"Ayah, kenapa begini? Bukankah ayah sudah membayar semua?" tanya Jingga kecewa.
"Ayah juga tidak tau Jingga, jangan banyak tanya, ayah sedang pusing" jawab Frans ayah Jingga sambil pergi meninggalkan Jingga.
"ayah, ayah mau pergi kemana?" tanya Jingga lagi. Namun tak ada jawaban.
Dia tertunduk lesu, bagaimana bisa uang yang selama ini dia dapatkan dengan susah payah tidak pernah di setorkan ke bank sebagai angsuran dari hutang-hutang ayahnya.
"ayah tega sekali, tidak tahukah ayah bagaimana sulitnya aku mendapat uang-uang itu hikz hikz" ucap Jingga di sela tangisnya. Sampai beberapa saat dia pun tertidur saking lelahnya.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk. Saat itu pula Jingga terbangun dari tidurnya.
"astaga, aku ketiduran!" monolognya
Tok tok tok. kembali suara pintu di ketuk terdengar lebih keras dari sebelumnya.
"sebentar" jawab Jingga sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Ceklek. Pintu terbuka dan betapa kagetnya Jingga melihat siapa yang sedari tadi mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Seorang pria dengan stelan jas rapi dan beberapa bodyguard dengan pakaian serba hitam, berbadan kekar dan berwajah sangar.
"selamat siang nona, benarkah ini rumah bapak Frans Ali?" tanya pria itu.
"be-benar tuan, ada yg bisa saya bantu. kebetulan saya Jingga, anaknya" jawab jingga sambil mempersilahkan pria itu masuk dan duduk.
"saya mengetahuinya nona" ucap pria itu datar.
"emmm, tuan ingin minum apa? biar saya siapkan" ramah Jingga.
"tidak perlu sungkan nona, saya hanya singgah sebentar untuk menyampaikan informasi penting" jelas pria itu masih datar namun terdengar tegas dan serius.
"info penting?" ucap Jingga
"benar nona, namun sayang sekali sepertinya bapak Frans tidak ada disini. Oh iya sebelumya perkenalkan saya Alex dari Folk's corps. Tujuan saya kemari hanya ingin menginformasikan sesuatu. Ini" ucap Alex sambil menyodorkan map.
"apa ini tuan?" Jingga binggung tampak ragu menerima map itu.
"anda akan mengetahui setelah membaca 2 lembar kertas di dalamnya nona" jawab Alex.
Deg!
Dunia seakan runtuh ketika Jingga membaca lembar pertama kertas itu. Lalu membuka lembar kedua dengan perasaan yang sulit untuk di gambarkan.
Di tempat lain seorang pria dengan senyum manisnya sedang menikmati teh hijau sambil membaca file yang baru saja dia terima.
"Lex, apa semua pekerjaanmu lancar hari ini?" tanyanya kepada Alex sang asisten.
"sedikit terhambat tuan" jawabnya dengan gusar. Bukan karena pekerjaanya yang tidak lancar, namun karena sang tuan muda yang tak biasanya tersenyum-senyum.
🌻Flashback on
"tu-tuan apa mak-maksudnya ini" tanya Jingga terbata menahan tangisnya.
"Bapak Frans Ali telah menjaminkan asetnya berupa rumah beserta isinya pada bank. dan perusahaan kami yang telah memenangkan lelang tersebut. Untuk itu, saya harap nona dan pak Frans kooperatif dengan meninggalkan rumah ini. Kami akan memberi waktu 2 hari sebagai kompensasi untuk nona dan pak Frans berkemas dan mencari bantuan lainnya." jawab Alex panjang lebar.
"2 hari?? Tuan bukankah itu terlalu sebentar. Tidak bisakah tuan memberi perpanjangan waktu??" ucap Jingga kalut. Tidak mengerti kenapa hari ini seperti hari yg buruk baginya.
