nyamuk diantara pasangan yang lagi nge-date.'
Kring! Kring!
Aku terkejut saat mendengar handphoneku kembali berdering. Huft, Anya pasti meneleponku untuk memaksaku ikut pergi besok bersama pacarnya. Aku mengambil handphoneku dan mengangkat panggilan Anya.
"Aku besok nggak ikut deh. Tugas kuliahku masih banyak yang belum aku selesain. So, kamu keluar berdua aja sama Daniel, ya. Selamat jalan-jalan berdua untuk besok. Semoga happy,"cerocos ku beranjak mematikan sambungan telepon.
"Sela, aku Danie, bukan Anya."
Aku terdiam. Saat aku melihat nomor yang meneleponku, astaga itu memang bukan nomor Anya! Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, namun apalah daya, aku hanya berteriak di dalam hati karena enggan disebut lebay.
"kamu belum lihat nomor panggilannya ya kalau itu bukan nomornya Anya?"tanya Daniel di seberang sana. Aku hanya diam karena bingung mau menjawab apa dan bagaimana. Dia kembali melanjutkan ucapannya, "maaf, kalau aku ganggu kamu. Aku disuruh Anya buat maksa kamu ikut pergi besok. Ehm, kalau tugas kuliah kamu masih banyak, aku bisa bantuin kamu ngerjain setengahnya. Itu pun, kalau kamu nggak keberatan sih."
Tolong, jangan senyum-senyum sendiri, Sel!
"Sel? Kalau kamu tetap nggak bisa ikut nggak apa-apa sih. Aku nggak akan maksa anak orang. Nanti aku dikira jahat."aku sedikit mendengar gelak tawa Daniel di seberang sana. Tolong, jangan senyum-senyum lagi, Sel. ingat, Daniel pacar sahabat kamu!
"Dari tadi yang ngomong kamu terus. Aku kapan jawabnya,"kata ku dengan nada sedatar mungkin.
"Eh iya? Sorry sorry. Tapi besok kamu ikut kan? Ini aku sampai disuruh Anya telepon kamu begini tandanya Anya pengen banget kamu ikut. Jangan kecewain Anya ya."
Aku terdiam. Apa angkat telepon dari Daniel seperti ini aku tidak akan mengecewakan Anya?
"Aku nggak mau mengecewakan Anya sih ... "
"Ok, aku akan bilang ke Anya kalau aku berhasil maksa kamu buat ikut. Makasih Sela sudah mau mengerti Anya. Aku tutup teleponnya."
Pip.
Aku tidak mau mengecewakan Anya bukan berarti aku mau ikut pergi bertiga bersama kalian. Apa lagi Daniel sampai mau meneleponku segala dan memaksaku ikut karena disuruh Anya.
"Jangan kecewain Anya ya. Makasih Sela sudah mau mengerti Anya."
Aku seperti mendengarkan lagu-lagu dari band kesukaanku. Namun, seharian ini aku lebih suka mendengarkan lagu-lagu sedih. Liriknya masuk ke dalam hati dan alunan nada nya sedih sekali. Aku mendengarkan musik kesukaanku dari earphone yang tersambung dari handphoneku sambil bernyanyi di dalam kamarku.
Aldo, adiku itu tiba-tiba membuka pintu kamarku. Dia mengatakan sesuatu tapi aku tak bisa mendengarnya. Aldo melepas earphoneku dengan lancang. Mengganggu kesibukan orang saja sih.
"Di luar ada teman kakak. Ditungguin tuh,"sahut Aldo.
"Tolong, bilangin ke kak Anya aku mau ganti baju sebentar. Suruh kak Anya masuk dan duduk di ruang tamu dulu."
"Males. Ngomong aja sendiri. Ganggu orang main game aja,"gerutunya sambil beranjak keluar dari kamarku, pintunya tidak ditutup pula.
Mau tak mau aku berjalan keluar kamar dan membuka pintu. Bukan Anya, tapi Daniel. Dia datang seorang diri ke rumahku. Aku tak melihat Anya. Dia berdiri sambil tersenyum kepadaku. Senyumnya yang menyihir seolah tak menyadari aku sedang kebingungan dengan kedatangannya.
