Suasana di sebuah restoran sangat ramai, banyak sekali pengunjung yang berada disana karena memang sudah jam makan siang.
Seorang pria bernama Viko, sedang menunggu kekasihnya Jihan untuk makan siang bersama. Viko sengaja duduk di dekat jendela agar bisa melihat kedatangan Jihan dan agar Jihan juga bisa menemukan keberadaan nya dengan cepat.
Beberapa menit menunggu, Viko akhirnya bisa melihat gadis berambut hitam lurus sepunggung dan memakai setelan blouse dan rok mini warna biru muda itu berjalan di pinggir jalan raya dan melangkahkan kaki menuju restoran.
Namun hal yang mengejutkan terjadi, sebuah mobil menghadang jalan Jihan dan seorang pria bertopeng menariknya masuk ke dalam mobil. Pria itu menutup mulut Jihan hingga dia tidak bisa berteriak.
Viko yang menyaksikan hal itu berlari keluar restoran lalu mengejar mobil yang sudah membawa pergi kekasihnya itu. Sialnya, dia tak bisa menandingi kecepatan mobil itu.
Vika meraih ponselnya dari dalam saku, berniat akan melapor kan kejadian itu pada kantor polisi. Tapi sebelum dia menekan nomer polisi, sebuah nomer tak dikenal mengirim nya pesan.
'Jangan lapor polisi atau mengatakan kejadian ini pada siapapun, atau kekasih mu tidak akan kembali dengan utuh!'
Begitu lah isi pesan yang Viko terima, Viko memukulkan tangannya ke udara. Dia menjambak rambutnya sendiri.
Pikirannya terus memikirkan siapa yang sudah melakukan hal ini.
Sementara itu pria bertopeng tadi menarik Jihan dan membawanya ke sebuah ruangan, dia mengikat Jihan di sebuah kursi lalu menutup mulut Jihan dengan lakban.
"Diam!" seru pria itu lalu mengambil sebuah kursi lagi dan duduk di depan Jihan.
Mata Jihan menatap tak suka pada pria dihadapannya itu. Tapi Jihan sangat terkejut ketika sang pria bertopeng itu membuka topengnya.
'Viko!' batin Jihan.
Pria itu terkekeh melihat ekspresi wajah terkejut yang ditunjukkan oleh Jihan.
"Kamu pasti mengira aku Viko, benarkan?" tanya pria itu.
Jihan masih dalam mode bingung, hingga dirinya tidak dapat menjawab pertanyaan pria dihadapannya itu.
Pria itu memegang dagu Jihan dan bertanya sekali lagi.
"Apa kamu mengira aku adalah Viko? jawab!" tanya si pria yang sepertinya sedang dalam keadaan setengah mabuk.
Jihan menganggukkan kepalanya dengan cepat, kemudian dia memalingkan wajahnya dengan cepat pula dari pria itu karena tercium bau alkohol yang menusuk hidungnya.
"Aku Viki, saudara kembar Viko. Tapi apa kamu tahu meskipun kami kembar, semua orang memperlakukan kami secara tidak adil. Aku dibuang jauh ke pedalaman bekerja keras untuk hidup dan makan, sementara kamu bisa lihat kan Bagaimana kehidupan Viko. Hidupnya penuh dengan kemudahan, apapun yang dia inginkan pasti dia dapatkan. Apa salah ku hingga ayah ku lebih memilihku dan akhirnya dia meninggal. Sementara ibu ku dan Viko hidup dengan penuh kesenangan setelah wanita tua itu menikah dengan orang kaya. Wanita itu jahat, dia mengkhianati ayah ku..." cerita Viki dengan emosional.
Saat ini Jihan bahkan bisa melihat dengan jelas bahwa lelaki itu menangis. Hati Jihan ikut sakit mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Viki. Jihan bisa merasakan betapa terlukanya Viki.
"Dia bahkan sangat beruntung karena mendapatkan wanita sebaik dirimu sebagai kekasihnya!" sambung Viki.
Mata Jihan ikut berkaca-kaca mendengarkan cerita Viki, pria dihadapannya itu hanya merasa sedih karena kurang kasih sayang dan perhatian.