"tidak nona" santai Alex
"tuan. tuan saya mohon beri kami tambahan waktu. setidaknya satu minggu. ya satu minggu saja tuan saya mohon"
Alex berpikir sejenak. Menimbang-nimbang apakah akan memberi mereka perpanjangan waktu atau tidak. Beberapa detik kemudia
"baik nona, anda bisa membicarakan perihal perpanjangan waktu dengan bos kami" putus Alex
Seketika Jingga sedikit lega. Paling tidak bertemu dengan bos dari Folk's corp akan mempermudah dirinya untuk bernegoisasi.
"baik. baik. terimakasih tuan terimakasih"
🌻flashback end
Keesokan harinya, langit tampak cerah, namun tak secerah suasana hati Jingga. Bagaimana tidak, rumah satu-satunya peninggalan almh ibunya sebentar lagi hanya akan tinggal kenangan. Rasanya seperti separuh dari dirinya lenyap. Lemas dan tak tahu harus bagaimana. Tapi, dia tidak boleh putus asa. Masih ada opsi lain jika dia bisa membujuk bos Folk's corp untuk bernegoisasi.
"yeahhh, aku pasti bisa!" sambil menarik nafas dalam dan mengepalkan tangannya menyemangati dirinya sendiri.
"semangaatt!!" imbuhnya.
Pukul 10.00 siang Jingga sudah sampai di alamat yg di berikan Alex kemarin. Nampak megah gedung bertingkat itu dengan tulisan besar 'Folk's Corp's' mempertegas betapa kayanya perusahaan ini. Dengan langkah tegap dan mantap Jingga menuju meja resepsionis.
"permisi nona" sapa Jingga
"silakan nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu dengan ramah.
"saya ingin bertemu dengan tuan Vino. apakah beliau ada?" jawab Jingga
"mohon dengan nama lengkapnya nona" pinta sang resepsionis
"emm sebentar" seru Jingga menggambil kartu nama dari dalam tas nya.
"Alvinoavry Geroge Ga Folk barrareno" jelas Jingga
"maaf nona, itu adalah CEO perusahaan ini. apakah nona sebelumya sudah ada janji?" tanya resepsionis lagi.
"sudah nona, kemarin saya bertemu dengan tuan Alex" jawab Jingga sambil tersenyum menutupi rasa gugupnya.
"baik dengan siapa nama nona?"
"ah aku? Jingga"
"baik tunggu sebentar, nona bisa duduk di sebelah sana" kata resepsionis lalu menelfon sekertaris Folk's corps.
Beberapa menit kemudian..
"nona Jingga, anda sudah di tunggu tuan muda Vino di lantai 17, mari saya antar" ucap resepsionis yg mempunyai name tag Sarah.
"baiklah" Jingga mengikuti resepsionis menaiki lift umum.
Ting. sampailah mereka di lantai 17.
"sampai nona, ruangan tuan muda di sebelah sana" menunjuk satu ruangan dengan pintu bertuliskan CEO.
"baik, terimakasih banyak nona Sarah" seru Jingga.
"eh?" si pemilik nama kaget.
"itu" sambil menunjuk name tag sang resepsionis.
"aah. kembali kasih nona"
mereka saling menundukan setengah badan sebagai tanda hormat.
Pelan namun pasti Jingga melangkah menuju ruangan CEO, tepat di depan pintu secara bersamaan pintu terbuka.
"oh astaga!" pekik Jingga kaget.
"maaf nona Jingga, silakan masuk" ucap Alex yang mengetahui kedatangan Jingga via kamera pengawas.
Agak ragu Jingga masuk ruangan CEO, kesan pertama adalah luarbiasa. Desain interior yang indah dengan tidak begitu bayak barang. Hanya ada lemari besar berisi buku dan dokumen, sofa, meja dan beberapa pot tanaman menambah nuansa elegan. Beberapa saat suasana hening. Hingga pada akhirnya Jingga memberanika diri membuka kata.
"tuan" ucap Jingga gemetar
Namun yang ia panggil masih membelakanginya.
"tuan saya...." ucapnya lagi namun terpotong ketika si pria yang dia panggil tuan mengangkat tangan. Tanda mengerti.
