Marion mengajak klarista ketempat biasa mereka bertemu.semuanya tampak biasa-biasa saja sampai klarista merasa sesuatu yang menjanggal dihati nya.hal itu ia rasakan saat Marion ingin mengatakan sesuatu kepadanya saat itu juga.
"Klarista"
"Iya,Marion"
"Aku mau jujur sama kamu"
"Jujur tentang apa Marion"
"Hubungan kita"
"Memangnya apa yang sedang terjadi dengan hubungan kita,bukannya baik-baik saja Marion"
"Iya aku tau,tapi ada hal yang harus aku katakan sekarang,ini hal sangat penting"
"Jangan menakutkanku seperti itu Marion,sebenarnya apa yang ingin kamu katakan kepadaku hari ini"
"Aku hanya ingin kita......."
"Tunggu,apa kamu ingin mengakhiri hubungan kita ini Marion"
"Iya klarista,aku ingin mengakhiri hubungan kita"
"Kenapa harus mendadak seperti ini Marion ,padahal hubungan kita baik-baik saja kan,jadi untuk apa kita harus mengakhiri ini semua"
"Aku sudah bosan dengan hubungan ini klarista"
"Kalau kamu mulai bosan dengan hubungan kita ,aku akan memperbaiki ini semua Marion"
"Sudah tidak ada yang bisa diperbaiki lagi klarista"
"Pasti bisa Marion ,percaya sama klarista,kita bisa membuat hubungan kita yang membosankan ini menjadi lebih berwarna lagi,klarista janji"
"Kamu harus menerima keputusan ini klarista,semuanya sudah tidak bisa diperbaiki lagi"
"Tapi perpisahan ini terlalu mendadak Marion,klarista belum siap menerima ini semua.pasti Marion cuma bercanda kan"
"Aku serius klarista,kita sudahi saja hubungan kita ini dan sekarang kita mulai semuanya masing-masing,bisa kan "
"Kenapa harus sekarang Marion,kita bisa bicarakan ini baik-baik kan,jangan seperti ini Marion"
"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi,semuanya sudah jelas.kita berpisah mulai hari ini juga.kamu harus terima keputusan ini dan jangan membantah lagi"
"Tapi Marion"
"Mulai sekarang kita jalani kehidupan kita masing-masing dan jangan pernah kita bertemu lagi"
"Aku belum bisa menerima ini Marion,semuanya terlalu cepat bagiku"
"Seiring berjalannya waktu kamu juga bisa menerima keputusan ini dan mulai melupakan aku,jadi berusahalah klarista"
"Tidak semudah itu Marion,kamu bisa mengatakan itu dengan gampang tapi aku belum bisa secepat itu melupakan mu begitu juga kenangan indah kita"
"Kamu pasti bisa melupakan ku begitu juga kenangan indah kita"
"Jangan seperti ini Marion,kalau kamu ada masalah cerita sama aku jangan bersikap aneh seperti ini"
"Semuanya sudah jelas,aku ingin kita berpisah
"Aku belum siap menerima semua ,kita lupakan saja apa yang kamu katakan hari ini dan kembali kehidupan kita semula"
"Kamu jangan seperti ini,aku sudah jelas mengatakan ini semua jadi terima saja Klarista dan lupakan aku"
Setelah mengatakan hal itu Marion pergi tanpa menoleh sedikit pun kearah klarista dan terus berjalan menjauhinya tanpa ada rasa bersalah yang terlihat dari raut wajahnya saat itu.Beberapa hari kemudian setelah perpisahan yang mengejutkan itu klarista merasakan hal aneh yang terjadi pada dirinya dan hal itu juga dirasakan oleh teman sekamarnya.
"Klarista,wajahmu kenapa pucat sekali apa yang sedang terjadi Padamu"
"Aku baik-baik saja Mia"
"Tapi wajahmu pucat sekali,apa tidak sebaikanya kita periksakan ini ke dokter saja,aku takut terjadi sesuatu sama kamu"
"Tidak apa-apa,nanti juga habis minum obat pasti sembuh"
"Kamu yakin"
"Iya"
"Kalau terjadi sesuatu sama kamu jangan lupa hubungi aku ya"
"Pasti"
"Kalau begitu aku pergi kekampus dulu"
"Iya,hati-hati dijalan"
"Aku pergi,jangan lupa hubungi aku kalau terjadi sesuatu sama kamu"
"Iya"
Beberapa jam kemudian setelah kepergian Mia,klarista merasakan kepalanya sangat pusing dan perutnya sedikit mual.
