Sebenarnya ini cerita lama. Baru ketemu, ngumpet disudut folder. Daripada bulukan mending di share di mari Hehehe
Budayakan vote dan koment yang membangun yah.
mampir juga di story saya yang lain ya,
salam hangat, Yamazakura
***
Pukul 20:22. Suasana di sepanjang komplek pertokoanku mulai sepi. Aku pun sudah jemu. Aku melongok keluar, benar-benar sepi. Aku pun berniat menutup toko. Tiba-tiba seseorang mengagetkanku.
"Maaf, sudah mau tutup yah?" katanya, hampir seperti bisikan. Seketika aku menjatuhkan tangan dari rolling door yang mau aku tutupkan.
"Ah, iya," jawabku dengan napas kaget, agak gelagapan.
"Saya butuh beberapa kosmetik," ucapnya memelas. Ia seorang lelaki berpakaian biasa. Geraknya lemah. Meski ada sedikit gelagat tidak baik, aku menyilahkan dia masuk. Ia pun masuk dan langsung menyebutkan beberapa merek dan jenis kosmetik yang tentu aku tahu dan semuanya tersedia.
"Satu lagi, coba lihat lipstik itu, tapi yang warnanya terracotta."
Wow! Tidak sangka, lelaki sederhana ini memesan begitu banyak kosmetik dan yang membuatku bertanya-tanya adalah, dia begitu hafal merek dan jenis kosmetik yang ia pesan. Bahkan meneliti keasliannya.
"Sudah, berapa semuanya." Lelaki itu hampir tidak pernah mengangkat wajahnya.
"975 ribu," kataku sambil membungkus.
"Ini."
"Terima kasih." Setelah menyelesaikan transaksi, ia pun berlalu.
"Rejeki memang kadang tak terduga, Alhamdulillah," ucapku dalam hati. Tidak lama kemudian, aku pun benar-benar menutup toko dan bergegas naik angkutan.
Sesampainya di rumah, aku disambut Ayah yang sedang asik nonton bola dengan teman-teman kantornya. Dan perlu dicatat, semua teman Ayah itu tidak ada yang seusia Ayah. Mereka muda-muda dengan dandanan ala profesional muda. Malam yang panjang, berisiknya Ayah.
Pagi pun kembali terjadi, secangkir lemon tea dan sepotong pisang molen menemaniku. Seperti biasa, sebelum membuka toko, aku nge-teh dulu di cafe si Bertha, di samping toko. Tiba-tiba, dengan langkah gontai. Laki-laki yang semalam membeli satu set kosmetik padaku itu. Kini duduk terhalang satu meja di hadapanku. Ia memesan kopi. Sepertinya, Bertha mengenalnya. Terbukti, Bertha sendiri turun tangan dan mengajak ngobrol sejenak. Ku perhatikan tampang lelaki itu. Pucat. Tampak pakaiannya juga masih sama seperti yang semalam. Oblong warna hitam pudar yang lusuh. Matanya yang sayu tampak merah.
"Mungkinkah ia tidak tidur semalaman?" Kuperhatikan juga, ujung-ujung jarinya tampak kemerahan dan kotor. Seperti orang habis menyembelih ayam.
"Ah, ngapain juga, aku memperhatikannya. Ia pasti sudah punya istri. Buktinya, semalem ia beli kosmetik wanita padaku. Tapi kenapa wajahnya begitu muram??" Otakku benar-benar sulit untuk dijinakkan.
"Apakah ia habis bertengkar dengan istrinya, lalu tidak tidur semalaman? Terus noda merah di tangannya itu?? Jangan-jangan???
"Kebakaran! Kebakaran." Terdengar orang-orang berteriak dan lantas berhamburan.
"Telpon pemadam!" kata seseorang pada seseorang lainnya.
"lakukan sesuatu??" Tampak Bertha celingukan ke arah yang ditunjuk orang-orang.
