" CUMA SEGINI? DAPAT APA? SEKARANG APA APA MAHAL MAS."
Ucapku dengan nada tinggi menerima pendapatan suamiku hari ini yang tidak seberapa. Entah mengapa semakin hari semakin berkurang saja penghasilan yang ia dapatkan. Hal itu jugalah yang membuat emosi ku tak terkendali akhir akhir ini.
" Sabar ya dek, mudah mudahan besok besok rejeki kita lebih baik." Ucap suamiku datar.
" Sabar? Kurang sabar apa aku mas? Emang sabar itu bisa di makan? Tujuh tahun bersama kamu cuma bisa bilang sabar, sabar dan sabar. Bosan aku mas, aku bosan hidup begini." Jawabku masih meninggi.
" Besok mas akan bekerja lebih keras, biar bisa memenuhi keinginan mu."
" Alah, basi tau gak. Dari dulu juga kamu janjinya begitu. Nyatanya sampai sekarang? Jangankan keinginan ku, kebutuhan ku dan anak aja tak semua bisa kau penuhi." Potong ku cepat.
" Astaghfirullah.." Ucap suamiku sambil berusaha meraih tanganku. Segera ku tepis, setengah berlari aku menuju kamar dan langsung mengunci pintu dari dalam.
Ku tutup telinga karena suamiku masih berusaha memanggil ku. Aku tak peduli, tak ku hiraukan lagi apa yang di ucapkan nya. Terserah, aku benar-benar sudah muak dengan kehidupan ku yang hanya begini begini saja, jangan kan jalan jalan ke luar negeri seperti yang selalu di pamerkan Sartika, untuk makan dan beli susu anak pun kadang aku masih suka ngutang di warung mpok Rini.
Sartika dulu adalah tetangga sekaligus sahabat ku. Dari dulu kami memang selalu berbeda dalam memandang masa depan. Sekarang aku menyesal terlalu mengagung agungkan rasa cinta di atas segalanya. Ternyata cinta saja tidak cukup untuk menjalani hidup berumah tangga. Apalagi setelah punya anak.
Memang kadang kemiskinan lah yang membuat seseorang menjadi kufur, aku merasa Sartika jauh lebih beruntung walaupun suaminya hanya pulang dua kali dalam setahun, itu pun hanya beberapa Minggu saja. Tapi dia selalu bergelimang dengan harta, dia bebas pergi rekreasi, belanja, ke salon dan melakukan apa saja yang membuatnya senang.
Aku juga ingin bisa seperti itu, tapi lihat lah aku. Aku tak kan pernah merasakan kemewahan itu. Walau suami ku selalu ada, selalu sabar menghadapi sikapku yang kadang kadang suka keterlaluan, suami yang setia dan penyayang pada keluarga tak mampu membuat ku bahagia bersama nya.
Tak terasa hari hari pun berlalu. Meski tak banyak yang berubah setidaknya suamiku sekarang mulai bekerja di sebuah perusahaan bonafit. Walau tak bergaji besar paling tidak sekarang dia tak kerja serabutan lagi dengan penghasilan tak menentu.
Namun tetap saja aku belum puas, aku juga ingin merasakan kemewahan.
" Ini gaji mas bulan ini dek, untuk mu saja. Mas masih bisa cari penghasilan lain untuk kebutuhan mas sendiri." Ucapnya suatu sore.
" Kerja di perusahaan se besar itu gajinya cuma segini mas? Mang kamu di bagian apa di sana? Kabarnya di sana gajinya lumayan gede lo?" tanyaku.
" Namanya juga baru dek, sabarlah. Bantu doa semoga mas secepatnya naik jabatan dan bisa memenuhi impian mu." Jawabnya.
" Lama." Jawabku kesal.
" Sabar dek, mudah mudahan suatu hari nanti aku bisa mewujudkan mimpi mimpimu." Ucapnya lagi lagi tentang sabar
" Semoga saja, atau aku juga ikut kerja aja mas?" Tanyaku.
" Lalu siapa yang akan menjaga cantika?" Jawabnya.
" Di penitipan aja." Jawabku enteng.
