Untuk lebih memahami isi cerita diharapkan membaca bagian pertama : Hujan di Bulan September.
Hai, namaku Rahman. Rain Septian Ar-Rahman.
Tapi semua orang memanggilku Rain.
Aku punya satu rahasia, yang tak diketahui siapapun kecuali diriku sendiri.
Sebenarnya, aku benci dengan namaku dan aku benci dengan hujan.
Aneh kan?
Tapi, ada cerita dibalik rasa benciku.
Ini kisahku..
Sejak pertama masuk sekolah dulu, teman-teman selalu meledekku. Saat hujan turun, mereka akan berkata : "Itu karena ada Rain, jadi hujan datang."
Aku selalu berpikir, apa yang salah dengan namaku?
Sejak itu, aku mulai merasa tidak nyaman dengan namaku sendiri. Tapi, bukan itu alasan utamanya.
Namaku Rain Septian. Yang artinya, Hujan di Bulan september. Awalnya aku mengira, ayah dan ibuku memberikan namaku seperti itu karena aku terlahir tepat di musim penghujan. Tak salah memang. Dan sejak yang aku bisa ingat, ayahku sangat suka dengan hujan. Setiap kali hujan turun ayah selalu berkata, dia sedang kembali ke masa terindah dalam hidupnya.
Saat aku mulai beranjak dewasa, kuberanikan diri untuk bertanya padanya. Apa yang membuat ayahku begitu menyukai hujan?
Dan jawabannya, membuatku merasa trenyuh.
Di bulan september saat hujan turun, adalah saat pertama kalinya ayahku bertemu dengan almarhumah ibu. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama, dan berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Kisah yang klasik, tapi cukup romantis menurutku.
Di bulan september dua tahun setelah mereka menikah, aku dilahirkan juga saat turun hujan. Aku mulai mengerti, kenapa ayah dan ibu memberiku nama Rain Septian.
Tapi yang membuatku merasa jatuh ke jurang terdalam, di hari yang sama aku justru kehilangan sosok wanita yang telah memberikanku kehidupan.
Ya, Ibuku wafat sesaat setelah melahirkanku.
Itulah kenapa, aku sangat membenci hujan.
Karena hujan, selalu mengingatkanku pada ibuku. Dia yang tak pernah kukenal, dan tak pernah bisa kurengkuh.
"Ah, hujan lagi.."
Aku menggumam.
Hari sudah mulai sore, dan aku masih menunggu di bandara. Paman Arya sedang di perjalanan menjemputku.
"Rain.. Ya Allah, paman sangat merindukan kamu."
Paman Arya yang baru saja tiba langsung memelukku.
"Paman, sudah berapa kali aku katakan jangan memanggilku seperti itu."
Aku menggerutu.
"Ya baiklah, paman minta maaf Rahman. Tapi, kenapa kamu pulang mendadak san tidak memberi kabar sebelumnya?"
Aku memang mengambil cuti beberapa hari dari kantor. Besok adalah ulangtahun ayah, dan aku ingin memberinya sedikit kejutan. Itulah kenapa aku meminta paman Arya yang menjemputku.
"Paman gak bilang sama ayah kalau aku pulang kan?"
Paman Arya menggeleng.
"Pagi tadi paman tidak sempat bertemu ayahmu. Sepertinya dia buru-buru berangkat ke kantor."
"Baguslah, aku merencanakan kejutan kecil untuk ayah."
Ucapku.
"Ayo kita pulang."
Aku menggeleng perlahan.
"Tunggu sampai hujannya reda."
Paman menatapku heran.
"Kenapa, apa kamu takut dengan hujan?"
Aku menggeleng.
"Aku hanya tidak ingin basah kuyup sampai dirumah."
Jawabku berbohong.
"Baiklah, jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? Ngopi mungkin?"
Aku berjalan mendului paman Arya, menuju caffe yang disediakan di bandara.
Aku duduk di salah satu sudut ruangan bersama paman Arya.
Dinding ruangan terbuat dari kaca, sehingga pandangan tembus keluar.
