Aku sudah lelah melawan arus kehidupan
(Kalau begitu bersandarlah pada pundakku)
Tiap usahaku yang hasilnya tiada kurasakan
(Tutup matamu dan terlelaplah dalam pelukanku)
Pandangan tiap mata padaku sungguh memuakkan
(Cukup lihat dan perhatikan aku yang bernafas denganmu)
Mungkin aku tak pernah dianggap oleh Tuhan
(Kumohon buang segala pikiran burukmu)
Segala yang kupunya direnggut tanpa belas kasihan
(Tuhan selalu punya alasan baik dibalik tindakanNya)
Perih yang tak dapat lagi kupertahankan
(Aku selalu disini tepat disisimu)
Jiwa dan hati yang membusuk tak lagi kupikirkan
(Aku takkan membiarkan segalanya terjadi padamu)
Mungkin, mengakhiri nyawaku ini sungguh terasa
(Aku akan berusaha menuntunmu hingga kau merasa)
Menyenangkan
(Menyenangkan)
***
Secara perlahan ku membuka mataku, namun dengan spontan aku menutupnya kembali akibat sesuatu yang sangat terang menyilaukan pandanganku. Tanganku bergerak otomatis, menghalangi sinar yang menyilaukan pandanganku tersebut, lalu sedikit demi sedikit aku membuka mata. Terlihat jelas tanganku sendiri yang tepat berada didepan mataku, hembusan angin yang lembut terasa mengelusku dan berusaha membuatku terlelap kembali.
"Apa kau sudah bangun, Nana?"
Aku pun menoleh sedikit kesamping, terlihat wajah gadis yang tersenyum lembut padaku. Rambutnya yang hitam kelam lurus sepanjang bahu dengan poni depannya yang terlihat lucu membuatku ingin terus memandangnya, itupun jika aku tak malu. Dia sedang membaca sebuah novel yang dia sukai sedari dulu, dengan kacamata mungil yang terpasang pada kepalanya. Ternyata sedari tadi aku terlelap di pangkuannya.
"Sepertinya aku sedang bermimpi," ucapku lirih namun dia bisa mendengarnya.
"Kalau gitu selamat melanjutkan mimpimu."
"Tidak, aku sudah bosan bermimpi. Lagipula kenyataan yang dihadapanku saat ini lebih membahagiakan."
"Bagaimana yang kau hadapi saat ini adalah mimpi?"
"Eh?"
Aku tercengang mendengar ucapannya yang terdengar seperti bukan candaan, dia memang sangat mahir menyembunyikan ekspresi wajahnya. Aku yang sudah lama berada disisinya pun masih belum bisa menebak isi hatinya, atau mungkin memang aku tak mempunyai bakat seperti itu.
"Apa kau tahu, Nana?"
"Tahu apa?"
"Mimpi adalah dunia dimana kenyataan dan kematian saling terhubung."
"Maksudmu?"
"Mimpi juga dunia dimana kita bisa berkesempatan tuk bertemu dengan orang yang tak bisa kita temui di dunia nyata. Berbagai rekaman dari tiap ingatan kita yang mendongkrak kita tuk mewujudkan sebuah khayalan yang begitu tinggi, namun khayalan itu sendiri malah tidak bisa kita kendalikan, itulah mimpi."
Aku hanya terdiam mendengar ceritanya, mungkin dia sendiri juga sedang berkhayal hingga segala hal yang menyangkut logika pun dicampur adukkan. Namun, aku bisa sedikit memahami apa yang dia utarakan tersebut.
Mimpi memang suatu keadaan yang aneh, meskipun berbagai macam penjelasan ilmiah mengenai mimpi sudah beredar. Akan tetapi, mimpi masih merupakan suatu misteri bagi kehidupan.
Daripada aku memikirkan sebuah mimpi yang tidak begitu jelas kurasa. Lebih baik aku memikirkan kenyataan yang kuhadapi saat ini, dan masa yang akan mendatang nanti.
"Berhentilah tuk berkhayal didekatku, apalagi dengan raut wajahmu yang aneh seperti itu," ucapku mencoba tuk menghentikan cerita khayalannya, meskipun sebenarnya aku tidak tahu apa yang tersirat pada raut wajahnya tersebut.
"Lebih baik kita membicarakan masa depan kita nanti."
"Eh? Memangnya masa depan apa yang kita harus bahas, Nana?"
"Apa kau sudah lupa? Makanya sudah kubilang. Hentikan khayalanmu itu."
"Iya maaf. Kalau gitu kita mau bahas apa dulu?"
"Hmm, kalau begitu. Kamu mau punya anak berapa?"
"Eh? Langsung bahas anak? Kita kan baru akan menikah. Kenapa tidak memikirkan kemana kita akan pergi bulan madu saja?"
"Okelah, kalau begitu kamu ingin kita pergi bulan madu kemana?"
"Aku ingin pergi ke Bali, Hawaii, atau apa yang ada pantainya saja. Kalau kamu?"