" Masa kecilnya hanya sesaat dek, sebisanya aku ingin kamu mendampingi masa tumbuh kembang nya." Debatnya.
" Mendampingi dengan segala keterbatasan?" Aku mulai sengit.
"Apa ada jaminan semua akan lebih baik?" Dia tak mau kalah.
"Entahlah, yang pasti aku hanya tak ingin anak ku akan bernasib sama dengan kita yang selalu hidup miskin ini." Jawabku.
Mas Bakti tak lagi menjawab, dia tampak kecewa dengan jawabanku. Segera dia berlalu mungkin cari kerja sampingan.
Sampai malam dia baru pulang, wajah lelah tampak begitu nyata. Sebenarnya aku kasihan, tapi aku juga ingin segera berubah dari keadaan ini.
Pagi pagi sekali suamiku berangkat kerja sambil mengantar Cantika ke sekolah. Sekarang aku tinggal sendiri di rumah kontrakan kecil ini. Aku mencoba meracik masker alami supaya wajahku yang tak pernah tersentuh skin care ini tak terlalu kusam. Ah inilah salah satu alasan kenapa aku ingin kaya, agar aku juga bisa sekedar memanjakan diri di salon kecantikan.
Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu. Aku bergegas kedepan untuk melihat siapa yang bertamu sepagi ini.
Aku terkejut demi melihat siapa yang datang. Bagaimana tidak, penampilan wanita cantik ini sungguh menggambarkan kalau dia bukan orang sembarangan. Orang kaya, begitu bisikan hatiku pertama kali melihat nya.
" Maaf kak, jika kedatangan ku sedikit mengganggu." Ucapnya sambil memamerkan senyum manisnya.
" Siapa ya?" Tanyaku karna sebelumnya aku tak pernah mengenal orang ini.
" Boleh masuk?" Tanyanya tanpa menjawab dulu pertanyaan ku.
" Oh ya, silahkan." Jawabku sambil mengajaknya duduk di kursi ruang tamu yang tampak begitu kontras dengan keadaannya.
" Aku pemilik perusahaan tempat mas Bakti bekerja." Ucapnya memperkenalkan diri.
" Oh, ada apa ya buk? Apa ada masalah yang begitu berat dengan mas Bakti sehingga ibuk secara langsung mencari nya kesini?" Tanyaku khawatir.
" Tidak kak, justru kedatangan ku ke sini ingin berjumpa dengan mu kakak." Ucapnya.
" Mencari ku? Ada apa?" Tanyaku mulai curiga.
" Aku akan menyampaikan maksud kedatangan ku kesini, tapi sebelum nya aku mohon kakak mendengar kan semua tanpa menyela. Bagaimana?" Lanjut nya. Fikiran ku langsung mengira ngira. Apakah dia selingkuh an mas Bakti? Aku hanya mengangguk menyetujui permintaan orang ini.
" Silahkan buk, apa yang harus aku ketahui." Jawabku melihat dia mulai mengatur nafas.
" Santai aja kak, panggil aku Kinanti. Sekarang kita akan bicara layaknya sahabat." Jawabnya lagi.
" Oke, langsung aja Kinan. Apa yang ingin kamu sampai kan?" Aku mulai tak sabar.
" Aku jatuh cinta pada suami mu." Ucapnya tanpa basa-basi. Aku terkesiap mendengar kata-kata nya yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
" Bagaimana bisa.."
" Dengar kan dulu kak, aku belum memulainya." Ucapnya tanpa memikirkan perasaan ku saat dia mencurahkan isi hatinya tentang suamiku. Walau bagaimanapun dia suamiku dan aku mencintainya.
" Aku jatuh cinta sejak pertama kali melihat nya, dia laki laki paling sempurna di mataku. Dimana lagi aku akan menemukan pria tampan dengan kepribadian yang luhur seperti suami mu itu. Aku menawarkan dia untuk bekerja di perusahaan ku, dengan begitu aku bisa lebih dekat dengan nya dan lebih mengenalnya. Semakin hari rasa cinta ini semakin kuat karna melihat dia yang pekerja keras, jujur dan tulus. Sampai akhirnya aku menyatakan cinta padanya. Kamu tau kak? Untuk pertama kali aku mendapat penolakan dalam hidupku. Katanya dia sudah menikah dan sangat mencintai istrinya. Aku sangat penasaran dengan wanita yang berhasil membuat nya jatuh cinta dan memilih setia kepada wanita itu. Kemarin aku mengikuti nya sampai kesini, tentu saja tanpa sepengetahuan nya." Jelasnya panjang lebar.
