Kata kunci: Hot pot, hilang, hidup.
Malam yang sunyi,di penghujung jalan yang gelap. Sekotak obat untukmu kubawa. "Nak! Ada sesuatu yang tertinggal di masa lalu." Ujar wanita paruh baya yang menghadangku. "Apa itu?" Tanyaku.
"Sebuah ikatan."
*****
Aku berdiri di dekat lampu merah. Menunggu untuk menyeberangi jalan, ku lihat seorang pria dengan sosok yang tak asing tengah menungguku diseberang sana. Menatapku dengan senyuman hangat, hari ini aku tidak akan melepaskannya.
Rambu penyeberangan berubah hijau, menghentikan lajunya kendaraan yang lalu lalang. Memberi kesempatan untuk para pejalan kaki lewat. Aku pun mengambil langkah, aku ingin lebih dekat dengannya.
Di bawah langit gelap yang diselimuti dinginnya udara di bulan Oktober. Senyumannya menghangatkan suasana.
Tiba-tiba sekumpulan pria berbusana serba gelap bergerak cepat dari belakangku, menabrak bahuku. Lewat tanpa permisi, benar-benar tidak ada etika.
Mereka mendekati Vano, aku pikir itu adalah teman lamanya.
Namun aku salah. Bukan teman, melainkan lawan.
Mereka meninju titik vital Vano, membuat pria itu terkejut bukan main. Rasa sakit yang menimpa perutnya berhasil memberi celah kepada mereka untuk berbuat lebih jauh lagi. Di kerumunan, mereka mencuatkan sebilah pisau. Itu keluar dari pakaian tebalnya. Aku semakin panik. Orang-orang menjauhinya, tak ada yang berani mendekat.
Aku mencoba mencari jalan dari sempitnya kerumunan. Bergegas, berharap bisa menyelamatkannya.
JLEBB!!!
Aku terlambat, mereka berhasil menancapkan benda tajam itu tepat di perut bagian bawahnya. Lalu menariknya tanpa ampun. Bayangkan, betapa sakit yang ia rasakan.
"VANO!!"
Aku berteriak keras, rasa panik mengalahkan fokusku. Aku bahkan mendorong orang yang menghalangi jalanku. Menganggap semua orang baj*ng*n yang tidak mau menolongnya.
Dadaku terasa amat sesak melihat noda merah muncul menodai kemeja putihnya. Darah itu mengalir deras dari perut bagian bawahnya, Jatuh dan menutupi permukaan jalan yang dipijaknya. Kedua kaki jenjangnya seolah tak bertenaga, melangkah lemah. Terhuyung pijaknya.
Naasnya, priaku terjatuh. Cairan merah itu tak kunjung berhenti mengalir, membuatnya berada di titik terlemah. Aliran cairan merah itu menutupi aspal, bahkan tanda putih penyeberangan itu tertutup oleh pekatnya darah merah. Tak puas, mereka bahkan menginjak keras leher Vano. Membuat amarah tak bisa ku tahan lagi.
"B*JING*N!!!!" Aku ditahan oleh kumpulan manusia yang berada di dekatku. Mereka tak ingin aku menjadi korban kedua.
Suara sirine polisi menggema di sepanjang jalan, membuat para b*j*Ng*n itu berlari meninggalkan tempat kejadian. Aku menepis tangan orang yang menghalangiku. Berlari mendekati pria malang di sana. Tangisku pecah seketika, melihatnya terkapar tak berdaya. Tanganku gemetar panik. Aku mencoba menutupi luka tusuk itu dengan kedua tanganku. Berharap darahnya berhenti mengalir.
"Bertahanlah Van!" Ucapku mencoba membuatnya tetap sadar.
Matanya sayu, bibirnya pucat, dan bahkan ia sulit untuk bernapas. Tangisku semakin menjadi jadi, kenapa disaat seperti ini bantuan datang sangat lama?
Sebuah tangan yang penuh dengan noda merah dan jari jemari yang terasa dingin menyentuh wajahku, mengusap air mataku. Dengan luka yang terbuka lebar ini, dia masih bisa menunjukkan senyumannya padaku.