Hening kembali. Satu menit... dua menit. Jingga yang sudah kesal kembali angkat bicara.
"tuan, tidakkah anda menghargai tamu. tidak sopan membelakangi orang yang sedan bicara!" ucap jingga
Sontak sang asisten kaget. Baru kali ini ada orang yang berani kepada tuan mudanya.
"TUAN!" memekik keras "jika anda tidak mau menemui saya, maka saya akan pulang!" kesal Jingga sudah balik badan ingin pergi.
"silakan! jika kamu ingin rumah mu hancur beserta cafe kecilmu itu!" sang tuan muda berbicara.
Langkah Jingga terhenti seketika. Menelan ludahnya dengan kasar. "bagaimana dia tau aku memiliki cafe?" batinnya.
"maaf. maafkan saya tuan. saya salah" Jingga terbata.
"duduk!" kata Vino
Jingga menurut dan segera duduk. Disana dia bisa dengan jelas melihat sang CEO. Hidung mancung, garis wajah yang tegas, kulit putih bersih, mata tajam dan postur tubuh ideal pastinya.
"Ilustrasya Dilangit Jingga, nama yang unik" kata Vino
"orang kaya bisa tau segalanya" batin Jingga yang masih diam.
"katakan!" ucap Vino
"mmak-maksud anda tuan?" Jingga mulai tidak fokus. Masih terpana akan makhluk indah ciptaan Tuhan di depannya ini.
"dasar bodoh!" lalu membelakangi Jingga lagi.
Jingga yang binggung pun menatap Alex meminta pendapat. "gimana ini?" begitu arti tatapan Jingga. Alex hanya menaikkan bahunya sebagai tanda tidak tahu.
"bagaimana ini. aku harus bagaimana" batin Jingga panik. Salah sendiri tidak fokus. Jadi lupa apa yang mau di sampaikan. Di tengah kepanikan, akhirnya muncul ide gila. Jingga beranjak dari duduknya dan mendekati Vino.
Jingga duduk di lantai bersimpuh di depan Vino.
"tuan, kedatangan saya kemari ingin meminta kebaikan hati tuan untuk memperpanjang waktu" Astaga apa yang aku lalukan. ah biarkan yang penting buat mood manusia ini jadi lebih baik dulu. batinnya
Vino masih diam. Enggan menatap Jingga.
"tuan"
Masih diam
"tuan saya mohon" sambil mengantupkan kedua telapak tangannya. Vino belum bereaksi.
"tuan, kenapa diam! kemana suara tuan? apa di gondol tikus?!" kata Jingga sudah mulai kesal.
"apa! kau mau mati!" Vino bereaksi.
Satu orang yg ada di ujung sana sekuat tenaga menahan tawa. Siapa lagi kalau bukan Alex. Baru kali ini dia melihat tuan mudanya dikata-katai seorang gadis.
"tuan kenapa pelit sekali. aku hanya mau bernegoisasi. huh"
"aku sudah memberimu kesempatan untuk mengatakan, tapi kenapa kau masih bertanya?!"
"tuan tidak jelas makanya saya bertanya"
"kau ini bodoh atau apa? menemui orang seperti aku ini sangat sulit. jadi pastikan ketika sudah bertemu dengan ku, kau tau apa tujuanmu!" tegas Vino mulai emosi.
Sebenarnya Jingga sudah gentar. Namun berusaha ia tutupi dengan meremas ujung roknya.
"maafkan saya tuan"
"pergilah. aku sibuk!" kata Vino mulai membaca dokumen diatas mejannya.
"tuan maaf. bisakah saya minta waktu sebentar saja?"
"satu menit"
"10 menit"
"5 menit"
"7 menit"
"5menit atau tidak sama sekali!"
"ba-baik. baik tuan. dengarkan baik² ya tuan. saya sudah berfikir semalaman jadi saya mohon deal kan negoisasi saya ya??” ucap Jingga
"waktumu tinggal 4 menit!" jari Vino di angkat sejumlah empat.
"eh? baiklah" menarik nafas dalam lalu mulai berbicara.
