Namaku Keyla Andita Wijaya, aku adalah anak kedua dari pengusaha sukses Farhan Wijaya dan Runi Anita, Mamaku adalah seorang ibu rumah tangga yang super duper baik.
Setiap pagi Ia akan selalu bangun awal untuk menyiapkan sarapan kami lalu menyiapkan bekal untuk kami bawa ke sekolah atau tempat kerja. Itu terjadi dari waktu aku kecil hingga dewasa.
"Pagi Mama, pagi Papa," ucapku saat turun dari tangga, aku melangkah mendekat dan mencium pipi kanan papa dan pipi kiri Mama lalu aku berjalan memutari meja dan duduk di depan keduanya.
"Pagi cantik," ucap Papa yang selalu membuatku tersipu
Mama dan papa sangat memanjakanku sejak dulu, aku punya seorang kakak laki-laki tapi Ia sudah meninggal, kematian kakakku yang mendadak saat Ia bertugas jadi tentara sangat membuat orang tuaku terpukul, sejak itu kasih sayang sepenuhnya dicurahkan untukku.
*
Aku datang ke kantor Papa saat jam makan siang, karna ingin mengejutkannya jadi aku tidak mengatakan jika aku akan datang ke kantor.
Aku juga seorang pekerja keras seperti Papa tapi aku tidak bekerja di kantor Papa melainkan bekerja di kantornya Ando yang adalah pacarku tanpa diketahui orang tuaku.
Saat aku membuka kantor Papa, pandanganku langsung tertuju pada sosok laki-laki yang mempunyai fitur wajah sempurna, Ia sangat tampan, berkulit putih, hidung mancung, alis rapi dan juga potongan rambut yang super keren.
"Sayang kamu datang?" ucap Papa membuyarkan lamunanku
"Uhu..." aku mengangguk
Laki-laki itu hanya menatapku sekilas lalu Ia pamit pergi.
Setelah laki-laki itu pergi aku langsung duduk di depan Papa.
"Ayo makan siang bersama di restoran biasa," ajakku
"Apa Mama sudah berangkat?" tanya Papa
"Ya, mungkin Mama sudah sampai di restoran," kataku
"Ya sudah ayo kita langsung pergi sekalian ada yang ingin Papa dan Mama bicarakan sama kamu," kata Papa yang langsung bangkit dari duduknya.
"Apa?" tanyaku penasaran
"Nanti bicara di sana," jawab Papa
Aku menggandeng lengan Papa saat berjalan keluar dari ruangan Papa. Saat kami keluar aku dan Papa berhenti berjalan karna ada Om adik dari Papa yang sedang berdiri menatap kami.
"Ada apa?" tanya Papa sedikit tidak senang saat melihat Om
"Tidak, hanya ingin mampir melihat Sela," jawab Om
Sela adalah sepupuku yang saat ini bekerja di kantor Papa, entah apa motif mereka tapi tiba-tiba Sela yang suka jadi model mengubah karirnya.
"Ya sudah kami pergi dulu, mau makan siang," ucap Papa
Om hanya mengangguk, Ia melihatku sebentar lalu berjalan pergi kearah berlawanan dari kami.
Aku masuk ke dalam lift bersama Papa lalu keluar di lantai terbawah, aku masih merangkul lengannya saat kami berjalan keluar dari kantor.
Kami berdua datang ke restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor Papa, restoran favorit keluarga kami.
Saat kami berdua masuk, Mama sudah datang dan duduk bersama laki-laki yang tadi ada di kantor Papa.
Saat kami mendekat Ia langsung berdiri dan menarik kursi untukku.
Aku mengucapkan terima kasih padanya, saat aku menatapnya lagi aku baru ingat jika Ia adalah sahabat Kakakku tapi ingatanku tentangnya hanya sedikit.
Setelah kami duduk, Papa mulai berdehem, "Sayang kenalkan ini Arsya, kamu kenalkan?” tanya Papa
"Teman Kakak?” tanyaku balik karna aku memang tidak punya kesan tentangnya.
"Ya, tapi sebenarnya Ia juga adalah anak adopsi Mama dan Papa sejak Ia sekolah menengah pertama," kata Papa yang sontak membuatku kaget.
Aku tidak terlalu suka mendengar berita ini tapi aku tetap diam mendengarkan Papa.
"Papa mengalihkan 30% saham padanya karna Ia sangat bisa diandalkan," kata Papa
Hal itu semakin membuatku kaget karna aku anak satu-satunya Papa seharusnya perusahaan diwariskan padaku dan suamiku nanti.
Laki-laki itu hanya diam, sepertinya Ia memang orangnya pendiam.
Mama juga hanya diam, Ia hanya menatapku mungkin untuk melihat reaksiku.
*
Beberapa bulan kemudian semuanya sedikit berubah saat Papa dan Mama memaksaku menikahi anak adopsinya yang baru ku ketahui beberapa bulan sebelumnya.
Waktu aku mengetahui tentang anak adopsi itu, sedikit marah muncul di hatiku karna belasan tahun mereka menyembunyikan itu, laki-laki itu besekolah di tempat yang sama dengan kakakku tapi aku tidak tau apapun tentang dia, yang kutahu Ia hanyalah anak miskin yang dijadikan kakakku sebagai teman baiknya.
Belum selesai marah itu aku harus dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus menikah dengan laki-laki itu yang menurutku hanyalah laki-laki mata duitan yang hanya ingin menguasai harta keluargaku.
