Aku memiliki keuarga yang utuh ayah, ibu, kakak perempuan, kakak laki-laki.
Aku memiliki teman yang sangat baik dan pengertian.
Aku dan keluargaku hidup bahagia dan harmoni, dan dengan sahabat ku kami berteman dengan suka duka dan saling peduli satu sama lain, aku dalah orang yang sangat beruntung memiliki keluarga yang harmonis dan pertemanan yang sangat baik.
Namun itu semua hanya di pikiran ku dan henya menjadi angan-angan hingga suatu hari kedua teman ku pergi merantau keluar kota. Kini hanya aku yang tinggal sendiri, aku sangat sedih.
Kami berjanji akan selalu kontak dan jangan sungkan menceritakan semua masalah kami masing-masing.
Hingga suatu hari paman ku, kaka laki-laki ibuku kehilangan perhiasan nya di rumah manya, dan aku orang yang terlihat masuk dan keluar rumah hingga paman datang kerumah ku malam-malam.
"Sinta, mana anak mu yang bernama Lili??." Paman datang dengan amarah beserta 2 orang tetangga paman.
"Oh, Kak Agus. Itu Lili lagi tiduran di kamar." Jawab ibu ramah.
"Panggil Lili keluar. Ada yang ingin ku tanya kan pada nya." Kata Paman ketus.
Ibu pergi kekamar mencariku dan menyuruhku keluar untuk bertemu paman.
"Paman?. Ada apa?." Tanya ku setelag keluar dari dari kamar.
Paman bukan nya berbicara menjawab pertanyaan ku, dia malah berdiri dan menapat pipi ku dengan keras hingga sudur bibirku pecah.
Aku terpental ke belakang, dan bingung dengan sikap paman yang menampar pipiku dengan keras.
"Lili, mana perhiasan paman yang kamu curi dari rumah paman.?" Tanya paman setelah menamparku dengan keras.
"Perhiasan?!!! perhiasan apa paman.?" Tanya ku bingung.
"Jangan pura-pura, Ros dan Wina melihat kamu masuk kerumah dan keluar membawa kantongan." Paman bicara degan menahan amarah.
"Aku memang kerumah paman, tapi buka Lili yang mencuri perhisan paman." Lili memberi pembelaan diri.
"Jelas-jelas kamu yang masuk rumah, trus barang hilang. Kalau bukan kamu siapa lagi?." Tanya Paman mulai murka.
Karena pedebatan kami Papa, dan kedua kakak ku keluar. kamar dan menuju ruang tamu.
"Kak agus ada apa ini.?" Ayah bertanya karena melihat bibirku berdarah.
"Ini nih, anak kamu mencuri barang di rumah ku." Kata paman mengadu.
"Betul itu Lili?." Tanya Papa tajam.
"Nggak pa, Lili nggak nyuri di rumah paman." kataku lagi.
"Dia pasti bohong, mereka berdua melihat Lili masuk rumah dan keluar membawa kantongan." Jelas paman lagi.
"Betul yang di katakan Paman Lili.?" Tanya papa mulai curiga.
"Kalau kerumah paman dan membawa kantongan memang ada, tapu Lili tidak mencuri barang paman." Jelas Lili masih menangis.
"Kalau begitu, mana kantongan itu?." Tanya papa lagi.
"Kantongan nya udah Lili buang pa." Jawab Lili jujur.
"Itu dia menyembunyikan bukti nya, sudah jelas Lili anak kamu yang mencuri nya." Paman memanasi suasana.
"Lili nggak nyuri pa, ma, kak. percaya sama aku. Aku benar tidak mencuri barang di rumah paman." Jelas ku sambil memohon mereka untuk percaya pada ku.
Tapi di lihat dari reaksi kakak laki-laki, dan permpuan ku mereka tidak percaya padaku dan kembali ke kamar nya masing-masing.
"Lili, sekarang kembalikan barang paman." Kata Ibu dengan lemas tanda dia juga tidak percaya padaku.
"Kau nggak mencurinya ma, pa. Kenapa kalian tidak percaya sama aku!!!!?." Teriak ku pada mama, papa.
"PLAK!!!."
Papa menampar wajah ku hingga aku terjatuh kelantai saking keras nya ramparan nya pada ku.
Aku menyentuh pipiku yang di tampar walau hanya biru tapi lebih sakit dari tamparan paman yang membuatku berdarah. Di banding semua itu hatiku jauh lebih sakit dari pada tamparn-tamparan yang ku terima.
"Dasar anak kurang ajar, beraninya membentak orang tua." Kata papa marah.
"Sedang kan papa mama, orangtua macam apa yang tidak mempercayai anak sendiri." Balas ku lagi dengan lebih berani.
"Kamu... !!!" papa berncana memukul ku lagi namaun berhenti di udara.
"Pukul!!, pukul pa, biar kalian semua puas!" Teriak ku maarah dalam tangis dan putus asa.
"Kamu keluar dari rumah ini, dasar anak tak tau untung dan bikin malu!!!." Bentak papa mengusir ku.
