Saat cinta hanya sebatas ilusi belaka, anginpun enggan untuk menyapa. Terlebih awan yang telah berjalan. Dia enggan mengingatkan akan kegagalan dua insan dalam menjalin hubungan.
"Rena, aku mencintaimu! Kenapa kamu tega meninggalkanku?," Reno berteriak di bawah teriknya siang.
Seakan membiarkan sinar mentari untuk membakar kulitnya saat ini. Laki-laki itu tidak peduli pada apa yang telahterakhiri. Mungkin tidak semua cinta sempurna, tapi Reno berharap cinta bisa menyatukan mereka.
Rena, wanita yang telah meninggalkan Reno tengah menengadah. mengamati langit yang celalu cerah. Dalam benaknya, wanita itu berpikir apakah langit tidak pernah lelah?.
Hanya satu aksara yang membuat nama keduanya berbeda. Berawal dari secuil cinta, namun berakhir dengan sebongkah luka.
Sekali lagi Reno berteriak, tapi suaranya semakin serak. Ingin rasanya meneteskan air mata, namun bulir itu kering dengan sendirinya.
"Apa salahku hingga kamu lebih memilih dia dari pada aku ren? Aku mencintaimu. Bahkan nyawapun relaku pertaruhkan untukmu," Reno putus asa dengan segalanya, dan akhirnya laki-laki itu memilih mengikhlaskannya.
Malam itu, saat dimana harusnya menjadi malam terindah untuk Rena mendadak menjadi duka untuk dirinya. Ralat, bukan hanya dirinya tapi juga untuk mama dan Reno sang kekasih yang sangat dicintainya.
Di depan kedua mata, Rena melihat sang mama hampir disetubuhi oleh laki-laki yang terobsesi memilikinya. Tentu saja Rena tidak tega. Wanita itu mengorbankan dirinya. Memilih menggantikan peran sang mama yang saat ini berada di bawah tindihan laki-laki tuna susila.
"Ma, biarkan Rena yang menggantikan mama. Rena tidak mau mama melakukannya. Biarkan Rena yang merasakan semuanya. Mama cepet pergi dari sini," teriak Rena saat wanita itu baru saja melihat adegan ibu paruh baya disobek gaun mahalnya.
Tanpa sadar Rena merasa air matanya menggenang, lalu tanpa permisi segera turun meminta perlindungan. Rena menangis karena mama juga dengan hidup yang selalu jauh dari kata bahagia.
"Plak" satu tamparan mendarat di pipi mama, dilakukan oleh laki-laki yang ingin menikmatinya.
"Pergi dari sini dan suruh anak semata wayangmu ke sini atau kalian akan ku bunuh malam ini!," ancam laki-laki misterius yang berada jauh di hadapan Rena.
Sorot mata itu, Rena tidak mengenalnya. Namun tidak merasa asing dengan cara memandangnya. Mama tidak akan membiarkan Rena menjadi korban, tapi anak semata wayangnya itu meyakinkan. Sejenak Rena lupa jika dia memiliki Reno yang selalu ada di sampingnya.
Mama pergi dengan rasa yang tidak bisa dicerna. Wanita paruh baya itu juga terluka karena putri kesayangannya harus mengorbankan diri karena dirinya. Mungkin ini yang bisa dilakukan Rena untuk membalas jasa mama hingga dia tumbuh dewasa.
Setelah mama pergi, Rena memberanikan diri untuk mendekat. Laki-laki di hadapannya mulai membuka topengnya. Menampakkan wajah tampan namun sadis menurutnya.
"Aku Rendra," ucap laki-laki itu seraya mengulurkan tangannya.
"Rena," jawab Rena dengan tangan yang terlihat jelas gemetar.
"Jangan takut, aku tidak akan memaksa jika kamu tidak mau melakukannya."
"Apa maksudmu?."
"Aku mencintaimu."
"Plaaakkk" Rena mendarwtkan lima jarinya ke pipi kanan Rendra membuat laki-laki itu sontak mengepalkan tangannya.
"Aku mencintaimu, tapi kamu menamparku hah?."
"Aku tidak mengenalmu, lalu bagaimana bisa aku bersikap baik padamu. Oh ya, apakah anda laki-laki tuna susila? Anda baru saja memperkosa wanita yang jauh lebih muda dari anda."
Rena mengamati Rendra tanpa terkecuali. Wanita itu tidak habis pikir dengan laki-laki dihadapannya saat ini.
"Kurasa anda seusia dengan saya."
"Tepat nona, aku terlanjur minum obat terlarang dan saat ini aku harus melakukan pelepasan."