Disaat aku dipaksa menikah, aku tidak diberi pilihan untuk menolak hingga aku harus menerimanya dengan setengah hati, karna itu aku mulai jadi pembangkang kepada orang tuaku, aku menikah dengan laki-laki itu hanya diatas kertas, kami tidak pernah mengobrol hangat apalagi bersentuhan fisik.
Ia memaklumiku karna Ia tau aku tidak mencintainya dan satu-satunya orang yang kucintai adalah Ando.
Waktu terus berlalu hingga tanpa terasa kami sudah bersama sedikit lama.
Kami tinggal dirumah yang terpisah dari orang tuaku supaya mereka tidak tau jika kami tidak pernah hidup layaknya suami istri
Tapi setahun setelah pernikahan kami, saat itu Ia pulang dalam keadaan mabuk berat, bau alkohol yang membuatku semakin muak dan jijik padanya
Saat itu Ia salah masuk kamar tapi lebih tepatnya Ia sengaja masuk ke kamarku tapi pura-pura salah masuk. Ia masuk dan langsung memelukku erat, aku meronta ingin lepas tapi pelukannya semakin kuat, Ia membenamkan wajahnya di leherku, nafas hangatnya mulai terasa dan membuatku ingin lari tapi saat pikiran itu melayang, Ia sudah mendorongku ke tempat tidur dan Ia sudah berada di atasku.
Kejadian yang tidak terduga benar benar terjadi, saat itu Ia melakukannya dengan pemaksaan membuat air mataku perlahan jatuh.
Sejak kejadian itu aku semakin membencinya, dan lebih membencinya lagi saat sebulan kemudian aku dinyatakan hamil anaknya.
Aku melakukan segala usaha untuk menggugurkan anak dalam perutku tapi Ia selalu berhasil menggagalkannya.
Sejak mengetahui aku hamil Ia mulai memperlakukanku seperti burung di dalam sangkar.
Malam hari Ia masuk ke kamarku membawa segelas susu.
Aku menatapnya tajam saat Ia berada di depanku, aku duduk di tempat tidur sambil memeluk boneka kesayanganku hadiah dari kakakku sewaktu aku masih sekolah menengah pertama.
Ia mengunjukkan segelas susu tapi aku mendorongnya dengan kasar, padahal ini bukan sifat asliku karna sejujurnya aku tidak pernah bersikap kasar pada siapapun karna didikan Mama adalah menjadi wanita lemah lembut.
Gelas jatuh dan pecah di lantai keramik, Ia hanya berjongkok dan memungut pecahan gelas itu.
"Jangan turun dari tempat tidur, nanti terkena pecahan kaca," ucapnya tanpa memandangku.
Aku hanya diam lalu menoleh ke sisi kiriku.
"Nanti bibi akan membuatkan susu yang baru," ucapnya setelah selesai membersihkan kaca di lantai. Ia langsung keluar dari kamarku dengan wajah datar.
Hampir setiap hari aku hanya berada di rumah, saat periksa kandungan juga Dokter yang datang ke rumah.
Kandunganku semakin hari semakin sehat dan tiba saat hari aku akan melahirkan, kulihat wajah paniknya saat mengendongku memasuki ruangan bersalin.
Ia menggenggam tanganku dan menemaniku saat proses melahirkan.
Tidak berapa lama terdengar suara bayi menangis, aku menghela nafas lega.
Arsya menatapku dengan lembut tapi aku memalingkan wajah, aku benci melihatnya, aku juga benci melihat anaknya.
"Terima kasih," ucapnya sambil membelai lembut dahiku dan menyibak rambut ke atas supaya tidak menutupi dahi yang sudah lengket oleh keringat.
Aku hanya diam saat Ia mengatakan itu.
Aku melihat Mama dan Papaku mendekat dengan bahagia karna cucu mereka telah lahir, entah beneran tidak tau atau pura-pura tidak tau tapi Mama dan Papa selalu mengira kami harmonis, hanya Bibi di rumah yang tau segalanya.
Setelah aku dan bayi pulang ke rumah, sekalipun aku tidak pernah memegang bayi itu apalagi menyusuinya. Tapi Arsya selalu sabar menghadapiku.
Hari ini aku pergi keluar, aku janjian bertemu dengan Ando, walau aku sudah menikah Ando dan aku tetap menjalin hubungan, Arsya mengetahui itu tapi Ia tidak mempermasalahkannya.
Aku meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh hanya demi bertemu Ando. Hampir setiap hari aku hanya menghabiskan waktu diluar, aku kembali bekerja di kantor Ando.
*
Beberapa bulan berlalu aku datang ke perusahaan Papa, Mama juga ada di sana.
"Makan siang bersama," ucapku sambil merangkul keduanya, kami sudah lama tidak makan bersama jadi hari ini aku kembali jadi diriku yang manja seperti dulu.
"Tempat baru?" tanya Mama
"Ya," jawabku
Kami naik ke mobil Papa dan Papa yang menyetir.
Sepanjang perjalanan hatiku sangat senang karna aku melupakan orang di rumah, yang kupikirkan hanya menjadi manja untuk saat ini.
Saat kami melaju di jalanan ramai, tiba-tiba truk sengaja menabrak kami dari samping hingga mobil kami remuk di bagian pengemudi. Tabrakannya tidak terlalu keras hingga mobil tidak berguling.