"Apa yang sedang terjadi padaku,kenapa penyakit ini tidak juga sembuh.apa sebaiknya aku menghubungi Mia untuk mengantarkanku kerumah sakit,tapi kalau aku menghubunginya sekarang pasti dia sedang sibuk dikampus.sebaiknya aku pergi sendiri saja,aku tidak perlu selalu merepotkan Mia seperti ini.ayo klarista kamu pasti bisa,semangat"
Klarista mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan dengan sekuat tenaga klarista mencoba tapi tetap saja tidak bisa dan hal itu membuat kondisinya semakin bertambah buruk.klarista tak sadarkan diri di kamarnya.saat Mia tiba dirumah,dia masuk kedalam dan betapa terkejut dia saat melihat klarista tergeletak tak berdaya diatas tempat tidurnya.
"Klaristaaaaa,klarista sadar,apa yang sedang terjadi Padamu kenapa jadi seperti ini, pasti ini semua gara -gara Marion dia harus membayar semua ini sadar klarista ,Mia mohon cepat bangun klarista jangan buat Mia semakin takut,bangun klarista"
Klarista sedikit tersadar
"Mia"
"Apa yang terjadi klarista,kenapa kamu tidak menghubungi ku"
"Aku tidak ingin merepotkanmu"
"Jangan bicara seperti itu justru aku lah yang selalu merepotkanmu"
"Tapi Mia"
"Jangan bicara lagi,kita pergi kerumah sakit sekarang aku tidak ingin hal buruk terjadi lagi menimpamu"
"Iya Mia,maaf membuatmu khawatir"
"Sudah jangan dibahas lagi,masih bisa jalan kan,kalau tidak bisa aku akan pinjamkan kursi roda untukmu"
"Tidak perlu,aku bisa berjalan"
"Baiklah,tapi jalannya pelan-pelan saja"
Mia membawa klarista kerumah sakit untuk memeriksa kondisinya
"Dok,bagiamana kondisi teman saya?"
"Ibu dan bayi sehat,dia hanya kelelahan saja.istirahat sebentar juga bisa pulih lagi"
"Ibu dan bayi,maksud dokter apa?.saya tidak mengerti"
"Teman ada sekarang sedang hamil dan usia kandungan nya sekarang sudah 2 bulan.jadi tolong dijaga asupan makanannya supaya bayi didalam kandungannya sehat"
"Dokter bercanda kan"
"Untuk apa saya bercanda semuanya benar"
"Mia"klarista menangis mendengarkan hal yang mengejutkan itu
"Kenapa bisa jadi seperti ini klarista ,siapa yang sudah melakukan ini semua Padamu.apa Marion si cowok brengsek itu yang melakukannya"
"Mia,apa yang harus aku lakukan sekarang.aku takut Mia"
"Kalau benar si brengsek Marion yang melakukannya kita harus pergi kerumahnya dan meminta pertanggung jawaban atas anak yang ada didalam kandunganmu"
"Jangan Mia"
"Kenapa?,si brengsek itu harus bertanggung jawab klarista.besok kita harus kerumah nya"
"Aku bisa menyelesaikan masalah ini jadi kamu jangan khawatir Mia"
"Apa boleh ikut dengan mu?"
"Jangan Mia,aku bisa pergi sendiri"
"Kamu yakin bisa pergi sendiri,kalau terjadi sesuatu Padamu bagaimana"
"Aku pasti bisa mengatasinya Mia,aku tidak ingat kamu terlibat dalam masalah ini"
"Tapi aku peduli"
"Iya aku tau itu,tapi aku tidak ingin sesuatu hal buruk akan menimpamu"
"Tapi aku sungguh ingin membuatmu"
"Aku bisa kok,kamu jangan khawatir"
"Kalau terjadi sesuatu jangan lupa hubungi aku"
"Iya pasti"
"Jangan bohong lagi,harus segera hubungi aku kalau ada hal buruk yang menimpamu"
"Iya,iya"
Klarista mencoba tetap tenang menghadapi masalah yang terus bertubi-tubi menimpa dirinya.
