Seorang bayi yang lahir ke dunia, tanpa seorang ibu. Hanya tekad seorang pria paruh baya, yang menjadi perantaranya tetap hidup. Seorang pria bernama Ahlan, yang menjaga bayinya dengan tulus.
"Nak, kamu yang tenang iya. Jangan rewel, Ayah mau menjual sayur dulu." Mengelus lembut pipinya.
Oak! Oak! Oak!
Suara tangis Khanza memecahkan keheningan, mengingatkan Ahlan tentang peristiwa beberapa hari lalu. Istrinya harus kehilangan nyawa, usai persalinan. Cukup menyedihkan, bila hati masih mengenangnya.
"Pak, beli sayur kol satu kilo." ujar perempuan paruh baya.
Ahlan tersadar, dari lamunannya. "Eh iya Bu, tunggu sebentar."
Ibu Aisyah merupakan langganan, di toko sayur Ahlan. Setiap hari memenuhi kebutuhan dapur, di tempat sederhana tersebut.
Sementara di sisi lain, nan jauh dari desa. Seorang perempuan bersikeras, tidak mau menerima perjodohan dari orangtuanya. Dia mencari cara, untuk pergi dari rumah. Tentu saja secara halus, bukan secara brutal plus ekstrim.
"Aku ingin pergi, untuk menyelesaikan skripsi kuliah." ujar Sawiyah.
"Tidak bisa, kamu harus bertunangan dengan pria pilihan Papa." jawab Satir, dengan keras kepala.
"Papa, jangan memaksa anak kita. Lagipula, dia baru saja mau wisuda kuliah." sahut Amah.
"Dia sudah cukup umur untuk menikah. Namun, belum ada juga pria yang melamar. Apa kamu ini tidak takut, anakmu menjadi gadis tua." jelas Satir.
"Papa, jangan paksa aku menikah dengan Sawal. Aku tidak suka padanya, bahkan, dia suka berganti-ganti dengan banyak wanita." Sawiyah meminta sedikit pengertian.
"Papa tidak akan memaksa, dengan satu syarat. Kamu harus bisa membawa calon suami, bersamaan dengan tugas akhir kuliahmu selesai." jawab Satir.
"Atas seizin Allah, aku akan membawanya."
Usai dengan perbincangan, Sawiyah membereskan barang-barangnya. Berencana untuk tidak kembali, sebelum membawa hasil memuaskan buat sang papa. Mobil mulai melaju, kesebuah desa Rawa Lembayung.
Sawiyah mampir ke toko sayur, tanpa sengaja melihat bayi di keranjang buah. Sawiyah menyentuh tubuhnya, yang lumayan panas.
"Dia demam, kenapa diajak berjualan Kak?" tanya Sawiyah.
"Mau bagaimana lagi, tidak ada yang mengasuhnya di rumah." jawab Ahlan.
"Apa boleh, aku menggendongnya." Sawiyah meminta izin.
"Iya silahkan." jawab Ahlan.
Sawiyah mulai menggendong sambil menimang-nimangnya. Bayi itu terdiam, dalam gendongan Sawiyah.
"Kamu orang baru iya di kampung ini?" tanya Ahlan.
"Iya, baru saja pindah." jawab Sawiyah.
Keesokan harinya, Sawiyah pergi ke toko itu lagi. Dia meminta izin untuk menggendong Khanza. Ahlan melihat bahwa Sawiyah, sangat menyukai Khanza.
"Kak, daripada dia sendirian di keranjang, lebih baik aku bawa jalan-jalan." ujar Sawiyah.
"Iya boleh, sepertinya dia juga nyaman." jawab Ahlan.
Sawiyah membawanya pergi, ke sebuah taman. Menggendong Khanza, menuju sebuah ayunan. Lama kelamaan, dia merasa nyaman menjadi pengasuhnya.
"Sekarang, aku bakalan buat skripsi." monolog Sawiyah.
Beberapa jam kemudian, dia sudah kembali ke toko sayur. Membawa Khanza sang bayi, untuk dikembalikan pada ayahnya.
"Sawiyah terima kasih iya, karena kamu sudah mau menjaga Khanza." ujar Ahlan.
"Iya sama-sama, aku senang melakukannya. Apa perlu, setiap hari aku menjadi pengasuhnya." jawab Sawiyah.
Begitulah kebiasaan Sawiyah, setiap hari menjadi pengasuh bayi piatu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, akhirnya tumbuh benih cinta di hati Sawiyah dan Ahlan. Tidak butuh waktu lama, untuk Ahlan menyatakan keseriusannya. Sawiyah pulang ke rumah, saat urusan skripsinya sudah selesai.
(The End)