"Tidak ada yang boleh berada di sini pada malam delapan oktober ... temanmu yang malang ini harus kukirim pulang." Suara wanita itu terdengar lirih di telinga Dean, bayangan sosoknya terlihat mondar-mandir dari jendela bertirai.
Telunjuk Dean mengetuk-ngetuk celananya; ia sudah bosan menunggu di depan rumah besar itu. Pandangannya berkali-kali menyapu rumah-rumah tetangga, tetapi yang ia temukan hanya rentetan bangunan kosong dengan tanaman rambat yang berkembang liar.
Fokusnya kembali dengan cepat ke pintu di depannya ketika pintu itu terbuka, menampilkan wanita yang berdiri kaku di ambang pintu.
"Um ... hai." Dean menggaruk tengkuknya.
Wanita itu diam di tempat, ia menatap Dean lamat-lamat sebelum akhirnya membuka bibir pucatnya, "Silakan masuk."
Dean mengangguk ramah dan mengikuti langkah wanita itu. Baru saja masuk selangkah, ia sudah disuguhi pemandangan mengagumkan rumah itu; funitur-furnitur marmer, permadani tebal, lampu gantung porselen. Aksen putih terbagi dengan adil di dalam rumah itu.
Jika dilihat sekilas, rumah itu sangat indah. Namun jika diperhatikan, rumah itu aneh; mulai dari konstruksi sampai penempatan lampu yang tersebar di plafon. Seakan pembuatnya tidak meninggalkan sedikitpun celah untuk bayangan dapat masuk.
"Duduk." Tangan gemetar wanita itu menekan bahu Dean; memaksanya duduk di sofa satin putih, membuat tubuh kurus Dean terhempas di sofa.
Dahinya mengernyit; matanya lekat memperhatikan wanita itu, "Maaf, Non. Apakah ada masalah?"
Si wanita itu berbalik, berjalan terburu-buru ke dapur tanpa menjawab pertanyaan Dean.
‘Tling!’
Sebuah pesan masuk.
Tanpa mengalihkan tatapannya dari punggung wanita itu, Dean merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya.
Pesan yang baru masuk itu berisi permintaan maaf, teman-temannya izin datang agak terlambat karena masih membeli peralatan barbekyu untuk merayakan ulang tahun Dean.
Tapi Emily —sahabat cantik Dean— mengusahakan untuk datang lebih awal, katanya agar Dean tidak kesepian.
Jemari Dean yang menari di layar ponsel berhenti sejenak; mencoba mendengarkan suara berderit pagar yang dibuka.
Awalnya ia kira teman-temannya sudah datang, tapi rasanya suara itu berbeda dari pagar yang dilewati Dean ketika ia datang. Suaranya lebih berat dan berasal jauh dari belakang rumah; terpisah lorong-lorong dan beberapa kamar besar.
Setelah menyelesaikan kalimatnya di aplikasi obrolan, Dean berdiri dengan ponsel di tangannya. Baru saja ia melepaskan fokusnya dari layar, pandangannya langsung terkunci di mata coklat wanita muda penjaga rumah.
"Diam di sini." Suara parau itu menusuk telinga Dean, ia bahkan dapat merasakan napas pendek wanita di depannya itu.
Kaki jenjang si wanita melangkah mundur sedikit, telapak tangannya yang sudah lembab mengusap satu sama lain. Ia masih menatap lekat mata Dean ketika berjalan ke lorong menuju bagian belakang rumah, setelah itu mengalihkan pandangannya dan mulai berlari kecil.
Bahkan setelah sosok wanita itu hilang ditelan belokan lorong, Dean masih yakin bahwa saat ia berdiri tadi, wanita itu masih berada di dapur.
Dean menggelengkan kepalanya dan kembali duduk.
Baru saja membuka kembali ponselnya, semua lampu yang ada di rumah itu padam. Sambungan listrik terputus, disertai teriakan melengking seorang wanita di belakang rumah.
Ia mengusak matanya; memastikan bahwa ini adalah mati lampu, bukan ia kehilangan kesadaran.