"Ha..."
"Bertahanlah! Kau harus selamat!"
Tak bisa mengangguk, ia malah menunjukkan tawa kecil padaku. Sial, Aku tak bisa melihat ini lagi. Tolong berhentilah berpura-pura baik baik saja. Kumohon, aku tahu kau kesakitan.
"A.... Lina" Lirihnya
"Bertahanlah! Kumohon! Kau harus tetap hidup!" Ucapku meyakinkan sembari mencoba menjaga kesadarannya.
"Untuk... siapa?"
"Tetaplah hidup! Untukku!" Tegasku.
Senyuman diwajahnya semakin melebar. Apa itu membuatnya puas? Seketika pandangannya melemah, ia jatuh dalam titik bawah kesadarannya.
"Van? Sadarlah! tolong jangan bercanda!" Ia tidak bercanda. Ini benar-benar terjadi. Titik demi titik air jatuh dari langit membasahi tubuhku, seolah langit pun merasakan pedihnya hatiku.
"VANO!!!"
*****
Aku melangkah menyusuri jalan yang pernah kulalui bersamanya. Dinginnya udara di bulan ini menusuk kulitku. Oktober, apa kabar? Pandanganku terbidik pada sebuah kedai makan yang penuh dengan gemerlap lampu penerang. Sebuah kedai makan yang menjual hot pot. Pria itu menyukai hot pot. Ini mengingatkanku pada ingatan waktu itu. Tiba-tiba sebuah memori terputar di benakku.
Aku dengannya duduk di kursi dekat jendela kaca. Menunjukkan suasana retro kota ini. Ditemani hidangan hot pot dengan uap uang mengepul.
Kala itu ia menceritakan semua kisahnya ketika ia tinggal di benua Eropa, Belanda.
Suaranya, tawanya, dan guraunya. Aku merindukan semua itu. Berbicara sembari menyeruput kaldu hot pot hangat, ia menceritakan kisahnya yang mengenal makanan itu namun seolah olah itu hanya bualan semata.
Percaya atau tidak,aku awalnya tidak percaya dengannya.
"Hei! Kau pikir di Belanda tidak ada hot pot? di sana bahkan ada kedainya." Ucapnya dengan raut kesal. Tanpa sadar aku tertawa mengingat raut kesalnya yang lucu.
Namun, aku kembali pada kenyataan. Gerimis, titik-titik kecil air ini seolah mengganggu nostalgia. Aku pergi, melanjutkan langkahku meninggalkan memori itu.
*****
Malam yang sunyi,di penghujung jalan yang gelap. Sekotak obat kubawa. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya muncul, menghadangku hingga membuatku terkejut bukan main.
"Nak..." Panggilnya.
"Ya?"
"Nak! Ada sesuatu yang tertinggal di masa lalu." Ucapnya yang membuatku bingung.
"Apa?" Tanyaku memastikan, untuk apa ia mengatakan hal itu padaku?
"Aku yakin pendengaranmu baik." Sahutnya.
Entah mengapa muncul rasa penasaranku, aku menatapnya dengan serius. Aku harap ia tidak sedang mempermainkanku.
"Apa itu?" Tanyaku.
"Sebuah ikatan dan janji." Sahutnya.
Aku terbingung-bingung. Ku pikir ia akan mengatakan bahwa aku meninggalkan barang seperti dompet ataupun uang. Namun ini... Janji? Yang benar saja.
"Setiap langkah yang kalian tempuh diiringi oleh kutukan dan dendam. " Sambungnya. Aku rasa ia hanya wanita aneh yang tersesat.
Tunggu! Apa maksud dari kata "Kalian" itu?
"Kau adalah kekuatan sekaligus kutukan bagi hidupnya. Jika ingin berdiri berdampingan dengannya... maka perbaikilah masa lalu." Ucapnya yang kemudian berjalan menjauh dariku.
Aku tertegun mendengarnya. Apa yang ia maksud adalah aku dan Vano? Lalu apa hubungannya dengan kutukan dendam dan masa lalu?