Setelah mengetahui hal tersebut klarista mendatangi rumah Marion .
"Permisi"
"Cari siapa?"
"Marionnya ada Pak"
"Tuan Marion tidak ada disini sekarang. Ada keperluan apa Anda kemari?"
Seseorang berbicara kearah mereka berdua.
"Siapa Pak?"
"Anda orang yang mencari tuan muda Marion"
"Suruh dia masuk saja Pak"
"Baik tuan"
Klarista akhirnya masuk kedalam rumah itu.
"Silahkan duduk"
"Terima kasih"
"apa keperluan kamu kemari?"
"Saya hanya ingin bertemu Marion. Apakah dia ada?"
"Apa hubunganmu dengan anak saya?"
"Saya mantan pacarnya Marion"
"Kalau sekarang hanya manta pacarnya saja untuk apa kamu kemari.apa ada hal lain yang ingin kamu bicarakan?"
"Tentu ada. Apa saya bisa bertemu dengannya?"
"Sepertinya tidak bisa, karena sekarang Marion tidak ada dikota ini lagi"
"Kemana dia?"
"Saya sudah menyuruhnya untuk melanjutkan sekolah keluar negeri. Ada yang ingin kamu sampaikan untuknya?"
"Kalau begitu saya permisi dulu"
"Kenapa harus terburu-buru, bukanya tadi kamu ingin mengatakan sesuatu"
"Lain kali saja, setelah saya bertemu Marion"
"Kenapa harus nanti. Sekarang juga bisakah. Katakan saja apa yang kamu mau akan saya berikan tapi kamu jangan lagi mengganggu anak saya"
"Saya datang kemari tidak mengharapkan apapun dari Anda, saya kesini hanya ingin bertemu Marion"
"Semua yang datang kemari juga berkata yang sama tapi ujungnya-ujungnya juga pasti menginginkan sesuatu. Sebutkan saja apa yang kamu inginkan"
"Saya tidak ingin apa-apa dari Anda"
"Kamu yakin"
"Tentu, saya datang kemari hanya ingin bertemu Marion dan tidak menginginkan hal lain"
"Apa yang anak saya lalukan terhadap mu?"
"Dia sudah"
"Cukup saya tau apa maksud kamu datang kemari"
"Saya belum menjelaskannya kenapa Anda bisa tau"
"Itu sudah terlihat dari bentuk perutmu yang membesar"
"Dari mana ada bisa tau tentang ini"
"Saya sudah meminta orang untuk selalu mengawasi kamu. Jadi saya tau apa maksud kedatangan kamu kesini"
"Jadi selama ini Anda memata-matai saya"
"Apapun yang menyangkut kehidupan anak saya, saya harus selalu mengawasinya"
"Anda sangat keterlaluan"
"Ini demi kebaikan anak saya. Apapun akan saya lakukan. Sebagai gantinya berupa jumlah uang yang kamu butuhkan untuk membiayai kehidupan mu. Katakan saja berapa jumlahnya. Akan saya berikan"
"Saya tidak butuh uang Anda"
"Jangan jual mahal seperti itu, sebut saja berapa jumlah nominal uang yang kamu butuhkan akan saya berikan"
"Saya tidak mengharapkan apapun. Yang saya mau hanya Marion bertanggung jawab dengan anak saya itu saja"
"Hahaha, kamu yakin ini anaknya Marion"
"Ini anaknya Marion"
"Kamu butuh uang berapa?,50,60,70,80,90,atau 100 juta. Katakan saja berapa jumlahnya jangan jual mahal kamu. Ini penawaran terbaik saya sekarang"
"Sudah saya katakan berapa kali bahwa saya tidak butuh uang Anda. Yang saya mau hanya anak Anda bertanggung jawab atas anak ini"
"Tidak semudah itu. Saya tidak mengizinkan hal itu"
"Anda sangat keterlaluan, bayi ini adalah cucu Anda"
"Saya tidak yakin kalau anak yang ada didalam perutmu itu adalah cucu saya bisa saja itu anak dari laki-laki lain"
"Saya berkata yang sejujur-jujurnya bahwa ini adalah anaknya Marion bukan dari laki-laki lain"
