Tanpa disadari apa yang dilakukannya itu bagian dari peran yang harus dijalani didalam kehidupan. Suka tidak suka, mau tidak mau itulah semestinya harus dilewati. Semua manusia ingin hidupnya serba kecukupan, banyak uang, punya mobil hingga rumah mewah. Sayangnya pahit, getir, asam dan manisnya kehidupan buka kita yang menentukannya.
Pasangan suami istri, Sutaji dan Suri tergolong keluarga dibawah garis kemiskinan. Sutaji hanyalah seorang penjahit di desanya sedangkan istrinya hanya ibu rumah tangga dengan 9 anak, terdiri 5 putra dan 4 putri. Meski penghasilannya pas-pasan tetapi ke-9 anaknya itu dapat menuntaskan pendidikannya hingga SMA semua. Ajaib? Ya memang susah dihitung-hitung dengan nalar dan logika. kesemua anaknya lulus SMA tanpa mengajukan keringanan biaya kurang mampu. Artinya membayar biaya sekolah pada umumnya.
Ditahun 1980-an mata uang Indonesia paling tekecilnya itu Rp.1 rupiah. Lalu ada nominal Rp5 rupiah, 10 rupiah, 20 rupiah, 25 rupiah, 50 rupiah dan 100 rupiah kesemuanya berbentuk uang logam.
Setiap pagi, anak-anak berangkat sekolah ibu Suri selalu memberikan uang saku. Dari mulai anak sulung duduk dibangku SMA bernama Judin diberinya uang saku sebesar Rp200 rupiah (bukan ribuan), begitu juga anak ke-dua bernama Suhadi yang duduk dibangku SMA. Lalu anak ke-3 dan ke-4 yang duduk dibangku SMP diberi Rp100 rupiah. Anak-anaknya yang ke-5 hingga ke 7 diberi uang saku Rp50 rupiah. Sedangkan dua anaknya lagi masih berusia 6 tahun dan 3 tahun.
Ke sembilan anaknya itu usianya rata-rata hanya terpaut dua hingga tiga tahunan. Rumahnya kecil hanya memiliki dua kamar tidur tak ada ruang tamu karena ruangan ukuran 3X5 meternya dijadikan tempat menjahit Pa Sutaji. Dimalam harinya ruangan itu dijadikan tempat tidur ke-7 anak karena anak kesatu dan kedua tidur dikamar. Dari ujung tembok selatan hingga tembok utara anak-anaknya tidur berjejer bak ikan pindang didalam panci yang dijual di pasar-pasar. Namun mereka tetap bisa tidur dengan lelapnya.
Ibu Suri sosok ibu yang sangat sabar, telaten dan pandai memasak. Meski lauk ikan Betik dan sepat yang didapat dari mancing anaknya disawah diolahnya menjadi santapan yang lezat. Tak jarang pula untuk menambah sayuran, disuruhnya anak-anaknya mencari tanaman kangkung dan bayam yang tumbuh liar dipesawahan. Semua anak-anaknya tak ada yang mengeluh atau rewel hingga tak mau makan seperti di sinetron-sinetron.
Sayangnya masakan itu seribgkali hanya disiang harinya saja. Sedangkan di malam harinya sudah tidak punya bahan apa-apa lagi untuk dijadikan makanan.
"Nak, pergi ke rumahnya Pa H. Mahmud tanyakan masih ada sisa makanan nggak..?" kata ibu Suri kepada anak nomor 4 dan 5. Hal itu seringkali dilakukan manakala tak punya makanan.
Meski serba kekurangan tetapi hidup keluarga Sutaji dan Suri selalu rukun bahkan hari-harinya selalu dihiasi canda dan gelak tawa. Sutaji adalah sosok bapak yang pandai melucu dan kelucuannya menempel pada anak-anaknya. Ada saja yang menjadi pangkal sebab ketawa seolah menepis beban hidup yang sangat berat.
Tak terasa menginjak tahun ke-3 bapak Sutaji pun menuntaskan tirakat puasanya atas wejangan dari seorang ulama. Semua itu ia lakukan hanya untuk membuat anak-anaknya tidak kelaparan dan memiliki tempat tinggal yang layak seperti tetanga-tetangganya yang lain.
Suatu hari rumahnya kedatangan seorang Juragan beras setempat. Sang juragan mengutarakan niat menginginkan lokasi yang ditempati keluarga Sutaji. "Sut, Sur.. Rumahmu saya tukar tambah dengan tanah dan uang. Tanah saya yang ada disamping rumah pak Tarjo itu," kata Juragan beras saat menemui Sutaji.