"Bertha, kios siapa yang terbakar?" Aku pun turut melonjak menghampiri Bertha.
"Sepertinya bukan kios, ayo!" Bertha yang penasaran menarik lenganku. Setelah tampak lokasi yang mengepulkan asap itu, Bertha menghentikan langkahnya.
"Itu kan, rukonya bang Handi?" ujar Bertha begitu antusias.
"Kamu kenal?"
"Itu, itu yang tadi ngopi di depanmu, itu, itu Handi." Bertha menarik aku kembali dan kami pun berlari.Ternyata yang dimaksud sudah tidak ada. Hanya tinggal cangkir yang masih hangat dan selembar uang terselip.
"Kamu tahu gak kemana dia?" Aku asik dengan prasangka buruk tentang lelaki itu. Seketika aku bergegas kembali ke arah lokasi kebakaran itu.
"Arti? Kamu mau kemana? Artika! Hey! tunggu..." Bertha tidak aku hiraukan. Perasaanku mengatakan, lelaki itu telah bertengkar hebat dengan istrinya, lalu ngamuk dan membakar ruko dan mungkin istrinya turut ia bakar. Noda merah di tangannya? Mungkin istrinya masih bisa diselamatkan. Serampangan sekali dugaanku.
Tapi aku begitu yakin. Api mulai menjalar ke lantai dua. Menghabisi gorden dan mulai melalap kusen, pintu bawah sudah habis dan jatuh dan hancur jadi serpihan arang. Beberapa orang tampak menyiramkan air dan kebanyakan orang-orang hanya menonton.
"Akankah aku juga menonton? Sementara petunjuk itu datang padaku, ah." Tiba-tiba aku putuskan meloncat masuk kelingkaran api.
"Arti!!!" teriak Bertha. Aku seperti mendapat kekuatan yang mengalahkan ketakutanku. Aku naik ke lantai dua. Syukur, tangganya terbuat dari beton bukan dari kayu. Sesampainya di lantai dua, kembali aku mencari bukti atas dugaanku. Tapi, tidak ada siapa-siapa. Atau dia sudah menjadi mayat dan dibakar untuk menghilangkan jejak.
"Paling tidak akan aku seret keluar mayatnya." Pandanganku mulai kabur dan mataku pedih. Asap mengusai ruang lingkup dengan cepat.
"Uhuk, uhuk!!" Aku masih penasaran. Niatnya menyelamatkan orang, alih-alih aku hanya mendapati seonggok lukisan di tengah ruangan.
"Prayy!" kaca jendela pecah.
"Hey! Kamu, sini! Apinya semakin membesar." Beruntung, seseorang datang. Biar gak percuma, aku bawa saja lukisan itu. Tidak lebih dari satu jam, api berhasil dipadamkan. Aku yang masih tidak percaya atas apa yang sudah aku lakukan, hanya bisa bengong dan menikmati omelan Bertha dengan hati beku.
Selesai mandi dan meminjam pakaian Bertha, aku hanya termenung meratapi kebodohanku. Dan lukisan itu tidak jemu-jemu aku pandang. Seolah pemilik mata dalam lukisan itu juga memandangku. Aku pun mengamati lukisan itu dari dekat, sangat dekat. Tercium aroma bedak, lalu? Aroma lotion?
"Astaga!" Lukisan ini dibuat dengan kosmetik. Warna kulit sosok wanita dalam lukisan ini terbuat dari bedak dan mungkin dicampur lotion, warna merah bibirnya menggunakan lipstik. Garis matanya, eyes shaddownya.
"Hebat banget nih yang ngelukis!"
Sore kemudian. Dari dalam toko, aku perhatikan Bertha sedang berbincang-bincang dengan laki-laki setengah tua. Tidak lama kemudian, si Bertha tampak melangkah menghampiri. Aku sok cuek saja.
"Arti, sini, sonoh samperin bapaknya bang Handi," ujar Bertha dengan penuh semangat sambil menarikku.