Disaat darah mengalir deras di seluruh tubuhku, aku masih sempat melihat wajah Papa dan Mama yang sudah tidak sadar. Diantara kami akulah yang paling terluka parah karna aku tidak memakai sabuk pengaman.
Air mataku perlahan menetes lalu kesadaranku menghilang.
Seperti mengedipkan mata, saat ini aku sudah berada di luar mobil, aku masih memakai gaun selututku tapi sedikitpun tidak ternoda darah, aku menatap tangan dan kakiku semuanya masih normal.
Ambulance dan polisi berdatangan, mobil Papa di kelilingi orang ramai. Saat aku mendekat dan ingin melihat ke dalam mobil, "Permisi," ucapku sambil ingin menyentuh pundak orang di depanku tapi yang membuatku kaget tanganku menembus orang itu.
Aku shock saat tanganku tembus pada tubuh orang lain, dan lebih shock lagi saat orang yang ditarik keluar adalah diriku sendiri dan juga orang tuaku.
Sekarang sudah jelas jika saat ini aku sudah jadi roh. Aku menangis tersedu-sedu, tangan berada di mulutku, aku tidak tau apa yang terjadi denganku.
Aku berlari mengikuti ambulance yang membawa tubuhku, Ambulance lain membawa papa dan Mamaku.
Ambulance berbunyi sepanjang jalan menandakan pasien dalam keadaan gawat darurat.
Aku duduk di tepi tempat diriku terbaring, ada alat bantu nafas yang digunakan perawat padaku, mukaku tertutup darah segar.
Sesampainya di depan rumah sakit, Dokter dan perawat sudah menunggu dengan ranjang dorong, tubuhku dibawa menuju ruangan gawat darurat.
Disaat Dokter sibuk mengurusku, aku melihat seseorang mengamuk di depan pintu, Ia ingin masuk.
Aku berjalan pelan menuju pintu lalu tembus keluar, aku melihat Arsya suamiku mengamuk ingin masuk melihat tubuhku yang sedang berusaha ditolong.
Arsya berlutut sambil memegang tangan perawat, "Kumohon selamatkan istriku," ucapnya dengan mata merah menahan air mata jatuh.
Seketika itu aku merasakan sakit di dada, orang yang kubenci ternyata sangat peduli padaku.
Aku menitikkan air mata melihat wajah putus asa Arsya, Ia tetap berlutut walau perawat sudah kembali masuk.
Aku berjongkok di depannya, melihat Ia menunduk dan ternyata butiran air mata mulai terjatuh.
"Keyla kumohon jangan pergi," gumamnya
Seakan sadar akan sesuatu, Arsya mengangkat wajahnya lalu berdiri dan berlari menuju ruangan lain, Arsya melihat Dokter menggeleng saat melihatnya.
Aku semakin menangis karna di dalam ruangan itu ada wajah pucat Mama dan Papaku. Aku masuk tanpa pintu aku menangis di depan mayat Mama dan Papaku, mereka tidak terluka parah tapi mungkin luka dalam yang parah hingga menyebabkan mereka meninggal.
"Mama...Papa...!" aku menangis tersedu-sedu memanggil mereka.
Aku mendengar suara Arsya menangus, ini pertama kalinya aku melihat Ia sangat terpukul. Ia melangkah mendekati mayat Mama dan Papa, perlahan Ia memeluk Papa seperti memeluk Papanya sendiri.
"Pa...Papa bohong padaku, pertama kali papa menjemputku di jalanan, Papa bilang papa akan bersamaku dan menjagaku seumur hidup, tapi ini baru setengah jalan Papa sudah pergi," ucap Arsya dengan isak tangis.
Aku menatap Arsya yang sangat kehilangan Papa, mungkin rasa sayangnya pada Papa dan Mama melebihi rasa sayangku pada mereka, aku malu pada diriku sendiri saat ini.
Arsya berdiri tegak dan langsung meminta seseorang mengurus pemakaman.
Arsya berjalan kembali ke ruangan tempat tubuhku.
Waktu pun berlalu, tubuhku sudah dipasang beberapa alat, awalnya Dokter menyerah karna detak jantungku sepertinya sudah tidak mungkin lagi tapi Arsya memohon kepada Dokter dengan biaya berapapun supaya alat ditubuhku jangan dilepas, Ia tidak peduli aku sadar atau tidak, menurutnya selama tubuhku masih ada di dunia ini Ia tidak peduli tentang apapun.
Arsya meminta seseorang menyiapkan ruangan khusus di rumah kami, ruangan itu akan dilengkapi dengan peralatan rumah sakit, Ia ingin memindahkanku ke rumah makanya Ia menyewa Dokter dan perawat terbaik untuk mengurusku.
keesokan harinya saat pemakaman, aku melihat keluarga Om semua datang ke makam orang tuaku, Ando juga datang, keempat orang itu terlihat pura-pura sedih.
Aku mendekati Ando, tapi saat mendekat aku benar-benar kaget karna Ando menggenggam erat tangan Sela, terlihat keduanya saling curi pandang.
Aku menggeleng tidak percaya, air mataku kembali menetes, aku tidak percaya jika laki-laki yang sangat kucintai ternyata bermain belakang.
Mungkin ini karma bagiku, aku menatap kearah Arsya yang sedang berjongkok.