Tubuh Dean bangkit dari sofa, hendak keluar dari rumah besar menakutkan itu. Namun tangannya terhenti di gagang pintu, karena memori lamanya kembali terputar jelas di kepala; kelopak mata adiknya yang terbuka tanpa kehidupan karena dirinya yang terlalu takut untuk menolong.
Rahangnya mengeras, ia mulai menjambak rambutnya sendiri. Tangannya meraba dinding, ingin sekali rasanya membenturkan kepala ke sana, tapi ia mengurungkan niatnya dan terpaksa mulai berjalan di lorong.
Sunyi. Tak ada suara yang terdengar setelah teriakan pilu si nona, memperjelas suara tetesan air di kamar mandi yang menggema.
Dean memasang lampu di ponselnya,
"Nonaa! Noon!" ucapnya sedikit berteriak.
Ia berhenti setelah memanggil lima kali karena tubuhnya merinding. Hawa dingin yang lembab di rumah ini, dan kekosongan yang mengisi ruang membuatnya dapat menyadari ada jantung lain yang berdetak di sini, selain miliknya.
Kini ia sudah berada di ujung lorong. Tangannya mengarahkan lampu ponsel ke depan, Dean disuguhkan dua pintu kamar, tangga naik ke lantai dua, dan sebuah lorong lagi.
Kebenciannya terhadap lorong, terhadap rumah besar bertingkat, terhadap pintu yang tertutup ... sangat memuakkan.
Dean memutuskan untuk berjalan pelan menghampiri senjata pajangan di dinding. Ada sekiranya sepuluh macam senjata yang dipajang, Dean memilih belati gading dengan gagang emas.
Setidaknya, ia bisa melawan jika sesuatu terjadi.
Setelah berpikir agak lama, Dean memilih kamar kedua untuk dimasuki. Ia membuka gagang pintu dengan tangan kanannya yang juga menggenggam belati.
'Krieet ... '
Engsel pintu berderit.
Sorot cahaya bulat milik senter Dean menyinari bagian dalam kamar; ada kasur putih, meja kaca, dan sebuah lemari besar. Kamar ini tidak memiliki jendela, sehingga tak ada sedikitpun cahaya yang bisa masuk.
Kamar itu terlalu sepi, bahkan Dean dapat mendengar desah napasnya dengan sangat jelas. Ia mendekati meja kaca yang menempel di dinding, mengamati potret berbingkai yang dipajang di atasnya.
Dean kesal dan menghentikan napasnya, tapi deru napas itu masih terdengar.
Tangan dingin yang basah melingkar di kaki Dean.
Ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya berjengit, ia mencoba untuk berlari tapi cengkraman itu sangat kuat. Dalam satu detik ia jatuh berdebam di lantai.
Dean mengerang kesakitan, namun langsung buru-buru mengarahkan cahaya senternya ke bawah meja; melupakan rahangnya yang berderak. Mata Dean terbuka lebar melihat sosok itu.
Nona itu tidak dalam kondisi baik. Bibirnya bergetar, rambutnya acak-acakan, gaunnya koyak, dan matanya ... merah pekat.
Wanita itu menatap nanar Dean sambil melotot, giginya bergemeletuk.
"Apa yang— "
Belum sempat Dean menyelesaikan pertanyaannya, wanita muda itu merebut ponsel Dean, lalu dengan tangan gemetar mematikan aplikasi senternya. Ia melempar ponsel itu ke Dean. Lengannya kembali memeluk kakinya erat.
"Pergilah ... di-dia disini ...."
Bahkan kali ini Dean tak bisa menelan ludahnya. Ia merangkak menjauh dari wanita itu, tubuhnya bergetar hebat. Ia tak tau siapa 'dia' yang dimaksud, dan sepertinya tak akan mau tahu.
Ia berjalan terseok-seok ke luar kamar, mencoba sedikit berlari saat sudah berada di lorong. Tapi kini ia malah tersentak kebelakang, berhenti, tak berani melangkah.
