Namanya Lulu . Gadis cantik berparas ayu, seorang siswi baru di sekolahku. Sekolah kami memiliki asrama putra dan putri yang tentu terpisah lorong dan juga pintu. Hanya ketika jam pelajaran dimulai kami para siswa dan siswi bisa bertemu. Aku belum pernah melihat gadis secantik itu. Ia memiliki mata yang bulat, hidung mancung dan juga bibir merah jambu. Hari pertama kedatangannya langsung disambut gaduh. Semua murid laki-laki terpanah akan kedatangannya yang tiba-tiba dihari sabtu. Murid-murid perempuan juga tidak kalah rusuh. Gadis itu sudah dipastikan akan menjadi primadona di sekolahnya yang baru.
Lulu masih berdiri didepan kelas. Disampingnya berdiri wali kelas kami namanya ibu Laras. Lulu mulai berbicara, memperkenal dirinya secara singkat dengan senyum terulas. Ia mendapat tempat duduk dipertengahan kelas. Tempat yang bagiku cukup strategis untuk diam-diam memandanginya sampai puas. Ini adalah hari pertama kami saling berbicara. Saat itu sedang pelajaran olahraga, Lulu tidak sengaja terjatuh membuat kakinya jadi luka. Guru pelajaran olahraga menyuruhku mengantarnya ke dalam kamar di asrama. Saat itulah aku memapahnya menuju ke kamar yang berwarna merah muda. Selama aku membersihkan dan membalut luka, tidak ada kata yang keluar dari kami berdua. Suasana jadi canggung seketika. Tapi keheningan itu akhirnya terpecah, saat Lulu membuka suaranya.
"Terima kasih." Ujar Lulu singkat. Aku hanya membalasnya dengan senyum kecil.
"Aku keluar dulu, kau tidak apa aku tinggal?" Aku menjawab sambil membereskan peralatan P3K. Lulu menahan tanganku ketika aku hendak meraih gagang pintu.
"Temani aku disini sebentar lagi ya." Pintanya. Aku mengurungkan niat untuk kembali. Lulu berbaring ditempat tidurnya. Lagi-lagi hening tercipta.
"Dewa.." Panggil Lulu. Aku menoleh, menatap matanya yang sendu.
"Ya.. Kau membutuhkan sesuatu?"Tanyaku padanya. Lulu tidak langsung menjawab. Namun ia bangkit dari tempat tidur lalu menghampiri dewa.
"Bisakah kau menolongku?" Ia mengatakan itu dengan pelan. Aku mengernyitkan dahi sebelum akhirnya mengangguk.
"Bisakah kau memelukku sekarang?"Tanya Lulu lagi. Aku sedikit tersentak dengan permintaan itu, namun ku lakukan apa yang ia mau.
Lulu mengeratkan pelukannya dalam tubuhku. Aku merasa cukup bergetar karenanya, nafasku juga jadi memburu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu dahulu. Entah apa yang terjadi padanya dimasa lalu. Hanya saja aku pernah mendengar desas desus Lulu adalah anak broken home, kedua orang tuanya telah bercerai dan membuatnya menjadi sangat rapuh. Dan setelah hari itu, kami menjadi semakin dekat. Aku semakin sering masuk ke kamar Lulu diam-diam setiap malam bermodalkan nekat.
Aku dan Lulu semakin tidak terkendali. Setiap malam akan kami lalui dengan saling memacu nafas hingga subuh menjelang pagi. Bahkan saat melihatnya dikelas, aku sering tidak fokus dan berharap malam segera datang menghampiri. Lulu juga gadis yang pintar membuatku bereaksi. Ia liar dan kadang pintar membangkitkan fantasi. Tubuhnya selalu menggodaku dalam setiap imajinasi. Aku tidak tahu mengapa Lulu mau menyerahkan sesuatu yang paling berharga baginya untukku.
Malam ini, aku mendapatinya telah menunggu kedatanganku diatas sebuah kursi. Seperti malam sebelumnya, kami menghabiskan waktu untuk saling memuaskan hasrat diri. Ketika sudah sama-sama lelah, kami akan tertidur. Dan sebelum pagi datang, aku sudah pergi dari sana menuju kamarku sendiri.
********
Pagi ini aku tidak melihat Lulu. Kursinya kosong, membuatku rindu. Aku merindukan semuanya tentang Lulu, tubuhnya, harum rambutnya, bibir ranumnya, juga desahan yang tedengar menderu. Saat jam pulang aku mencoba bertanya pada Ayu, teman satu lorong dengan Lulu.