"Saya tidak percaya apapun yang kamu katakan bisa saja kamu berbohong dan hanya ingin mendapatkan uang dari saya"
"Saya berkata jujur tentang hal ini"
"Kamu ini benar-benar keras kepala,berapa kali saya katakan,saya percaya bahwa bayi itu adalah cucu saya. Jadi sebaikanya kamu pergi dari sini dan jangan ganggu anak saya lagi. Cepat pergi dari sini saya tidak ingin melihat wajahmu lagi"
"Saya tidak akan pergi dari sini sebelum bertemu Marion"
"Marion sudah tidak berada dikota ini lagi"
"Pasti Anda berbohong. Dimana Anda sembunyikan Marion"
"Saya sudah katakan bahwa Marion sudah tidak ada dikota ini lagi.sebaiknya kamu pergi saja dari sini selagi saya bersikap baik"
"Saya tidak akan pergi sebelum bertemu Marion"
"Selagi saya memperlakukan kamu dengan baik, kamu sebaikanya cepat pergi dari sini"
"Saya tidak akan pergi ke manapun sebelum bertemu Marion"
"Jadi rupanya kamu ingin cara yang kasar"
"Saya tidak perduli"
"Pak satpam"
"Iya tuan"
"Bawa perempuan ini keluar dari rumah saya"
"Baik Pak, ayo non"
"Saya tidak ingin pergi dari sini, Pak lepaskan tangan saya"
"Seret saja kalau dia membantah Pak, pokoknya saya tidak mau perempuan ini berada dirumah saya lagi"
"Baik Pak"
"Saya tidak ingin pergi Pak satpam. Izinkan saya disini. Saya hanya ingin bertemu Marion Pak"
"Tidak bisa non, sekarang non sudah menganggu ketenangan tuan jadi sebaikanya non pergi saja dari sini"
"Tapi Pak satpam.izinkan saya sebentar saja disini. Saya hanya ingin bertemu Marion"
"Maaf non tetap tidak bisa, sebaikanya non pulang saja saya tidak ingin tuan berbuat macam-macam pada non. Saya mohon non sebaiknya pulang saja ini juga demi kebaikan bayi non juga kan"
Karena tenaganya tidak cukup untuk melawan Pak satpam, akhirnya klarista keluar dari rumah itu dengan wajah yang sedih.
"Sayang maafkan mama ya hari ini kita tidak bisa bertemu papa dan juga eyang tidak suka kalau kita berada disana. Maafkan mama ya sayang. Mama tidak bisa berbuat apa-apa lagi"
Klarista mulai putus asa karena usahanya untuk bertemu Marion sia-sia saja.
"Kalau sperti ini sebaikanya aku mati saja. Aku tidak ingin bayi ini menderita seperti apa yang sudah terjadi kepadaku. Dan jalan satu-satunya adalah mengakhiri hidup"
Seseorang melihat kejadian itu dan mencoba menghentikan klarista yang ingin mengakhiri hidupnya itu.
"Jangan, itu hal yang berbahaya"orang itu menarik tangan klarista
"Biarkan aku mati, jangan hentikan aku untuk pergi dari dunia ini"
"Tapi hal yang kamu lakukan itu berbahaya"
"Biarkan aku mati dan jangan hiraukan aku"
"Jangan bertindak bodoh seperti ini"
"Biarkan aku pergi, biarkan aku pergiiiiiiiii"
"Jangan bertindak bodoh yang mencelakai diri mu sendiri"
"Ini bukan urusanmu, jadi abaikan saja aku dan pergi dari sini"
"Mengabaikan kamu sama saja aku melakukan kesalahan besar. Aku tidak akan melakukan hal itu"
"Aku harus bagaimana sekarang"
"Semuanya bisa diatasi dengan kepala dingin bukanya dengan bertindak gegabah seperti ini"
Klarista hanya bisa menangis dipelukan orang asing itu. Ternyata pertemuan keduanya menjadi sebuah ikatan yang menyatukan mereka berdua tanpa sengaja.