Aku kembali menatap Ando yang sedikitpun tidak menunjukkan wajah sedih.
Ando dan keluarga Om langsung pergi, Sela naik ke mobil Ando, aku langsung masuk ke dalam mobil tanpa membuka pintu. Tapi yang tidak terduga aku bisa duduk di kursi penumpang. Aku duduk ingin mendengarkan pembicaraan keduanya.
"Apakah supir truk itu akan tutup mulut?” tanya Sela
"Ya, kita sudah menyelamatkan anaknya, sekarang anaknya sudah sembuh, Ia sudah tenang walau akhirnya masuk penjara," kata Ando
Ando mengusap kepala Sela, "Sekarang kita tinggal menunggu keputusan para pemegang saham, saham milik Arsya hanya 30% dan saham milik Pak Farhan seharusnya milik Keyla tapi saat ini Ia tidak sadar jadi saat ini Arsya tidak bisa mengambil alih perusahaan, dan juga Ia akan keluar uang cukup besar untuk pengobatan Keyla jadi kita lihat nanti mungkin Ia akan menjual sahamnya," kata Ando yang merasa kemenangan sudah di depan mata.
Keyla menatap keduanya dengan tajam, matanya merah, sekarang Ia tidak lagi menangis, Ia hanya mengepalkan tinjunya.
Saat mobil berhenti ternyata berhenti di depan sebuah rumah mewah, kedua orang itu turun dari mobil, seorang anak kecil berlari mendekat.
"Mama....Papa...." ucap anak laki-laki itu
Satu demi satu rahsia mulai terungkap, aku benar-benar tidak menyangka selama ini ternyata aku ditipu oleh mereka. Anak yang saat ini berada dipelukan Ando sudah berumur 5 tahun, aku memang tau jika Sela dulu sudah menikah tapi aku tidak pernah melihat suaminya karna memang kami tidak dekat.
Aku melihat keluarga bahagia mereka sekitar beberapa jam, lalu aku memutuskan untuk pulang ke rumah, mungkin saat ini Arsya sudah mengurus perpindahan tubuhku ke rumah.
Aku berjalan melewati halaman rumah, mobil ambulance masih terparkir di halaman rumah, aku memutuskan untuk masuk.
Saat aku masuk aku melihat Arsya mengendong bayi kami yang baru beberapa bulan, bayi itu terus menangis.
Karna aku memang tidak suka pada bayi itu jadi aku tidak tau siapa namanya dan tidak mau tau.
Tapi saat ini saat aku sudah menjadi roh gentayangan aku menyadari jika Arsya sangat peduli pada keluarganya.
Aku berjalan mendekat dan melihat Arsya mencoba menghibur bayi itu.
Bayi itu melihat ke arahku lalu berhenti menangis, mungkin benar kata orang jika bayi bisa melihat yang kasat mata.
Arsya bingung karna bayinya terus menatap ke arah kiri seperti melihat sesuatu.
Aku memperhatikan bayi itu sedikit lama, bayi itu sangat lucu, Ia adalah bayi perempuan yang punya mata indah, hidung seperti papanya, dan juga kulit putih halus.
Bayi itu tersenyum padaku seakan-akan Ia sedang ditimang atau diberi mainan.
Arsya langsung membawa bayi itu untuk diberikan pada pengasuh.
Setelah bayi itu tertidur, Arsya berjalan menuju ruangan tempatku dirawat, ruangan itu seperti ruangan rumah sakit.
Arsya duduk sendiri, Ia memegang wajah pucatku yang ada di tempat tidur.
Sepertinya aku sudah mati hanya jantungku yang berdetak sedikit.
Aku berdiri di dekat Arsya.
"Kumohon sadarlah, aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu bersama pria itu asal kamu harus sadar," ucapnya
"Aku salah Key, harusnya aku tidak boleh egois, walau aku menyukaimu sejak kamu di sekolah dasar tapi tidak seharusnya aku menerima pernikahan kita ini karna cinta kita hanya sepihak," gumam Arsya
Aku kaget lagi saat mendengar Arsya menyukaiku sejak aku kecil. Karna aku tidak pernah melihatnya saat aku kecil, selama ini hanya beberapa kali aku melihatnya bersama kakak.
Arsya menangis sambil mencium tanganku yang sedang terbqring di ranjang.
"Aku mencintaimu Keyla, hingga nanti aku akan tetap mencintaimu, jika kamu sadar aku janji akan membawa Tiara pergi, kami akan menjauh darimu," gumam Arsya
Aku ingin menyentuh kepala Arsya tapi tidak bisa. Sekarang aku hanyalah roh gentayangan, menyesal juga percuma ini sudah terlambat.
*
Beberapa bulan berlalu, aku tetap duduk di samping tubuhku yang saat ini masih koma.
Setiap pagi Arsya selalu mencium keningku saat Ia akan berangkat kerja. Saat pulang kerja Ia akan duduk menatapku selama beberapa jam.
Aku mengikutinya ke kantor beberapa kali, aku melihat tekanan yang diberikan Om padanya.
Ia tetap bertahan karna Ia harus menghasilkan uang untuk pengobatanku yang menghabiskan miliaran rupiah.
Sesekali aku juga datang ke kantornya Ando, aku melihat bangku kerjaku yang sekarang sudah ditempati sela, sela pindah kerja ke kantor Ando. Sekarang mereka sudah terang-terangan bersama.