"tuan, saya memiliki cafe di satu daerah. jika berkenan saya minta negoisasi dengan menukar rumah saya dengan cafe saya" jelas Jingga sengan satu tarikan nafas (kayak mau ujab qobul aja sih hahaha)
"HAHAHAHA" Vino hanya tertawa.
Merasa itu tidak sepadan Jingga mengusulkan opsi kedua.
"atau tuan beri kami perpanjangan waktu satu tahun untuk saya mengumpulkan uang agar bisa membeli kembali rumah itu"
"AHAAHAHAHA" kembali tertawa
"astaga..sepertinya opsi kedua tidak menarik juga" pikir Jingga dalam hati
"kalau begitu ini opsi terakhir saya tuan. saya bersedia menyerahkan cafe saya dan menjadi pegawainya tanpa di gaji selama yang tuan inginkan." ucap Jingga pasrah. Apapun yang terjadi, seberat apapun masalahnya dia tidak bisa melepaskan rumah juga cafe miliknya. Alasannya tentu bukan karena kenangan semata, namun ini adalah amanah dari sang ibu agar tetap menjaga rumah yang ibu dan ayahnya bangun sendiri. Soal cafe memang sama-sama tidak mudah untuk melepasnya begitu saja. Karena disana terdapat 37 karyawan yang merupakan penduduk sekitar cafe.
"tidak ketiganya" jawab Vino yang membuat Jingga tertunduk seketika. Air matanya hampir meleleh bukan karena dia lemah dan cengeng. Tapi dia sudah lelah, berfikir kemana uang yang ia berikan kepada ayahnya untuk menbayar angsuran di bank selama 3 tahun ini, berfikir bagaimana mempertahankan rumah yang menjadi amanah ibunya, berfikir bagaimana cara menyelamatkan cafe yang sudah ia bangun sedari nol dan berfikir bagaimana nasib ke 37 karyawannya. Semua itu membuatnya lelah dan kecewa. "ibu maafkan aku, aku sudah berusaha. tapi keadaan yang tidak berpihak kepadaku bu" lirihnya.
Samar-samar Vino mendengar gumaman Jingga.
Hening. Hanya terdengar deru nafas dari 3 orang yang ada di ruangan itu.
"baik kalau begitu tuan, silakan ambil rumah itu. berikan saya waktu satu minggu untuk berkemas" ucap Jingga seraya membungkukan setengah badan lalu pergi.
Di singgasana kebesarannya Vino masih mematung.
"Alex, cari alamat cafe itu beserta informasi sedetail mungkin. aku akan memintanya selepas makan siang nanti" perintah Vino
"baik tuan" Alex
Di rumah yang sebentar lagi hanya tinggal kenangan, Jingga memandang sekelilingnya. Ingatannya bermain dalam romansa ketika ibunya masih sehat. Makan bersama masakan ibu di meja yang tidak terlalu besar, berlarian kesana kemari, bergurau dengan ayah yang sangat menyayanginya. Tetapi itu dulu. Sang ayah berubah ketika Ranti ibu Jingga berpulang kehadirat Allah. Ayahnya menjadi orang yang jarang pulang, acuh, penyendiri dan suka mencari kesenangan dengan berjudi. Jadi begini lah awal mula mengapa rumah ini akan berpindah kepemilikan. Karena Frans banyak berhutang di bank dengan sertifikat rumah sebagai jaminan. Setiap bulan Jingga memberi ayahnya uang sebesar Rp. 10.700.000 untuk disetorkan pada bank, uang itu adalah penghasilan dari cafenya. Namunya kenyataan pahit yang ia dapatkan. Bukan terbebas dari hutang, Frans malah memakai uang yang sudah tiga tahun ini ia berikan dipakainya berjudi. Tak hanya itu, ayahnya diam² membawa wanita pulang kerumah dan 'bermain' bersama. Kekecewaan yang teramat sangat. Pahit di tinggal Ibu tercinta di umur 18 tahun, dan di umur 21th ia harus kehilangan rumah amanah ibunya.