" Jadi kau kesini hanya untuk menceritakan bahwa kau jatuh cinta pada suamiku?" Tanyaku mulai emosi.
" Tadinya aku berusaha untuk menerima keputusan nya tetap setia kepadamu kak, tapi maaf kemarin itu aku sedikit lancang mendengar percakapan kalian. Hal itu lah yang membuat aku berani menemuimu sekarang. " Lanjut nya.
" Aku mempunyai penawaran untuk mu." Katanya memancing ku.
" Apa mau mu?" Kataku ketus.
" Kak, kita mempunyai impian yang berbeda. Namun jika kita bekerja sama kita akan sama sama bisa mewujudkan impian itu." Jawabnya.
" Aku tak kan pernah meninggalkan suamiku." Ucapku mulai emosi. Sekarang aku tau arah pembicaraannya. Dia akan memberi ku uang agar aku bercerai dan dia akan memiliki suamiku.
" Tidak kak, aku tidak akan memintamu meninggalkan mas Bakti. Aku hanya ingin seperti mu, menjadi istrinya meski hanya jadi yang kedua." Ucapnya lugas.
" Lima puluh milyar." Ucapnya di saat aku masih belum bisa bicara karna terkejut mendengar nya ingin berbagi suami denganku. Dan semakin tak bisa berkata saat dia menyebut nominal yang mampu mewujudkan mimpi manisku.
" Seratus milyar" Lanjutnya saat tak ada reaksi dari ku.
" Plus rumah dan mobil mewah." Lagi dia menaikkan penawaran yang jujur sangat menggiurkan.
" Ayolah kak, penawaran ku hanya untuk saat ini. Kita tak kan pernah tau apa yang akan terjadi kedepan, jangan sampai kau kehilangan suami mu tanpa mendapatkan apapun." Rayu nya lagi, tapi aku tak bisa mengambil keputusan saat ini. Satu sisi aku begitu bahagia dengan penawaran yang dia berikan, dan di sisi lain aku juga tak ingin merelakan suamiku dengannya.
" Aku tak punya banyak waktu kak, aku tunggu jawaban mu secepatnya." Ucap wanita cantik yang mengaku bernama kinanti itu sambil meninggalkan benda pipih canggih yang selama ini hanya bisa aku bayangkan.
" Aku sudah menyimpan nomorku di sini kak, kabari aku kalau kakak sudah punya pilihan. Ini kesempatan emas untuk mu mewujudkan impianmu. Ku tunggu kabar baiknya." Ucap wanita itu sambil berlalu.
Aku tak percaya kalau ini bukanlah mimpi, benar kah aku bisa kaya hanya dengan berbagi suami? Ya, berbagi bukan berarti berpisah, aku akan tetap bisa memiliki mas Bakti.
Ini adalah jawaban dari doa dan harapan ku selama ini. Aku sudah mengambil keputusan dan mas Bakti harus mau.
" Kamu menjual ku dek?" Ucapnya dengan nada pedih saat aku menyampaikan keputusan ku.
" Bukan mas, cuma masing-masing kita memang harus berkorban. Di sini aku juga korban, tapi ingat ini demi masa depan Cantika." Untuk kesekian kalinya aku meyakinkan mas Bakti untuk menyetujui keinginan ku.
" Aku gak mau tau mas, kau pernah berjanji akan melakukan apa saja demi kebahagiaan ku. Ini saatnya kau membuktikan itu." Tandasku, ku lihat air matanya mulai menggenang. Tapi aku tak peduli, aku sudah terlalu muak dengan kemiskinan ini.
Hari pernikahan mas Bakti pun tiba. Aku adalah orang yang paling bahagia menunggu hari ini. Mas Bakti tampak begitu berat menjalani ini. Dasar aneh, harus nya dia bahagia bisa memiliki dua istri. Apalagi istri keduanya ini sangat cantik dan kaya raya.