"Klarista, keluar kamu sekarang"
"Ada apa?"
"Kamu perempuan tidak tau malu ya"
"Salah saya apa?"
"Kamu itu perempuan pembawa sial"
"Saya tidak mengerti apa yang sedang ibu bicarakan"
"Bayi itu tanpa ayah kan"
"Dari mana ibu tau soal ini"
"Semua orang sudah tau klarista, jadi sebaikanya kamu pergi saja dari sini"
"Iya,cepat pergi dari sini jangan buat tempat kami sial gara-gara perempuan seperti kamu"
"Kalau saya diusir dari sini saya harus tinggal dimana ibu-ibu"
"Itu bukan urusan kami yang jelas kami mau kamu pergi dari sini sekarang juga"
"Cepat pergi dari sini kami tidak ingin melihat perempuan seperti kamu berada lingkungan kami"
"Cantik-cantik kok tingkah nya begitu"
"Iya saya setuju"
"Cepat kemasi barang-barangmu dan cepat pergi dari sini"
"Kasih saya waktu bu, saya akan pergi dari sini secepatnya"
"Jangan beri dia waktu, usir sekarang saja"
"Iya usir saja sekarang"
"Jangan usir saya, saya mohon"
"Usir dia"
"Usirrrrrr"
"Jangan suruh dia tinggal disini lagi"
Seseorang menghampiri keributan itu.
"Hentikan,apa kalian lakukan kepadanya"
"Jangan ikut campur kalau kamu tidak tau apa-apa"
"Saya sudah tau dan sekarang saya yang akan bertanggungjawab"
"Pasti kamu ayah dari bayi ini"
"Iya saya ayahnya"
"Miko, ini bukan salahmu jangan bertindak bodoh seperti ini"
"Jangan bicara seperti itu aku akan bertanggung jawab atas bayi ini kamu jangan khawatir kan hal ini"
"Tapi Miko"
"Ini semua demi kebaikan mu dan bayi ini. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang akan menyakiti kalian berdua"
Orang asing yang ia temui waktu itu sekarang menjadi suaminya sekarang. Miko memperlakukan anak klarista sepertinya anak kandungnya sendiri. Miko sangat menyayangi anak itu. Cinta mulai tumbuh diantara keduanya setelah kelahiran Arkan Bapina khandara putra mereka.
"Ibu Arkan pergi kesekolah dulu"
"Iya sayang ku. Hati-hati dijalan"
"Adik bayi, kak Arkan kesekolah dulu kamu jangan nakal ya nanti sepulang sekolah kita main lagi"
"Sayang aku juga pergi"
"hati-hati dijalan"
"Ayah"
"Iya Arkan,kenapa?"
"Ayah belum pamit sama adik bayi"
"Oh iya,ayah sampai lupa.adik bayi kesayangan ayah.ayah pergi kerja dulu ya kamu jangan nakal-nakal disana"
Setelah berpamitan keduanya pergi.tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu.
"Tok...tok...tok"
"Sebentar"
Klarista tampak terkejut saya melihat seseorang yang berada didepan pintu rumahnya.
"Marion"
"Klarista"
"Apa yang kamu inginkan sekarang?"
"Aku Merindukanmu klarista"
"Tidak ada yang harus dirindukan lagi Marion. Semuanya sudah berakhir. Lebih baik kamu pergi dari sini"
"Maafkan aku klarista, dulu aku telah meninggalkan kamu begitu saja"
"Semuanya sudah aku lupakan Marion. Jadi sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang juga"
"Maafkan aku klarista, kalau aku tau kita punya bayi aku tidak akan meninggalkan kamu seperti itu"
"Semuanya sudah berlalu Marion sekarang aku sudah bahagia sekarang jadi untuk saat ini jangan ganggu kebahagiaan ku"
"Aku tau, tapi tolong jangan bersikap dingin seperti ini aku juga terluka saat kita berpisah klarista"
"Semuanya sudah terlambat Marion, sebaiknya kamu pergi saja dari sini aku tidak ingin mendengarkan apapun yang kamu bicarakan. Karena semuanya sudah berakhir"
"Tapi klarista"
"Sudah terlambat Marion kamu hadir sekarang karena semuanya tidak akan merubah apapun"
"Apa yang terjadi dengan anak kita?"