"Aku, selama kamu ada disisiku saja sudah serasa seperti bulan madu kok."
Dia pun tersenyum kecil. Sekilas aku melihat matanya yang berkaca, seolah sedang menahan sesuatu dan itu terasa menyedihkan kurasa. Aku pun melanjutkan pembicaraan mengenai masa depanku dengannya.
"Kalau begitu, selanjutnya. Kamu ingin kita punya berapa anak?"
"Eh? Lagi-lagi kesitu kah?"
"Itu kan perlu, dan menurutku semakin banyak anak akan semakin meriah suasananya."
"Eh? Tapi menurutku dua anak saja cukup kok. Satu laki-laki satu perempuan."
"Ah, seleramu standar sekali."
"Kalau banyak kan kita juga yang repot."
"Ah, dasar kamu ini. Okelah dua anak saja juga tidak masalah bagiku."
"Hehe, makasih Nana."
"Kalau begitu lanjut lagi, nama apa yang akan kita beri pada kedua anak kita nantinya?"
Dia pun termenung, dan beberapa saat setelah itu tiba-tiba terjadi gempa bumi. Aku pun spontan terbangun dari pangkuannya dan berdiri, sedangkan dia tetap duduk bersandar pada pohon besar nan rindang tersebut.
"Sudah saatnya, kah."
Meskipun samar namun aku bisa mendengar apa yang dia katakan, dan gempa pun terjadi kembali. Aku sangat panik melihat keadaan ini, lalu aku mengulurkan tanganku padanya.
"Ayo kita harus menjauh dari bangunan dan pergi ke taman yang ama—"
Tiba-tiba aku ingat suatu hal yang seharusnya aku sadari sejak awal.
(Aku, tidak ingat siapa namanya.)
Aku terdiam, segalanya yang kualami saat ini tiada satupun yang dapat kumengerti. Aku seperti orang yang kehilangan ingatan. Tapi, yang aku lupa hanya namanya saja.
Dia pun menutup novelnya lalu berdiri. Dan dia berjalan beberapa langkah dihadapanku sambil membelakangiku.
"Nana, ada yang harus kuberitahu padamu."
Ucapnya tanpa menoleh sedikitpun kebelakang, saat itu juga ucapannya diiringi oleh gempa dan hancurnya beberapa bangunan tinggi yang terlihat jelas dimataku.
"Nana, ini adalah mimpi."
"Apa yang kau ucap—?"
Kalimat yang kukatakan selalu berhenti saat aku hendak memanggil namanya. Aku berusaha tuk mengingatnya namun semakin kucoba semakin sulit ku ingat.
Dan tiba-tiba, aku sangat terkejut dengan apa yang kulihat.
Muncul sebuah retakan. Namun retakan itu muncul bukan pada benda, melainkan cakrawala dunia. Segala yang kulihat mulai muncul retakan bahkan langit yang tak berujung pun juga begitu.
"Nana, terima kasih telah memberiku suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Meskipun pada akhirnya, kita tak ditakdirkan untuk bersama."
"Apa yang kau mak—"
Tiba-tiba seluruh gambaran muncul dipikiranku, seperti sebuah rekaman masa lalu yang baru saja dimainkan setelah sekian lama dilupakan. Namun apa yang muncul dipikiranku ini bukanlah sebuah rekaman yang indah tuk dirasakan, semakin lama semakin terasa perihnya.
Aku terdiam, jiwaku sedang terguncang oleh apa yang ada dipandanganku dan apa yang ada dipikiranku. Semuanya bercampur aduk hingga aku tidak tahu mana yang nyata dan mana yang hanya sekedar mimpi.
Tanpa kusadari, retakan dunia pun membesar. Seketika itu juga aku akhirnya menyadari segalanya. Air mataku pun mengalir dan menetes tanpa henti.
"Kumohon! Jangan tinggalkan aku!"
"Maafkan aku Nana, aku mencintaimu."
Ucap gadis itu sambil membalikkan tubuhnya padaku, terlihat raut wajahnya yang tersenyum lembut dengan aliran air mata yang mengalir lewat pipinya.
Dan setelah itu, seluruh dunia pun pecah. Bagaikan sebuah kaca yang terjatuh ke lantai. Dunia itu pecah menjadi ribuan pecahan kecil yang terlihat begitu, indah.
Aku mencoba tuk meraih tangannya, namun aku terjatuh dalam sebuah kegelapan. Semakin kucoba tuk meraihnya, semakin dalam pula kegelapan yang menelanku. Hingga akhirnya dengan sekuat tenaga aku meneriakkan namanya, nama gadis yang kucintai.
"MELLA!"
***
Catatan:
Ini penggalan cerita dari novel yang sedang kubuat. Judulnya Crystal Shattered yang berarti Kristal Pecah.
Cerita berpusat pada Nana, pria yang terkena gangguan jiwa akibat terlalu depresi karena kehilangan tunangan yang akan dia nikahi.