Sebuah mobil melesat dengan kencang, hingga masuk ke dalam jurang. Sebelumnya, sang istri didorong keluar mobil. Hingga mobil meledak, dan menyisakan tangisan lara.
"Sayang, jangan tinggalkan aku." Berteriak histeris.
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti, menepuk pundak perempuan bernama Asti.
"Asti, kamu harus ikhlas. Dia sudah tiada lagi, bersamaan dengan mobil itu." ujarnya.
"Aku tidak bisa, sekarang aku sedang mengandung."
Dialog beberapa bulan silam, terngiang di telinga Asti. Bayangan suaminya masih menari-nari di pikirannya. Kini dia sedang berada di dalam ruangan rumah sakit. Menatap bayi yang baru dilahirkannya. Seorang pria yang selalu membantunya, kini tengah menyuarakan adzan di telinga bayi tersebut.
"Asti, anak kamu tampan sekali." ujarnya.
"Iya Kak, Terima kasih." jawab Asti.
Beberapa hari kemudian, Asti pulang dari rumah sakit. Tetangga komplek lewat, orang-orang yang selalu menyebut dirinya janda murahan. Menjauhkan suami mereka, karena takut direbut.
"Janda, kamu sudah lahiran iya."
"Hati-hati, nanti cari suami orang."
"Betul banget, secara anaknya butuh nafkah."
"Lari yuk, pergi jauh darinya. Takut ketularan jadi janda hahah...."
Mereka semua berlari, setelah puas menghina. Cairan bening menetes dari sudut mata Asti, mengenai pipi sang bayi yatim.
"Bukan inginku menjadi janda, ini semua terjadi berdasarkan skenario kehidupan." Asti bersandar pada pintu.
"Kamu jangan sedih Asti, aku akan segera menikahi mu." Nathan menepuk pundaknya.
Dua Minggu kemudian, pernikahan mereka digelar. Asti tidak menjadi janda lagi, tetangga yang selama ini nyinyir menjadi malu. Segala doa dan kesabaran, membuatnya menjadi pemenang sejati.
(The End)