Dia terjungkal dengan darah segar menyembur dari mulutnya yang lebar. Matanya membulat seolah hendak meloncat keluar, suara erangan menyayat hati membangkitkan kengerian yang luar biasa.
Boleh kan jika aku ingin membalaskan dendam atas semua yang telah ia lakukan padaku? Dia telah menghancurkan hidupku, keluargaku dan masa depanku.
-----------------------------------
Sudah dua jam aku mengikuti langkahnya sejak dia keluar rumah tadi. Saat yang aku tunggu-tunggu sejak beberapa hari ini, menguntit kemanapun dia pergi dengan harapan dia tahu kalau aku mengikutinya lalu berbalik badan menghadapku, memarahiku, mengeluarkan sumpah serapah, dan menatap mataku dengan pandangan tajamnya yang menusuk ke jantung, seperti yang dulu selalu dia lakukan padaku.
Tapi sudah dua jam ini dia seolah tidak melihatku, mengabaikan kehadiranku. mengacuhkanku. Aku tahu dia tahu aku mengikutinya tapi dengan sengaja dia mengabaikanku. Mungkin aku sudah tidak berarti apa-apa lagi baginya.
Dengan pandangan yang tak lepas darinya aku terus menguntitnya hingga dia naik ke dalam sebuah bus. Bersegera aku mengikuti langkahnya dan mencari tempat duduk yang berhadapan dengannya.
Dia duduk di kursi dekat jendela, pandangannya menatap ke luar. Sebentar kemudian dia mengeluarkan gawai dari dalam tas yang sedari tadi bergantung di pundaknya.
“Ya, halo…” suara cemprengnya terdengar jelas, “Ya, nanti aku ke sana, ini masih di jalan. Tunggu saja!” klik dia menutup panggilan di gawainya.
Pandangannya kembali tertuju ke luar jendela.
Seketika aku mendapat ide. Aku akan meneleponnya agar dia melihatku dan menatap mataku. Aku ingin melihat matanya yang selalu memancarkan sinar kebencian padaku, aku ingin membuat mata itu meloncat keluar dari tempatnya dan sujud di kakiku.
Dia, wanita yang sekarang sedang aku kuntit, yang sekarang berada tepat di depanku, adalah wanita kejam yang telah menghancurkan kehidupanku, menyiksaku selama bertahun-tahun dengan membuatku hancur dan terhina.
Dia memikat ayahku ketika ibu sedang sakit-sakitan dan memerlukan perhatian dari ayah. Dia membawa ayahku pergi jauh dari rumah dan melupakan aku serta ibu tanpa iba sedikitpun.
Hanya perlu waktu kurang dari satu bulan setelah kepergian ayah ibu meninggal dunia dipangkuanku. Aku, bocah berumur 6 tahun yang tidak mengerti apa-apa hanya mampu menangis dan meraung memanggil-manggil ibu yang sudah hilang nafas. Dunia runtuh saat itu menimpa punggungku yang rapuh tanpa ada tempat untuk berteduh.
Setelah kepergian ibu, ayah kembali ke rumah bersamanya dan kemudian berkuasa seolah dia adalah seorang ratu dan tiba-tiba saja aku menjadi budaknya yang harus melayani apa maunya.
Bertahun-tahun aku hidup di bawah kendalinya tanpa pembelaan sedikitpun dari ayah. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah, pergi mencari apa yang dia mau, memijatnya ketika dia lelah, merawatnya ketika sakit, dan semua itu aku lakukan tanpa mengenal waktu. Bila aku melakukan kesalahan maka cacian, umpatan, tendangan bahkan kurungan akan aku jalani. Aku harus menahan lapar berhari-hari, menangis, hingga menggigil demam tanpa ada seorangpun yang peduli.
Kesewenang-wenangannya semakin menjadi ketika ayah akhirnya meninggal dunia. Saat itu usiaku menginjak 15 tahun. Dia semakin menindasku di rumahku sendiri. Dia membawa laki-laki lain untuk bersenang-senang dan aku menjadi pelayan bagi mereka. Tragis sekali nasibku! Hingga suatu hari akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah, meninggalkan semua milikku untuknya termasuk keperjakaanku.
Dendam membara di dadaku. Ya dendam pada seorang wanita yang memiliki sorot mata kejam dan bengis, yang mulutnya lebar dan selalu mengeluarkan cacian, dendam pada seorang wanita yang jiwanya bukan wanita.
Sekarang, setelah 5 tahun aku berkelana, aku kembali dengan membawa dendam membara yang akan aku lampiaskan padanya melalui kekuatan super yang kini aku miliki. Selama 5 tahun pengembaraanku, aku berguru dan bersekutu dengan iblis untuk memiliki kemampuan membalaskan semua sakit hati ini, sakit hati pada seorang wanita yang telah menghancurkan keluarga dan masa depanku. Tak peduli bahwa ilmu untuk membalaskan sakit hati ini harus ditukar dengan nyawaku. Lagipula apa yang harus aku pertahankan dari hidupku yang tiada arti ini, hidup yang hanya sebatangkara dan penuh kepedihan.
---
Tuut….. tuut…. Tuut….
Terdengar gawainya berdering. Dia menjulurkan tangannya ke dalam tas, sebentar saja dia mengalihkan pandangannya kepadaku. Mata kami bertemu!
Kutatap tajam mata yang memancarkan sinar kebencian itu dalam-dalam. Dan, imajinasikupun mulai bermain! Ya, dengan pikiranku kulakukan apa yang ingin kulakukan padanya. Kusalurkan kemampuanku melalui tatapan dan kucengkeram jiwanya dalam genggamanku.
Pada awalnya, dia tidak bisa berkedip hingga matanya terasa perih, beberapa menit kemudian matanya mulai memerah dan berair. Tatapannya terpaku pada mataku. Dia berusaha sekuat tenaga untuk berkedip tapi tak mampu. Semakin dia berusaha semakin kaku kelopak matanya.
Dia mulai merasa sakit yang luar biasa di jantungnya, seperti diremas-remas, ngilu dan perih. Sesak mulai ia rasakan. Dia mulai mengerang sambil memegang dadanya yang terasa mengembung. Darah bergejolak di dalam tubuhnya. Rasa sakit yang datang tiba-tiba membuatnya ingin menangis. dia ingin menjerit dan meminta tolong pada orang-orang yang ada di dalam bus, tetapi mulutnya kelu. Tak sepatah katapun keluar.
Matanya masih memandangku tapi sekarang bukan sinar kebencian yang ada di sana melainkan pancaran rasa sakit yang tak terperi. Kubiarkan dia menikmati rasa sakit itu hingga menembus tulang.
Ah! Sudah cukup aku membuatnya tersiksa, biarkan dia merasakan sisanya!
Kuhembuskan nafas dan kukedipkan mataku. dan seketika saja dia menjerit dan terjungkal dengan darah segar menyembur dari mulutnya. Matanya menonjol seolah hendak loncat dari tempatnya. Tangannya erat mencengkeram dada.
Segera saja kehebohan terjadi di dalam bus, semua orang terkejut dan segera menghampiri untuk melihat apa yang terjadi dan membantunya. Bus pun berhenti.
Aku tersenyum sinis padanya. Sudah selesai! Ya sudah selesai semuanya! Sakit hati ini telah terbalaskan tanpa perlu teriakan atau cacian. Dia sudah mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan. Aku telah berhasil membalaskan sakit hati ibu. Aku puas!
Dengan langkah gontai aku turun dari bus menjemput senja menyongsong kehidupanku yang telah berakhir.
Simple Hayati
Oktober 2021