Mereka yang menikmati masa muda saat ini adalah orang-orang yang bodoh. Tanpa mempedulikan masa depan, mereka hanya fokus menyenangkan diri sendiri.
Bercanda bersama teman, menyapa satu sama lain. Lalu, tertawa. Mengabaikan orang lain yang sedang kebingungan.
Intinya, bagi mereka 'Penyendiri' bukanlah pilihan. Karena dengan menjadi penyendiri maka hidup mereka bisa kesulitan. Tertekan.
Siang itu, aku berjalan menyusuri lorong sekolah. Menuju satu tempat, kantor tempat guru wali kelasku. Saat sedang berjalan, tiba-tiba saja seseorang menabrakku.
"Maaf," ucap laki-laki itu kemudian merangkul bahu sahabatnya.
Benar-benar tidak bertanggung jawab, kualitas murid rendahan memang membingungkan.
Sial, kertas essayku kotor gara-gara mereka. Cih, aku membuat ini dua hari. Apa mereka tak tahu betapa sulitnya memikirkan kata-kata essay?
Ah sudahlah.
Melupakan apa yang baru saja terjadi, aku berjalan menuju ruangan Ichiba Nose–wali kelasku. Si wanita cerewet itu. Sungguh, kalau saja boleh, aku ingin pindah kelas dari dulu.
"Ohayou!" sapa seseorang dari arah belakangku. Suara seorang perempuan.
Seriusan, dia sedang menyapaku? Siapa dia? Kurasa, aku belum pernah bertemu dengannya.
Aku berbalik menatap belakang. Benar, aku melihat seorang gadis berambut coklat sedang melambaikan tangannya di udara.
Aku tersenyum tipis, mengangkat tanganku sampai sejajar dengan dada kemudian menggerakannya ke kanan dan ke kiri.
"Ohayou mo, Natsumi!" teriak seseorang dari arah belakangku lagi.
Mereka berdua saling merangkul tepat di sampingku.
Jadi, maksudnya?
Tck, aku terlalu berharap banyak.
Ternyata, dia tidak sedang memanggilku. Tapi memanggil sahabatnya. Masuk akal dan menjengkelkan.
Masuk akal, karena mana mungkin mereka mengenalku yang bahkan tak kenal mereka.
Menjengkelkan, harusnya aku tak perlu tersenyum tadi. Sialan.
=•=•=
Manusia makhluk sosial. Bagiku, teori ini hanya seperti ... pfttt. Teori ini menjelaskan kalau manusia tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
Poin ini benar. Hubungan antar manusia diibaratkan dengan sisi-sisi segitiga. Setiap garis saling bersandar agar dapat membuat mereka semua berdiri. Lalu apa yang akan terjadi dalam segitiga yang salah satu garisnya hilang? Tentu saja, gagal.
Manusia hidup dalam topeng yang berbeda-beda. Cukup ambil topeng bahagia, untuk terlihat bahagia. Cukup ambil topeng sedih, untuk terlihat sedih. Selalu saja begitu, terulang tanpa akhir. Topeng yang digunakan untuk menutupi kebohongan. Berpura-pura baik untuk menghancurkan satu sama lain.
Manusia memang ras yang paling aneh. Mereka selalu menyudutkan para penyendiri padahal mereka sendiri tak jauh lebih baik.
Kadang, penyendiri bisa berpura-pura bodoh untuk membodohi orang bodoh yang berpikir bahwa dia bisa membodohi. Kami diam bukan berarti kami membiarkan. Diam, memperhatikan, lalu bertindak. Bukankah sudut pandang para penyendiri lebih bisa dipercaya daripada tindakan orang yang 'normal'?
Berbanding terbalik. Beberapa orang mungkin tak bisa menerima fakta ini. Karena kebenaran tak bisa diterima oleh semua orang. Mereka, para manusia mencoba berdiri di atas kebohongan. Menenggelamkan kemurnian dan memprioritaskan dusta.
Penyendiri memiliki caranya sendiri. Aku bisa saja berbohong dan menutupi identitas diriku yang adalah penyendiri tingkat atas. Namun, aku tak bisa. Karena aku tak bisa membohongi hatiku sendiri.
Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa manusia bukanlah makhluk sosial, melainkan sekumpulan ras bodoh yang selalu membodohi orang yang 'bodoh'. Mereka menghempaskan fakta jauh-jauh dan mengutamakan kebohongan. Para manusia memang tak bisa terikat dengan yang namanya "Kenyataan".
* Oleh Ryusei Michikusuda, 2-F
=•=•=
Dengan tatapan mata yang serius serta suara lantang, seorang wanita yang tengah duduk bersandar di depanku ini membacakan hasil tulisan essayku kuat-kuat. Saking kerasnya, hingga membuat guru-guru lain memperhatikan kami.