Hujan masih cukup deras, kulihat banyak orang berlalu lalang menggunakan payung. Sepertinya mereka baru saja tiba, atau mungkin akan pergi ke suatu tempat.
Tanpa sengaja mataku terpancang pada seseorang jauh didepan sana.
Seorang wanita berpakaian syar'i, sedang berlari ditengah hujan. Aku memfokuskan mataku. Tidak, sepertinya dia justru sedang menari bersama hujan. Mungkin dia sangat menikmatinya. Aku menatap dengan sinis.
"Apa bagusnya bermain dengan hujan?"
Gumamku ketus.
"Kenapa Rain?"
Aku menatap paman dengan kesal. Seolah mengerti tatapanku, paman hanya tertawa sumringah.
Tiga jam menunggu, akhirnya hujan reda.
Aku membawa ranselku dan berjalan beriringan dengan paman Arya menuju parkiran.
Akhirnya kami tiba di rumah. Dan seperti dugaanku, ayah belum kembali dari kantor.
Setelah melepas rindu dengan kakek, aku pergi ke kamarku.
Ku hempaskan tubuh di atas kasur, sangat lelah rasanya.
Aku memejamkan mata, dan sekelebat bayangan itu kembali muncul. Si gadis hujan, yang sedang menari dengan riangnya.
Apa yang menarik dari hujan? Bagiku, hujan hanyalah secebis keputus asaan. Entahlah, aku merasa penasaran.
"Dasar anak nakal, bisa-bisanya kamu pulang gak kabarin ayah.."
Ayah yang baru saja kembali dari kantor langsung menghambur menuju kamarku.
Aku terkesiap, dan refleks membenahi rambutku.
"Maaf ayah, sebenarnya aku berniat mengejutkan ayah. Tapi percayalah, justru ayah yang mengejutkanku."
Ucapku sambil menguap.
"Jadi, apa yang membawamu pulang?"
Tanya ayah.
"Tak ada, aku hanya rindu pulang ke rumah."
Jawabku sambil cengengesan.
Tentu saja, setiap orang akan merindukan rumahnya. Sejauh apapun pergi, pada akhirnya hanya rumahlah tempat untuk kembali.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar ayah. Aku sengaja mengambil cuti, aku ingin istirahat sejenak."
Jawabku.
Dua hari berlalu, siang itu aku sedang berada di sebuah toko buku.
Entah berapa lama aku berdiam disana sambil mencari buku-buku kesukaanku. Aku memang sangat senang membaca, dan sering menghabiskan waktuku dengan membaca berbagai buku yang aku senangi.
Lagi-lagi hujan turun tepat setelah aku keluar dari toko buku. Dan sialnya, aku tak membawa mobil saat itu.
"Astaga.. Sial sekali hari ini."
Umpatku.
"Hujan itu rahmat, bukan kesialan."
Seseorang menjawab gerutuanku.
Aku berbalik, dan seorang wanita berpakaian syar'i sedang berdiri di hadapanku.
"Jangan peenah membenci rahmat pemberian Allah."
Ucapnya sambil tersenyum.
Untuk sesaat aku seperti tersihir melihat senyumnya.
"Mau coba menikmati hujan?"
Dia bertanya.
Aku masih terdiam sambil berpikir.
Menikmati hujan? Sama sekali tak terpikir di benakku.
Bagaimana aku bisa menikmati hujan,
sedangkan dia membawa kembali memori yang tak ingin kuingat seumur hidupku.
Tanpa kusadari, gadis itu justru mendorongku ke tengah hujan. Aku terkejut, dan langsung menepi.
"Apa yang kau lakukan? Pergilah, aku tak ada waktu untuk menikmati hujan bersamamu."
Ucapku dengan ketus.
"Hei Mr. Arogan, cobalah sekali saja. Aku yakin kau akan kecanduan."
Ucapnya sambil tertawa girang.
Astaga.. Gadis ini benar-benar membuatku kesal.
Aku akui, dia sangat manis dan aku terkesima sejak pertama kali melihatnya.
