“Sudah Ga, ikhlasin Anggi biarkan dia tenang di alam sana” Aku mengelus pundak perempuan yang jongkok di samping makam, sembari memegang payung karena cuaca sedang hujan.Tangannya meremas tanah makam yang basah, matanya sembab habis menangis. Pemakaman sudah sepi hanya tinggal kami berdua.
“Aku harus gimana Rama?, Anggi adalah rumahku dia tempatku untuk pulang, kalau dia pergi kemana aku akan menemukan rumahku” suaranya sedikit serak karena habis menangis.
“Aku percaya kamu bakal nemuin rumah yang baru tempatmu untuk pulang” Aku mencoba menenangkan. Aku mengerti perasaannya. Tidak mudah kehilangan orang yang dicintai untuk selamanya.
“Ayo kita pulang, tidak baik terlalu lama larut dalam kesedihan” Aku berusaha tegar, memberi kekuatan untuk Ega. Walau sebenarnya, Aku juga menangis karena ditinggalkan seorang sahabat terbaik ku.
“Maa…” ucapnya pelan “Apa kamu mau janji sama Aku?” Aku mengangguk
“Jangan pernah ninggalin Aku, Kamu akan selalu ada untuk Aku, Kamu…”
“Aku janji sama Kamu” potongku dengan cepat
“Makasih” Ia memelukku. Aku sungguh tidak bisa melihat orang yang kucintai menangis, meskipun Ia mencintai laki-laki lain.
Satu tahun telah berlalu~~
Aku menepati janjiku. Aku selalu ada di samping Ega ,dan Ega selalu ada untukku meskipun Kami tidak menjalin kasih. Aku dan Ega kenal saat kami menginjak kelas 11 SMA,Pada saat itu ia menghampiri ku dan meminta untuk bertukar nomor ponsel.Lalu kami pun menjadi sangan dekat.
Anggi adalah sahabat terbaik ku. Aku kenalnya saat kelas 10.Suatu hari aku mengajak Ega untuk menemui Anggi dikantin karena aku dan Anggi sudah janji untuk makan bareng dikantin.Ega dan Anggi sudah saling kenal, kami bertiga pun suka jalan bareng.Lalu muncul lah rasa cinta anatara Ega dan Anggi,Anggi juga sering cerita kepada ku tentang perasaannya.Aku cemburu?Sudah tentu aku cemburu ,tapi aku berusaha untuk mengalah demi sahabat ku,Aku menyarankan ke Anggi untuk cepat-cepat menembak nya agar tidak ditikung.
Dan tibalah hari itu Anggi menyampaikan perasaannya ke Ega dan Ega pun menerima perasaan Anggi.Mereka berdua berpacaran, aku tidak mau lagi menganggu mereka berdua.Tapi Ega terus terusan menghampiri ku saat istirahat,Yang menbuat rasa cinta ku semakin besar. Aku tetap berusaha untuk merelakan Ega tapi tetap tidak bisa. Aku terus memendam rasa cinta dan sakit ini sendiri.Hingga saat ini pun Aku masih mencintainya.Memang sakit si melihat seseorang yang kita cintai lebih mencintai orang lain daripada kita.
Sekarang Ega sudah menjadi Ega yang kukenal dulu. Ceria,konyol, keras kepala tapi walaupun begitu aku suka dengan nya. Ia sering memberiku satu buah kerikil kecil yang ia cat dengan warna warni ketika Ia merasa bahagia, kini sudah hampir penuh satu toples berukuran tanggung. Kebiasaan yang sangat aneh.
Suara ketukan pintu memaksaku menyudahi lamunanku. Aku menyeret langkahku yang berat menuju pintu. “Ohhh Ega …, ada apa?” Aku berdiri didepan pintu.
“Keluar yuk, jalan jalan ke mana gitu. Sore-sore begini gak asyik kalau cuma diam di rumah”
Aku memandangi langit sore yang gelap karena ingin hujan. “Coba deh kamu lihat langit diatas".