Sontak aku kaget setengah mati, dan hati ku semakin sakit bagaikan di sayat-sayat. Aku berdiri dan pergi bergegas membereskan barangku dan pergi dari rumah.
"Mau kemana kamu?." Tanya Papa tiba-tiba dan paman sudah pergi dari rumah.
"Pergi. kan papa sendiri yang mengusir ku dari rumah. Lagian aku juga nggak sudi tinggal dengan orang-oaramg yang tidak mempercayai ku." Kataku dingin dan langsung bergehas sendiri.
Aku yang keluar malam-malam dan tidak tau mau pergi kemana, memilih bermalam di sebuah hotel yang murah untuk tidur malam ini dan besok pagi mencari tempat tinggal baru.
Setelah mandi aku sudah sangat tidak sabar untuk mencerita kan nya pada kedua sahabat ku Neiya dan Linda karen akau yakin mereka akan mau mendengarkan ku dan percaya padaku.
Aku mengalbil HP ku dan menchat mereka dalam grou kami bertiga
"Hai, sahabat aku lagi sedih nih." Kau memulai chatan.
Mereka tidak membalas di chat. Karena naya aku menghubungi mereka secara peri badi satu-satu tapi tak ada yang merespon mereka hanya berkata sedang sibuk, tidak bisa sekarang.
Lalau aku maklum, dan besok nya aku menghubungi mereka lagi dan berharap ada yang merespon nya, namun itu sia-sia jangan kan merespon pesan ku hanya di baca saja.
"Mungkin lagi sibuk pikir ku." Dalam hati sambil menenagkan hati yang mulai gundah.
Besok nya aku menghubungi lagi.
"Hei Neiya, Linda, kalian pa kabar, aku mau cuhat nih." Kata ku lagi.
Namun kali ini di balas.
"Apa an sih Lili, ganggu banget." Bals Linda dengan ketus melalui audio.
"Iya, nggak tau kita lagi sibuk, kalau mau curhat besok-besok aja pas kita lagi nggak sibuk." Balas Neiya sama ketus nya dengan Linda.
"Hhahah, maaf. aku nggak tau kalian sibuk. Maaf ya.." Kubalas dengan Audio lagi.
Setelah mengirim itu mereka tidak merespon ku lagi, aku duduk di sudut ruangan sambil melipat kaki menagis sendiri tanpa bersuara hati ku sangat sakit, kecewa, marah, sedih. Tapi aku tak tau harus bercerita pada siapa.
Ayah yang begitu kukagumi mengusirku dari rumah.
Ibu yang begutu kusayangi tidak memberi pembelaan untuk ku.
Saudara laki-laki, dan permpuan ku yang menjadi sandaran ku malah mengabai kan ku.
Teman-teman yang begitu kupercayai dan ku pedulikan malah menjauh dan tak mau mendengar.
Padahal aku selaunjadi gudang cerita mereka, menjadi telinga yang selalu siap menanggung cerita mereka kapan pun mereka mau.
Tapi..... saat aku butuh merka semua pergi menjauh dan mengabai kan ku.
Malam ini aku peegi ke tempat kerja ya itu sebagi penyanyi pengisi di sebuah Cafe mewah.
"Mohon perhatian nya semua." Kataku memulai acara.
Semua orang di sana memfokuskan perhatian nya padaku.
"Kali ini saya akan menyanyikan lagu ciptaan temanku, saya harap kalian semua tidak keberatan, lagu ini di sampai kan pada Sahabat dan keluarganya.." Jelas Lilia.
Semua orang tampak setuju dan mulai memainkan gitar nya.
"Sakit... Aku sakit.... Hati ini terasa sakit, ingin ku berceritaaaaaa. Tapi pada siapa...,
Pada Ayah...Ibu...!!!, Atau kakak....., bagimana caranya jika mereka tak percaya pada ku....
ooooooowwwoooooooo.
Ingin ku bercerita pada sahabat, Tapi...... mereka mengabaikan kan ku, tak peduli....,
Aku selalu menjadi telinga yang menamoung semua cerita mereka. tapi hanya bisa jadi telinga yang takbisa bicara.......
Owwwoooooooo.
Bagai mana cara nya agar mereka percaya dan mau peduli pada ku...., harus kah ku pergi memohon pada mereka!!!!!!!
Kumau di percaya, kumau di lihat, ku mau di dengar, bukan hanya mendengar....
Sudah terlalu lelah, sudah terlalu letih aku selalu menjadi telinga yang tak bisa berbicara..........,
TERIMA KASIH"
Lili mengakhiri lagunya denga berlinag air mata. dan di sambut dengan tepuk tangan meriah oleh para pelanggan merasa puas dan tersentuh oleh lagu Lili.
Namun tidak hanya itu, ternyata Ayah, ibu ,dan sudara nya, beserta kedua teman nya menonton dengan sengaja di Video call oleh Lilia untuk menyampai kan pesan isi hatinya.