"Tanahnya kurang lebih 12X20 meter berikut uang untuk membangun rumahnya," ujar Sang Juragan.
Sejenak Sutaji hanya diam tertegun, tak mampu berkata-kata. Matanya terlihat berkaca-kaca kemudian dengan bibir bergetar Sukarna menganggukkan kepala, "Terima kasih banyak Pa Haji," kata Sutaji bergetar. "Ya, Allah.. Inikah hadiah yang Engkau berikan atas doa-doaku..." gumam Sutaji.
Ibu Suri tak kuasa menahan tetesan air matanya. Linangan air matanya berbaur dengan ucapan syukur, "Alhamdulilah ya Rob..."
Malam harinya, Sutaji dan Suri mengumpulkan semua anak-anaknya. "Nak, besok kemasi semua barang-barang kalian, ya.." kata Sutaji mengawali. "Lah, kenapa pak.." sahut Judin anak sulung. Lalu Sutaji meneruskan maksudnya, "rumah ini dengan seribu suka dukanya akan kita tinggalkan. Rumah ini dibeli sama juragan beras," kata Sutaji.
"Lalu kita pindah kemana pa..?" tanya anak ke-2 keheranan. "Kita akan bangun rumah di tanah sebelahnya pak Sutarji. Dan selama rumah masih dibangun kita menumpang dirumahnya," ujar Sutaji.
"Horeeeee..." teriak anak-anaknya. "hussst.. Alhamdulillah jangan hore," kata Suri mengingatkan anak-anaknya.
Allah SWT telah memutar balikkan keadaan dengan mudahnya. Dia mengutus hambanya melalui tangan seorang juragan beras. Dalam sekejap keluarga Sutaji bisa memiliki rumah yang layak dengan 6 kamar. Kini anak-anaknya tak lagi tidur beralaskan tikar diatas lantai tanah dan bejejer seperti ikan pindang. Mereka tidur dikasur empuk meski hanya sebuah kasur kapuk sederhana.
Ketika Sutaji sudah menerima uang dari Juragan Beras, tanpa sepengetahuan anak-anaknya dia pergi ke toko membelikan sebuah mesin tik.
"Su, bapak beli mesin tik supaya tidak pinjam-pinjam lagi," kata Sutaji sembari menunjukkan msiin tik yang dibelinya. Rupanya diam-diam Sutaji melihat dan memperhatikan anak ke-2 nya yang gemar menulis cerpen untuk dikirim ke koran dan majalah.
Penuh haru, Suhadi girang bukan main menerima mesin tik itu. (mungkin kalau kisahnya tahun 2000-an bukan lagi mesin tik tapi komputer).
Untuk anak nomor 4 Sutaji menyekolahkannya ditempat kursus menjahit. Karena melihat bakat menjahitnya ada pada anak ke-4 nya.
Kesabaran, Ikhtiar dan ikhlas merupakan kunci utama dimiliki pa Sutaji. Dengan tawakal menjalani hidup bertahun-tahun menafkahi 9 anaknya hingga anak-anaknya menikah dan memiliki cucu. Momen tiga tahun puasa dan rutin sholat malam sepertinya menjadi kunci utama berubahnya kehidupan Sutaji. Tirakat selama itu bukanlah hal yang mudah dijalani seseorang.
Dalam keadaan miskin kekurangan ekonomi sekalipun tak satupun anak-anak Sutaji menjadi seorang maling, rampok atau orang jahat. Semua anak-anaknya tumbuh dewasa dengan sifat baik.
Jika juragan beras dianggap sebagai "Utusan Tuhan" yang memberikan jalan merubah kondisi keluarga Sutaji dan Suri, maka Sutaji dan Suri pun layak dianggap utusan Tuhan sebagai seorang ayah dan ibu yang sangat berhasil dan bertanggung jawab memelihara anak-anaknya, mendidiknya hingga mampu mandiri dan berdiri sendiri.
Kedua Utusan Tuhan tersebut menjalani perannya masing-masing yang diberikan Tuhan. Kita mungkin tak menyadarinya atau mungkin tidak mengenal diri kita sendiri karena tak pernah cari tahu jati diri kita, perqn kuta dan apa tugas kita di dunia.
Bisa saja apa yang sedang kita alami saat ini merupakan bagian dari peran kita di dunia, maka jalanilah, ikuti dan nikmati alur ceritanya. Dan jangan lupa selalu bersyukur apapun kondisinya.**