"Apaan sih?"
"Yaaa...? Dia pengen terima kasih doang atau bagaimana kek, pokoknya dia pengen ngomong ama kamu." Kamipun menghampiri lelaki setengah tua itu.
"ini lho Om, orangnya, cantik kan?"
"Gila, dasar biang rese kamu Bertha," gerutuku dalam hati.
"Ini om Teo. Om, ini Arti." Ingin sekali aku jitak si Bertha.
"Silahkan duduk Arti, senang bertemu kalian. Terima kasih Bertha."
"Sip! Saya pamit dulu ya Om. Maklum, lagi sibuk."
"Oh iya silahkan silahkan," senyum orang tua itu.
"Oh iya Pak, Saya hanya menyelamatkan sebuah lukisan, sebentar saya,"
"Tidak usah, simpan saja. Bapak cuma mau bicara saja sama kamu.
"Bicara? Maksudnya?" pikirku benar-benar tidak mengerti. Tiba-tiba Bertha datang dan menghidangkan makanan. Ini lho Pak, menu spesial yang tadi saya ceritakan." mesemnya si Bertha.
"Apanya yang spesial, cuman sayuran layu diacak-acak sama ayam suir," hatiku.
"Jangan-jangan si Bertha ngomong yang engga-engga sama nih orang tua?"
Pipit-pipit beterbangan dari tiang-tiang ke dahan-dahan. Dunia masih berputar sebagaimana mestinya. Gelap pun menjalari puncak-puncak gedung, atap demi atap, hati demi hati. Aku gelisah, aku tidak bisa tidur, senyum wanita dalam lukisan itu terus membayang. Aromanya? Seolah ia hadir dalam kamarku.
"Ayo Arti," ujar Pak Teo di muka ruko Handi yang gosong itu. Entahlah, alasan apa yang membuatku mau diajak kesini sama orang asing ini. Padahal, seperti Bertha katakan. Orangtua ini mengira aku ada hubungan spesial dengan anaknya.
"Apa dia pernah cerita soal Bapak sama kamu Arti?"
"Ah tidak, belum," jawabku ragu. Sepertinya, kebodohanku menarikku masuk lebih dalam lagi. Aku hanya tidak tega, mendapati orang tua ini. Lagipula ia sedang dalam bencana. Aku tidak mau menambah penderitaannya dengan mengatakan, aku tidak ada apa-apa dengan anaknya dan lalu ini! Ambil saja lukisannya.
"Arti,"
"Eh, iya Pak?" kami sudah di dalam, di antara puing-puing dan arang.
"Selama ini, Bapak hanya bisa memperhatikannya dari jauh. Dia sangat kecewa dan menyalahkan Bapak atas kepergian ibunya," cerita pak Teo. Tampak jelas kepedihan menggurat di wajah tua itu yang mulai berkeriput.
"Ia lari dari rumah dan rupanya ia mewujudkan cita-citanya yang dari kecil ini yang tidak pernah saya restui. Dulu. Tanpa sepengetahuan saya ia mondok di sebuah sanggar lukis." Aku hanya menyimak. Ia terus bercerita sambil membersihkan sebuah lemari pajangan dan mengamati isinya.
"Sampai akhirnya, seorang wanita hadir dalam kehidupannya dan mengajaknya berkunjung pada saya. Kami pun baikan. Saya sangat senang dan ingin segera menimang cucu. Tapi," sampai disitu pak Teo sejenak merapikan asa dalam dadanya yang tiba-tiba haru. Ku dapati ia lantas menghela napas. Seolah melapangkan dada dan segera memapar kepedihan dalam hatinya.
"Tapi, ternyata kenyataan mengatakan lain. Istrinya ternyata mengidap penyakit dan tidak bisa tertolong lagi. Mungkinkah ia tidak bisa menerima kenyataan dan lantas kini ia menghancurkan segalanya?"