Hanya tersisa satu milik Jingga, cafe yang berada di sebuah desa yang sejuk, tenang dan nyaman. Meskipun begitu cafe ini sudah melanglang buana dan terkenal dengan konsepnya yang unik ditambah menu yang lain dari cafe pada umumnya.
Lelah menangis, Jingga memutuskan untuk pergi ke cafe. Jarak antara rumah dan cafe di tempuh dengan waktu 3 jam. Jingga sampai menjelang sore dan memilih menghabiskan waktu sampai beberapa hari ke depan.
Hari berganti hari. Satu sore dua orang pria sedang terjebak macet.
"apa ini yang kau sebut jalan pintas lex?" gerutu Vino sebal.
"benar tuan. menurut gps" jawab Alex yang sudah merasa pegal pada kakinya.
"aarrgghhhh kenapa jalanan bisa seramai ini, tidak bisa kah kita kesana dengan heli?" Vino mulai mendengus.
"tidak ada heliped di sana tuan" jawab Alex
"kenapa tidak ada. ahh buang-buang tenaga saja!"
"tenaga tuan terbuang sia-sia jika terus mengerutu" skak Alex
"kau ini!"
4 jam kemudian sampailah mereka di sebuah cafe yang sangat asri. Papan namanya pun terbuat dari kayu. Afternoon Thea namanya. Tanpa ragu kedua pria tampan itu memasuki cafe.
"selamat datang tuan. silakan" sambut seorang wanita setengah membungkuk. Dan ketika ia menegakkan badannya, ia melihat jelas siapa mereka.
"tuan! kok bisa sampai disini?" tanya Jingga kaget.
"hai nona, apa kabar." sapa Alex dengan senyum menawannya
"kabar baik tuan Alex, silakan pilih tempat duduk senyaman tuan-tuan semua"
"tidak!" ketus Vino yang merasa di acuhkan. "temani aku berkeliling, sepertinya aku tertarik dengan Afternoon Thea" imbuhnya
Deg!
"Apalagi ini. Bukankah mereka sudah mendapatkan rumahku. Lalu dengan serakah ingin Afternoon Thea menjadi milik mereka. Tidak bisa! tidak akan ku biarkan" monolog Jingga dalam hati.
"baik tuan"
Merekapun mengelilingi Afternoon Thea sambil mengobrol ringan.
"sepertinya pelanggan disini sangat mencintai tempat ini" Vino memulai obrolan sambil indera pengelihatannya menyapu seluruh bagian cafe.
"hampir setiap hari mereka singgah disini tuan" jawab Jingga sambil tersenyum.
"hmm, semenarik apa?" tanya Vino. Pria ini memang sangat irit bicara.
"mungkin mereka mendapat ketenangan di sini" jawab Jingga lagi.
"bahkan tempat ini sangat jauh dari pusat kota" ucap Vino
"tetapi mereka selalu menyempatkan waktu kesini tuan. itu artinya, keramaian membuat mereka bosan bukan? hehehe" kekehan Jingga menular pada Vino dan Alex tanpa mereka sadari.
Memang benar, tempat ini sangat nyaman.
"udara disini masih sangat bagus" timpal Alex
"benar tuan Alex"
"hey, kenapa jika berbicara dengannya kau selalu menyebut namannya? kenapa denganku hanya memanggil tuan tuan?" dengus Vino panjang.
"maafkan saya tuan Vino"
"disini kenapa hanya buka pukul 2 siang sampai 8 malam? bukankah semakin ramai semakin banyak uang yang kau dapat?" tanya Vino
"karena menurutku itu jam paling tepat untuk quality time tuan. disini mereka bisa bebas menyampaikan apa yang ada di pikiran mereka melalui obrolan dengan kerabat, sahabat dan yang terkasih. lain kali tuan bisa mencobanya ketika sedan bosan dengan rutinitas. me time juga perlu agar otak dan panca indera kita tetap terjaga tuan." jawab Jingga panjang lebar. senyum selalu tercetak indah di bibirnya. Apapun yang berhubungan dengan Afternoon Thea, Jingga selalu antusias.