Aku kembali melanjutkan perjalanan, menganggap semua itu tidak penting. Ya, tentu saja. Setiap orang akan menganggap perkataan itu hanyalah bualan. Ya, aku rasa begitu.
*****
"Ha..." Aku mendengar suara napas yang tak beraturan. Membuatku terbangun di tengah malam. Ku lihat Vano yang terbaring penuh dengan keringat dingin. Tertidur dengan gelisah. Sepertinya ia sedang bermimpi buruk.
"Ai... Ai...." Ia menyebut sesuatu, "Ai" ? Apakah itu sebuah nama?
Tiba-tiba ia terbangun dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Membuat dadaku terasa berat melihatnya.
"Ada apa?" Tanyaku penuh khawatir.
"Hilang!" Ucapnya dengan panik.
"A-apa yang hilang?" Tanyaku. Ia meremas rambutnya frustasi. Tangisnya mengalir dengan deras. Ia bahkan mengabaikanku.
Rasa pedih hati menyerangku, apa yang telah terjadi padanya?
Berhari-hari setelah tragedi itu. Ia lebih sering mengurung diri, mengabaikanku. Dan menatap kosong ke arah luar jendela. Mengenakan gips di lehernya yang jenjang. Dengan pergerakan yang terbatas, Aku bahkan belum melihat keadaan lukanya. Aku tak tahu apa yang sedang berputar dalam pikirannya.
*****
Rasa khawatir menghantui pikiranku. Aku kembali berada di tempat itu, di dekat lampu merah. Entahlah, pikiranku sedang kemana-mana. Untuk berjalan pun aku tidak bisa fokus pada tujuan.
Tanpa sadar aku melangkah, dengan bayang-bayang kekhawatiranku padanya.
Tiba-tiba ku dengar sebuah klakson mobil berbunyi sangat kencang.
"TIINN!!!!"
"BRAKKK!!!!"
Aku merasa tubuhku sangat ringan hingga terhempas dengan mudahnya, lagi-lagi aku melihat cairan merah mengalir deras. Namun apa? Ini adalah darahku sendiri. Aihh.. Apa aku akan mati begitu saja disini? Aku bahkan belum menyiapkan hot pot kesukaan Vano.
Tidak bisa mati begitu saja, tapi aku lelah. Bisakah aku meninggalkan hidup ini sebentar saja? Jika iya, bisakah aku kembali lagi? Tidak tahu. Pandanganku kabur, mungkin ini yang terakhir. Tidak bisakah aku berpamitan dulu dengannya? Setidaknya aku ingin melihatnya dalam keadaan baik-baik saja.
Seketika ku ingat perkataan wanita paruh baya waktu itu. Sepertinya memang benar, keberadaanku adalah kutukan untuknya. Jika memang bisa ku perbaiki, aku ingin kembali ke masa lalu. Akan ku ubah segalanya demi dirinya. Aku... berjanji.
*****
Wajahku terasa diterpa angin ringan yang sejuk.
Aku terbangun di atas ranjang yang nyaman, apa ini? Aku belum mati? Ku lihat langit-langit. Sungguh aneh, di rumahku tidak mungkin ada ukiran di atas langit-langit kamar.
Ku lihat di sebelahku, ada seorang pria tengah duduk di atas ranjang tepat di sebelahku sembari membuka lembaran buku halaman demi halaman.
"Aislinn... buku ini bagus ya..." Ia menoleh ke arahku, aku berlinang air mata. Ku tangkap gambaran seorang pria yang ku kenal sedang tersenyum padaku. Dengan keadaan baik-baik saja. Dan ia tidak mengabaikanku lagi. Persis seperti yang aku harapkan.
Tanpa berpikir panjang, aku memeluknya erat. Air mata tak bisa ku tahan lagi. Basah membanjiri kedua belah pipiku. Jika ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku.
"Aku berjanji, aku akan memperbaiki semuanya! Tetaplah disini bersamaku!"
*END*
*PERINGATAN!!!
JANGAN LUPA LIKE! KOMENTARNYA JUGA!
PLEASE! AUTHOR MAKSA🙂🔪
AWKWK, CANDA NGAB🗿✌️