Apa yang harus aku lakukan untuk menghiburnya. Siang kemudian, kami menikmati makan siang. Tapi bukan di cafe si Bertha.
"Ah, begini kah rasanya kalo punya mertua." Aku jadi lucu sendiri. Besoknya, aku sudah ada di dalam toko lagi dan memperhatikan lukisan itu. Lagi dan lagi. "Ini pasti lukisan istrinya. Ah, kapan yah? Aku ada yang mencintai seperti ini." Khayalanku mendadak tinggi. Tapi lantas jatuh lagi ke bumi. Bertha datang menggangguku.
"Duh pahlawanku lagi ngapain nih." tanya Bertha dan sungguh, aku tidak perlu menjawabnya.
"Kamu tuh pelit yah. Kenapa kamu menyembunyikan hubungan kamu dengan bang Handi."
"Denger yah Bertha. Sini aku buka kupingmu lebar-lebar,"
"Eit!"
"Aku tuh kenal aja engga sama tuh orang."
"Tapi alasanmu menerobos masuk ke dalam api itu, tidak bisa aku terima. Semua orang pun pasti tidak akan ada yang percaya."
"Aku tahu! Aku memang bodoh."
"Baiklah, anggap aku percaya kamu sebodoh ini. Tapi, kenapa juga kamu mau menemani pak Teo ngobrol dan melihat-lihat ke sana dan kalian jalan-jalan?"
"Orang lagi kena musibah, masa dicuekin. Lagipula kamu yang maksa aku untuk menemaninya."
"Ya aku kira?"
"Apa?!"
"Iya maaf. Tapi masalahnya sekarang, pak Teo nunggu kamu tuh di cafe. Katanya dia minta ditemani ngejenguk bang Handi."
"Apa???"
"Katanya dia tidak sanggup bila harus melihat Handi sendirian. Kasian tau."
"Iya kan! Tapi???" aku jadi bingung sendiri. Otakku benar-benar seperti mau pecah.
"Tapi bagaimana bila Handi bertanya pada bapaknya siapa aku?"
"Tapi katanya, semalam Handi mau menemuimu. Menunggu sampai kamu tutup toko Tapi tiba-tiba ia urung karena muntah darah. Seseorang membawanya ke rumah sakit." cerita Bertha. Sungguh aku tidak mengerti.
"Kenapa Handi mau menemuiku?"
Makanya tadi aku nanya lagi juga? Aku tidak percaya kamu tidak ada hubungan apa-apa dengannya." Pecah sudah otakku.
Lorong demi lorong kami lalui. Sampai akhirnya seorang perawat menuntun kami ke sebuah kamar yang serba putih dan seseorang terlentang di dalamnya dengan selang infus
"Masuklah dulu, biar bapak tunggu di sini." Entah apa yang mendorongku hingga melangkah sejauh ini. Cuma satu yang pasti.
"Kenapa ia hendak menemuiku semalam???" Selangkah lagi aku benar-benar di samping lelaki aneh ini. Wajahnya yang putih begitu bersih. Sangat bersih. Astaga, tampan juga.
"Aku tidak tahu kenapa bisa sampai di sini.Tolong, bangunlah. Ada yang harus aku katakan. Aku benar-benar bodoh!
"Maaf, aku sudah merepotkanmu." Suara itu? Perlahan Handi membuka mata. Kaku sudah tubuhku. Lidahku pun kelu. Aku malu setengah mati.
"Tadi malam, saya hendak menjelaskan semuanya. Tapi," Mendadak Handi menghentikan kata-katanya dan menatapku. Menjatuhkan bintang-bintang dihatiku. Ya Tuhan, Cool banget nih cowok.