Rena melotot dibuatnya. Wanita itu hampir akan melayangkan tamparan untuk kedua kalinya, tapi Rendra lebih dulu menahan.
Mendongakkan wajah Rena, mencium bibir dan dengan rakus memangsa semua yang ada. Malam berlalu dengan sempurna bagi yang menikmatinya. Namun Rena merasa malamnya sangat menyiksa.
Wanita itu terpaksa menyerahkan mahkota kepada laki-laki yang entah siapa. Dia sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti ini. Tidak juga menyadari apa yang terjadi.
Hari demi hari Rena jalani. Anehnya, sejak malam itu seakan Rena lupa dengan sosok Reno. Entah mengapa perlahan mulai tumbuh benih antara dia dan juga Rendra. Laki-laki yang dia sama sekali tidak bisa dimengerti.
Suatu hari, di siang yang terik Rendra mengajak Rena untuk jalan bersama. Tanpa diduga, wanita itu bertemu dengan Reno yang dulu sangat disayanginya. Namun kini rasa itu pudar dengan sendirinya seolah Rendra telah berhasil mengikisnya.
"Rena? Siapa dia? Dari mana saja kamu? Selama ini aku tidak bisa menghubungimu, bahkan di rumahnya aku tidak menemukan siapa-siapa. Mama tidak ada di sana. Sebenarnya kalian dimana?," Reno mencerca Rena dengan pertanyaannya.
Bukan Rena yang menjawab, tapi Rendra yang membuka suara.
"Dia milikku," ucap Rendra seraya menarik pinggang Rena agar menghimpit tubuhnya.
"Apa maksudmu?."
"Jangan menyentuh Rena-ku."
"Renamu? Bahkan saat ini dia dia saat aku memeluknya," Rendra semakin angkuh dalam bicara.
Reno mengamati tubuh Rena, lebih terisi dari sebelumnya. Lalu apa? Wanita itu diam saat laki-laki lain menyentuhnya.
"Maaf," hanya itu kata yang mampu terucap.
Rena menundukkan kepalanya, tak kuasa menahan genangan yang ha. pir keluar dari tempatnya. Untuk saat ini, bayangan Reno kembali hadir. Semua kenangan berjalan beriringan seolah kamuflase baru saja terpatahkan.
Seribu untaian tersusun rapi dalam benak, tapi entah Rena tidak mampu mengucapkan. Wanita itu terlalu bodoh berada di dekat Rendra. Laki-laki itu mungkin saja telat meracik ilmu pelet di dalamnya.
"Reno, aku mencintaimu saat di dekatmu. Tapi aku membencimu saat jauh darimu. Aku tidak tau apa maksud semuanya. Aku terluka, sama sepertimu. Hadirmu serasa dekat, tapi nyatanya semua sudah tercekat. Aku tidak tau apa yang telah dilakukan Rendra, aku ingin menepisnya. Namun aku tidak kuasa menolakknya," batin Rena.
"Pergi dan jangan kembali, aku tidak ingin melihatmu lagi," ucap Rena lalu bergegas meninggalkan Reno yang masih mencerna semua ucapan Rena.
Begitu bodoh Rena mencintai laki-laki yang hingga detik ini tidak dimengerti. Rena telah menjadi budak cinta seminggu ini. Wanita itu juga selalu menikmati saat Rendra menjamahi.
Aneh, bahkan Rena tidak bisa menolak pesona Rendra. Apalagi saat mereka bercinta. Rendra seolah telah menyatu dalam tubuhnya.
"Apa mungkin aku mulai mencintainya? Tapi semua tidak bisa dicerna hanya dengan logika," Rena masih saja menyangkan perihal Rendra.
Tibalah saat Rendra menginginkan tubuh Rena yang selalu dijamahnya.
"Cup" Rendra mulai menyatukan bibirnya dengan milik Rena.
Bersiap menikmati setiap inchi tubuh yang berada di hadapannya saat ini. Seperti biasa, Rendra selalu puas dengan permainan Rena.
"Bersiaplah menjadi tuna susila, aku akan mengirimmu ke sana. Tugasku untuk mendidikmu sudah selesai. Selebihnya kamu belajar saja saat mendapat klien ternama."
"Apa?," Rena tercekat dengan ucapan Rendra.
Selama ini benih cinta mulai ada. Rena meninggalkan Reno demi Rendra. Dan sekarang baru saja wanita itu menyadarinya.
"Bodoh," umpat Rena.
"Cup" Rendra kembali mencium bibir Rena dan menggerakkan jemarinya untuk membuat Rena kembali bergairah.
Satu permainan lagi selesai, saat Rendra mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Bersiaplah wahai calon tuna susila."