Mata pisau dingin menyentuh leher depan Dean, kepalanya praktis dilingkari sebuah lengan besar. Ia mematung. Keringat dingin mengucur di pelipisnya, telinganya dapat mendengar jelas napas berat pria itu, napas si pembunuh yang kasar memasuki kulit tengkuk Dean dengan sempurna.
Entah sejak kapan pria itu ada di depan pintu, yang pasti ia sudah memperhatikan Dean sejak tadi.
Dean menyikut perut pria itu dengan kencang, membuatnya melenguh berat. Ia melepaskan diri dari lengan yang menyekapnya, mengambil langkah kedepan, lalu berbalik; membelah-belah liar udara kosong dengan belatinya di dalam gelap.
'Srett ... '
Pria itu mengerang keras. Tangan Dean gemetar, ia berbalik dan berlari menaiki tangga, napasnya tersengal. Ketika menoleh sekilas, Dean melihat samar pria itu berlutut sambil memegangi wajahnya, menutupi bibir lorong ke arah luar.
Tubuh kurus Dean masuk ke lemari gudang di sudut lantai dua, ia membekap dirinya sendiri. Kini ia tahu mengapa nona itu sangat ketakutan.
Di bawah, pria itu kembali berdiri. Ia melempar pisaunya ke sembarang arah dengan kesal, langkah panjangnya mulai berjalan di tangga, satu demi satu suara sol sepatunya menggema di seluruh ruangan, semakin dekat dengan lemari di ujung lantai.
Di bagian rumah yang lain, pintu utama rumah terbuka, seorang perempuan lain masuk ke dalam rumah itu.
"Dean? Haloo! Ada orang disini?!"
"Emily ... " gumam Dean. Ia mulai mencakar lengannya sendiri, matanya berair. Amarahnya ingin meledak ketika suara langkah kaki pria tadi berhenti, berbalik cepat ke lantai bawah, menyambut tamu baru.
"Dean! Apakah itu kamu?" Suara Emily yang setengah berteriak terdengar sayup di telinga Dean.
Keputusasaan, ketidakmampuan. Dean benci hal-hal ini. Ia merangsek keluar dari lemari, berlari menuju tangga sambil mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia belum terlambat.
Sampai saatnya Emily berteriak keras di lantai bawah, tepat setelah ia menginjak anak tangga pertama. Ia berlari sekencang mungkin untuk mencapai ruang tengah, bibirnya bahkan sudah robek digigit dirinya sendiri, sekarang dadanya serasa ingin meledak.
Di ruang tengah, cahaya bulan masih merembes melalui jendela; menyinari tubuh seorang gadis yang digantung di plafon dan mengilatkan cairan merah yang menetes di lantai marmer.
Tangan Dean menggapai-gapai kelam di depannya sambil berlari pontang-panting mengkhawatirkan Emily.
Lalu semua lampu menyala begitu Dean sampai di ruang tengah.
Mata Dean dengan cepat menangkap visi di depannya; sosok Emily digantung. Wanita yang ia sayangi mati karenanya. Seketika Dean merasa hidupnya tak berguna, tangannya lemas dan ponselnya jatuh ke lantai. Matanya berkedut dan tenggorokannya terasa kering.
Tangannya yang bergetar hebat kini bergerak perlahan, menggoreskan belati gading ke pergelangan tangan orang yang mengecewakannya; dirinya sendiri.
Tiba-tiba lima orang keluar dari balik sofa, si nona rumah, seorang membawa kue dengan lilin, ada yang pipinya terluka, satu lagi meniup-niup terompet, dan salah satunya adalah Emily.
"Selamat ulang tahun!"
Dean terdiam.
Lalu tersenyum tipis, matanya menatap sayu teman-temannya. "Sudah kubilang ... aku tidak suka kejutan."
Ia ambruk ke depan. Belati gading di tangan kanannya berkelontangan di lantai, memercikkan cairan darah yang berlumuran di mata belati.
Beberapa saat kemudian aliran darah telah sampai di bawah boneka Emily yang digantung, dan akan terus mengalir ke bawah sofa, menguras habis kehidupan Dean dari pergelangan tangannya yang ia sayat sendiri.
-SELESAI-