Handphone dan earphoneku hampir terjatuh dari genggaman tanganku. Untung saja Daniel menangkap kedua benda yang hampir terjatuh itu. Rasanya aku ingin menghilang saja dari rumah untuk sementara waktu. Aku ingin dia ke rumahku saat aku tak ada di rumah. Atau, lebih baik dia tak pernah tahu alamat rumahku. Ini pasti Anya yang memberitahukannya. Tapi untuk apa Anya menyuruh Daniel ke rumahku sekarang?
"Kita jadi pergi kan? Anya masih ke toko kue sebentar. Aku disuruh Anya buat jemput kamu, setelah itu kita jemput Anya di toko kue."
Aku ingin menolak untuk pergi bersama mereka. Tapi mengingat Daniel sampai mengusahakan hal ini untuk Anya aku jadi tidak bisa menolaknya. Saat melihat Anya, aku jadi merasa bersalah karena telah menyukai Daniel. Perasaanku kepada Daniel tetap saja ada walau aku berusaha menepisnya.
Chers!
Aku, Anya, dan Daniel mengabadikan foto bersama. Pertama, kami foto bertiga bersama seorang badut di pinggir jalan. Kedua, Daniel memfotokan aku dan Anya dengan background kolam renang di taman kota. Ketiga, aku memfotokan Daniel dan Anya di depan lampu-lampu taman kota.
Do re mi.
Suara piano mengalun sendu mengisi tempat aku, Anya, dan Daniel singgah. Musik yang terdengar terasa seperti nada sedih yang mewakili perasaanku. Di depan mataku, Anya dan Daniel berbincang soal makanan sambil bersenda gurau dan berfoto ria. Sesekali Anya mengajaku bergurau, tetapi aku menampakan raut tidak selera.
"Sel, kamu kenapa kelihatan nggak semangat? Kamu masih kepikiran sama cowok yang waktu itu ya? Aku kalau ketemu sama cowok yang sudah bikin kamu kepikiran sampai begini, aku akan samperin dia, dan aku akan bilang ke dia buat berhenti bikin kamu kepikiran gara-gara dia,"canda Anya, aku melirik Daniel sekilas.
Laki-laki itu Daniel. Anya kalau kamu tahu laki-laki yang menyita pikiranku selama ini adalah Daniel, apakah kamu masih mau berteman denganku?
"Anya, itu sama sekali nggak lucu. Lagian aku sudah nggak mikirin dia lagi,"bohongku agar Anya tidak membahas tentang laki-laki itu lagi.
"Sela punya pacar?"sahut Daniel tiba-tiba. Aku dan Anya berpandangan sambil berpikir.
"Aku pulang aja ya."aku beranjak dari kursi.
"Jangan! Ah, kalau kamu pulang nggak seru dong."itu suara Anya, tetapi saat aku melihat ke belakang, Daniel yang memegang tanganku.
Anya sepertinya tidak keberatan kalau Daniel spontan menggerakan tangannya untuk mencegahku pergi. Namun, tangan Daniel sekarang sudah terlepas dari tanganku. "Jangan pulang. Maafin Anya ya. Dia nggak akan bahas sesuatu yang nggak kamu sukai lagi. Ya, kan, Nya?"
"Iya, Sel. Sensitif banget sih. Jangan marah dong."Anya merangkul bahuku sembari tersenyum. "Habis ini kita nonton ya. Ada film horor bagus di bioskop!"
Aku ingin pulang dan berbaring di dalam kamar. Tidur tengkurap sambil mendengarkan musik sedih di handphoneku. Hal yang tak pernah ku duga kalau aku dan Anya akan jalan bersama laki-laki yang kita suka. Beda nya, aku hanya pihak tidak diuntungkan yang ada di tengah-tengah mereka. Aku sadar, ketika aku menyukai seseorang, bukan berarti aku akan memilikinya.
Aku dan Anya sama-sama suka film horor, lain dengan Daniel yang lebih suka menonton film action. Tetapi Daniel memilih menyetujui menonton film horor karena usulan Anya. Untuk yang kesekian kalinya, Daniel menuruti permintaan Anya. Semua yang dilakukan Daniel di mataku hanya demi Anya.
Jreng! Jreng! Jreng!
Aku bertemu dengannya untuk pertamakali di tempat perlombaan band. Dan sekarang aku menginjakan kaki disini lagi. Suara musik menggema. Alunan piano, drum, dan gitar berpadu dengan suara sang vokalis. Aku menjauh dari keramaian untuk menelepon seseorang. Akhirnya Anya menjawab teleponku.