“Heheheh tau kok mau hujan, tapikan sudah 5 hari kita tidak jalan keluar". dengan terpaksa aku mengiyakan ajakannya, aku menyuruh nya menunggu ku di sofa ruang tamu.
Cuaca memang benar-benar tidak bersahabat kali ini. Rintik rintik perlahan-lahan turun. Kami berjalan memasuki area pemakaman. Selalu saja Ia mengajakku ke tempat seperti ini. Ke mana lagi? kalau bukan ke makam Anggi.
Dia jongkok, sekitar sepuluh menit di samping makam Anggi. Mau tidak mau Aku juga mengikuti aktivitas Ega mendoakan Anggi. Ia berdiri “Ayo” Aku mengangguk. Aku berjalan di depannya. Rintik rintik tadi seketika berubah menjadi hujan yang deras. Aku langsung melepaskan jaket ku dan menaruh nya ke atas kepala Ega."Nih pakai aja biar engga basah kepala kamu" Ucapku sambil menyodorkan jaket ke kepala nya. "Ehh" Ucapnya sambil tersenyum.
Karena sepertinya dia tidak enak dengan ku karena cuman dia yang memakai jaket dikepala,ia menyuruh ku berjalan disamping nya sambil membagi jaket itu dengan ku.Tapi karena tubuhku yang jauh lebih tinggi darinya membuat diriku berjalan agak membungkuk. Ega hanya cengegesan melihat ku.
Akhirnya kami sampai diparkiran dan kami numpang berteduh di pondok. "Yahh maaf n
jaket mu jadi basah" Ucap nya sambil mengibas ngibas jaket ku. "Eh bukan salah mu kok, harusnya aku bawa payung tadi".
Setelah menunggu lama akhirnya hujanny redah, kami berdua langsung pergi menuju ke motor. Aku memakai jaket yang basah itu, " Ehh kenapa kau pakai? nanti masuk angin sini biar aku saja yang pake" Ucap nya yang hendak melepaskan jaket itu dariku. "Lah kalo kamu yang pake kamu dong yang masuk angin jadi biarkan aku aja yang pake,biar bisa seharian dirumah hehe". " Huh dasar" Ucap nya sambil mencubit tangan ku.
Bukan hanya jaket ku saja yang basah jok motor ku juga ikut basah, mana aku tidak membawa kain lagi. "Jok nya basah ya, nih" Ucap nya sambil menyodorkan sapu tangan bertuliskan nama Ega dan Anggi. Aku hanya diam sambil melihat sapu tangan itu. "Lho kenapa? ini ambil" Ucap nya sambil menaruh sapu tangan itu ke telapak tangan ku. "Apa tidak kenapa-kenapa nih? " Ucap ku yang merasa tidak enak menggunakan sapu tangan itu. "Hah kau ngomong apa? ini kan cuman sapu tangan ,cepet lap jok motor mu keburu malam nih".
Masalah jok motor basah sudah selesai, lalu aku mengajak nya ke suatu tempat. Ega melongo menyaksikan tempat yang kami datangi ini. Mungkin ia kira ketika aku bilang mengajak jalan-jalan ketempat yang keren Ia berfikir kalo tempat yang ku maksud itu adalah mall atau cafe.Tapi aku malah mengajak nya ke sebuah danau yang jaraknya tidak jauh dari jalan menuju pemakaman. Tempatnya sepi banyak pepohonan yang tumbuh di sekitar danau. Air danau yang hijau menambah suasana hijau.
“Memangnya Kamu sebegitu kehabisan uang ya?, sampai Kamu gak mampu mengajakku nonton atau sekadar minum coklat” ia menanyakan hal yang tidak perlu.Aku tertawa mendengar ucapannya "mana mungkin aku kehabisan uang,hanya saja tempat yang kau sebutkan itu sudah terlalu mainstream". “Huh lagian Kamu kok bisa nemuin tempat kaya gini?” ia bergerak menuju danau dan mencelupkan tangannya ke air danau yang segar.