Malam hari, Arsya masuk ke ruang rawatku.
"Selamat malam," ucapnya selalu setiap kali baru masuk keruangan itu.
Semakin hari aku semakin menyadari betapa bodohnya aku selama ini. Betapa bodohnya aku yang tega menyia-nyiakan pria sebaik ini.
Air mataku terus menetes, aku ingin menyentuh wajahnya, aku ingin menghapus air matanya.
Perlahan aku memegang wajahnya membuatnya kaget, Ia melihat ke sekeliling.
Aku juga kaget karna ini pertama kalinya aku bisa menyentuhnya. Buru-buru aku menarik tanganku lalu berdiri sedikit jauh.
Arsya semakin dekat dengan wajahku, Ia mencium keningku yang belum sadar diatas ranjang, sepertinya Ia mulai melupakan kejadian mistik tadi.
Ia duduk seperti biasa sekitar beberapa jam.
*
Sekarang tepat setahun aku koma, disaat Dokter menyarankan suamiku untuk menyerah, Ia menolak dengan tegas, Ia mengeluarkan suara marah.
Sekarang aku baru tau ternyata suamiku yang ku pikir tanpa ekspresi sekarang berubah jadi laki-laki yang sangat emosian, Ia akan marah saat Dokter mengatakan keadaanku yang sebenarnya.
Saat Ia sedih Ia akan memeluk putri kecil kami, setiap kali Ia tidur bersama putri kami aku juga akan tidur di samping mereka, walau aku tidak terlihat oleh Arsya tapi putri kami selalu bisa melihatku.
Sekarang walaupun aku cuma roh gentayangan, aku mulai merasakan kehangatan keluarga, aku menyukai rasa ini, walau aku cuma roh aku berharap Tuhan tidak menghilangkanku saat ini, aku rela jadi roh seumur hidup asal bisa tetap bersama Tiara dan Arsya.
"Maafkan aku," gumamku pelan
Arsya membuka mata, Ia mulai merasakan mendengar suaraku.
*
Keesokan harinya Arsya tidak pergi bekerja karna akhir pekan.
Pembantu membuka pintu saat bel rumah berbunyi, Ia membawa orang itu masuk.
Arsya melihat orang itu sambil tersenyum, dia adalah wanita cantik, seingatku itu juga salah satu temannya kakak.
Aku berbalik pergi masuk ke ruangan rawatku di lantai atas.
Aku melihat diriku sendiri berada di ranjang, wajah pucatku semakin parah, badanku pun semakin kurus.
Aku menoleh saat pintu dibuka, saat itu teman suamiku juga ikut masuk, Ia kaget melihatku, awalnya kupikir Ia melihat diriku yang terbaring kaku tapi nyatanya Ia melihat aku yang sudah jadi roh.
Aku hanya diam, dia terus menatapku hingga membuat Arsya bingung.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Arsya
"Tidak, oh ya Sya apa ada kemajuan padanya?” tanya wanita itu tapi matanya terus melihat ke arahku.
Arsya menggeleng dengan sedih.
"Jika Ia sadar, apa tang ingin kamu katakan?" tanya wanita itu yang langsung duduk di sofa.
"Aku tidak akan mengatakan apapun, aku hanya akan membebaskannya seperti keinginannya lalu aku akan menjaganya diam-diam seperti dulu lagi," kata Arsya
Wanita itu melengkungkan wajahnya saat menatapku, sepertinya Ia sengaja memancing obrolan seperti itu biar aku mendengarnya.
Sudah jelas Ia bisa melihat rohku karna Ia tetap menatap padaku.
"Jika dia mendengarnya mungkin dia akan sedih," ucap wanita itu
"Erin, kamu tau sendiri jika Ia sangat membenciku jadi Ia akan bahagia jika aku melepasnya," kata Arsya
Saat itu aku jadi tau jika nama wanita itu adalah Erin.
"Aku ke toilet sebentar," ucap Erin berlalu pergi
Erin pergi ke toilet umum di rumah kami diarahkan oleh pembantu.
Saat Erin keluar dari toilet, aku mencegatnya. Ia tidak terlihat takut padaku.
"Apa kamu bisa melihatku?" tanyaku
Erin mengangguk, "Aku bisa melihat roh orang yang sedang koma, tapi saat Ia meninggal aku tidak bisa melihatnya, saat Kakakmu tidak sadar Ia sempat mendatangiku dan pamitan, setelah dia menghilang dia meninggal," kata Erin sedih
Aku sedih mendengarnya, terlihat jelas Erin menyukai kakakku karna saat Ia menceritakan itu matanya mulai berkaca-kaca.
Sekarang seluruh keluargaku sudah pergi, dan mungkin tidak lama lagi aku juga akan pergi tapi aku senang karna aku punya anak yang sekarang nama belakangnya mengikuti nama belakang keluarga kami.
Erin berjalan pergi, aku mengejarnya.
"Tunggu," ucapku menghentikan langkahnya
Erin menoleh padaku tanpa bicara.
"Saat nanti aku pergi tolong katakan pada suami dan anakku kalau aku setulus hati minta maaf," ucapku sedih
Erin hanya mengangguk lalu melanjutkan jalannya.
Aku merasa tenang karna ada orang lain yang bisa melihatku hingga aku bisa menyampaikan permintaan maaf.
Aku duduk sendiri di kamarku dulu.