"Lupakan kami"
"Aku tidak bisa klarista"
"Lupakan kami dan pergi dari sini sekarang juga aku tidak ingin orang-orang salah paham tentang hal ini"
Klarista membanting pintu dengan kerasnya. Marion tak bisa berbuat apa-apa lagi dan akhirnya Marion pergi meninggalkan rumah itu.telepon rumah klarista berdering.
"Selamat siang"
"Selamat siapa Pak"
"Apa benar ini rumah Pak Miko khandara?"
"Iya, saya istrinya. Ada perlu apa ya Pak?"
"Suami ibu mengalami kecelakaan"
"Bagaimana kondisi suami saya sekarang Pak"
"Kondisinya kritis bu, kami harap Ibu segera kerumah sakit"
"Kalau anak saya bagaimana Pak"
"Sepertinya anak ibu tidak ada ditempat kejadian"
"Kalau seperti itu saya akan segera kerumah sakit"
"Kami tunggu bu"
"Terima kasih Pak atas informasinya. Secepatnya saya akan pergi kerumah sakit"
"Iya bu"
Setelah mendengarkan kabar bahwa suaminya mengalami kecelakaan mobil. Klarista bergegas pergi kerumah sakit menggunakan sepeda motor miliknya. Dari kejauhan seseorang mengikuti klarista.
"Bagaimana kondisi suami saya dokter"
"Kondisi suami ibu sangat kritis,jadi ibu berdoa saja supaya suami ibu bisa melewati masa kritisnya"
"Sayang, kenapa bisa jadi seperti ini" klarista memegang tangan Miko
"Klarista"
"Kenapa kamu kesini?, tadi aku sudah menyuruhmu untuk pergi kenapa kamu masih ada disini. Kamu pasti mengikutiku kan sampai kesini"
"Biarakan aku disini, aku tidak akan mengganggumu lagi klarista"
"Klarista sayang"
"Miko, akhirnya kamu sadar juga. Kenapa bisa jadi seperti ini sayang"
"Maafkan aku sayang"
"Ini bukan kesalahamu,jadi jangan minta maaf seperti ini, cepatlah sembuh"
"Arkan mana?"
"Masih disekolah"
"Aku ingin bertemu dengannya"
"Biarkan saya yang menjemputnya"
"Dia siapa sayang?"
"Saya temannya klarista, jadi biarkan saya saja yang menjemput anak Anda disekolah"
"Terimakasih atas bantuannya"
"Beritahu saya dimana alamat sekolahnya, nanti saya langsung menjemputnya"
Setelah memberikan alamat sekolah Arkan. Marion pun pergi tempat itu untuk menjemput Arkan. Setibanya disana Marion bertemu seorang anak yang sedang menunggu didepan gerbang sekolah. Marion menghampiri anak itu.
"Permisi"
"Iya om,ada apa ya?"
"Kamu kenal tidak sama anak yang bernama Arkan"
"Untuk apa om mencarinya"
"Om mau menjemputnya"
"Om pasti orang jahatkan"
"Tidak"
Ponsel Arkan berdering.
"Halo ma"
"Arkan sudah dijemput"
"Belum ma, ayah kemana?.kok tidak menjemput Arkan"
"Terjadi sesuatu sayang"
"Maksud mama"
"Nanti mama jelaskan sayang. Kalau ada orang yang bernama Marion. Arkan pulang sama orang itu ya sayang"
"Iya ma"
"Mama tutup telepon dulu"
"Iya ma"
"Jadi kamu yang namanya Arkan"
"Nama om siapa?"
"Marion"
"Ayo pulang sekarang om"
"Tunggu"
"Apa lagi om?"
"Boleh tidak om peluk kamu sebentar saja"
"Untuk apa om?"
"Om hanya sedang Merindukan anak om"
"Memangnya anak om sekarang dimana?"
"Om juga tidak tau ada dimana"
"Yang sabar om, pasti nanti om bisa bertemu lagi anak om"
"Semoga saja. Jadi boleh tidak om peluk kamu sebentar saja"
"Iya boleh kok om"
Marion memeluk Arkan dengan erat dan tanpa sadar dari matanya mengeluarkan air mata.