"Anya, kamu dimana? Kamu tidak lupa kalau hari ini ada perlombaan band antar kampus? Daniel nungguin kamu."
"Aku nggak bisa datang, Sel."
"Tap ---- "
Tuuuuuuuuuuut!
Di depan sana, Daniel tampak memandangi satu persatu penonton seperti mencari keberadaan seseorang. Dan aku baru mendapat kabar kalau Anya tidak bisa datang kesini. Daniel dan band nya mulai menunjukan aksi musik mereka di atas panggung. Daniel sempat menemukan aku di antara para penonton, dia tersenyum sekilas kepadaku.
Prok! Prok! Prok!
Suara tepukan menggema. Daniel turun dari panggung, lalu menghampiriku. Yang ia tanyakan pertamakali, "Anya dimana?"
"Aku tadi telepon Anya, dan dia bilang kalau dia nggak bisa datang kesini,"jawab ku. Ada raut kekecewaan di muka Daniel. Tetapi, sesaat kemudian, ia mencoba menunjukan senyumnya.
***
Terlalu lama berada di perpustakaan aku sampai tak melihat jam yang sudah menunjuk di angka empat sore. Hujan deras mengguyur bumi. Aku akan menunggu sampai hujan sedikit reda untuk pulang ke rumah. Aku keluar dari perpustakaan dan melewati lorong kelas-kelas di kampusku. Hawa dingin yang ku suka. Aku berjalan sambil memasang earphone di telingaku.
Di depan sana, aku melihat Anya sedang berbicara bersama seseorang. Anya seperti mengembalikan barang kepada seseorang yang diajaknya bicara. Tak berselang lama, Anya mengangkat telepon dan pergi meninggalkan temannya tersebut. Aku menghampiri seseorang yang diajak bicara Anya beberapa waktu lalu.
"Daniel?"sapa ku. Itu benar Daniel. Dia datang ke kampus untuk menemui Anya. "Kamu sedang apa?"tanya ku. Daniel seperti sedang bersedih, namun mencoba tersenyum kepadaku.
Aku dan Daniel duduk di bangku yang ada di depan kelas. Aku mencoba menghibur Daniel dengan memasangkan sebelah pasang earphoneku di telinganya. Aku dan Daniel mendengarkan musik yang sama. Aku senang kalau selera musik Daniel sama denganku. Aku dan Daniel membicarakan seputar selera musik kami yang sama.
Daniel mengeluarkan sebuah gelang bambu yang cukup unik dari saku jaketnya. "Kamu mau gelang bambu nggak? Tadi aku mau ngasih gelang ini ke Anya, tapi dia nggak suka dengan gelang ini. Kamu kalau mau, gelang ini buat kamu aja,"tawar nya.
"Gelangnya cukup bagus. Aku mau kalau boleh,"jawab ku. Daniel tersenyum sambil memasangkan gelang bambu pemberiannya di tanganku.
Anya menolak gelang pemberian Daniel?
"Aku juga pakai gelang yang sama dengan kamu. Tadi aku mau pakai gelang ini couple sama Anya, tapi Anya nggak suka gelang ini."
"Sekarang Anya kemana?"tanya ku.
"Dia mau ngerjain tugas sama temannya."
Aku terdiam sambil mengusap-usap gelang bambu di tanganku. Gaun merah ku menyala di antara lampu-lampu taman kota. Rambut yang susah payah ku tata sedemikian rupa terkena angin sehingga sedikit berantakan. Semua teman-teman di kampus diundang ke acara ulang tahun Anya. Malam ini adalah malam yang istimewa untuk Anya karena seseorang yang akan melingkarkan cincin di jari manis Anya.
Daniel tersenyum kepadaku. Dia sudah menyiapkan kotak merah berisi dua cincin yang indah. Di bawah bulan purnama dan gemerlapnya gemintang, aku menyaksikan sang calon memasangkan cincin di jari manis Anya, begitu pun Anya memasangkan cincin di jari manis pasangannya. Aku senang melihat sahabatku bertunangan dengan seseorang yang dicintainya. Anya mendapat banyak hadiah ucapan selamat dari keluarga dan teman-teman.
"Happy engagement, Anya!"aku mengucapkan selamat dan memeluk Anya.
"Makasih Selaaa!"sahut Anya.