Dialah Ichiba Nose. Julukan yang kubuat "Si cerewet" memang tak salah. Guru bahasa Jepang sekaligus wali kelasku itu sepertinya memang sengaja ingin mempermalukanku.
Ayat satu, intimidasi terhadap penyendiri. Pelanggaran yang sangat sering dilakukan.
Apalagi, Ichi-sensei adalah karakter guru yang keras. Dari dulu, dia selalu mewanti-wanti murid-muridnya agar mau bergaul bersama kehidupan sosial. Mati aku.
"Ekhem, Ryusei. Ibu memintamu menulis tentang hubungan manusia makhluk sosial, kan? Lalu kenapa kamu malah menulis kalimat-kalimat anak SD begini?" tanya Bu Ichi sambil menyodorkan sebuah kertas dengan sebagian bekas pijakan kaki di atasnya.
Tck, gara-gara laki-laki itu.
Aku mengambil kertas essay itu dengan segera. Kemudian meniupinya di bagian yang kotor. "Maaf, Bu. Saya bisa bersihkan kotoran ini," ucapku masih terus meniupi dan membersihkan kotoran bekas tanah di kertas ini.
Kenapa nodanya sangat sulit dihilangkan? Dasar, mereka ini menginjak tanah atau kotoran hewan?
Bu Ichi menggebrak meja kayu pribadi sekuat-kuatnya. Membuat semua orang tercengang dan diam, apalagi aku yang ada di depannya. Suasana riuh kantor guru seketika sunyi.
Bu Ichi mengangkat kembali tangannya, lalu melipatnya di bawah dada sedangnya.
Maksudku, ayolah. Kau tak perlu pamer begitu. Punya ibuku jauh lebih besar darimu.
"Ryusei. Ini bukan waktunya bercanda!" teriak Ichi-sensei memperingatkan.
"Tapi, saya tak bercan–"
"Diam! Ibu tak mau mendengar bualan-bualan payahmu saat ini. Sekarang, ibu minta kamu baca ulang tulisan essaymu itu," pintanya menyuruhku.
Dia sangat mengerikan.
Karena tak mau berlama-lama di tempat pengap nan sempit ini, aku segera melaksanakan permintaannya barusan. Kubalik kertas essayku dan mulai membaca satu per satu kata yang tersusun rapi. Kecuali kalau dilihat dari faktor bagusnya tulisan tangan, mungkin jauh dari kata rapi. Lupakan.
Setelah beberapa saat, aku telah selesai membaca.
Bu Ichi duduk bersandar di kursinya dengan tangan yang masih mempertahankan posisi sama. Matanya masih memperhatikanku. Bibirnya menyatu lekat, seolah bersiap untuk menerkamku. Aku harus segera selesaikan membaca tulisan ini.
"Jadi, bagaimana, Ryusei?" Bu Ichi beranjak dari kursinya dan berjalan ke arahku.
Bagaimana menjawabnya? Kurasa dia memang benar. Tulisanku ini sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku menulis ini? Ini tulisan anak berusia lima tahun.
Aku menelan ludahku karena Bu Ichi semakin mendekat. Seperti sedang bertemu hantu, tapi Ichi-sensei versi marah lebih mengerikan dari hantu manapun.
"Essay yang saya buat memang sangat tidak masuk akal, Bu. Ya saya akui. Maaf," ungkapku, "lalu, apa sekarang saya boleh kembali ke kelas? Sebentar lagi jam istirahat selesai."
Bu Ichi menggerakkan jemarinya berirama. "Bagaimana dengan tugas essaymu ini? Terserah kamu, ya. Ibu tak memaksamu untuk mengumpulkan ulang, cuma kalau kamu mau mendapat nilai ... ya kamu harus melakukannya," terang wanita itu menjelaskanku.
Sebenarnya, aku ingin melawan. Tapi hal itu malah akan membuatku semakin berlama-lama di sini. Aku ingin makan.
"Nanti sore. Sepulang sekolah, saya akan ke sini sambil membawa hasil essay yang sudah ditulis ulang." Meyakinkannya dengan kalimat seperti itu, kurasa dapat bekerja.
Ichiba-sensei tersenyum. "Bagus. Itulah sikap yang ibu harapkan darimu. Oh ya, Ryusei. Jangan kembali dulu, ibu ingin memberimu hadiah," ujarnya dengan senyum yang sama.
Melihatnya begitu, membuatku merasa was-was. Guru cerewet ini pasti punya rencana.
~Bersambung~
Ini adalah penggalan novel ketiga Miku. Kalo kalian kepo, bisa cek di profil. Judulnya "Suki?" (Suka?). Sekian dan terima gaji.