*
Beberapa minggu berlalu aku mulai merasakan sakit di dada, mungkin ini akhirku.
Aku melihat Arsya panik keluar dari ruanganku, Dokter dan perawat yang sudah ada langsung berlari masuk.
Aku mengikuti dari belakang, aku melihat kepanikan Arsya tapi Aku tidak bisa melihat jelas wajahku saat terbaring karna dadaku semakin sakit, aku melihat di layar garis lurus menandakan jantungku berhenti berdetak.
Arsya semakin panik saat melihat Dokter berusaha keras mengembalikan detak jantung.
Aku menitikkan air mata karna perlahan rohku menghilang.
Aku membuka mata dan ternyata aku berada di ranjang di tubuhku sendiri.
Aku melihat ke arah Dokter yang shock melihatku, bukan hanya dokter tapi perawat dan juga Arsya menatapku kaget.
Arsya langsung tersenyum melihatku tiba-tiba sadar.
Aku ingin bicara tapi tidak bisa, aku ingin bergerak tapi juga tidak bisa.
Semuanya bahagia melihatku sadar, Dokter yang biasanya Arsya bentak menghela nafas lega.
Arsya ingin memelukku tapi Ia mengurungkan niatnya, mungkin Ia takut aku marah seperti diriku dulu.
"Jangan bergerak dulu, nanti akan ada perawat yang membantu belajar jalan lagi," kata Dokter
Aku mengangguk pelan.
Setelah melepas semua alat bantu dan memasang infus baru, Dokter dan perawat pamit pergi.
Saat ini hanya ada Arsya dan aku di ruangan, Arsya duduk sedikit jauh, Ia terus menatapku dengan wajah tidak percaya dan juga matanya berkaca-kaca.
*
Beberapa hari berlalu, perawat membantuku belajar berjalan.
Saat aku akan jatuh, Arsya pasti berlari memegangku tapi saat aku melihatnya Ia mulai menjaga jarak.
Arsya mengambil Tiara dari pengasuh, Ia bermain bersama Tiara. Tiara tertawa terbahak-bahak, saat ini umur Tiara sudah hampir 2 tahun jadi Ia sudah bisa bicara dan berjalan.
Sesekali Tiara berlari kearahku tapi belum sempat mendekat, Arsya sudah mengambilnya karna takut aku tidak nyaman.
Selesai latihan, aku duduk di kursi roda.
Perawat membawaku mendekat Tiara dan Arsya.
"Mama," ucap putri kecilku yang sebenarnya sudah sering melihatku tapi Ia tidak pernah mengatakan pada Papanya.
Aku tersenyum pada putriku, Ia memeluk kakiku tapi Arsya langsung mengambilnya.
"Maaf, lain kali aku tidak akan membawanya melihatmu," ucap Arsya
Aku hanya diam melihat itu semua, hatiku sakit tapi ini adalah kesalahanku di masa lalu.
Arsya memberikan Tiara pada pengasuh lalu Ia membantu mendorong kursi rodaku ke dalam kamarku.
Ia dengan hati-hati mengangkatku ke atas tempat tidur.
"Terima kasih," ucapku lembut
Arsya merasa tidak percaya hingga Ia kembali menatapku.
*
Sebulan berlalu aku sudah kembali sehat, aku berdandan cantik seperti dulu saat aku akan masuk kantor.
Aku memakai pakaian kantor lalu berputar-putar di depan meja hias.
Setelah selesai melihat penampilan aku turun untuk sarapan, terlihat putri kecil kami sudah duduk sendiri untuk sarapan, pengasuh menyuapinya.
Arsya melihat kearahku saat aku turun, "Yakin mau ke kantor?” tanyanya
Aku hanya mengangguk lalu duduk di dekatnya.
Kami mulai sarapan dalam diam.
Saat kami akan pergi ke kantor, putri kecil kami langsung menarik kakiku.
"Mama jangan pergi," katanya
Aku berjongkok, "Mama hanya sebentar, Tiara main sama mbak Esi dulu nanti Mama bawain oleh-oleh," ucapku saat membujuk si cantik.
Arsya hanya diam, mungkin Ia bingung dengan perubahan sikapku karna sebenarnya saat Ia tidak di rumah aku selalu bermain dengan si kecil jadi si kecil sekarang terlalu bergantung padaku.
"Nanti kita belikan mainan barbie ya kan Pa?" ucapku menatap kearah suamiku
Arsya semakin bingung jadi Ia cepat-cepat mengangguk lalu ikut berjongkok membujuk Tiara.
Tiara tetap menangis hingga akhirnya mereka memutuskan membawa Tiara ke kantor.
Arsya mengendong Tiara, Aku mengikutinya tapi langsung masuk mobil penumpang depan, "Sini Tiara pangku sama Mama,"
Arsya semakin bingung melihat hal ini, Ia langsung memasukkan Tiara ke dalam mobil jadilah Tiara duduk di pangkuanku saat ini.
Arsya menutup pintu mobil lalu berputar dari depan menuju pintu pengemudi, Ia masuk dan melihat kedua orang yang disayanginya duduk di dekatnya, rasanya ini sungguh mimpi indah.
Ia mulai menjalankan mobil, Ia mengira aku masih trauma pada mobil jadi Ia agak pelan.