Setelah mereka menikah kami pindah ke sebuah rumah megah bak istana yang aku pilih sebagai kompensasi kesediaanku berbagi suami. Tentu saja Kinanti telah menyerahkan semua janjinya waktu itu.
Penantian ku telah usai, satu persatu akan ku wujudkan daftar impian ku saat miskin dulu. Hari hari ku lalui dengan penuh kemewahan.
" Zara, hari ini kita akan menemani Cantika ikut lomba menyanyi dari sekolahnya." Ucap suamiku.
" Aduh mas, aku gak bisa. Hari ini aku ada janji dengan teman-teman ku." Ucapku karna memang hari ini aku ada arisan berlian dengan teman sosialita yang belum lama ini aku ikut bergabung.
" Tapi.."
" Ajak Kinan aja mas." Ucapku sambil berlalu.
Waktu pun terus berlalu. Sampai hari anniversary kami yang ke delapan tahun. Aku benar-benar lupa karna hari ini aku mengikuti les kepribadian agar terlihat lebih anggun sebagai wanita kelas atas.
" Aku menunggu dari pagi Zara, kemana aja sampai tengah malam begini baru pulang." Tanya mas bakti terlihat agak marah.
" Aku sibuk mas." Jawabku datar.
" Sini duduk, temani aku makan malam." Ucapnya setengah menarik tanganku ke meja makan.
" Aku capek mas, mau tidur. Lagian tadi aku udah makan di luar." Jawabku sambil melenggang menuju kamar.
" Kamu tau ini hari apa?" Tanyanya lagi.
" Happy anniversary sayang.. Udah ah, aku ngantuk." Jawabku, untung saja aku sempat melihat kue yang sudah di sediakan mas Bakti di meja tadi. Aku yakin mas Bakti sangat kecewa, tapi aku benar-benar capek hari ini.
" Mama sudah pulang... Ayo ma ajarkan Cantika mengerjakan PR ya..!" Pinta anakku manja.
" Maaf sayang, mama harus pergi lagi. Sebentar lagi mama ada kelas yoga." Jawabku menolak permintaan putri ku satu satunya.
" Tapi ma.." Ucapnya sambil berlinang air mata.
" Anak pintar harus bisa dong ngerjain PR sendiri." Ucapku lagi.
"Ada apa sayang? Bagaimana kalau kamu belajar nya sama mami?" Tawar Kinan demi melihat Cantika yang hampir menangis.
" Tu, dengar. Mami Kinan bersedia." kataku.
" Tapi Cantika mau sama mama." Jawabnya sedih.
" Sama aja kok, udah jangan banyak tingkah. Belajar sana sama mami Kinan." Ucapku sedikit membentak, aku tak mau terlambat ke salon langganan ku. Hari ini jadwalnya ganti warna rambut.
Bulan berganti dan tahun pun berlalu. Kekayaan ini benar benar telah melenakan ku. Aku sungguh terbuai dengan pencapaian ku saat ini. Semua tempat wisata yang aku impikan selama ini telah aku kunjungi.
Aku mulai bosan, dan aku kembali merindukan kasih sayang suami dan anakku. Selama ini aku begitu sibuk dengan duniaku dan melupakan mereka. Mimpi semalam membuat ku merasa sangat ingin bersama mereka saat ini.
" Cantika... Cantika.." Panggilku dari atas tangga. Berharap malaikat kecil itu segera berlari dan memeluk ku seperti biasa saat mendengar suara ku. Meski akhir akhir ini aku sering menolak nya tapi pasti dia akan tetap merindukan ku. Bukankah anak kecil itu tak punya dendam?
" Maaf buk, Non Cantika bapak dan nyonya Kinan sudah berangkat dari subuh tadi." Ucap bi Sumi salah satu ART di rumah ini.
" Kemana?" Tanyaku.
" Liburan ke Maldives katanya buk." jawab bi Sumi lagi.
" Kenapa mereka tak pamit?" Geramku.
" Kata bapak gak tega bangunin ibu." Jawab bi Sumi.