Tapi kegilaannya pada hujan, benar-benar membuatku muak.
"Kenapa kau menyukai hujan?"
Tanyaku.
"Karena dia menyejukkan. Coba kau hirup aroma basahnya, benar-benar menenangkan."
Jawabnya sambil tersenyum.
Aku membalas tersenyum sinis.
"Kau tahu, namaku Rain. Dan aku membencinya. Aku benci dengan hujan. Karena ibuku meninggal setelah melahirkanku, dan saat itu sedang hujan. Aku benci dengan hujan, karena dia mengingatkanku, pada seseorang yang bahkan tak pernah kukenal."
Tanpa diduga, gadis itu justru tertawa sumringah.
"Apa yang lucu?"
Tanyaku.
"Kau. Benar-benar sangat lucu. Berapa usiamu sekarang?"
Aku terdiam.
"Apa agamamu?"
Aku masih terdiam.
"Baiklah, kau bisa menjawab dalam hatimu. Kau tahu, dalam agama kami dan aku yak8n di semua agama mengajarkan bahwa ajal seseorang adalah sesuatu yang telah Allah takdirkan bahkan sejak di lauhul mahfudz. Bahkan meski saat itu tidak hujan, jika memang sudah tiba waktunya ibumu akan tetap meninggal. Itu sudah Allah tetapkan."
Aku berusaha mencerna apa yang dikatakan gadis itu.
"Hanya karena kebetulan saat itu sedang hujan, lalu apa salahnya jika ibumu meninggal? Apakah hujan itu yang menjadi penyebab kematian ibumu? Tidak kan..
Hujan tak pernah menyakiti siapapun, karena Allah menciptakannya sebagai rahmat untuk seluruh alam."
"Apa sekarang kau sedang menceramahiku?"
Aku bertanya dengan nada sinis.
"Tidak, aku tak sedang menceramahimu. Aku sedang memberi pandangan kepadamu. Kau tak akan pernah merasa damai, jika kau terlalu membenci sesuatu."
"Tadi kau menceramahiku tentang hujan, dan sekarang kau coba mengajariku tentang kebencian?"
Aku menatapnya tajam.
"Karena itulah masalahmu. Kau terlalu membenci hujan, padahal logikamu pun tahu itu tak ada artinya. Sebenci apapun kau, hujan tetap datang. Dia tak pernah mengingkari perintah Allah untuk menyirami alam semesta. Bahkan meski kelak kau mati, hujan akan tetap menyambangi bumi. Jadi, tidakkah sebaiknya kau buang rasa bencimu itu?"
Kali ini aku terpojok. Entahlah, sepertinya ucapan gadis itu mulai mempengaruhiku.
"Aku punya saran menarik untukmu. Cobalah menerima semuanya dengan hati yang lapang, dan cobalah berkenalan dengan hujan. Sekali saja, cobalah kau buka hatimu untuk menerima semuanya. Berdiri di bawah hujan, sambil merengkuh setiap bulir-bulirnya. Biarkan tetesannya membasahimu, hirup dalam-dalam aroma basahnya. Setelah itu kau akan mengerti."
Seolah tersihir, aku menuruti perkataan gadis itu.
Aku maju beberapa langkah, dan membiarkan air hujan membasahi tubuhku. Ku hirup dalam aroma basahnya, dan mencoba melepaskan semua beban kebencianku. Kupejamkan mataku, untuk menikmati setiap tetesannya yang menyentuhku.
Dalam ketidak sadaranku, aku masih mendengarnya berbisik.
"Setelah ini, dalam hujan kau akan selalu merasa tenang. Oh ya, kita belum berkenalan. Rain, aku Si Gadis Hujan. Aku menyukai namamu, sama seperti aku menyukai hujan."
Entah berapa lama aku terdiam, hingga saat ku sadari hujan telah mulai reda.
Gadis itu, dimana dia?
Aku mencari kesana kemari, tapi tak menemukannya.
"Si gadis hujan, kuharap hujan berikutnya aku akan menikmatinya bersamamu."
Ucapku sambil tersenyum.