"Om, kenapa menangis?"
"Om hanya bahagia saja"
"Jangan sedih om, pasti nanti om bisa bertemu anak om lagi"
"Iya, semoga saja ya Arkan"
"Ayo kita pulang sekarang om"
"Iya"
Marion membawa Arkan menuju kerumah sakit untuk menemui kedua orang tuanya.
"Om"
"Iya Arkan, kenapa?"
"Ini bukan jalan menuju rumah Arkan"
"Iya om tau itu"
"Terus kenapa kita harus pergi kearah yang salah om"
"Nanti juga Arkan tau"
"Om pasti orang jahatkan"
"Bukan seperti itu Arkan, hanya saja om belum bisa menjelaskan hal ini"
"Berhenti sekarang om, Arkan mau pulang sendiri saja"
"Jangan Arkan sebentar lagi kita juga sampai"
"Om pasti orang jahatkan, om pasti mau menculik Arkan dan memisahkan Arkan dari orang tua Arkan kan om"
"Tidak ada niat jahat sedkiti pun dari om untuk menculik Arkan, percaya sama om arkan"
"Om pasti berbohong kan"
"Om berkata dengan jujur Arkan"
Setelah mendengarkan penjelasan Marion akhirnya Arkan sedikit terdiam. Tak berapa lama kemudian akhirnya mereka berdua sampai ditempat tujuan.
"Rumah sakit?,siapa yang sakit om"
"Nanti juga arkan tau siapa oranganya"
"Apa mama sudah melahirkan?, kalau begitu Arkan punya adik sekarang. Arkan senang banget om"
Marion hanya bisa terdiam dan bisa berkata apapun. Tibalah mereka disebuah ruangan.setalah masuk ruangan itu Arkan tampak tekejut melihat ayahnya yang terbaring diatas tempat tidur itu bukanya mamanya.
"Ma, ayah kenapa?"
Klarista hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apapun lagi.
"Arkan, sudah pulang sekolah sayang"
"Ayah, ayah kenapa bisa seperti ini. Bukanya tadi ayah baik-baik saja waktu kita berdua pergi tapi kenapa ayah bisa seperti ini"
" Arkan peluk ayah"
"Ma, ayah kenapa?"
"Arkan sayang yang mama dan adik bayi untuk ayah ya sayang"
"Memangnya ayah mau kemana?"
"Ayah"
Belum sempat Miko menjelaskannya kepada Arkan, kondisi Miko kembali memburuk.
"Ma, ayah kenapa tertidur lagi"
"Sayang,sayang bangun, sayangggg"
"Ma, ayah kenapa?"
"Dokter, suster. Tolong suami saya"
"Ma, ayah kenapa?" Hanya kata-kata itu yang selalu Arkan ucapkan
"Maaf bu, suami ibu tidak dapat kami selamatkan. Kami turut berduka"
"Dokter pasti bohong, suami saya baik-baik saja"
"Kami berkata yang sejujurnya bu, maaf hanya sampai disini kami bisa menolong suami ibu. Karena ini semua sudah menjadi kehendak dari sang pencipta kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi"
"Sayang,sayang, jangan pergi seperti ini. Jangan tinggal kan aku"
"Aku turut berduka klarista"
"Ini semua kesalahan kamu Marion, seharusnya yang pergi dari dunia ini buka Miko tapi orang jahat seperti kamu yang harus pergi"
"Tapi ini sudah menjadi takdirnya klarista"
"Pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi, pergiiiiiiii"
"Ma,ayah kenapa?"
"Ayah baik-baik saja Arkan"
"Kalau ayah baik-baik saja kenapa ayah terus tertidur ma"
"Ayah cuma kelelahan saja sayang,jadi juga ayah bangun"
Hanya kata-kata itu yang bisa klarista ucapkan kepada anaknya.orang yang sangat ia sayangi telah meninggalkan dirinya,Arkan begitu juga bayi yang berada dikandungannya yang belum sempat melihat wajah ayahnya karena Miko khandara telah pergi untuk selama-lamanya.
🍄tamat🍄