"Happy engagement kak Kevin!"aku menyalami pasangan Anya.
"Thank you, Sela!"sahut kak Kevin.
"Aku kira kamu sama Dan ---"aku agak ragu melanjutkan perkataanku. Daniel ada di sampingku, entah dia patah hati atau tidak karena Anya telah bertunangan dengan orang lain.
"Kamu perlu tau Sela. Adik saya ini, Daniel, dia menyuruh Anya untuk pura-pura jadi pacarnya supaya dia bisa dekat sama kamu. Apa kamu tidak sadar, Sela? Gelang bambu itu memang sengaja Daniel berikan untuk kamu,"sahut kak Kevin. Anya mengangguk sambil tersenyum kepadaku. Aku tidak percaya.
"Kamu masih nggak mau jujur sama Sela, Niel?"tanya Anya melirik Daniel.
"Aku --- "Daniel menggantung ucapannya.
Flashback on
Daniel tidak sengaja menemukan handphone Anya yang tertinggal di mobil kakaknya. Ia berniat mengembalikan hp itu kepada Kevin. Daniel menyalakan layar hp yang ia temukan sehingga terlihatlah sebuah walpaper dengan foto Anya bersama temannya. Agaknya Daniel pernah bertemu dengan teman Anya. Tapi ia lupa bertemu dimana. Setelah saat itu, Daniel menanyakannya langsung kepada Anya. Daniel mulai mengingat-ingat gadis yang menumpahkan kopi di jaketnya.
Misi dimulai. Daniel membuat ide kalau Anya adalah pacarnya. Dan Anya memperkenalkan Daniel kepada Sela. Daniel pernah bercerita kepada anya kalau ia pernah bertemu Sela di suatu tempat. Waktu itu jaketnya ketumpahan kopi yang di pegang Sela. Begitupun Sela, Anya ingat cerita Sela tentang laki-laki yang ketumpahan kopi. Anya mulai menghubungkan cerita keduanya.
"Daniel, sudah menghubungi Sela? Besok jadi keluar apa nggak?"tanya Anya melalui telepon.
"Sip. Jadi,"jawab Daniel.
Bukan Anya yang memberikan nomor Sela kepada Daniel, tapi Daniel yang meminta nomor Sela kepada Anya. Dia alasan Anya yang menyuruhnya menghubungi Sela. Sebenarnya, Daniel sendiri yang ingin jalan bersama Sela, Daniel sendiri yang ingin menghubungi Sela, dan Daniel sendiri yang meminta alamat rumah Sela. Daniel sengaja mengatakan, "jangan kecewain Anya ya,"agar Sela tidak menolak ajakan Daniel.
Saat di tempat makan, Daniel spontan memegang tangan Sela karena dia benar-benar tak mau Sela pergi. Sedangkan Anya tak marah ketika Daniel memegang tangan Sela karena memang Daniel bukan pacar Anya. Pacar Anya yang sebenarnya, ya, Kevin, kakak nya Daniel.
Anya sengaja tidak datang ke perlombaan band Daniel bersama teman-temannya karena dia memang sedang pergi dengan Kevin, kakaknya Daniel. Waktu itu, Sela takut Daniel kecewa karena raut muka Daniel yang kebingungan mencari seseorang diantara para penonton. Saat itu, Daniel memang mencari Sela bukan Anya sehingga saat Daniel melihat Sela berada diantara para penonton, Daniel tersenyum ke arah Sela.
Seperti yang dilihat Sela saat keluar dari perpustakaan, Anya memberikan sebuah benda kepada Daniel. Gelang bambu itu Anya yang membelikannya, gelang couple pesanan Daniel yang akan ia berikan kepada Sela. Tapi Daniel berakting seolah-olah Anya tidak menginginkan gelang itu.
Flashback off
"Aku ---"Daniel menggantung ucapannya.
Aku, Anya, dan kak Kevin menunggu Daniel menjelaskan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Kami menunggu, menunggu, dan menunggu sampai Daniel kembali membuka suara dan melanjutkan perkataannya, "aku ijin ke WC dulu ya. Perutku tiba-tiba mules." Daniel beranjak pergi mencari toilet.
Preeeet!
Bunyi gas beracun dan bau busuk menyengat hindungku. Sepertinya Anya da Kak Kevin merasakan hal yang sama.
"Daniel!"teriakku, Anya, dan kak Kevin secara bersamaan.