Aku mulai merasa kesepian sekarang. Aku mulai merasa bosan dengan aktivitas kemewahan selama ini. Dan aku merindukan kehangatan keluarga kecilku.
Aku ikuti kegiatan Kinan di sosial media, dia tampak sangat bahagia dengan suami dan anakku. Ku lihat di sana mas Bakti pun tak kalah bahagia nya apalagi Cantika yang tampak begitu manja dengan Kinanti.
Hati ku mulai panas, rasanya ada sesuatu yang nyeri di dada ini melihat kemesraan mereka layaknya keluarga. Dan aku? Di sini aku melawan kesepian sendiri dengan penyesalan luar biasa.
"Bukan ini yang aku inginkan Kinan, bukan ini. Kau tak seharusnya memonopoli suami dan anakku." Batinku.
Ternyata kekayaan ini tak lagi membuat ku bahagia sekarang. Aku baru menyadari harta yang paling berharga itu adalah keluarga.
Menunggu kepulangan mereka merupakan hari hari yang terasa lama. Penantian ini menyiksaku sampai ke sumsum tulang.
" Cantika, mama rindu nak. Kenapa meninggalkan mama begitu lama?" Sambut ku saat melihat kepulangan mereka.
" Kenapa rindu ma? Bukannya mama sibuk salon dan arisan?" Ucap anakku ketus.
" Kenapa ngomong gitu nak?" Tanyaku tak percaya kalau yang bicara itu adalah anakku.
" Itu kenyataan kan ma? Selama ini mama gak pernah punya waktu untuk ku. Bahkan mama lupa hari ulang tahun ku. Untung ada mami Kinan, kalau tidak? Mungkin aku akan lebih menyedihkan dari anak piatu di luar sana." Ucapnya sambil berlalu ke kamarnya.
" Kinan, apa yang telah kau lakukan? Kau mencuci otak anakku, sampai dia berani berkata seperti itu kepada ku?" Ucapku emosi.
" Tuduhan mu tidak benar kak. Lihat lah Cantika sudah besar sekarang. Dia lagi mencari jati dirinya kak. Dan saat dia butuh sosok ibu, kakak tak pernah ada, dan kenapa sekarang kakak marah saat dia lebih nyaman bersama ku?" Tanya Kinan benar.
" Tapi aku ibunya Kinan, ibu kandung nya." Ucapku penuh penekanan.
" Kalau begitu buktikan kepada Cantika, bukan kepadaku kak. Tapi ku rasa Cantika juga butuh waktu untuk bisa menerima kakak lagi." Jawab Kinan.
" Kamu jagat Kinan, kau merebut segala nya dari ku. Suamiku, kebahagiaan ku bahkan juga anak ku." Ucapku emosi, tak bisa lagi ku bendung butiran bening ini.
" Sadarlah kak, aku tak pernah merebut apa pun darimu. Aku membelinya dari mu, kalau pun kau sampai kehilangan kasih sayang dari suami dan anakmu, itu bukan salahku. Introspeksi diri mu kak, apa yang telah kau lakukan kepada mereka sehingga mereka semakin jauh darimu. Aku tak pernah punya niat memisahkan kalian, tapi seiring dengan sikapmu yang seolah-olah menjauh menjadi keuntungan bagiku. Mereka lebih nyaman bersamaku bukan karena inginku, tapi adalah keberuntungan ku. Mereka memilih kehangatan yang aku tawarkan saat semua tak lagi mereka dapat kan darimu. Lalu salah ku di mana?" Ucap Kinan panjang lebar tanpa bisa aku bantah sedikit pun. Aku hanya bisa menatap punggung nya yang semakin menghilang di balik ruang keluarga.
" Mas?" Panggilku pada mas Bakti yang sedari tadi hanya diam membisu.
" Mas, kembali kan kebahagiaan ku mas. Kembalikan Cantika dan kembali lah padaku mas. Aku merindukan mu." Rayuku penuh sendu.
" Maaf Zara, aku sudah TERJUAL." Jawabnya menyakitkan. Dia pun berlalu meninggalkan aku yang saat ini seperti tak lagi memiliki tulang belulang. Aku luruh ke lantai dan menangis menyesali ketamakan ku akan harta dunia.