"Bisakah besok kita ke makam Mama dan Papa?” tanyaku memulai pembicaraan
"Iya besok kita kesana," katanya
Sesampainya di depan perusahaan, kami turun dari mobil, satpam langsung membantu memarkirkan mobil.
Arsya mengendong Tiara saat kami berjalan masuk, aku menarik lengannya hingga Ia berbalik menoleh ke arahku.
Aku langsung memegang tangan kirinya, terlihat Ia melengkungkan bibirnya. Kami berjalan seperti keluarga bahagia, aku ingin memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu.
Kemarin saat Arsya di kantor, aku diam-diam masuk ke kamarnya, aku melihat kertas yang pagi hari diberikan pengacara.
Aku melihat itu kertas pengajuan cerai, aku ingat jika Ia pernah mengatakan akan melepaskanku saat aku sadar kembali. Hatiku sedih dan sakit saat melihat kertas itu.
Jadi hari ini aku akan menunjukkan cintaku padanya walau tanpa kata-kata, supaya Ia melupakan hal tentang perceraian.
Sepanjang perjalanan menuju ruangannya aku memegang tangan hangatnya.
Tangannya sedikit gemetar, mungkin ini pertama kalinya kami saling menggenggam erat.
Semua mata pegawai tertuju pada kami bertiga.
Hari ini adalah rapat pemegang saham, Aku sengaja hadir untuk membantu Arsya mendapatkan posisi Direktur utama.
Saat rapat kami menitipkan Tiara pada sekretaris Arsya, Ia adalah seorang ibu juga jadi sudah pasti bisa mengurus anak kami.
Kami menghadiri rapat sekitar 1 jam lebih, saat kami keluar dan kembali ke ruangan Arsya, Tiara tertidur pulas padahal ini belum sampai pukul 11.
Sekretaris pamit pergi setelah kami masuk.
"Hemm...ini hampir jam makan siang, karna Tiara lagi tidur jadi biar aku beli makanan," kataku
"Tidak usah kita suruh yang lain saja yang beli," katanya menghentikanku
"Tidak apa, gak jauh juga hanya perlu jalan kaki jadi aku pergi dulu," kataku sambil berjalan keluar
Aku buru-buru keluar, saat di depan perusahaan seseorang memanggilku.
"Keyla..." panggilnya lembut
Aku menoleh dan melihat itu adalah Ando, jika itu dulu maka aku pasti tersenyum padanya tapi karna aku sudah tau semuanya jadi aku hanya menatapnya tajam.
"Kamu sudah sembuh, aku kangen banget lo sama kamu, aku ingin melihatmu saat kamu koma tapi Arsya menghalangiku," katanya
"Aku sudah punya suami dan anak jadi tidak wajar jika kamu mengatakan itu, permisi," ucapku berlalu pergi
Tanpa kusadari ternyata Arsya mendengar semuanya, saat aku melihatnya dari spion mobil orang, Ia berdiri sambil memegang dompet. Ya aku baru ingat jika aku tidak membawa uang, Ia pasti mengejarku ingin memberiku uang.
Aku menoleh kearahnya dan langsung berlari.
"Ayo pergi bersama dan hubungi sekretaris supaya menjaga Tiara lagi," kataku bersikap seperti istri sungguhan.
Arsya mengangguk, Ia menatap kearah Ando yang masih kaget dengan perubahan sikapku.
Aku merangkul lengan Arsya untuk pertama kalinya, jantungku berdetak cepat saat berada di dekatnya. Mungkin aku beneran jatuh cinta padanya.
"Ini panas, seharusnya tadi kita naik ke mobil, kulitmu nanti terbakar," ucapnya perhatian
"Ini dekat jadi lebih baik jalan kaki biar kaki ini tambah sehat," kataku
Hari ini kami sudah seperti pasangan bahagia.
Ia menutupi kepalaku menggunakan tangan lebarnya.
Setelah membeli makanan kami kembali ke kantor untuk makan bersama.
Saat itu Tiara juga sudah bangun jadi kami makan bertiga.
Aku membantu menyuapi Tiara yang masih belum terlalu bisa makan sendiri, wajah Arsya terlihat bahagia, sesekali Ia mencuri pandang padaku.
Kami pulang ke rumah malam hari karna kami jalan-jalan dulu ke pasar malam, Tiara kecapean hingga akhirnya tertidur lelap.
Arsya membawanya ke kamarnya, Ia semakin pulas saat tidur di tempat empuk.
Arsya melihat ke arahku yang masih berdiri di dekatnya.
"Ayo keluar nanti pengasuh akan tidur di sini," kata Arsya
Aku mengangguk lalu berjalan pergi, kamar kami berdekatan tapi sedikit jauh dengan kamar Tiara.
Saat aku akan masuk ke kamar, aku menoleh sebentar ke arah Arsya yang juga akan masuk ke kamarnya.
"Selamat malam," ucapku
Arsya menoleh hingga tidak jadi membuka pintu kamarnya, Ia melangkah cepat menuju kearahku dan langsung mendorongku masuk ke kamar, Ia mencium bibirku dengan keras membuatku mendorongnya.
Ia mulai sadar dan langsung menatapku, "Maaf," ucapnya merasa bersalah, Ia melangkah ingin pergi keluar tapi aku langsung memeluknya dari belakang.
Ia menunduk melihat tanganku terbentang di perutnya yang keras.
"Lain kali lebih lembut," ucapku lembut
Aku bisa merasakan jantungnya berdetak cepat.