“Sebenarnya ketika Aku pulang dari makam Anggi,Aku gak sengaja ketemu tempat ini” Aku tertegun setelah setahun lamanya Ia masih belum melupakan Anggi. Setiap bibir itu mengatakan nama Anggi hatiku langsung sakit.
“Ayo ikutin aku biar gak bosan” ucapku berdiri dan mencari-cari sesuatu. Nah aku menemukannya, kerikil. aku mengayunkan tangan dan pyur… Kerikil itu meluncur di atas air. Ega mengikutiku, mencoba melakukannya dengan baik tapi berakhir sangat buruk berkali-kali ia mencobanya hingga akhirnya ia menyerah. “Sini mau aku ajarin tidak hahahha"
“Gak mau hakim sekecil ini aku harus bisa,Eh tapikan melempar kerikil ke danau bakal nyebabin pendangkalan danau terus kalau danaunya dangkal airnya meluber kan bisa banjir heheh" ucapnya mencari-cari alasan. “Alah itu mah bisaan Kamu saja” aku mencibir nya
“Biarin…." Ucap nya sambil memalingkan muka..
Karena hari sudah gelap, matahari perlahan-lahan turun, aku berdiri dan menjulurkan tanganku dengannya. Ia menerima tangan ku dan hendak pergi duluan ke arah motor, Tapi aku menahannya "Lho kenapa? kita mau pulang kan? ". " Hah kata siapa? aku ingin bilang sesuatu padamu" Ucap ku dengan perlahan.
"Sesuatu? Maksud mu? " Ucap nya dengan kebingungan. "Aku.. aku.. selama ini sudah memendam rasa kepadaku, saat kau meminta untuk bertukar nomor ponsel. Aku mengenal kan mu kepada Anggi hingga kalian berdua berpacaran. Sebenarnya aku merasa cemburu dan tidak terima, tapi aku tidak mau merusak persahabatan". Ia meneteskan air mata aku kebingungan dan langsung mengelap air mata dipipi nya dengan jari ku. " Dasar" Ucap nya yang tiba-tiba langsung memeluk ku dan menangis dengan kencang.
"Kenapa? kenapa kau tidak bicara dari dulu" Ucap nya sambil memukul pundak ku dengan lambat. "Hahaha aku hanya menunggu waktu aja kok, sekarang sepertinya sudah waktunya ya? " Ucap ku sambil melepaskan tubuh nya dariku. Aku menyodorkan kepala ku ke arah telinga nya dan berbisik " Jadi maukah kau jadikan aku sebagai rumah barumu? ". " Hah apa? kau ngomong apa Rama" Ucap nya dengan nada mengejek, sepertinya ia ingin menyuruh ku untuk berbicara dengan keras. Yah memang betapa memalukan diriku ini menyampaikan perasaan ke seorang perempuan dengan ber bisik-bisik.
Aku menarik nafas dengan perlahan dan berteriak " Maukah kau jadikan diriku sebagai rumah baru mu? ". Ega tertawa mendengar teriakan seperti itu. Aku langsung memalingkan muka sambil menggaruki kepala. " Rumah? apa yang kau bicarakan? aku tidak mau menjadi kan dirimu sebagai rumah ku". "Ehh? ditolak yah? ". Ia menggelengkan kepala " Bb-bukan begitu kau sudah ku anggap lebih dari rumah,aku menganggap mu sebagai istana yang punya segala galanya".
Lalu hujan turun lagi dengan deras,Aku langsung menarik tangan Ega dan berlari ke arah motor. Aku melepaskan jaket ku dan memberikan nya kepada Ega.
"Hah katanya tidak mau membiarkan ku masuk angin kok memberikan jaket yang basah" Ucap Ega yang lalu tertawa dengan keras.