"Lulu tadi pagi di jemput ayahnya. Tapi dia tidak bilang akan kembali kapan." Hanya itu jawaban yang ia dapat dari Ayu.
Aku menatap jendela kamar itu dari kamarku. Aku merindukan Lulu. Bukan hanya tentang penyatuan kami yang hampir setiap malam berlaku. Tapi ini memang rindu. Aku merindukan Lulu dalam segala hal.
Sudah satu minggu, akhirnya Lulu kembali. Ia segera mengajakku untuk masuk ke kamarnya. Namun kali ini, Lulu sedang tidak bernafsu. Ia hanya memelukku.
Hening.
"Papa menjodohkan aku dengan anak rekan bisnisnya." Ujar Lulu. Kalimat itu mampu membuatku terpaku. Aku menatapnya. Mencoba melihat kesungguhan disana.
"Kau tidak menolak?" Tanyaku dengan serak
"Tidak bisa. Papa tidak bisa dibantah."
"Bagaimana dengan kita?" Aku bertanya pada Lulu. Berharap masih ada kesempatan.
"Lakukan apapun sebelum aku menikah. Dewa, aku mencintaimu. Tapi menentang papa sama saja membunuh diriku." Lulu mulai terisak. Aku mendekap Lulu erat. Aku mencintainya bukan hanya karena ia telah menyerahkan segalanya padaku. Tapi karena memang aku tulus menyayanginya.
Beberapa bulan lagi, kami akan segera lulus. Aku harus merelakan Lulu pergi dan menikah dengan lelaki lain. Tidak ada malam yang kai lewatkan tanpa bercumbu. Aku ingin memiliki Lulu utuh sebelum ia benar-benar berlalu. Hubungan terlarang ini disaksikan oleh lorong dan pintu. Dimana cinta telah mengunci hatiku.
********
Lima Tahun Kemudian..
Aku sedang memeriksa berkas yang akan ku tanda tangani saat itu. Namun sebuah ketukan menghentikan kegiatanku. Aku mempersilahkan seseorang itu masuk. Seorang karyawan baru, ia memiliki tubuh yang sintal menggoda dibalik kemeja putihnya. Ia menunduk, membuatku penasaran.
"Siapa namamu Nona?" Aku bertanya. Tidak ada jawaban. Namun didetik berikutnya, aku terkesiap. Sosok itu, seseorang yang paling aku rindukan setiap waktu. Seseorang yang telah memberi label rindu dibalik sebuah pintu. Gadis itu, sama terkejutnya. Ia terdiam cukup lama setelah akhirnya memutuskan untuk berbalik dan berlari meninggalkan aku yang masih terpaku. Aku mengejarnya tapi ia sudah jauh dan berlalu.
"Cari informasi tentang wanita yang akan diinterview hari ini." Aku memerintahkan bawahanku ditelepon. Dan tidak butuh waktu lama, akhirnya kudapatkan juga tentang apa yang aku mau.
Derit pintu kamar hotel yang sudah ku sewa berbunyi pelan. Seorang gadis melangkah menujuku dalam kegelapan. Aku beranjak, menghampiri perempuan ini dengan semua kerinduan. Luluku yang ku sayang. Kau hampir membuatku gila. Aku mengangkat dagunya, ku lihat bibir yang dulu hampir setiap malam berada dalam cumbuan. Wangi tubuh dan rambutnya yang membuatku mencandu. Lulu, dia masih sama menggodanya seperti dulu. Lulu, gadis yang sempat menjadi pelacur setelah ditinggal suaminya yang tidak berperasaan. Lulu, yang kini semakin membuatku rindu dan penasaran. Lulu, yang aku pikir telah bahagia dengan pernikahan dan tubuh pria lain. Lulu, yang telah dengan kejamnya dicampakkan.
Aku menarik Lulu kedalam pelukanku. Aku masih seperti yang dulu. Menantikannya dibalik pintu dan rindu. Memimpikannya setiap waktu. Dan aku, akan membawanya bersamaku.. kembali padaku.. meski ia telah malu tapi aku tidak mau tahu. Yang aku tahu, aku tetap menantikannya dengan semua perasaan Rindu dari balik pintu. Lulu, ya.. di milikku. Gadis dibalik pintu dahulu.
-END-