Ia membuka tanganku lalu berbalik menatapku, "Apa yang kamu katakan, bisakah diulangi lagi?" tanyanya
"Lain kali jika ingin menyentuhku lakukan dengan pelan," kataku sedikit malu, aku menunduk menghalangi pandangannya.
Arsya tersenyum lalu mulai memelukku.
"Aku ingin mandi, seharian diluar jadi banyak keringat," kataku
"Ya baiklah aku pergi dulu, kembali ke kamarku," ucapnya gagap, Ia melangkah pergi lalu menutup pintuku dengan pelan.
Aku juga langsung masuk ke kamar mandi, aku melihat diriku di kaca, bibirku sedikit bengkak karna ciuman dadakan.
Aku langsung mandi, membersihkan seluruh tubuhku.
Parut bekas kecelakaan tidak bisa hilang, terlihat jelas di bawah leherku.
Selesai mandi aku langsung duduk di depan meja rias, aku mengeringkan rambut panjangku ini yang sedikit menipis selama aku sakit.
Setelah agak kering aku langsung naik ke tempat tidur dan memakai selimut.
Setelah berguling-guling selama beberapa jam aku tetap tidak bisa tidur, aku turun dari tempat tidur dan perlahan membuka pintu, saat pintu terbuka aku melihat Arsya di depanku ingin mengetuk pintu tapi karna pintu sudah terbuka lebih dulu jadi tangannya berhenti di udara.
Kami diam beberapa saat, tapi saat akan bicara kami bicara bersamaan.
"Kamu duluan," ucapku
"Apa kamu tidak bisa tidur?" tanyanya
Aku mengangguk malu, saat ini di depanku Arsya berpakaian santai, Ia memakai kaos putih dan celana pendek.
Ototnya terlihat jelas.
"Itu juga ingin kutanyakan tadi," kataku
"Ya sudah aku kembali ke kamar dulu," katanya
Ia berbalik, langkahnya sedikit lambat seperti mengharapkanku menghentikannya.
Aku tidak ingin jual mahal jadi aku beneran menghentikannya.
"Mau tidur bersama?" tanyaku pelan dan ternyata Ia mendengarku, Ia menatapku dengan wajah tersenyum.
Aku sedikit malu karna memulai api lebih dulu.
"Bolehkah?" tanyanya
Aku mengangguk masih sambil menunduk.
Ia langsung menyeretku masuk ke kamarku, terlihat jelas Ia sangat bersemangat.
Ia menutup pintu dengan dorongan pelan, membuatku ingin tersenyum.
Kami sudah punya anak tapi malam ini terasa seperti malam pertama pernikahan.
Ini pertama kalinya aku melihatnya dengan teliti dari ujung kaki hingga kepala.
Ternyata aku baru sadar jika wajah suamiku ini jauh lebih baik dari Ando.
Selamanya ini aku dibutakan oleh cinta hingga menutup mata untuk orang di dekatku ini.
Saat Ia membuka kaosnya Ia kembali bertanya, "Yakin?"
"Ini belum dimulai jadi jika ingin berubah pikiran, aku masih bisa mundur," ucapnya
Aku tidak menjawab tapi aku menampilkan senyum indahku yang menandakan jawabanku seperti apa.
Aku langsung merangkul lehernya saat berbaring di bawahnya.
"Aku menemukan bukti kejahatan mereka, jika kamu tidak mau masuk penjara maka aku akan menyimpan bukti itu untuk diriku sendiri," ucapnya
"Terserah," ucapku tidak peduli
Arsya langsung mencium lembut pipiku, ini pertama kalinya kami bersikap mesra.
Waktu berlalu dengan cepat, sekarang aku berbaring di pelukannya, Ia memelukku dari belakang.
"Sejak kapan kamu menyukaiku?" tanyaku pura-pura tidak tahu
"Mmm....aku menyukaimu sejak kamu kelas 3 sekolah dasar, saat itu kalian datang ke panti asuhan," katanya
"Lalu apakah Kakak tau tentang ini?" tanyaku
"Iya dia tau tapi dia mengatakan untuk menunggumu dewasa maka Ia akan memberikanmu padaku," katanya sedikit malu
"Maaf untuk selama ini yang telah kulakukan," ucapku
Arsya tidak lagi bersuara, hanya nafasnya yang teratur terdengar, ternyata Ia sudah tertidur pulas.
*
Keesokan harinya aku bangun tapi Arsya sudah tidak ada, saat aku sarapan Bibi bilang jika Arsya pergi ke kantor pagi-pagi karna sore ini Ia harus pulang cepat karna mereka akan pergi ke makam.
Siang hari aku menonton berita penahanan Om, Ia terkena kasus suap dan juga pembunuhan berencana.
Sore hari Arsya menjemputku dan juga Tiara, kami langsung pergi menuju makam.
Selama di makam kami hanya diam dan masing-masing berbicara dalam hati.
Aku, Tiara dan Arsya berjalan bergandengan tangan menuju mobil kami.
"Tidak ada kata terlambat dalam hidup ini jika kita mau memperbaiki kesalahan kita setulus hati, aku mengerti sekarang ternyata menghargai seseorang itu adalah hal terpenting dalam hidup karna suatu saat kita akan menyesali setiap hal yang terjadi," Aku bicara dalam hati
(Baca novelnya ya sudah ada beberapa bab, buka di profil saya)