"Entah bagaimana saya menjelaskannya. Saya memang sengaja membakar tempat saya itu dan menarik perhatian kamu. Saya sedang di puncak karir dan hidup saya juga sedang di puncak pertaruhan. Ini seperti jurus terakhir. Lukisan-lukisan yang saya anggap bagus sudah saya pindahkan ke galeri dan sengaja saya tinggalkan satu lukisan terbaik saya dalam posisi aman. Supaya nanti bila kini saya mati. Lukisan itu punya cerita tersendiri. Dan tentu daya jual bisa tinggi. Ini semacam trik pemasaran kalo dalam dunia bisnis."
"Ayahmu mengira aku wanita yang dekat denganmu," ucapku meluncur begitu saja dan memang begitu adanya.
"Biarlah begitu, kasian Bapak. Setidaknya kalo saya mati, dia punya teman." ucap Handi. Mendengar ucapan Handi yang ini aku merasa muak.
"Kamu egois. Seharusnya kamu minta maaf sama ayahmu! Hidupmu bukan hanya untukmu." Tanpa terasa, nada ucapanku meninggi.
"Maaf, saya tahu masalah pribadimu. Minta maaflah pada Ayahmu."
" Mungkin Tuhan memaafkan Bapak atas kematian ibu saya. Tapi saya? dan lagi, Tuhan tidak akan memaafkanku atas kematian istriku."
"Dan Ayahmu akan menghabiskan masa tuanya dengan mengerikan bila ia tidak kamu maafkan." Sejenak kami saling bungkam. Sampai akhirnya dua sudut mata Handi melinangkan air telaga syurgawi.
"Maaf, panggilkan Bapak." Aku sangat senang mendengarnya. Bergegas aku membawa pak Teo ke sisi Handi.
"Tolong, pegang botol infusnya. Maksud saya, buka dari tiangnya. Tolong pegang sebentar. Aku menurut apa yang dikatakan Handi. Perlahan Handi bangkit. Pak Teo tidak kuasa lagi membendung haru.
"Maafkan Bapak nak, orangtua macam apa Bapak ini. Tidak tahu anak sendiri mengidap penyakit seperti ini." Tangisan itu, tangisan yang membuncah dari seorang Bapak. Handi terus bergerak perlahan sampai aku membantunya turun. Lalu Handi membungkuk perlahan sampai bersujud dikaki Ayahnya.
"Maafkan Handi Pak," Suara Handi terdengar tunjam. Sial! Aku turut terharu dan mataku rembang tiba-tiba.
Seorang laki-laki tampak memperhatikan kami dari balik kaca. Aku seperti sudah tidak asing dengan wajahnya, lagak berpakaiannya yang seperti profesional muda pegawai kantoran. Tapi siapa? Aku tidak sanggup mengingat. Mataku jadi lamur. Setitik air pun ku-seka dari sudut mata ini.
***
Aku hanya seseorang diantara puluhan orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar ini.
"Yang membawaku kemari adalah adalah seorang 'teman' ayahmu," tutur Handi di saat terakhir hidupnya di kamar rumah sakit itu.
"Sebenarnya ia sudah cukup lama mengawasimu. Ia tidak hanya melaksanakan perintah ayahmu untuk senantiasa memperhatikan dan menjagamu dari jauh. Selain memang rumahnya tidak jauh dari kawasan pertokoan kita. Ia menaruh hati padamu."
Aku masih berjalan diantara keramaian. Langkah kakiku yang jangkung begitu meyakinkan. Teman ayahku yang di maksud adalah Firman. Dia juga yang mengantar-jemput aku ke upacara pemakaman Handi. Lewat dia juga, sepucuk surat wasiat dari Handi sampai ke tanganku. Surat wasiat yang membuat kini aku berjalan dari cafe Bertha menuju ruko yang baru direnovasi.
"Mama!" Anakku memanggil dari punggung pak Teo. Firman, suamiku yang lagi membereskan barang dagangan kami menghentikan kegiatannya dan menerima bungkusan yang aku bawa. Anakku loncat kepangkuan. Lantas kami makan siang. Dengan menu special, potongan sayuran layu yang diacak-acak dengan ayam suir.