"fasilitas mu tidak terlalu banyak. tapi kenapa selalu ramai?" Vino mulai penasaran.
"meskipun begitu, mereka lebih menikmati kebersamaan atau sekedar menikmati waktu dalam kesendirian. televisi, gadget dan barang elektronik lainnya hanya akan membuat mereka teringat kembali akan rutinitas. padahal tujuan mereka kesini untuk ketenangan. sadar atau tidak, disini jarang ada sinyal tuan hahaha" jawab Jingga sambil tertawa
Secara otomatis kedua pria itu menggambil handphone dari saku jas mereka. Benar, tidak ada sinyal. Tanpa sadar mereka ikut tertawa
"lalu soal menu?" kali ini Alex yang mulai bertanya.
"ah, hanya macaron menu yang tidak lokal hahaha" Jingga tertawa yang mana lagi-lagi tawanya menular pada Vino dan Alex.
"selain sahabat, terkadang tahu bacem dan teh hangat juga bisa jadi teman setia tuan hihihi" kekeh Jingga diikuti tawa dari kedua pria itu.
"darimana kau dapat konsep semenarik itu?” tanya Vino
"entahlah tuan, awalnya aku hanya ingin orang di sekitar sini berhenti mencari bunga dan kayu untuk dijual di kota. tetapi lama kelamaan muncul ide begitu saja. pelanggan pun hanya satu dua. sampai bisa sebanyak ini mungkin mereka tau dari mulut ke mulut" jawab Jingga masih antusias
Tanpa sadar mereka sudah sampai di ujung cafe. Diam-diam Vino mencuri pandang pada Jingga.
"cantik" ucap Vino tiba-tiba
"eh?" Jingga
"oh tidak, maksudku tamannya sangat cantik" kilah Vino sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"ah terimakasih, karyawan disini yang selalu merawat" kata Jingga riang.
"berapa kau jual cafe ini?" pertanyaan Vino yang sontak membuat mata Jingga melotot kaget.
"apa?! aku tidak menjualnya tuan!" sentak Jingga
"hey turunkan nada bicaramu! aku hanya bertanya" ucap Vino
"tuan sudah mendapatkan rumah itu. mengapa sekarang tuan menginginkan cafe ini. tuan bahkan bisa membuat cafe yang jauh lebih bagus dari Afternoon Thea." dengus Jingga.
"aku bisa mendapatkan apa yang aku mau, apa kau lupa? dalam surat perjanjian tertulis seluruh aset akan di sita. bukankah cafe ini termasuk salah satunya?" cerocos Vino tanpa memandang lawan bicaranya.
Deg! Panas dingin tubuh Jingga hingga mengeluarkan keringat. Apa yang menjadi kekhawatirannya terjadi juga. Sekuat tenaga ia menahan tangis. Sepertinya takdir memang sama sekali tidak berpihak padanya. Sekarang dirinya sudah tidak mempunyai apapun lagi.
"jadi tuan datang kemari untuk menggambil semuanya?" tanya Jingga mencoba tegar.
"seperti yang kau katakan" jawab enteng Vino.
Alex hanya diam.
Tak berapa lama kedua pria itu pergi. Dan saat itu juga tangis Jingga pecah. Para karyawan panik dan binggung mengapa bos nya tiba-tiba menangis.
"nona apa yang terjadi?" tanya Yati salah satu karyawan Afternoon Thea.
"tidak ti, hanya teringat ibu" bohong Jingga, tak ingin semua tau bahwa saat ini dirinya bukan lagi pemilik cafe ini.
***
Satu minggu kemudian Vino benar-benar mengambil apa yang diinginkannya. Semakin Jingga memohon semakin senang hati Vino. Entah mengapa dia sangat senang melihat Jingga sering mendatanginya untuk memohon.
"tuan saya mohon..hikz" ucap Jingga entah keberapa kalinnya. Hari ini Jingga sudah 3 kali mendatangi ruangan Vino, namun Vino masih tetap pada pendiriannya